
Calya masih terjebak bersama Arion saat ini. Berjalan menyusuri pusat perbelanjaan dengan tangannya yang masih terus digandeng oleh pria itu. Sempat berpikir ini semua akan berakhir setelah keluar dari butik tadi, ternyata semua itu hanya angan kosong. Pria itu sama sekali tak berniat untuk mengijinkannya pergi, tak sedikitpun.
Ditengah perjalanan mereka dua orang tiba-tiba menghampiri mereka. Kaget, heran dan curiga terlihat jelas diraut wajah kedua orang itu. Meski begitu mereka tetap bersikap tenang saat menyapa. Sama halnya dengan ketenangan yang ditunjukan oleh Arion dan Calya saat membalas sapaan mereka.
“Kamu menolak saat aku mengajakmu berbelanja, you said you wanna go home. So, this is your home?” Ucap Qeiza pelan, sementara Damian dan Arion sedang sibuk berbicara.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Hmmm.. yeah. Whatever.”
“Wait!” Ucap Calya menghentikan Qeiza yang hampir beranjak, namun tetap sepelan mungkin agar tak didengar oleh kedua pria itu.”You need to save me.”
“How? I have no idea.”
“I don’t know! Coba pikirkan sesuatu.”
Perbincangan kedua wanita yang tidak terdengar isinya itu membuat Arion mulai curiga. Dia bergerak menghampiri hingga membuat percakapan para wanita itu terhenti.
“Tidakkah seharusnya kita pergi? Tidak baik mengganggu kencan orang lain.”
Entah bagaimana kata-kata pria itu membuat Calya merasa tak mempunyai pilihan. Ia mengucapkan salam perpisahan pada temannya itu, melupakan kesempatan untuk kabur yang sedang mereka rencanakan.
“Mereka terlihat semakin dekat saja.” ucap Damian.
“Aku tidak yakin, tapi mereka memang terlihat dekat.” tambah Qeiza sebelum meeka berdua melanjutkan perjalanan.
Tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh Arion dan Calya tadi. Pasangan ini juga sedang menyusuri pusat perbelanjaan itu, memasuki toko satu-persatu. Inilah Qeiza jika sudah berbelanja, mulai dri tas, sepatu hingga baju, ia tak akan berhenti sebelum mengunjungi semua tempat yang ia tahu. Untungnya Damian sama sekali tidak terlihat terganggu, benar-benar sabar mengikuti langkah kaki wanita itu.
Setelah beberapa saat Qeiza akhirnya selesai berkeliling, beberapa barang sudah ia temukan dan itu cukup membuatnya puas. Keduanya kini dalam perjalanan pulang. Dalam suasana hening yang hanya diisi alunan lagu lawas dari pemutar musik, Damian tiba-tiba memulai pembicaraan.
“Sudah siapkan baju untuk ke pesta?”
“Pesta? Oh, maksudmu Anniversary Radhika Grup?”
“Iya.”
“Entahlah, aku berencana untuk tidak pergi.”
“Kenapa?”
“Anggota tim yang lain akan pergi juga para petinggi perusahaan. Aku rasa itu sudah cukup.”
“Bagaimana denganku?”
“Apa?”
“Tidakkah seharusnya kau menemaniku pergi ke pesta?”
“Hah?”
“Bagaimana?”
“...”
“Kalau begitu ayo kita pergi cari pakaian untukmu, Aku tahu tempat yang bagus.”
“Aku bahkan belum menjawab,” ucap wanita itu dalam hati.
Damian membawa Qeiza kesebuah butik mewah di pusat kota. Membiarkan wanita itu melihat-lihat semua gaun yang terpajang sementara ia duduk dan menunggu dengan sabar.
Qeiza akhirnya mengambil beberapa pasang gaun dan membawanya ke dalam ruang ganti untuk ia coba. Saat ia akan keluar untuk menanyakan pendapat Damian, ia melihat pria itu sedang berbicara dengan seseorang. Wanita yang sama dengan yang ia lihat tempo hari di kafe.
Alih-alih keluar Qeiza malah bersembunyi di ruang ganti. Matanya terus mengawasi gerak-gerik kedua orang disana. Namun ia tak dapat mendengarkan satu kata pun yang mereka ucapkan. Sampai kedua orang itu berjalan keluar butik, barulah Qeiza beranjak dari persembunyian nya dan buru-buru menghampiri salah satu karyawan disana.
"Permisi."
"Iya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa.. Anda mengenal wanita yang baru saja keluar?"
"Tentu saja. Beliau pemilik butik ini."
"Ahhh.. Begitu… Bagaimana dengan p.."
"Sudah dapat?"
Pertanyaan Qeiza terpotong saat tiba-tiba Damian datang menghampirinya.
"Baju yang mana?" Tanya pria itu lagi.
Qeiza buru-buru menarik pria itu agar pergi dari sana, khawatir para karyawan akan memberitahu pria itu tentang pertanyaannya barusan. Karena jika ini butik milik wanita itu, maka para karyawan disini tentu mengenal Damian. Qeiza tak ingin kecurigaannya terungkap sebelum dia mendapat bukti yang pasti.
***
Bagai baru terlepas dari masa sulit, Calya yang akhirnya berhasil terlepas dari Arion terbaring tak berdaya di atas sofanya. Bukan fisiknya yang terkuras, tapi mentalnya. Selama beberapa jam terakhir dia menekan rasa kesal dan amarahnya dan berusaha untuk tidak membuat masalah, yang justru membuatnya terjebak dalam masalah itu sendiri.
Sekarang setelah dia sampai di rumahnya sendiri dia tidak harus menahan semuanya lagi, bukan? Dia tahu bagaimana melampiaskan perasaannya saat ini dengan cara yang tepat.
Mungkin sudah terlambat untuk menjalankan rencana bersama Keanu seperti yang telah dibuat, Tapi kehadirannya lebih berguna disaat - saat seperti ini. Tanpa basa-basi Calya langsung mengeluarkan semua isi hati yang selama beberapa jam ini ia pendam. Tepat begitu sosok pria itu muncul, tanpa ekspresi memperhatikan wanita itu berbicara panjang lebar.
Tak sedetikpun jeda muncul diantara tiap kata yang dikeluarkan Calya. Tapi suatu hal akhirnya menghentikannya untuk berbicara, tenggorokan yang kering. Wanita itu akhirnya beranjak dari sofa menuju dapur. Meneguk habis segelas air untuk membasahi kerongkongannya. Begitu ia berbalik, matanya terbelalak karena sesuatu hingga menjatuhkan gelas di tangannya.
“Bagaimana bisa kau...” Ucap wanita itu. Masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
“Mengikutimu kesini?”
Calya menganggukan kepalanya.
“Ini salah satu fitur baru yang sedang kami kembangkan saat ini. Bukankah kau sudah bergabung ke versi beta?”
“Wow! Luar Biasa! Kau sungguh bisa berpindah tempat.” Ucap Calya takjub.
Sedari tadi wanita itu berjalan menjelajah gedung apartemen tempat tinggalnya hanya untuk menguji sebaik apa fitur baru program itu. Dan tetap membuatnya terkesan entah untuk keberapa kalinya. Merubah suasana hatinya menjadi lebih baik, menghapus kekesalan yang menjalar di hati dan pikirannya selama beberapa jam terakhir.
“Silahkan memberikan umpan balik terkait fitur-fitur baru kami, untuk membantu proses pengembangan program menjadi lebih baik.”
“Apa ini? Kau terdengar seperti robot.”
“Aku bukan robot, tapi visualisasi manusia dalam sebuah realitas berimbuh.”
“Siapa yang minta penjelasanmu?”
“Aku hanya meluruskan kesalahpahaman yang kau miliki…”
KLIK
“Dia menyebalkan!”
Menghentakkan kaki sambil berjalan kembali ke apartemennya. Seperti anak kecil, Calya yang merasa kesal mematikan LOVATY secara tiba-tiba. Suasana hatinya berubah dua kali dalam beberapa menit terakhir dan itu semua karena Keanu.
“Tidak akan kugunakan lagi!”
Kekesalannya bertambah parah saat ini. Setidaknya dia bisa memaklumi rasa kesalnya terhadap Arion, karena pria itu pada dasarnya memang menyebalkan. Tapi tidak dengan rasa kesalnya saat ini.
Kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya. Dia bergantung pada sosok virtual itu, terbiasa, hingga menganggapnya nyata. Namun apa yang ia rasakan barusan seolah telah memaksanya kembali ke kenyataan. Kenyataan yang sudah ia ketahui, namun menolak untuk ia akui.
“Aku tidak akan menggunakannya lagi!”
Orang bilang jangan mudah mempercayai kata-kata orang yang sedang tersulut emosi, karena kata-kata itu tidak dipikirkan dengan baik. Sepertinya hal itu juga berlaku pada Calya. Kata-katanya yang mengatakan tidak akan menggunakan LOVATY lagi hanya bertahan selama beberapa hari.
Kini ia sudah mulai menggunakan LOVATY lagi, bahkan lebih sering dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia hanya menggunakan LOVATY di apartemen miliknya. Kali ini ia menggunakannya hampir disetiap tempat ia berada. Dikantor saat ia harus lembur sendirian hingga di supermarket saat ia sedang belanja keperluan rumah. Saat ini pun dia sedang menggunakannya, sambil berjalan santai di sebuah taman.
“Wow.. What is this?” Matanya terbelalak begitu menyalakan LOVATY. Pemandangan sekitarnya kini terlihat lebih berwarna, sungguh visualisasi yang luar biasa.
“Ini fitur baru yang sedang kami kembangkan. Bagaimana menurutmu?”
“And you even change your clothes too?” Terlalu terpana hingga tak menyadari perubahan yang ada disampingnya.
“Untuk membuat semuanya semakin terlihat nyata. maka pakaian juga harus dengan juga harus disesuaikan dengan tempat.”
“Yeah… not bad.” anggukan kecil mengiringi pengakuannya terhadap ide pengembangan yang dilakukan perusahaan itu.
“Jangan lupa untuk memberikan umpan balik agar kami bisa mengembangkan program lebih baik lagi.”
“Oh.. please.. i’m tired to hear that words. Aku pastikan untuk memasukkan hal ini ke dalam feedback nanti!”
“Apa kau tidak puas dengan fitur baru yang sedang kami kembangkan?”
“I love everything but you, kau masalahnya! Semua hal lain ditingkatkan fungsinya tapi kau sendiri malah makin memburuk!”
“Kau bisa kirim masukanmu pada umpan balik…”
“Jangan khawatir, pasti kulakukan!”
Calya mempercepat langkahnya untuk menghindari mode robot Keanu yang menyebalkan. Tentu saja hal itu mustahil dilakukan. Secepat apapun wanita itu melangkah secepat itu pula Keanu mengikutinya, pergerakannya adalah pergerakan Calya sendiri. Hal itu membuat wanita itu semakin kesal. Dia bersiap untuk berlari. Namun hanya beberapa langkah yang dapat dia buat. Kakinya membentur sesuatu yang membuat tubuhnya hampir menabrak tanah jika saja tidak ada sebuah tangan yang menahan tubuhnya.
“Are you okay?”