LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Kacau



Tidak seperti hari - hari lain dimana Calya terbiasa menyantap makan malamnya dirumah, hari ini ia akan makan malam diluar. Wanita itu berpakaian cukup rapi dan kini sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran.


"Selamat malam. Apa anda sudah memesan tempat?" penerima tamu menyapa dengan ramah.


"Ya."


"Atas nama siapa pesanan nya?"


"Karina."


"Baiklah, silahkan masuk. Selamat datang di restoran kami."


Calya masuk kerestoran bergaya Eropa, ditemani seorang pegawai restoran yang akan mengantar nya ke sebuah ruang makan pribadi yang sudah dipesan. Sesampainya di meja, seorang wanita paruh baya sudah duduk disana. Wanita cantik yang mengenakan blouse abu - abu dengan rambut terikat itu tersenyum begitu menyadari kedatangan Calya.


"Kamu sudah datang, nak!"


"Hai, Bu! Apa ibu menunggu lama?"


"Tidak, ibu baru saja sampai. Duduklah!"


Ibu dan anak itu duduk dan memesan makanan setelah melepas rindu dengan saling berpelukan.


"Bagaimana pekerjaanmu?"


"Baik."


"Ibu dengar dari paman, perusahaanmu banyak bekerjasama dengan perusahaan besar. Kau pasti sangat sibuk."


"Perusahaan kami memang selalu sibuk, bukan hanya saat ini saja. Tidak masalah, aku sudah terbiasa."


"Se sibuk apapun kau tidak boleh melewatkan jam makan, agar tidak gampang sakit."


"Jangan khawatir tentang itu. Ibu sendiri bagaimana? Apa Tante Nelly sehat?"


"Seperti yang kau lihat, ibu baik - baik saja. Tante Nelly juga begitu, dia selalu sibuk dengan semua bisnis rumah nya."


"Apa bisnis nya berjalan lancar?"


"Dia bahkan membuka bisnis baru. Kadang ibu juga menolong nya. Dia itu benar-benar gila bisnis."


"Benar juga, dari dulu dia senang sekali berwirausaha."


"Ibu beritahu padamu! Jangan habiskan semua waktuku pada pekerjaan saja. Kau juga harus meluangkan waktu untuk berenang - senang dengan teman-teman mu."


Pramusaji yang datang membawa hidangan, sejenak menghentikan perbincangan kedua wanita itu. Keduanya memrpersiapkan alat makan dan mulai menyantap hidangan yng sudah tersaji. Namun tak menghentikan pembicaraan yang tadi sempat mereka lakukan, mereka masih berucap beberapa kalimat disela - selat kegiatan makan nya.


"Ibu serius. Kau harus mendengarkan saran ibu tadi. Bersenang - Senang lah sekarang, karena nanti jika kau sudah menikah kau tidak akan punya waktu."


"Iya, iya. Aku mengerti."


"Akan bagus jika kau mendapatkan suami yang pengertian. Sesekali bisa mengajak mu jalan - jalan. Tapi jika tidak, hidupmu nanti akan berakhir seperti ibu."


Gerak tangan Calya seketika berhenti setelah mendengar ucapan ibunya. Sepertinya dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini selanjutnya.


"Setelah menikah hidup ibu hanya dihabiskan dirumah saja. Jika pun pergi keluar rumah selain berbelanja, itu hanyalah saat kita pergi kerumah keluarga ayah mu. Satu - satunya agenda bulanan keluarga kita."


Calya hanya bisa diam sambil terus mencoba menyantap makanannya. Ia tidak yakin, tentang apa yang harus dia katakan sebagai respon.


"Ayahmu itu! Selama berpuluh - puluh tahun kami menikah sekalipun di tidak pernah bertanya apa yang ibu inginkan!"


"Padahal tidak banyak yang ibu inginkan, hanya waktu kumpul keluarga sesekali."


"Disaat pasangan lain pergi tamasya bersama keluarga nya, Ayahmu hanya sibuk dengan pekerjaannya."


"Jangankan memanjakan isterinya, memanjakan anaknya pun tidak pernah. Membantu mengurus mu dari kecil pun dia tak pernah."


Calya tak bisa menyangkal ucapan ibunya, semua itu memang fakta. Ia tak memiliki begitu banyak memori bersama ayahnya, karena ayahnya selalu sibuk bekerja. Bahkan ia sudah tidak memiliki semangat untuk mempermasalahkan itu sekarang, itu sudah terlalu lama.


Tapi tidak bagi ibunya. Wanita paruh baya itu sepertinya tidak bisa melupakan semuanya. Tak terhitung berapa puluh kali Calya mendengar cerita yang sama berulang - ulang. Entah karena ibunya mulai pelupa, atau dia memang ingin menceritakan nya lagi - lagi.


Pasa mulanya Calya tidak merasa keberatan, bagaimanapun ia adalah anak tunggal. Mungkin ibunya tidak memiliki tempat lain untuk berbagi cerita ini selain dirinya. Namun bukan berarti semua ini tidak memberi Calya pengaruh, sebaliknya ini sangat berpengaruh.


Setiap mendengar cerita ibu mengenai ayahnya, dia kembali teringat akan saat - saat ia harus mendengar pertengkaran mereka. Bagian paling tidak menyenangkan dihidupnya.


Sama seperti saat ini, semakin lama mendengarnya, semakin banyak memori terputar dikepalanya. Dadanya mulai terasa sesak, hingga ia tak mampu untuk tetap berada diruangan itu.


"Ibu, aku ingin kekamar kecil!"


Calya berusaha untuk terlihat biasa saja saat meninggalkan ruangan itu. Setelah pintu tersebut ditutup, barulah kondisi nya yang sebenarnya terlihat. Perlahan di berjalan di koridor sambil tetap berpegangan pada dinding disebelah kiri.


Setelah merasa berada cukup dari ruangan tadi ia berhenti berjalan. Bersandar pada dinding, berusaha mengatur napasnya kembali. Koridor itu cukup sepi hingga ia merasa lebih nyaman berada disana.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini!"


Suara nyaring seorang pria tiba-tiba terdengar disitu.


"Seperti ini? Seperti ini bagaimana maksudnya?"


"Bukankah kau sudah cukup dewasa untuk mengerti? Berhentilah bersikap kekanakan!"


"Aku sekolah ditempat yang ayah pilih. Belajar hal yang ayah pilih. Bekerja ditempat yang ayah pilih. Setelah semua itu ayah masih meneyebutku kekanakan?"


"Kalau ayah tidak memutuskan semua itu untuk mu mau jadi apa kau sekarang!"


"Itu karena ayah tidak pernah bertanya apa yang aku inginkan!"


"BERHENTI MEMBANTAH!"


Suara kedua pria itu semakin meninggi, hingga mungkin terdengar di sepanjang koridor. Sementara Calya masih berdiri disana. Sebuah ketidak sengajaan wanita itu berhenti disana saat kedua orang itu berada mulut. Tapi tetap berdiri disana adalah sebuah kesengajaan. Entah mengapa suara pertengkaran itu bagai sebuah siaran radio, dan dia ingin tahu detail nya.


"Kau, berhenti membuat masalah dan hiduplah dengan tenang. Jangan membuat malu ibumu disana!"


"Ibu? Apa ayah bahkan masih ingat dengan ibu?"


"Apa maksud ucapan mu?"


"Jangan membuat ku memperjelas nya. Bukan hanya aku yang membuat ibu malu, ayah tahu itu!"


"Bicara apa kau ini! HEY! JANGAN PERGI!"


BRAAKK


Suara pintu yang sengaja dibanting terdengar keras. Calya pun berniat melangkah pergi menuju toilet, sesuatu yang seharusnya ia lakukan dari tadi. Saat badannya berbalik. Matanya bertemu pandan dengan sosok laki - laki diujung sana. Pria itu juga melakukan hal yang sama, memandang Calya dari tempat dia berdiri.


Mereka mengenal satu sama lain. Pria itu adalah Arion, yang baru saja terlibat pertengkaran dengan ayahnya. Calya melanjutkan langkahnya, begitu juga dengan Arion. Langkah mereka semakin mengurangi jarak antar keduanya. Semakin dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya melewati satu sama lain. Langkah kaki mereka kini menambah jarak antar keduanya, hingga masing - masing menghilang di ujung koridor.


'Ternyata hidupnya sama saja denganku, kacau!' ucap wanita yang saat ini sedang mencuci tangannya di wastafel.