
Versi Beta akan mengizinkan Anda menikmati fitur-fitur baru yang belum dirilis serta dalam tahap pengembangan demi mengumpulkan beragam masukan yang akan membantu kami untuk berkembang menjadi aplikasi yang lebih baik lagi. Versi Beta mungkin kurang stabil, mengalami error hingga beberapa fungsi tidak akan berjalan secara maksimal.
Apakah anda ingin mencoba Versi Beta?
Yes
No
Dia yang suasana hatinya sedang buruk langsung menekan tombol Yes tanpa ragu, meskipun dia tidak benar-benar membaca keseluruhan dari pemberitahuan yang ia terima. Coba saja, tidak akan ada ruginya, pikirnya.
Calya, yang akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya hari ini berjalan santai menuju mobil. Dalam pikirannya, ia membayangkan segala hal yang ingin ia lakukan sesampainya dirumah. Semua hal yang ingin dilakukannya bersama Keanu. Namun rencana hanyalah rencana, apalagi saat ada kejadian yang tak terduga terjadi.
Sedang apa dia disana? ucap wanita itu dalam hati.
Melihat sosok yang sedang berdiri beberapa meter dari lokasi nya saat itu. Calya mengalihkan pandangannya, bertindak seolah ia tak melihatnya. Tentu saja ia memang tak ingin melihatnya, terutama saat ini. Ia merasa pria itu datang untuk mengacaukan semua rencana indahnya.
“Hai!” ucap pria itu bersikap ramah, namun yang disapa hanya diam sambil berjalan melaluinya. Tidak menyerah secepat itu, dia kembali menghampiri Calya. Sekali lagi Arion berbicara padanya.
“Kau sudah selesai kerja kan? Artinya kau punya waktu luang sekarang. Ayo ikut denganku!”
“Kenapa aku?”
“Karena aku sudah bilang butuh bantuanmu kan?”
“Kenapa aku harus mau?”
SKAK!
Arion terdiam begitu mendengar pertanyaan yang juga jawaban wanita itu. Calya dengan santai kembali berjalan melewati pria itu. Dalam hatinya ia merasa senang karena berhasil memberikan pukulan mundur pada pria itu. Namun sebelum wanita itu berjalan lebih jauh, Arion kembali berucap.
“Bagaimana ya, sepertinya tidak hanya aku yang butuh bantuan hari ini.”
Kalimat itu menarik rasa keingintahuan Calya, hingga membuat wanita itu memutar tubuhnya. Sesaat ia bisa melihat pria itu sedang tersenyum penuh percaya diri sebelum akhirnya berputar dan meninggalkan wanita itu. Calya dengan tak acuh juga melakukan hal yang sama, berjalan menjauh.
Baru saja akan membuka pintu mobilnya, tanpa sengaja matanya tertuju ke arah ban mobil yang sudah kempes. Hal itu merubah raut wajahnya dalam sekejap. Kesal dan frustasi, membuat wanita itu membanting pintu mobilnya dengan keras. Saat dia sedang berselancar di ponsel pintarnya untuk mencari jalan keluar, sebuah mobil Audi berwarna hitam berhenti di dekatnya.
“Astaga! Sepertinya aku harus berhati-hati sebelum bicara sekarang.” Arion mengejeknya.
“Ini ulahmu, bukan!”
“Aku? Mengotori tanganku dengan itu? Tidak, terima kasih.”
Calya kembali sibuk dengan ponselnya, mencoba berhenti untuk membuang-buang waktu dengan pria menyebalkan didekatnya. Sementara Arion mulai turun dari mobilnya, berjalan ke sisi lain mobil dan membiarkan pintunya terbuka.
“Jadi bagaimana, ikut masuk ke mobilku atau kubiarkan kau tangani itu sendiri. Dari yang kulihat kau tidak berpengalaman, jadi waktu yang kau butuhkan untuk memperbaiki itu mungkin.. semalaman.”
Kali ini Calya yang diserang. Memang benar adanya bahwa wanita itu tak punya pengalaman dalam bidang otomotif, sama sekali. Dan mungkin karena ia sudah lelah, hingga ia tak bisa memikirkan satupun jalan keluar selain masuk ke mobil pria menyebalkan ini. Pilihan ternyaman, menurutnya saat itu.
“Apa kau tidak ingin menanyakan alamatku?”
“Sekarang belum ingin?” Seketika Calya sadar, bahwa ia sudah terjebak.
***
Arion langsung keluar dari mobilnya begitu ia memarkirkan mobilnya. Sebelum mengunci mobil ia sadar bahwa Calya belum juga keluar dari mobil, hingga ia kembali dan membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Calya hanya duduk diam disana, tapi raut wajahnya jelas mengatakan segalanya. Raut wajah yang dingin seakan menegaskan bahwa ini bukan rumahnya, sementara tatapan tajamya bertanya mau apa kau membawaku kemari.
“I said i need your help, remember?”
“And I said i don’t want to, remember?”
Arion mengacuhkan kata-kata wanita itu, melepaskan sabuk pengaman yang masih terpasang, menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari mobil. Genggaman itu seakan borgol yang memaksa Calya untuk tetap berjalan di sampingnya, menyusuri sebuah pusat perbelanjaan, hingga mulai memasuki toko di sana satu-persatu.
Arion mulai sibuk disana. Berbicara dengan pegawai toko, entah mencari apa dan para pegawai yang sibuk membawakannya pilihan satu persatu.Hal itu dianggap sebuah kesempatan oleh Calya. Ia berpikir bisa kabur dari tempat itu selama Arion terus sibuk dengan pegawai toko.
Perlahan ia mulai berjalan. Namun, baru beberapa langkah kakinya harus berhenti bergerak. Arion kembali menggenggam tangannya dan bahkan menariknya hingga tubuh mereka berdekatan. Calya mencoba menjauhkan tubuhnya namun pria itu semakin mendekat wajahnya. Sampai tepat di sebelah telinganya dan mulai berbisik.
“Kau mungkin belum tahu karena aku tak pernah menunjukkannya, aku ini tipe orang yang nekat. Tapi jika kau ingin tahu seberapa nekatnya aku, go and try to run away again.”
Raut wajah Calya terlihat masam dan semakin masam. Dia membenci pria itu, kata-kata yang diucapkannya dan fakta bahwa dia telah terintimidasi oleh itu. Hingga membuatnya tetap berada di sisi pria itu.
Beberapa menit berlalu, Calya dengan langkah berat dan raut wajah yang terlihat kesal terus mengikuti Arion. Sementara pria itu terus sibuk dengan para pegawai toko, masih belum diketahui apa yang sebenarnya ia inginkan. Calya yang terjebak, sama sekali tidak mengacuhkan apapun yang sedang pria itu lakukan, termasuk berapa banyak toko dan toko apa saja yang telah masuki. Ia hanya berharap ini semua akan segera berakhir.
“Yang disini juga di sudut sebelah sana.” Ucap Arion pada salah satu pegawai wanita, yang dijawab dengan anggukan sebelum dia bergerak melakukan permintaan pria itu.
Tak lama berselang pegawai wanita itu kembali dengan beberapa barang di tangannya. Bukan untuk diberikan pada Arion, melainkan Calya. Saat itu Calya baru menyadari dia sedang berada, sebuah butik mewah. Pegawai wanita itu masih setia menunggu Calya mengambil beberapa gaunyang ia bawa.
Calya yang sedari tadi pikirannya melayang entah kemana, masih tidak mengerti situasi yang ia hadapi saat ini. Hanya sesaat sebelum Arion memberinya sinyal untuk mencoba semua gaun itu. Tentu saja ia ingin membantah pria itu, tapi sisi lain dari dirinya merasa tak enak pada pegawai wanita itu. Setidaknya ia harus menghargai kerja keras wanita itu, pikirnya.
Akhirnya Calya mengambil gaun-gaun itu dan menghampiri Arion. Dengan pelan dan terus terang Calya berkata bahwa ia tidak membutuhkan gaun-gaun itu.
“Kau mencoba dan setidaknya memilih satu untuk bisa pergi dari sini.” Jawab pria itu santai.
Mendengar itu Calya mendegus kesal dan berjalan memasuki ruang ganti. Sekali lagi wanita itu terpaksa menuruti perkataan Arion. Calya memandangi pantulan dirinya di cermin dan mulai berbicara. Kenapa dengan dirinya hari ini? Kenapa dia terus mengikuti setiap perkataan pria itu? Namun kemudian memori akan ancaman Arion terputar seakan menjadi jawaban dari pertanyaannya.
“Benar, lebih baik menghindari masalah.” Ucapnya pada diri sendiri.
Tak terhitung sudah berapa kali Calya keluar masuk ruang ganti, mencoba gaun satu ke gaun lainnya. Sementara pegawai toko terus membawakan gaun-gaun lainnya untuk dia coba, membuat ini seperti parade busana tanpa akhir. Calya dan Arion sungguh memiliki selera yang berbeda. Pakaian yang menurut Arion bagus tidak akan disukai Calya dan begitu pula sebaliknya. Hingga akhirnya Calya habis kesabaran, wanita itu memilih baju yang ia suka membawanya ke meja kasir tanpa memberitahu Arion.
Arion tidak akan mempermasalahkan hal itu. Tentu saja, karena ia hanya mempermainkan wanita itu. Sangat menyenangkan baginya melihat raut wajah Calya yang terlihat kesal, membuatnya ingin terus menjahilinya.
Pria itu dengan santai berjalan menuju meja kasir dimana Calya sedang berusaha untuk membayar gaun yang sudah ia pilih, namun gagal. Pegawai itu terus saja menolak baik itu uang maupun kartu kreditnya, menambah buruk suasana harinya. Tiba-tiba Arion sudah ada disampingnya membawanya pergi dari toko itu dengan menggenggam tangannya.
Disana, saat kedua orang itu sedang berjalan. Sepasang mata sedang memperhatikan mereka. Sepasang mata yang menatap tajam kearah mereka, entah sudah berapa lama.