LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
PR



“Aku pikir kita benar-benar harus ke kantor.”


Calya mengeluh sembari membuka jaket nya, meletakkannya di sofa sebelum berjalan ke arah dapur.


“Tentu saja tidak. Aku hanya menggunakan kecerdasanku untuk menyelamatkanmu dari situasi yang menyebalkan, you should’ve thank me?”


“Terima kasih.”ucapnya  sambil menyerahkan sebuah gelas dan menuang minuman dingin kedalamnya.


“Sama - sama.”


Kedua wanita itu kemudian duduk di sofa sembari menyaksikan acara di televisi.


“Sepertinya sudah tidak banyak yang membahas kontroversi LOVATY akhir-akhir ini.”


Qeiza memulai pembicaraan setelah meletakkan gelas yang ia pegang di atas meja.


“Hal seperti itu sangat wajar di industri ini. Jika suatu hal menjadi sangat populer akan ada masalah muncul, kemudian masalh itu akan menjadi topik panas di masyarakat. Setelah beberapa waktu topik panas itu akan menghilang, entah karena ditutupi oleh topik panas yang lain atau karena orang-orang mulai melupakannya.”


“Saat masalah ini muncul kupikir ini akan menjadi akhir dari Klandestin, tapi ternyata tidak.”


“Sebanyak apapun orang yang menandatangani petisi itu tapi yang menggunakan LOVATY masih lebih banyak.”


“Hmm.. tentu saja, orang di sampingku contohnya.”


Sindiran langsung dari Qeiza hanya direspon tak acuh oleh Calya. Wanita itu terus memusatkan perhatiannya pada televisi di depan.


“Ini tidak boleh dibiarkan!” ucap Qeiza setengah berteriak yang sontak merebut perhatian Calya dari televisi.


“You have to choose one..” tambah Qeiza lagi yang hanya menambah kebingungan di benak Calya.


“..atau kamu nga boleh menggunakannya!”


Sejenak Calya bergeming, menunggu temanya itu menjelaskan lebih jauh. Namun menyadari tidak ada tanda-tanda yang terlihat ia akhirnya memutuskan untuk bertanya.


“Apa maksudmu sebenarnya?”


“Kamu harus berkencan dengan salah satu dari mereka atau kamu nga boleh pakai LOVATY sama sekali!”


“Are you crazy! Kenapa aku harus berkencan dengan salah satu dari mereka!”


“Terus kamu mau terus pakai LOVATY dan menutup dari semua pria? Lama-lama kamu bisa sakit beneran!”


“Kamu berharap aku sakit?”


“Justru karena aku berharap kamu nga sakit, i care about you so much!"


Percakapan yang semakin intens itu seketika terganti dengan keheningan, kedua wanita itu kembali menyandarkan kedua punggungnya pada sandaran sofa dan mata kembali tertuju pada televisi.


“Kenapa pasangan selalu menjadi masalah crucial di hidup ini?” ucap Calya kemudian, meskipun matanya masih mengarah ke televisi.


“Karena semua manusia dilahirkan dengan pasangannya masing-masing, jadi tugas kita untuk dapat menemukannya.”


“Are you talking about stuff like ‘soulmate or true love’?"


“Itu memang benar kan!”


Calya langsung memutar bola matanya, setengah tak percaya dengan yang barusan ia dengar.


“Come on Qei! Di umur segini kamu masih aja percaya dengan dongeng pengantar tidur?”


Kalimat Calya berhasil meningkatkan kembali antusiasme dari diri Qeiza, Wanita itu menjauhkan punggungnya yang semula menempel pada sandaran kursi, dengan posisi tegak duduk menghadap ke arah temannya.


“I’m not talking about Cinderella or Snow White like love story, tapi memang nyatanya setiap orang punya pasangannya masing-masing.”


“Kalau memang setiap orang punya satu pasangannya sendiri, kenapa ada perceraian? Kenapa ada perselingkuhan?”


Qeiza menghela napas, dia sadar siapa yang ada di hadapannya saat ini. Calya dalam mode keras kepala, artinya dia tidak akan berhenti berdebat hingga argumennya menang.


“Okay. Jadi, maksudmu, tidak ada konsep pasangan didunia ini.”


“Benar, manusia itu individualis.”


“Lalu apa? Kamu mau melajang seumur hidupmu, begitu?”


“Jika hidup sendiri memang lebih bahagia, why not?"


“What is happiness for you actually?"


Calya terdiam sejenak. Dia menyandarkan kepalanya di sofa agar matanya bisa dengan bebas memandangi langit-langit apartemennya.


“Bebas mengatur kehidupanku sendiri tanpa harus memikirkan pendapat orang lain. Bukankah hidupku sekarang sudah bagus? Bekerja, pulang, masak, makan, nonton, semuanya sesuai kemauanku.”


“Kamu seperti orang gua yang punya pekerjaan! Tidak mau bersosialisasi dengan sekitar.”


“Sosialisasi aku lakukan di tempat kerja, itu sebabnya aku bekerja!”


“Sosialisasi macam apa itu!”


“Kamu tidak seharusnya menceramahiku tentang sosialisasi sekarang, orang yang sedang menghindari pacarnya sendiri!”


Bagaikan terkena serangan telak, Qeiza tak bisa lagi membalas argumen temannya itu. Akhirnya dia meniru posisi Calya, menyadarkan kepalanya sambil menatap langit-langit putih.


“Hahhh.. Dulu aku selalu memikirkan ini. Menikah muda, suamiku bekerja dan aku mengurus rumah. Menunggunya pulang dengan makanan yang sudah siap, makan bersama dan berbincang-bincang semalaman. Tapi entah sudah berapa lama aku berhenti memikirkannya, apa aku benar-benar sudah tertular olehmu?”


Calya terdengar tertawa kecil.


“Hidup seperti ini juga tidak buruk, idak ada yang melukai dan dilukai.”


Drrttt.. Drrrttt…


“Sampai kapan kamu akan menghindari dia? Kalau memang ingin berhenti, setidaknya akhiri dengan baik.”


Qeiza memandangi layar ponsel yang terus bergetar itu, dimana nama Damian terlihat disana.


“I know. Aku cuma sedang memikirkan caranya.”


“Dari tampangnya, sepertinya dia bukan tipe yang akan menyakitimu.”


“Memang tidak, tapi dia membuatku tidak nyaman.”


“Why?”


***


Damian mengendarai mobilnya menuju rumah Qeiza, mengantar wanita itu pulang setelah menyudahi makan malam mereka. Suasana disana tampak tenang, hanya alunan How Deep is Your Love dari Bee Gees yang terdengar. Qeiza sibuk dengan ponselnya sementara Damian fokus pada jalanan didepannya, tidak seperti lagu romantis yang sedang terputar.


“Terima kasih sudah mengantarku.” ucap Qeiza yang sudah sampai di dekat rumahnya.


“Kita selalu pulang malam, lain kali kita harus pulang lebih awal.”


“Kenapa?”


“Agar aku bisa bertemu dengan keluargamu.”


“Apa? Untuk apa?” Satu kalimat dari Damian langsung membuat wanita itu gugup.


“Tentu saja untuk memperkenalkan diri, aku bukan sopir taksi yang tugasnya mengantarmu kesana kemari.”


“Tapi..”


“Tapi apa? Atau jangan-jangan.. itu yang kau katakan pada keluargamu tentangku.”


“Aku pikir masih terlalu awal untuk bertemu keluargaku.” jawab wanita itu sambil menunduk.


Damian diam memperhatikan Qeiza, wanita itu terlihat ragu-ragu untuk jujur tentang isi hatinya.


“What are we actually and what phase we are in now? Bisakah kau jelaskan padaku?”


Qeiza terkejut, ia mengangkat kepalanya. Matanya bertemu pandang dengan milik Damian, membuatnya mengalihkan arah pandang dalam sekejap. Otaknya mulai bekerja keras, memikirkan jawaban yang harus ia berikan pada pria di depannya Tentu gerak-gerik itu membuatnya terlihat aneh hingga pria itu pun menyadarinya.


Damian melangkah maju, selangkah demi selangkah mendekati Qeiza. Hingga membuat wanita itu semakin gugup dan bergerak mundur sedikit Sedikit, tentu karena dia tak ingin terlihat seperti orang yang sedang berhadapan dengan hantu. 


Dan Damian bukan hantu. Pria itu hanya mencoba untuk lebih dekat dengannya. Cukup dengan hingga tangannya bisa menggapai wanita itu. Mengusap rambutnya, mengatakan sebuah kalimat sebelum berjalan mundur dan meninggalkan tempat itu.


Malam itu, entah setelah berapa lama atau mungkin yang pertama kalinya. Qeiza kesulitan untuk tidur. Beberapa kali ia berbalik arah, memeluk guling hingga membungkus tubuhnya dengan selimut. Namun kantuk tetap tak datang. Pikirannya mereka adegan tadi, yang membuatnya terus-terusan merasa gelisah.


“Itu PR mu untuk malam ini.”


“PR ini akan memberiku mimpi buruk.” ucap wanita itu sebelum kembali membungkus diri dengan selimut.


Qeiza berjalan santai menuju kantor. Jaraknya hanya tinggal beberapa meter saat ia tak sengaja melihat Damian sedang berjalan menuju kearahnya.Qeiza mempercepat langkah kakinya. Setengah berlari wanita itu akhirnya bisa mencapai lift. Dia terus-menerus menekan tombol lift agar pintunya terbuka sebelum Damian tiba disana.


Pintu lift akhirnya terbuka tapi sosok Damian malah terlihat di dalam sana. Meski merasa terkejut Qeiza tak bisa lari dari sana. Dia melangkah masuk ke dalam lift dengan perasaan cemas. Khawatir dengan pertanyaan yang akan dilontarkan pria itu.


“Bagaimana PR yang kuberikan?”


“PR? PR apa maksudmu?”


“Kenapa kau pura-pura lupa? Jadi kita ini apa?”


Qeiza menjadi semakin gugup. Baik kata-kata dan raut wajah Damian saat ini sama-sama dingin. Membuatnya berpikir pria itu akan melampiaskan kemarahan padanya sesaat lagi.


“Kenapa kau diam? Ayo jawab pertanyaanku?”


Alih-alih menjawab Qeiza malah menekan tombol lift. Dengan cepat berlari keluar saat pintunya terbuka meski ia sendiri tak tahu itu lantai berapa. Namun ia terus berlari dan berlari hingga sampai di ujung koridor. Saat ia akan berbelok sosok Damian kembali terlihat disana. Qeiza hampir saja terjatuh, walaupun akhirnya bisa menyeimbangkan tubuhnya.


“Jadi kau hanya mempermainkanku? Benar kan? Ayo jawab!”


Qeiza langsung berbalik arah dan berlari. Belum jauh berlari Tubuh Damian kembali menghalau jalan yang ia tuju.


“Kau pikir aku bodoh? Berani sekali kau mempermainkan ku!”


Sekali lagi Qeiza berbalik. Wanita itu berlari sekencang-kencangnya tanpa berani membuka matanya. Kemudian…


BUUKK..


Qeiza meringis kesakitan. Mengelus pinggulnya yang terbentur lantai akibat jatuh dari atas kasur.


“Aku tidak akan bertemu dengannya.”


***


“Hahahahaa.. Ah.. Aku tidak seharusnya tertawa kan, maaf.”


Calya dengan susah payah berusaha menahan tawa sementara Qeiza memasang wajah kesal.


“Kalau dipikir-pikir yang Damian lakukan sebenarnya sama dengan yang kamu lakukan saat berkencan kan? Kenapa sekarang jadi kamu yang kabur?”


“Itu juga pertanyaanku. Mungkin karena aku terbiasa melakukan semua itu sebelumnya, aku jadi merasa tidak nyaman saat mendapat perlakukan yang sama. Gugup, cemas, takut, aku tidak suka merasakan semua itu.”


“Kasihan sekali temanku ini, wanna hug?” Calya membentangkan tangannya.


“Stop it!”