
Arion berdiri tepat di samping meja Ray dan Calya. Menyapa keduanya yang tak sengaja ia temui di kafe itu.
“Kebetulan sekali,” ucap pria itu.
“Benar, sungguh suatu kebetulan,” jawab Ray.
“Apa kalian sedang membahas masalah pekerjaan?”
“Tidak, bukan masalah pekerjaan,” ucap Ray santai.
“Oh, apa aku mengganggu kalian?” Arion mengira anda sesuatu yang bersifat pribadi antara keduanya.
“Tidak, bukan hal seperti itu,” Calya menjawab dengan cepat, takut situasinya akan menimbulkan salah paham.
“Calya hanya mengembalikan barang yang dia pinjam,” Ray menambahkan.
“Begitu rupanya. Karena kita bertemu disini, kenapa tidak berangkat bersama saja. Bagaimana nona Calya?”
“Kalian berdua ada janji?” tanya Ray.
“Ya, dengan para Game Influencer,” jawab Calya.
“Mungkin anda mau ikut, bagaimanapun juga ini proyek kita bersama?”
“Tentu saja, aku ingin sekali ikut. Tapi.. aku juga punya pekerjaan,” Ray menunjukkan layar ponselnya dimana terdapat sebuah pesan masuk di sana.
“Sayang sekali. Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang nona Calya?”
“Ya.”
Arion mengulurkan tangannya pada Ray sambil mengucapkan salam perpisahan.
“Sampai ketemu lagi.”
Ray pun berdiri dan menjabat tangan Arion.
“Sampai nanti.”
Calya memperhatikan raut wajah kedua pria yang didepannya itu. Keduanya sama - sama terlihat tersenyum tipis, Tapi entah kenapa suasananya terlihat tidak ramah. ‘Rasanya terakhir kali tidak seperti ini?’ pikir Calya.
Arion mempersilahkan Calya untuk jalan duluan, kemudian dia mengikuti di belakangnya. Kedua orang itu akhirnya meninggalkan kafe, diiringi tatapan mata Ray yang tak henti mengikuti mereka.
Calya dan Arion kini berada di dalam mobil, dalam perjalanan menuju ke tempat pertemuan. Selama perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, hampir setengah perjalanan hingga akhirnya Arion buka suara.
“Kau dan Ray sepertinya dekat, apa kalian punya hubungan?”
“Bukan urusan anda?”
“Atau kau juga mengambil keuntungan dari masalah pribadinya? Setidaknya pasti salah satunya?”
Calya tidak merespon ucapan Arion, dengan harapan pria itu akan berhenti berbicara. Namun, harapannya kosong.
“Jangan - jangan dia adalah salah satu koneksi penting anda. Apa nama sebutannya.. sponsor?”
“Jika anda ingin terus bicara omong kosong, lebih baik turunkan saya disini.”
“Baiklah.. baiklah. Aku hanya penasaran saja, jangan marah - marah begitu.”
Begitulah akhir dari satu - satunya percakapan mereka di dalam mobil. Selanjutnya di hanya ada kebisuan diantara mereka. Hingga mobil Arion berhenti di tempat tujuan mereka. Sebuah hotel berbintang, di salah satu aula di sanalah mereka akan mengadakan pertemuan.
Keduanya turun dari mobil, berjalan beriringan menuju aula yang sudah dipesan. Saat tiba disana beberapa orang sudah terlihat duduk menunggu kedatangan mereka. Salah satunya adalah pria muda yang pernah ditemui Calya di Mall tempo hari. Keduanya langsung duduk di kursi yang kosong, dengan Arion yang langsung mengambil alih pertemuan.
“Selamat sore semuanya. Terima kasih telah menyempatkan diri untuk hadir di sini. Nama saya Arion, bersama dengan perusahaan saya menciptakan game Sports World. Kalian pasti sudah mendengarnya, karena kalian adalah orang - orang yang terpilih untuk menjadi Game Tester kami. Saya juga sudah mengetahui kemampuan dan penilaian kalian terhadap sebuah game. Tujuan saya mengundang anda sekalian kemari adalah untuk memberitahukan agar anda semua bisa mempersiapkan diri. Karena hari dimana anda sekalian akan mencoba game kami akan disiarkan secara langsung dari tempat ini.”
***
Calya berjalan cepat setelah dia mengantar para game influencer pergi meninggalkan aula. Wanita itu mencari keberadaan Arion yang telah lebih dulu meninggalkan aula, tepat setelah dia mengatakan apa yang ia ingin katakan.
“Tunggu!”
Calya menghentikan Arion sebelum pria itu berjalan masuk ke dalam lift.
“Apa itu barusan?”
“Kenapa anda tiba - tiba mengumumkan tentang siaran lansung?”
“Karena aku menginginkannya.”
“Tapi kenapa anda tidak membahasnya terlebih dahulu dengan kami. Tugas kami adalah untuk mempersiapkan semua promosi yang diperlukan..”
“Tugas kalian memang mempersiapkan semua promosi yang diperlukan, tapi aku adalah klien disini. Aku punya hak untuk menentukan bagaimana dan apa jenis promosi yang akan digunakan.”
“Saya tahu. Tapi tidakkah seharusnya anda diskusikan dengan kami dulu sebelum anda mengumumkannya pada mereka? Ada banyak hal yang harus kami persiapkan untuk siaran langsung itu. Bagaimana kami akan mempersiapkannya secara mendadak?”
“Aku sudah menyiapkan tempatnya, sisanya silahkan kalian urus sendiri. Itu tugas kalian kan?”
Wanita itu kehabisan kata - kata untuk mempertanyakan kelakuan pria di depannya itu. Semaunya sendiri, tidak menghargai mereka dan egois, itulah isi pikiran Calya tentang pria itu saat ini.
TING
Pintu lift terbuka, memperlihatkan dua orang pria paruh baya yang berbeda umur beberapa tahun berdiri disana. Kedua pria itu melangkah keluar dari lift. Tatapan mata dari pria yang terlihat lebih tua tak lepas dari sosok Arion disana, Calya menyadarinya. Dan saat wanita itu beralih menatap Arion, pria itu juga tengah menatap pria paruh baya di depannya.
Pria itu berhenti tepat di depan Arion. Mengucapkan sebuah kata dengan pelan namun terdengar tegas “Ikut aku!” ucapnya. Kedua pria itu berjalan menjauh, diikuti pria paruh baya lainnya di belakangnya.
Sementara Calya masih berdiri diam di tempatnya, pikirannya mencerna suara pria paruh baya yang ia dengar barusan. Ia merasa pernah mendengarnya, tapi ia perlu mengingat dimana ia pernah mendengarnya.
“Apa yang sedang kau lakukan disini? Siapa wanita itu?”
“Kenapa ayah peduli?”
“Arion! Sudah Ayah katakan untuk berhenti membuat masalah! Lihat semua kekacauan yang telah kau perbuat, dan lihat dampak buruknya bagi perusahaan. Apa kau tidak pernah berpikir tentang itu!”
“Masalah? Masalahnya adalah aku tidak pandai menutupi perbuatanku, seperti yang ayah lakukan. Tidak. Sebenarnya aku tidak ingin menutupinya, karena aku tidak mau berpura - pura baik seperti yang ayah lakukan.”
“Jaga ucapanmu! Berani sekali kau bicara seperti itu pada orangtuamu!’
“Orangtua? Sejak kapan ayah pernah bersikap sebagai orangtua. Kecuali mengatur hidupku seperti pimpinan pada bawahan, kurasa tidak pernah.”
“KAU..”
“Pak, lebih baik anda tenang. Disini terlalu banyak yang melihat.”
Saat sang sekretaris memberinya saran, amarah pria itu sedikit mereda. Ia kembali berbicara dengan suara yang lebih kecil.
“Kuperingatkan padamu berhenti melakukan hal yang akan menarik perhatian wartawan. Jika tidak untuk Radhika Grup setidaknya lakukan demi kelancaran proyek yang sedang kau tangani.”
“Tidak perlu mengajariku, aku tahu bagaimana mengurus pekerjaanku. Konsentrasi saja pada pekerjaan ayah.”
“Jika kau memang tahu, seharusnya kau sekarang berada di kantormu. bukannya berkeliaran di hotel bersama seorang wanita.”
“Permisi.”
Perdebatan ayah dan anak itu mungkin akan kembali memuncak jika Calya tidak datang dan menyela mereka. Calya yang mulanya berdiri di jarak yang cukup jauh, melangkah mendekat setelah merasa mendapatkan perhatian para pria disana.
“Maaf kalau saya mengganggu, saya ingin memastikan apakah masih ada yang harus saya lakukan disini? Karena pertemuannya sudah selesai dan masih ada yang harus saya kerjakan,” Calya berbicara dengan hati - hati sambil menatap ke arah Arion. Sebenarnya ia tak harus maju dan menyela perdebatan itu, tapi ia sungguh tak mau terlibat dalam sebuah kesalahpahaman. Itulah mengapa ia disitu, melakukan sesuatu yang tak biasa ia lakukan
“Anda siapa?”
“Perkenalkan, Pak. Saya Calya Shalitta dari Parama Ad, dan kami baru saja mengadakan pertemuan untuk proyek game.”
“Tidak ada lagi yang harus kau lakukan, kau bisa pergi.”
Calya sedikit menundukkan kepala sebelum meninggalkan ketiga pria itu.
“Aku juga akan pergi, aku masih ada pekerjaan,” ucap Arion pada ayahnya. Tanpa menunggu respon sang ayah ia langsung beranjak pergi dari sana.
“Pak Ben.”
“Iya, Pak.”
“Cari tahu tentang wanita itu segera.”
“Baik, Pak.”