
“Wah, kau baik hati sekali hari ini!” ucap Damian, Gabungan antara pujian dan ejekan saat melihatnya temannya datang dengan membawa beberapa piring penuh dengan makanan.
“Tidak mau sekalian bantu Danny melayani para tamu?” tambahnya.
“Tentu saja, tentu saja makanan ini bukan untukmu!” ucap Ray berusaha membalas ejekan temannya.
“Ya, itu sebabnya mereka bilang teman hanya untuk mereka yang tidak punya kekasih.”
“Katakan itu pada dirimu sendiri!”
“Aku? Aku adalah pengecualian!”
Ray berhenti melayani candaan temannya dan beralih pada wanita disebelahnya.
“Makanlah,” Ray menggeser sedikit piring yang ia bawa kearah Calya.
"Ya, Calya makanlah. Itu dibawa dengan penuh cin.. Aww."
Kali ini Ray menghentikan kalimat Damian dengan kakinya.
"Ternyata anda kekanakan juga ya, Damian,” ucap Calya yang sedari tadi hanya diam mendengar ejekan tentang dirinya.
“Mungkin tahu bagaimana cara bersenang-senang lebih tepatnya,” Damian dengan percaya diri membela dirinya.
“Kau juga makalah. Kau terlalu banyak bicara,” ucap Ray menimpali kalimatnya.
Seulas senyum terlihat diwajah Calya. Siapa sangka kedua pria itu bisa membuatnya tertawa. Mereka yang terlihat serius saat bekerja ternyata sama konyolnya dengan Kenzo dan Rezvan diluar kantor.
“Kenapa Qeiza belum kembali juga?” tanya Damian.
“Benar, kenapa dia lama sekali di toilet?”
“Tidak, dia sudah keluar dari toilet. Tadi kami berbicara di dekat prasmanan. mungkin dia sedang mengambil makanan.”
“Dia habis berbincang dengan orang lain rupanya,” Damian akhirnya mengerti kenapa Qeiza menghabiskan waktu cukup lama didalam.
“Orang lain?” tanya Ray.
Arah pandang Damian ikut mengajak kedua orang itu untuk melihat ke arah belakang. Mereka kemudian bisa melihat sosok Qeiza yang sedang berjalan mendekat bersama seseorang yang tidak asing tapi juga tidak terduga.
“Apa kabar semuanya?” Arion menyapa mereka dengan ramah.
“Baik. Tidak disangka bisa bertemu anda yang cukup sibuk disini,” jawab Damian.
“Keluargaku dan Danny saling kenal, tentu saja aku harus hadir. Apa kalian sudah lama disini? Tidak keberatan jika aku bergabung?”
“Tentu saja! Ini bukan perkumpulan tertutup, duduklah.” Ray mempersilahkan Arion untuk bergabung dengan mereka di meja itu. Pria itu langsung menduduki kursi di samping Calya, yang sebelumnya ditempati oleh Qeiza.
‘Itu kan tempatku,' ucap Qeiza dalam hati, dengan terpaksa dia pindah ke kursi yang terletak diantara Damian dan Ray.
Qeiza sedikit merapikan pakaiannya setelah ia duduk, sementara Damian mulai mendekat kearahnya. Pria itu berbisik “Apa kau yang mengajaknya kemari?”
“Apa aku terlihat sejahat itu sengaja mengajaknya kemari? Dia sendiri yang berjalan kemari,” jawab wanita itu yang juga berbisik.
“Jadi, bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?” Arion mulai membuka pembicaraan dengan Calya. Pria itu mengajukan beberapa pertanyaan umum tentang kehidupan wanita itu yang hanya dijawab sekenanya oleh Calya.
“Ini hanya perasaanku atau dia benar-benar menganggap tidak ada orang lain selain dia dan Calya di meja ini?” Damian kembali berbisik kepada Qeiza.
“Sudah biarkan saja,” jawaban yang diberikan Qeiza seperti menandakan ketidak peduliannya, padahal sebenarnya tidak. Dari tadi wanita itu terus mendengarkan percakapan keduanya bahkan mengamati pola gerak dan raut wajah Arion.
“Ayahku akhir-akhir ini sering menanyakanmu, dia sangat khawatir waktu ayahmu bilang kau tiba-tiba pulang karena kurang enak badan. Dia memastikan agar kita berempat bisa makan bersama lagi saat kau sudah baikan.”
“Tolong sampaikan maafku pada ayahmu karena waktu itu pergi duluan tanpa pamit.”
“Jadi apa kita bisa makan bersama lagi?”
“Maaf, aku tidak bisa janji.”
“Kenapa arah percakapan mereka semakin dalam? Apa benar mereka ada hubungan khusus?” ketiga kalinya Damian berbisik pada Qeiza, dan kali ini wanita itu benar-benar merasa konsentrasinya terganggu.
“ITUKAN URUSAN PRIBADI…”
Qeiza tanpa sadar kehilangan kesabaran nya dan berbicara dengan lantang, membuat mata ketiga orang lainnya mengarah padanya. Untungnya sebelum menyelesaikan kalimat, dia kembali sadar. Wanita itu langsung berpura-pura sedang melakukan percakapan pribadi dengan Damian, sementara pria itu hanya tersenyum tipis pada ketiga orang lainnya.
“Sepertinya kalian asik berbicara hingga mengabaikan makanan diatas meja. Danny mungkin akan kecewa jika melihat ini?” ucap Ray, yang sebenarnya lebih ditujukan kepada Arion.
Ray yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan pria itu terus bertanya. Namun dia merasa percakapan itu hanya satu arah, tidak. Dia yakin Calya tidak menikmati percakapan itu, mungkin wanita itu merasa terganggu. Terima Kasih pada momen yang diciptakan Qeiza, dia jadi punya kesempatan untuk bertindak.
“Kurasa Danny tidak akan kecewa. Karena dia bisa menjadi fasilitator bagi tamu-tamunya untuk berbincang dengan santai.”
“Kalau cuma untuk berbincang santai, kurasa kalian bisa bebas melakukannya kapan saja. Kupikir kalian sedekat itu?”
Walaupun sedikit, namun ketegangan di meja tersebut tetap terasa. Menciptakan keheningan nntuk beberapa saat, hingga seseorang mengakhirinya.
Calya bangkit berjalan pergi. Akhirnya bisa sedikit bernapas lega setelah beberapa langkah menjauhi meja itu. Memang benar dia merasa tidak nyaman. Untuk kali pertama dalam hidupnya dia merasa terintimidasi. Rasanya seperti berada diantara dua tembok besar yang perahan-lahan bergerak untuk menghimpitnya
"Tidak bisa seperti ini! Aku harus pergi dari tempat ini," ucapnya yang kini sedang melihat pantulan diri di cermin.
Calya mengambil ponselnya, membiarkan jemarinya menari diatas layar sentuh gawai itu. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya wanita itu kembali memasukkan ponselnya kedalam tas. Calya berjalan keluar dari toiet.
Calya kembali ke meja bulat itu. Bersikap normal, selayaknya Calya yang selalu pandai menutupi segalanya. Sedikit makan, sedikit minum bahkan menjawab beberapa pertanyaan yang ditujukan padanya.
Terlihat sepeti dia memutuskan untuk tinggal disana lebih lama, sebelum akhirnya suara ponselnya terdengar.
"Halo, kenapa Rezvan?"
"Iya, benar F Brand. Kenapa memangnya?"
"Sekarang?'
"Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu di kantor."
Calya menyimpan kembali ponselnya didalam tas sementara beberapa pasang mata menatapnya saat ini. Dia terlebih dahulu mengemasi beberapa barangnya sebelum memberi penjelasan pada orang-orang di meja itu.
"Ada urusan mendadak di kantor, jadi saya harus pergi sekarang. Ayo Qei!"
"Kenapa kau juga ikut pergi?" tanya Damian pada Qeiza.
"Pekerjaan Calya pekerjaanku juga, tidak lupa kan?"
Kedua wanita itu bangkit dari kursi. Sebelum pergi Qeiza tak lupa berpamitan, sebagai basa-basi terakhir pada ketiga pria disana.
"Kami pergi dulu. Selamat menikmati pestanya."
***
“Haaahhh… Akhirnya bisa terbebas dari neraka kecanggungan,” Qeiza meregangkan otot-otot tubuhnya seolah ia habis terikat dalam sebuah ruangan.
“Idemu ampuh juga,” ucap Calya seraya menepuk bahu sahabatnya.
“Tentu saja! Kalau kau tetap menjalankan rencanamu, mungkin kita belum bisa keluar sekarang.”
***
Calya mengambil ponselnya, membiarkan jemarinya menari diatas layar sentuh gawai itu.
‘AKU MAU PULANG!’
^^^‘Kamu mau beralasan apa pada mereka?’^^^
‘TIDAK PERLU ALASAN! POKOKNYA AKU MAU PULANG!’
^^^‘Kalau kamu langsung pulang begitu saja, tidak sopan namanya! Jangan lupa, mereka itu klien dan atasan kita!’^^^
‘Lalu kamu sendiri punya rencana?’
^^^‘Tentu saja! Aku sudah memikirkan ini sejak tadi.’^^^
‘Apa?’
^^^‘Kita gunakan pekerjaan sebagai alasan.’^^^
‘Memangnya mereka akan percaya?’
^^^‘Mereka akan percaya, kalau ada yang menelponmu.’^^^
‘Tapi siapa?’
^^^‘Sedang ku urus, kamu kembali saja kemari.’^^^
‘Ok.’
Calya berjalan keluar dari toiet, dan kembali ke meja itu. Kali ini Qeiza yang terlihatsibuk dengan ponselnya.
‘REZVAN! TELEPON CALYA 10 MENIT LAGI, PENTING!’
^^^‘Apa? Kenapa?’^^^
‘SUDAH, LAKUKAN SAJA!’
^^^‘Tidak mau! Jangan-jangan kau mau menumbalkanku seperti waktu itu!”^^^
“Berlebihan sekali. Terserah kalau tidak mau! Jangan salahkan aku kalau nanti kau jadi tumbal kemarahan Calya!”