
Qeiza baru saja turun dari apartemen Calya saat ia mendengar suara klakson mobil tak jauh dari sana. Seorang pria menunjukkan wajahnya dari jendela mobil. Damian, tersenyum dan melambaikan tangannya. Qeiza kemudian berjalan menghampiri mobil, kendaraan roda empat itu langsung melaju begitu wanita itu masuk kedalamnya.
“Kita mau kemana?” tanya Qeiza.
“Jalan - jalan dan makan.”
Qeiza mengangguk dan kembali diam, wanita itu lebih memilih untuk mengetahui tujuan mereka nanti dari pada banyak bertanya sekarang. Setelah beberapa menit berkendara, Damian menghentikan mobilnya di sebuah tempat. Keduanya masuk kedalam sebuah restoran.
Damian mengajak Qeiza berjalan lebih jauh melewati meja - meja di dalam ruangan tersebut menuju ke luar ruangan.Bagian dari restoran yang dipenuhi pemandangan hijau bagaikan di tengah hutan. Beberapa kursi dan meja tersusun dengan jarak agak berjauhan. Damian membawa Qeiza duduk di meja yang paling jauh, memesan makanan agar mereka bisa menikmati suasana alam restoran itu setelahnya.
Suasana sempat hening untuk beberapa saat, mereka hanya bisa menatap ke dua arah yang berbeda. Damian terlihat tenang, tapi tidak dengan Qeiza. Wanita itu benci suasana canggung, meski ia tak tahu bahwa hanya dia yang merasa seperti itu. Otaknya berpikir keras untuk mencari topik yang bisa memecah kebisuan antara mereka, dan akhirnya dia terpikir akan sesuatu.
“Ini, ku kembalikan,” ucapnya sambil meletakkan sebuah cincin diatas meja.
“Kenapa?”
“Waktu itu anda memberikannya padaku untuk membuat Fabian percaya pada hubungan kita, aku rasa kita sudah tidak membutuhkannya lagi.”
“Bukankah hubungan kita sekarang sudah resmi, simpan saja.”
“Baiklah.”
“Apa kau masih merasa tidak nyaman didekatku?”
“Apa?”
“Cara bicaramu masih saja formal.”
“Ku rasa masih perlu waktu untuk terbiasa.”
“Hal pertama dalam menjalin sebuah hubungan. Kalau kau tidak membuka hati bagaimana orang bisa masuk dan tinggal di dalamnya. Aku bukan pencuri, aku tidak mau memaksa masuk.”
Qeiza hanya diam, terlihat jelas wanita itu sedang berpikir.
“Dan aku juga tidak akan meninggalkanmu atau membuatmu meninggalkanku seperti para mantanmu, kau bisa percaya padaku.”
Qeiza masih saja tercenung.
“Bagaimana?” Damian kembali bertanya.
“Kengapa kau bisa berubah dengan cepat dalam sekejap?”
“Kenapa kau selalu mengalihkan topik pembicaraan?”
“Aku hanya penasaran.”
“Setiap pria punya caranya sendiri dalam menilai wanita, dan aku adalah tipe orang yang jika sudah yakin akan sangat yakin.”
“Jadi kau selama ini diam - diam menilai ku?”
“That’s what men do.”
Mereka berhenti berbincang saat pramusaji mulai membawa makanan. Mereka pun menikmati tiap suapnya dengan tenang. Mereka masih di sana setelah hanya bersantai dan sedikit berbincang.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Tidur di rumah. Rasanya seluruh tenagaku belum sepenuhnya kembali.”
“Baiklah tidurlah yang banyak, supaya besok kau bisa kembali bekerja.”
“What are you guys doing here?”
Ray yang secara kebetulan juga sedang berada di restoran itu langsung menghampiri pasangan itu. Pria yang masih belum tahu tentang perkembangan hubungan temannya itu mencoba menerka - nerka situasi mereka.
“Kenapa percakapan kalian terdengar sangat perhatian?”
“Duduk saja dulu.”
“Tentu aku akan duduk. Aku harus tahu situasi macam apa ini sebenarnya.”
“Situasi apa maksudmu?”
“You guys are dating, right?”
“Of course! Tidak mungkin kami meeting.”
Ray tiba - tiba bertanya pada Qeiza yang sedari tadi diam memperhatikan kedua pria itu bicara. Wanita itu masih belum terbiasa berada diantara keduanya, dia belum bisa menjadi dirinya sepenuhnya.
“Andil?”
“Tentu saja aku punya andil. Setidaknya kau harus mentraktirku makan.”
Kali ini pria itu langsung menghadap Damian, layaknya orang yang sedang menagih hutang.
“Apa kau sedang menagih pajak? Santai saja. Nanti kita bisa makan bersama.”
“Bagaimana kalau sekalian ajak Calya?” Usul Qeiza. Wanita itu berharap tidak menjadi satu - satunya wanita disana. Awalnya Damian tampak setuju, namun Ray segera menolaknya.
“Tidak perlu”
“Kenapa tidak? Mungkin kami juga bisa turut andil dalam hubungan kalian.”
“Hubungan apa? Dia sudah punya pacar.”
“Pacar? Calya? Tidak mungkin.” Sanggah Qeiza tiba tiba.
“Kalauupun dia tidak punya pacar, dia sudah memiliki orang yang dia suka. Itu yang dikatakannya padaku.”
“Mengejutkan sekali mendengar Calya menyukai seseorang. Menurutmu siapa orang itu?” Tanya Damian.
“Mungkin saja Arion.”
“Arion? Aku tidak yakin.” Sekali lagi Qeiza membantah.
“Aku memang pernah melihat mereka bersama,” ucap Damian.
“Aku tahu Calya, dia tidak akan tertarik dengan pria seperti Arion.”
“Mungkin saja seleranya berubah. Brother, are you broken heart?”
“Jangan menghinaku!”
Disaat kedua pria itu sibuk meledek satu sama lain, Qeiza masih terhanyut dalam pikirannya. ‘Arion? Tidak mungkin!’ ucapnya dalam hati.
***
“Menurutmu orang tua yang baik itu seperti apa?” Tanya Calya yang saat ini tengah duduk diatas sofa sambil menatap Keanu. Kebiasaan baru wanita itu, kapanpun suasana hatinya buruk dia pasti akan berbicara dengan Keanu.
“Orang tua yang baik adalah yang selalu mengusahakan yang terbaik bagi anaknya.”
“Lalu jika anak itu menolak apa dia menjadi anak yang buruk?”
“Kenapa kau menolak? Apa yang kau tolak? Harus tahu gambaran besar kasusnya terlebih dahulu.”
“Semua hal yang mereka pilihkan untukku, semua hal yang mereka putuskan untukku. Aku ingin menolak semuanya.”
“Lalu apa kau benar - benar menolaknya?”
“Tidak. Pada akhirnya aku hanya diam dan menuruti semuanya. Apa aku pengecut?”
“Ada garis tipis antara menjadi pengecut dan mengalah, tapi keduanya sama - sama menimbulkan rasa sakit akibat ketidakadilan. Jika mengalah rasa sakit itu lebih cepat, sedangkan menjadi pengecut akan mengunci rasa sakit lebih lama mungkin selamanya.”
“Bagaimana jika aku berbicara dan menolak?”
“Artinya kau sudah memiliki pilihan lain. Jadi kau harus menemukan cara yang baik untuk mengemukakan pendapatmu, mempertahankan pilihanmu sampai mereka mau menerimanya.”
“Aku memang pengecut. Hanya memikirkan bagaimana aku akan berbicara dan menolak permintaan mereka saja sudah membuatku takut.”
“Apa yang kau takutkan?”
“Aku takut jika mereka marah, takut jika aku berbuat salah dan menimbulkan masalah.”
“Kau terlalu memaksakan dirimu. Ambil satu langkah mundur dan biarkan waktu menunjukkan jalan keluar. Kau pasti bisa melihat jalan keluar terbaik, asalkan kau percaya dirimu bisa menghadapinya.”
Wanita itu mengangguk sebagai tanda dia mengerti akan maksud dari semua perkataan Keanu. Dia menatap Keanu. Tatapannya begitu dalam, menggambarkan betapa dalamnya harapan dirinya akan pria tak nyata itu.
‘Seandainya kau nyata aku pasti sudah bersandar padamu saat ini. Seandainya kau nyata aku akan menemuimu setiap hari tanpa perlu sembunyi - sembunyi. Seandainya kau nyata.. mungkin kau akan menjadi jalan keluar dari masalahku saat ini,’ ucap Calya dalam hati.