
Setelah acara siaran langsung selesai, Damian langsung pergi meninggalkan aula. Pria itu berjalan menuju tempat parkir, mencari mobilnya dan masuk kedalam. Ia sudah menghidupkan mesin mobil, namun kemudian mengurungkan niatnya untuk menginjak pedal gas.
Damian kembali teringat ketika Ray mengiriminya pesan tentang mantan pacar Qeiza. Hari itu ia sempat membalas pesannya.
‘kenapa kau memberitahuku? ‘
^^^‘Jangan berpura - pura. Kau pikir aku tidak tahu untuk apa selama ini kau sering menanyakan informasi tentang beberapa pria. Kau juga selalu bereaksi setiap kali nama Qeiza disebut. Sebaiknya kau mulai bertindak sebelum kau menyesal.’^^^
Damian terdiam memikirkan perkataan temannya. Apa benar dia telah jatuh hati pada wanita itu? Sejak kapan dia mulai jatuh hati padanya? Dia tidak bisa menemukan jawabannya, yang dia tahu sedikit demi sedikit dia mulai melibatkan diri pada urusan pribadi wanita itu.
Dia melirik tangan kirinya sebuah cincin perak melingkar di jari manisnya. Dia bahkan memberikan cincin yang sama hanya untuk meyakinkan orang asing tentang hubungan palsunya. Ini penipuan, pikirnya. Apa dia begitu mengasihani wanita itu hingga bertindak sejauh ini.
Saat pria itu sedang berpikir sambil memainkan cincinnya, dia tak sengaja melihat dua orang berjalan tak jauh dari mobilnya, Calya dan Arion. Damian melihat semuanya mulai dari Arion yang menggenggam tangan Calya hingga pria itu pergi bersama wanita lain.
Sulit baginya untuk menerjemahkan situasi itu, hingga dia lebih memilih diam dan menyaksikannya. Sampai akhirnya mobil Calya meninggalkan tempat itu.
“Calya pulang sendiri? Bagaimana dengan Qeiza? Apa dia pulang dengan temannya yang lain? Atau mungkin dia sudah pulang duluan? Tapi pekerjaannya terlalu banyak, tidak mungkin dia pulang duluan. Sebaiknya aku tunggu sebentar lagi.”
Beberapa menit berlalu setelah dia memutuskan untuk menunggu Qeiza disana. Damian akhirnya bisa melihat Qeiza sedang berjalan dari kejauhan. Damian berpikir untuk membiarkan wanita itu berjalan sedikit lagi dan menemuinya di depan agar terlihat seperti ia kebetulan masih disana.
Dia memasang sabuk pengaman, menghidupkan mesin dan mulai menjalankan mobilnya perlahan. Namun saat itu dia melihat Fabian sedang melakukan sesuatu pada Qeiza hingga wanita itu terjatuh ke tanah. Tanpa pikir panjang dia langsung keluar dari mobil dan menghampiri kedua orang itu. Pria itu melangkah cepat hingga cukup dekat dan melayangkan pukulan pada Fabian.
“Sudah kubilang jangan mengganggunya!”
Damian langsung menghampiri Qeiza yang masih menangis disana. mengambil barang - barang wanita itu yang terjatuh dan berusaha membantunya berdiri.
“Kau bisa berdiri?”
Qeiza yang sedari tadi menutup wajahnya dengan kedua tangannya langsung mengangguk dan meraih tangan pria itu. Mereka berdua melangkah bersama menuju mobil Damian tanpa memedulikan Fabian disana.
Di dalam mobil kedua orang itu hanya membisu. Qeiza masih berusaha untuk menghentikan tangisnya, sementara Damian hanya menyetir tak tahu apa isi pikirannya. Tak lama kemudian Damian menghentikan mobilnya di suatu tempat. Dia keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Qeiza.
“Ini dimana?”
“Taman. Keluarlah dulu, kita hirup udara segar.”
Kedua nya berjalan santai di taman itu, bertemankan sinar lampu dan juga bulan.
“Terima kasih. Sekali lagi anda sudah menyelamatkan saya.”
Qeizaa berbicara sambil sedikit sesegukan, bahkan sisa - sisa air mata masih ada di wajahnya. Damian yang menyadari itu langsung memberikan sapu tangan miliknya. memberi tanda pada wanita itu untuk memakainya.
“Kalau kau memang berterima kasih, kau ceritakan padaku ada apa antara kau dan mantan - mantanmu. Kenapa mereka selalu membuat keributan setiap kali bertemu denganmu?”
“Itu.. itu salah saya karena meninggalkan mereka begitu saja.”
“Benarkah? Lalu kenapa kau selalu gonta - ganti pasangan? Tidak peduli bagaimana rumor yang menyebar, bagiku kau tidak terlihat seperti itu.”
“Rumor yang menyebar memang karena diri saya. Saya yang membuat mereka berpikir seperti itu.”
“Lalu alasannya? Meskipun kau sengaja melakukannya, kau pasti juga punya alasan.”
“Alasan?”
Qeiza berhenti berjalan, sejenak ia berpikir alasan sebenarnya mengapa ia sangat sering berganti - ganti pasangan. Damian menyadarkannya dari lamunannya, pria itu mengajaknya duduk pada sebuah bangku taman tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Saya hanya sedang mencari.”
“Mencari?”
“Mencari apakah ada orang yang bisa mencintai saya tanpa tujuan mengincar tubuh saya. Apakah ada hubungan sepasang kekasih yang saling menyayangi, saling mendukung tanpa ada nafsu didalamnya. Saya memang naif, tapi setidaknya saya hanya mencoba untuk jujur pada diri saya sendiri. Inilah saya dan ini prinsip yang saya anut.”
“Mau mencobanya denganku?”
“Apa?”
“Menjalin hubungan denganku.”
“Jangan bercanda.”
“Kenapa cukup lakukan seperti yang biasa kau lakukan. Jika nanti aku melakukan sesuatu yang buruk padamu, langsung tinggalkan aku seperti mereka.”
“Sejak kapan anda mulai bicara santai pada saya?”
“Itu karena bagiku kau bukan lagi orang asing. Tapi pertanyaan ini bukan untuk mengalihkan topik pembicaraan kan?”
“Terlihat jelas ya?”
“Maksudnya?”
Qeiza betanya dengan polosnya. Rasanya otak wanita itu sudah terlalu lelah untuk diajak berpikir. Raut wajahnya saat ini membuat Damian frustasi sekaligus terhibur.
“Maksudnya, aku menawarkan diriku padamu.”
Qeiza terdiam.
“I am not a bad choice. Aku tinggi, tampan, punya pekerjaan yang bagus, dan aku juga sudah dua kali menyelamatkanmu. Tidakkah itu cukup untuk meyakinkanmu?”
Qeiza masih bergeming.
“Bagaimana?”
“Baiklah.”
“Baiklah?”
“Aku terima tawaranmu. Tapi, apapun yang terjadi nanti tidak akan mempengaruhi masalah pekerjaan kan?”
“Aku profesional, tidak perlu khawatir. Sudah malam, ayo kuantar kau pulang.”
***
Sementara di apartemen Calya. Wanita itu kini sedang duduk diatas sofa setelah mandi dan menyegarkan tubuhnya. Dia telah bersiap dengan ARGlassess dan smartphone di kedua tangannya. Tanpa ragu mengenakannya dan masuk ke LOVAWORLD.
“Hai,” ucap Keanu.
“Hai,” balas Calya dengan suara lebih lemah.
“Baru pulang kerja?”
“Ya. Ingat saat kubilang kami akan menangani siaran langsung? Itu baru saja selesai tadi.”
“Ooo.. begitu. Bagaimana hasilnya?”
“Bagus, semuanya lancar.”
“Tapi wajahmu terlihat murung.”
“Ada beberapa hal yang terjadi.”
“Apa itu?”
“Klien kami dari Niskala, dia bilang dia menyukaiku.”
“Lalu?”
“Lalu aku menolaknya, aku bilang sudah ada seseorang yang kusukai.”
“Begitu.”
“Kemudian klien kami dari Radhika Grup.”
“Dia juga menyukaimu?”
“Tidak. Wajahnya cukup menggangguku.”
“Ada apa dengan wajahnya?”
“Wajahnya sama persis denganmu.”
“Denganku?”
“Kecuali penampilan dan sikap, kalian benar - benar terlihat sama..”
“Lalu apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah…”
TING TONG
“Cal.. Calya!”
“Ya ampun Qeiza!”