
Calya merebahkan tubuhnya begitu sampai dirumah, mencoba menghilangkan penat setelah menempuh perjalanan selama lima jam. Dia melihat jam dari smartphone miliknya, pukul 7.45.
Masih cukup awal baginya untuk tidur, tapi setidaknya tubuhnya bisa sedikit bersantai. Dia melihat ikon LOVATY di smartphone nya, ‘Apa sebaiknya aku log in?’ Sudah cukup lama sejak terakhir dia menggunakan LOVATY, ‘I miss Keanu’. Tapi entahlah, meskipun dia sangat ingin bermain LOVATY dan melihat Keanu, dia tetap tidak melakukannya. Mungkin keinginannya tidak cukup besar untuk menggerakkan tubuhnya.
Dia kembali menyentuh layar ponselnya yang gelap. Sebuah gambar terlihat saat ponselnya menyala. Gambar Keanu yang ia buat waktu itu, yang kini ia gunakan sebagai lock screen di smartphone nya. Dia membayangkan Keanu muncul didepannya namun bayangan wajah itu tiba – tiba berubah menjadi Ray.
“Apa yang harus kulakukan dengannya?” pria itu benar – benar membuatnya frustrasi.
“Tidak masalah! Mungkin aku tidak akan melihatnya lagi.” raut wajahnya berubah menjadi sendu.
“Mungkin sebentar lagi keputusannya akan keluar,” ucapnya.
‘Baiklah jika itu yang anda mau. Masalah ini akan dibahas bersama pimpinan lainnya. Hasilnya mungkin saja buruk, anda sepertinya juga siap akan hal itu,’ ia kembali teringat dengan kata – kata itu.
“Mungkin besok atau lusa hasilnya sudah ada,”
...***...
“Selamat pagi,” semua staf menyapa Calya yang baru hadir di ruangan hampir bersamaan.
Wajah semua staf terlihat sangat cerah. Sepertinya liburan dadakan mereka berhasil mengembalikan energy positif diruangan itu.
”Pagi semuanya!” Rezvan masuk keruangan dengan langkah riang.
Dia terus bersiul saat mulai duduk hingga meletakkan barang – barangnya diatas meja. Pemandangan itu memancing rasa penasaran dari staf lainnya. Terutama Kenzo, yang letak mejanya tak berada jauh dari pria itu.
“Kau terlihat senang sekali. Apa ada sesuatu yang bagus?” tanya pria yang saat ini telah berdiri disampingnya.
“Tentu saja sesuatu yang bagus. Jika itu sesuatu yang buruk, maka tampangku akan sama sepertimu” jawab pria itu.
Tingkah menyebelkannya langsung mendapat balasan dari Kenzo. Pria yang sedang memegang gulungan kertas, langsung memukulkannya ketubuh Rezvan. Pria itu tertawa, merasa telah berhasil menjahili temannya.
“Coba lihat ini!” ucap Rezvan menunjuk kearah laptop.
“Apa ini?” tanya Kenzo.
“Lihat aja!” Rezvan duduk santai, membiarkan temannya itu untuk fokus dan melihat.
Sebuah video documenter terputar disana. Video itu berisi kumpulan foto dan video pendek mereka selama liburan. Beberapa bagian tampaknya diambil secara diam – diam, memperlihatkan gaya – gaya yang aneh namun cukup lucu hingga membuat Kenzo bereaksi.
“Astaga!” ucap pria itu. Suaranya yang cukup keras menarik perhatian seluruh orang di ruangan itu.
“Ada apa sih?” tanya Qeiza dari ujung sana.
Tidak ada yang menjawab pertanya wanita itu baik itu Kenzo atau Rezvan. Keduanya makin terlihat asik menatap layar laptop sambil tersenyum. Qeiza menatap Calya yang juga terlihat sama penasarannya dengannya.
Saat Calya akhirnya menoleh padanya, wanita itu langsung memberi kode agar temanya itu memeriksa apa yang sedang dilakukan kedua orang itu.
“Rezvan! Kenzo!”
“Ya!” dalam sepersekian detik kedua pria itu langsung merespon panggilan Calya.
Suara wanita itu ibarat alarm. Siapapun diruangan itu yang mendengarnya akan langsung mengenalinya.
“Apa yang sedang kalian lihat?” tanya Calya pada mereka.
“Ini.. “ kedua pria itu bingung bagaimana akan menjelaskannya.
“Masterpiece! Milik Creative department” Kenzo menjawab.
“Kalau diizinkan kita bisa melihatnya bersama – sama,” ucap Rezvan tersenyum sambil menunjuk kearah LED TV disana.
Calya mengangguk menyetujuinya. Dia juga cukup penasaran sama halnya dengan seluruh staf disana. Rezvan menekan tombol play setelah menghubungkannya pada televisi. Kini semua orang terpaku menatap layar televisi.
‘Creative Department Special Holiday’ kalimat itu menjadi pembuka video. Setelahnya foto – foto sebelum mereka berangkat terlihat, lengkap dengan semua barang bawaan yang membuat mereka terlihat heboh. Video beralih pada adegan mereka didalam bis, dimana mereka melakukan pertunjukan bakat. Bahkan bagian dimana mereka bernyanyi bersama dengan suara yang keras juga ada.
Kemudian adegan menunjukan saat mereka telah tiba di villa. Sedikit foto – foto yang mereka ambil bersama, sebelum foto – foto aneh mulai bermunculan.
Foto – foto itu menunjukan mereka yang sedang berpose dan si pengambil foto. Semua gaya – gaya aneh yang mereka lakukan terlihat divideo itu, tidak terkecuali Qeiza.
Orang – orang yang wajahnya muncul divideo dengan gaya yang aneh langsung menjerit histeris, sementara yang lain tertawa. Mereka kembali tertawa tatkala kumpulan foto dan video saat mereka tengah bermain tantangan kaleng terlihat. Dari wajah – wajah bahagia, kesal hingga wajah mengkerut dari orang yang meminum air lemon.
Pada akhir video memperlihatkan foto mereka semua dengan latar matahari terbenam. Pada foto itu tertulis sebuah kalimat ‘Always stand by each other’s back’ dipadukan dengan backsound lirik terakhir lagu dari Fun ft. Janelle Monae – We Are Young ‘So if by the time the bar close, and you feel like falling down. I’ll carry you home tonight.’
Menjadi sebuah akhir yang manis bagi semua anggota tim disana. Wajah – wajah terharu tampak disana. Sebagian menginginkan kesempatan untuk berlibur bersama kembali, dan diantaranya ada yang merasa bahwa ini adalah momen terakhir.
Sebelum jam makan siang Calya kembali dipanggil ke Manajemen. Wanita yang sudah siap dengan keputusan yang akan dia dengar melangkah dengan pasti, namun tidak menghilangkan rasa gugup didirinya. Wanita itu menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.
"Silahkan masuk" ucap suara dari dalam ruangan.
Sempat terjadi keheningan didalam ruangan itu selama beberapa saat. Pria paruh baya itu tampak memperhatikan sebuah berkas tanpa berbicara apapun setelah mempersilakannya masuk. Membuat wanita itu semakin gugup.
"Beberapa hari yang lalu saya sempat bilang bahwa masalah anda akan dibahas bersama para pimpinan lainnya. Kami sudah melakukannya," akhirnya pria itu mulai berbicara.
Punggungnya yang semula ia tempelkan di sandaran kursi kini ia tarik, mencondongkan tubuhnya kedepan. Ia meletakkan berkas itu diatas meja.
"Menurut anda hasilnya seperti apa?" tanya pria itu.
Dengan mantap Calya menjawab "Menurut saya kesalahan yang saya perbuat tidak bisa ditolerir."
Pria itu menyandarkan punggungnya kembali "Lalu bagaimana dengan hati anda? Hasil seperti apa yang anda inginkan?"
Calya terdiam. Dia merenungkan momen dari awal masa kerjanya, saat dia masih karyawan magang. Hingga momen terakhirnya, saat tim ya berlibur bersama.
"Saya ingin tetap bekerja disini," ucap wanita itu.
Semua yang ia alami sampai saat ini dan semua yang dia dapatkan ditempat ini. Dia tidak tahu apakah itu semua bisa digantikan. Tidak, dia tidak ingin menggantinya.
"Sesuai yang anda pikirkan, hasil keputusan rapat adalah untuk memberhentikan anda. Semua pimpinan beranggapan sama, bahwa Parama Ad tidak bisa menolerir kesalahan seperti ini. Apalagi harus membahayakan masa depan perusahaan."
Wanita itu mengangguk kan kepalanya, dia terlihat menunduk setelahnya.
"Tapi ada sedikit orang yang bersikeras membela anda," Seketika Calya menatap pria itu. Sorot matanya mempertanyakan kebenaran kalimat yang ia dengar barusan.
"Mereka terus berkata untuk melihat kembali hasil kerja anda dan potensi kesuksesan yang akan anda bawa bagi perusahaan kedepannya," Pria itu terus menggantung kalimatnya, sementara Calya tidak bisa berbicara sebelum ia mendengar keseluruhan kalimatnya.
"Ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Jika kedepannya anda melakukan kesalahan sedikit saja, kami tidak akan mempertimbangkan apapun lagi," Kalimat itu benar-benar membuat Calya tertegun.
Ia tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar, meskipun itu adalah apa yang ia inginkan. Saat dilorong menuju Creative Department ia sempat berhenti untuk mengingat kembali semuanya. Ia mencubit lengannya untuk memastikan, 'aww' dan rasa sakit mengembalikan ya ke kenyataan.
"Cal, udah selesai? Yuk!" Qeiza langsung menarik tangan Calya begitu wanita itu masuk ke ruangan. Dia bahkan telah telah membawa tas milik Calya agar tak kembali dibuat menunggu.
"Eh.. Mau kemana?" tanya Calya.
"Lunch.. Come on! I'm starving to death," Qeiza merengek seakan belum makan berhari - hari.
Ruangan itu memang terlihat kosong saat in, artinya Qeiza sengaja menunggu Calya untuk makan bersama. mereka berdua langsung pergi makan siang.
...***...
"Apa?" Qeiza memekik tak percaya.
Kedua wanita itu sedang menikmati hidangan makan siangnya. Saat Calya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Qeiza.
"Begitu banyak hal yang terjadi dan kamu baru cerita sekarang!" Qeiza melakukan protes. Calya menyembunyikan sesuatu darinya, membuatnya merasa tak dianggap sebagai teman.
"I'm sorry. Semuanya terlalu cepat dan aku benar-benar tidak dapat memikirkan apapun saat itu," Calya mencoba menjelaskam situasinya saat itu.
"Setidaknya kamu kan bisa telepon aku, untuk apa nomor teleponku ada disana? Buat pajangan!" Qeiza yang marah tidak akan mudah dibujuk. Wajahnya yang ditekuk menandakan Calya harus lebih berusaha lagi.
"I'm so sorry. Jangan marah.. Nanti aku belikan tas Dior ya?" trik membujuk Calya selain minta maaf adalah tas branded.
Qeiza yang sedari tadi memalingkan wajahnya terlihat melirik kearah Calya. Tas branded jelas menarik perhatiannya.
"Sudahlah. Jadi kamu benar-benar tidak akan pergi kan?" Qeiza memastikan bahwa Calya benar masih bekerja disana.
"Ya seperti itu," jawab Calya.
"Menurutmu siapa yang membelaku saat rapat?" wanita itu masih penasaran.
"Dari analis ku, tidak banyak pejabat tinggi di Parama Ad yang menyukaimu. Setidaknya sampai membelamu seperti itu. Tapi jika dilihat dari kacamata profesionalisme, setidaknya ada satu nama yang berpotensi," Qeiza menggantung kalimatnya.
Calya mengernyitkan dahinya, menunggu jawaban Qeiza menyelesaikan kalimatnya.
"Damian," lanjut Qeiza.
Calya mengangguk, memang benar bahwa pria itu sangat profesional. Dia juga selalu berpikir logis dan rasional.
"Apalagi dia punya teman yang merupakan slah satu eksekutif di Niskala," Qeiza mulai berusaha menggoda Calya.
"Jadi pasti tidak sulit baginya untuk membujuk pimpinan lain," lanjutnya.
"Aku perhatikan sepertinya kau mulai akrab dengan Damian," Calya mengalihkan pembicaraan sebelum Qeiza dapat membahas tentang Ray lebih jauh.
"Apa?" Qeiza kaget sekaligus tak mengerti dengan kalimat temannya barusan.
"Waktu kita liburan kalian bahkan pergi bersama," sepertinya Calya berhasil mengganti topik pembicaraan.
"Jangan ingatkan aku tentang dia dan liburan. Benar - benar menyebalkan!" Qeiza menggerutu.