LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Waspada



1 New Mail!


Terima kasih atas masukan dan saran yang telah anda kirimkan, kami akan berusaha untuk terus mengembangkan LOVATY ke arah yang lebih baik demi kenyaman semua pengguna. 


^^^Klandestin Corp^^^


Beberapa hari yang lalu


Jemari Calya sibuk di atas layar ponselnya. Beberapa karyawan terlihat mondar-mandir di sekitar meja kerjanya sambil melirik wanita itu. Ternyata mereka bermaksud menghampiri wanita itu untuk masalah pekerjaan, seperti meminta tanda tangan, memberi laporan dan mengatur jadwal. Namun mereka urungkan karena takut mengganggu pimpinan mereka yang saat ini terlihat sangat serius.


“Buruan kesana!” ucap Davidya sambil berbisik.


“Why me?” jawab pria itu, pelan namun penuh keputusasaan.


“Hari ini deadline nya, ingat! Ini project pertama kita, KHUSUS ANAK INTERN. Kalau sampai nga kelar, masa depan kita bisa suram.”


Wikan menggaruk-garuk kepalanya. Semakin merasa frustasi dengan penekanan temannya yang memang adalah fakta. Disisi lain ia juga tak bisa berbuat apa-apa, baginya menghampiri meja itu saat pemiliknya sedang berwajah serius adalah hal yang keramat. Wikan menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan bahwa ia mungkin akan menggali kuburannya sendiri.


“Jus go! Dimana sifat jantanmu?” tambah Rana yang sudah mulai kesal.


“Kamu aja yang pergi, ya?” Wikan memohon pada Rana untuk menggantikan tugasnya yang tentu saja ditolak mentah-mentah 


“Kemarin aja, pas bagi-bagi tugas bilangnya ‘pokoknya urusan dengan Mba Calya biar aku yang handle’ sekarang mana?” ucap Rana penuh dengan ejekan.


“Ya, mana ku tahu kalau hari ini dia pakai aura keramat.”


Ketiga karyawan intern itu melirik kearah Calya yang masih sibuk dengan ponselnya, sepasang mata itu masih saja terpaku pada layar ponsel di tangannya dengan raut wajah yang menggambarkan keseriusan tingkat tinggi. Tak salah jika orang-orang mengira dia sedang mengurus suatu masalah yang genting, yang salah adalah jika itu mungkin bukan masalah yang genting.


‘Visual, sudah.. respon percakapan, sudah.. selera humor, sudah.. pengetahuan umum, sudah.. apalagi yang kurang ya?’ gumam wanita itu. Ia memutar otaknya, mencegah agar tidak ada satu hal pun yang lupa ia ketikkan di sana. Sebuah kolom kritikan dan saran yang hampir memenuhi batas maksimum kata.


***


“Cal, hampir waktunya!” Ucap Kenzo dari kejauhan.


Calya bersiap di mejanya, mengambil dan menyimpan beberapa barang sebelum beranjak menghampiri beberapa rekan timnya didekat pintu. “Sudah pastikan semua persiapannya kan?” tanya wanita itu.


“Sudah.” jawab Kenzo.


“Tidak ada file yang tertinggal?


“Tidak ada.” jawab Rezvan


“Bagaimana dengan file presentasi. Sudah dicek kembali, jangan sampai ada kesalahan walaupun satu huruf.”


“Don’t worry honey, it’s on me.” Kali ini Qeiza mencoba menenangkan. “Ini kerjasama lanjutan kita Niskala, bukanya ini seharusnya akan lebih mudah, iya kan?”


“Menurutku juga begitu. Kita sudah tahu karakteristik perusahaan mereka, mereka juga sudah tahu cara kerja kita. Bisa dibilang kita sudah saling memahami,” sambung Kenzo dengan oemikirannya.


“Kenapa Cal? Apa ada sesuatu yang membuatmu khawatir?” Tanya Rezvan ikut was-was. Bisa saja ada masalah yang belum mereka ketahui.


“Tidak. Aku cuma tidak ingin proyek ini jadi berlarut-larut. Lebih cepat proyek ini selesai lebih cepat kita menghandle proyek lainnya.”


Ketiga rekannya mengangguk mendengar alasan yang diberikan Calya. Tidak ada masalah yang sedang terjadi, hanya itu yang ingin mereka ketahui. Dan Calya tidak berbohong, memang tidak ada masalah yang sedang terjadi, setidaknya dalam hal pekerjaan. Hanya pikirannya saja yang sedang bergejolak. 


Tapi entah keajaiban apa yang terjadi, ada yang aneh dari pria itu hari ini. Dia terlihat normal, dalam arti tidak ada tingkah aneh yang biasa membuat Calya kesal. Dia hanya bertingkah seperti kien pada umumnya yang hanya berbicara tentang pekerjaan. Jelas perubahan ini membuat Calya senang, meski dalam hatinya juga bertanya-tanya.


‘Baguslah, setidaknya kini aku bisa mendaatkan ketenanganku kembali.’


Tapi wanita yang terlanjur berprasangka itu tak bisa menghapuskan kecurigaanya begitu saja. Setiap pergerakan yang diakukan oleh Ray langsung membuatnya waspada. Meskipun itu akhirnya hanyalah sekedar mengambil pulpen yang jatuh meminta tisu atau sekedar membuka botol air mineral. Pada akhirnya tingkat kewaspadaan yang terlalu tinggi itu malah membuatnya merasa malu.


...***...


Suatu hari Calya terkejut saat mendapati pria itu duduk didepan meja kerjanya. “Setahuku tidak ada ada jadwal rapat hari ini,” ucapnya tanpa basa-basi, kewaspadaannya kembali meningkat.


“Memang tidak.”


“Lalu?” alisnya bertaut sembari mempertanyakan maksud kedatangan pria itu, ‘dia pasti akan mulai lagi’ ucapnya dalam hati.


“Maksud kedatanganku kesini? Tentu saja untuk menemuimu.”


Calya mulai menghela napas, ‘benarkan”. Menyandarkan punggungnya pada kursi sementara otaknya mulai memikirkan 1000 cara untuk membangun benteng pertahanan. 


“Dengar, untuk menyelesaikan proyek pentingmu ini membutuhkan konsentrasi penuh. Jadi jangan berpikir untuk menggangguku dengan rencana-rencana anehmu,” tegas wanita itu.


“Rencana aneh? You must be misunderstand, Miss. Aku ingin menemuimu untuk mendiskusikan sebuah ide. Bukan untuk hal-hal yang sedang kau pikirkan.” Ray mengernyitkan dahi seolah merasa heran, tapi senyum sama diwajahnya jelas menunjukkan ia merasa senang.


“Aa ah.. Be.. Begitu rupanya?” Meski ragu Calya tidak punya bukti untuk mendebatkan perkataan pria itu,  Sekali lagi kewaspadaannya yang tinggi memberinya rasa malu. Lebih dari itu, malah memancing kembali jiwa iseng pria didepannya itu.


“Tell me! you must miss me a lot, right?  Hoping to see so bad?”


“Haha..” suara tawa Calya terdengar hambar, selayaknya tawa yang dibuat-buat. “Impossible!” tegasnya setelahnya.


“So, should we talk about the idea or do you prefer to talk about the 'impossible' thing?” senyum pria itu semakin lebar saat menjahili Calya. Wanita itu lebih memilih diam, mencoba bersikap normal hanya mengambil alat tulis dan kertas “Tell me what do you want to talk about?“ tanyanya.


“The impossible thing?”


“Stop it!”


“Okay,” Ray tertawa pelan, seakan kebahagiaannya telah kembali.


1 new Message


2 new Message


3 new Message


Posnel wanita itu terus bergetar bersaamaan dengan pesan masuk yang terus masuk. Calya yang tadinya fokus pada pembahasan ide baru bersama dengan Ray akhirnya mulai terganggu. Wanita itu memcoba untuk tak menggubrisnya hingga Ray mempersilahkannya untuk memeriksa ponselnya.


“...”


Wanita itu hanya terpaku memperhatikan layar ponselnya/ Tanpa suara ataupun ekspresi yang dapat menjelaskan apapun. Kemudian dengan cepat meletakkan kembali ponselnya keatas meja. Dia mungkin terlihat biasa saja, tapi tidak bagi orang yang berjarak kurang dari tiga meter darinya. Pria itu jelas menyadari  sesuatu yang aneh dari Calya. 


“You okay?” tanyanya