
Calya sedang bersantai diatas sofa dan sosok Keanu terlihat disampingnya. “Apa kau tahu tentang Sandyakala?” tanya wanita itu.
“Salah satu perusahaan properti terbesar.” jawab Keanu.
“Wooaa.. kau juga tahu itu rupanya.”
“Kau masih saja meragukan kemampuanku. Sudah kubilang kalau aku dilengkapi dengan pengetahuan umum yang baik.”
“Ya.. ya.. aku rasa sudah mendengar itu ratusan kali.”
“Dan kau masih meragukan kemampuanku?”
“Sistem mu sempat jelek kemarin saat baru pindah ke versi BETA. Aku cuma ingin tahu apa kau sudah kembali normal atau belum.”
“Coba saja tes pengetahuanku. Rumus matematika, fisika sampai sejarah peradaban, akan kujawab semuanya.”
“Siapa yang ingin tahu tentang hal-hal seperti itu.”
“Lalu?”
“Tentang Sandyakala. Kudengar ada rumor yang beredar tentang mereka. Kalau kau bisa tahu akan kuberi bintang lima.”
Sosok itu kini terdiam, selayaknya mesin yang sedang memproses sesuatu. Hasilnya hanya ada diantara dua entah dia berhasil menemukan data pencariannya atau malah menjadi error. Calya pun sangat penasaran kali ini.
“Kecelakaan menewaskan si Adik, Sandyakala kini resmi milik sang kakak!”
“Apa itu?”
“Kecelakaan yang menewaskan putra kedua dan istrinya 20 tahun lalu, membuat rumor perebutan warisan menyebar ke media. Banyak yang beranggapan bahwa kecelakaan tersebut disengaja agar si Kakak bisa mendapatkan perusahaan yang hampir pasti akan diserahkan pada si Adik.”
“Kalau itu kecelakaan 20 tahun yang lalu kenapa rumornya baru menyebar sekarang?”
“Karena baru-baru ini ada yang mengunggah sebuah tulisan di forum anonim. Menjelaskan beberapa fakta dan kejanggalan tentang kecelakaan tersebut, yang saat ini sedang viral.”
“Terdengar seperti cara yang akan digunakan oleh lawan bisnis. Teknik murahan.”
Tiba-tiba tangan Keanu menunjuk ke arah ponsel Calya. “Ada apa?” tanya wanita itu kemudian.
“Kau berjanji akan memberikan bintang lima.”
“Iya.. iya.. hanya feedback yang ada dalam pikiranmu.” ucap wanita itu menggerutu.
Seperti rutinitas baru bagi wanita itu untuk menguji pengetahuan Keanu. Beragam topik telah mereka diskusikan dan pada akhirnya berbagai tes yang wanita itu berikan hanyalah percakapan biasa. Sama seperti dua orang yang tengah membicarakan tren atau bergosip tentang rumor. Yang terpenting adalah wanita itu sangat menyukai rutinitas barunya. Rutinitas baru itu bagaikan pengisi daya bagi Calya. Disaat pekerjaan yang dia lakukan seharian menguras tenaganya, menghabiskan waktu berbicara dengan ‘pria’ itu akan mengisi kembali tenaganya.
Namun Calya adalah tipe yang saat menyukai sesuatu, maka dia akan membiarkan hal itu mengisi seluruh waktu luangnya. Hal yang ditentang dengan keras oleh teman baiknya, Qeiza. Dia adalah orang yang selalu mengingatkan Calya untuk punya hidup yang dinamis, bukan terpaku pada satu hal. Rutinitas baru Calya mungkin akan membuatnya mendapat omelan dari Qeiza lagi kali ini.
Apa kau akan menghabiskan waktumu di apartemen selamanya?
I’m your friend. Real human friend.
Bahkan Calya sudah bisa membayangkan omelan apa saja yang akan dikeluarkan oleh temannya itu. Maka dari itu Calya sangat berharap Qeiza menghabiskan waktu dengan Damian supaya wanita itu tidak datang dan menginterupsi kegiatannya dan Calya bisa menggunakan waktu luangnya sesuka hati.
“Haaachhiimm” Qeiza bersin tiba-tiba.
“Kenapa? Apa AC nya terlalu dingin?” tanya Damian.
“Tidak. Cuma tiba-tiba bersin saja.” jawab Qeiza.
Keduanya kini berada di dalam mobil Damian yang entah mengarah ke mana. Pria itu datang menjemputnya tepat jam 8 pagi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bahkan saat dia bertanya tentang kemana dan apa yang akan mereka lakukan beberapa waktu lalu. Pria itu masih melabeli jawaban dengan kata ‘rahasia’.
Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah jalan di pinggiran kota. Keduanya turun dan Damian membawanya berjalan memasuki gang kecil. Qeiza masih bertanya-tanya untuk apa pria itu membawanya kesini. tapi dari pada bertanya dan hanya mendengar kata ‘nanti kau tahu sendiri’, dia lebih memilih untuk mengingat rute jalan yang dia lalui. Seumpama ada hal buruk yang terjadi, wanita itu tidak akan kesulitan menemukan jalan kembali. Seperti itulah Qeiza dan dunia khayalannya.
Damian tiba-tiba berhenti berjalan hingga membuat Qeiza menabrak punggungnya. “Aw.. kenapa berhenti?” keluh wanita itu.
“Kita sudah sampai.”
“Disini? Mau apa kita ke tempat ini?” tanya Qeiza sambil berkeliling.
Sebuah taman terbengkalai dengan fasilitas permainan yang sudah rusak juga tembok panjang yang penuh coretan kata-kata umpatan. Qeiza terlalu sibuk Sampai dia tak sadar bahwa pria disampingnya sedang mencoba memberikan beberapa barang kepadanya.
“Apa? Untuk apa semua ini?” tanya wanita itu sambil melihat isi didalam paper bag yang diberikan kepadanya. Beberapa jenis kuas.
“Aku dengar bakat senimu bagus.” ucap pria itu sambil mengangkat beberapa kaleng cat yang entah sejak kapan ada disana.
“Kamu mau aku melukis disini?”
“Bukan disini, tapi di tembok itu.” Damian mulai bergerak menuju ke salah satu sisi tembok diikuti Qeiza dibelakangnya. Membuka semua kaleng cat yang ia bawa dan memberi tanda kepada Qeiza untuk mulai berkarya.
Qeiza masih tenggelam dalam kebingungan, meski begitu tubuhnya tetap bergerak membawa beberapa kuas dan mulai berjalan mendekat kearah tembok. Sesaat sebelum dia menggoreskan kuasnya pada tembok, dia berbalik dan bertanya “Ini bukan tes kemampuan karyawan kan?”
“Sebaliknya, ini kesempatan khusus untuk berkarya.” jawab Damian sambil tertawa kecil.
Qeiza menyingkirkan semua keraguannya, dan mulai bekerja. Menggoreskan berbagai jenis warna ke tembok itu, perlahan tapi pasti mengubah tembok penuh orat-oret itu menjadi karya seni dengan warna yang cantik.
Sementara Damian dengan setia menunggu dengan tatapan yang tak pernah lepas dari sosok wanita itu. Bukan ke arah tangan yang bekerja keras memegang alat lukis atau warna-warna indah hasil pekerjaannya. Melainkan wajah yang terlihat serius, fokus dan penuh ketenangan.
Wanita itu bahkan tak memedulikan sinar matahari yang semakin terik. Hanya sesekali mengusap keringat yang mengalir dari puncak kepalanya, juga menyingkirkan helaian rambut yang beberapa kali menutupi penglihatannya. Membuat Qeiza merasa terganggu.
Rambut kembali menutupi wajah wanita itu dan dengan reflek tangan Qeiza bergerak untuk menyingkirkannya. Namun pergerakan tangannya terhenti sebelum sempat menyentuh wajahnya. Damian menahannya sebelum tangan yang kini penuh dengan cat basah itu meninggalkan bekas di wajahnya. Damian merapikan helaian rambut Qeiza yang tadi tertiup angin, menyatukannya kearah belakang dan mengikatnya dengan pita.
Qeiza cukup terkejut, namun ia juga tak bisa bergerak banyak dengan tubuh pria itu yang berada tepat di belakangnya. Kehadiran tiba-tiba pria itu membuat tubuh Qeiza menjadi kaku seketika. Dia kehilangan komando tubuhnya, tidak tahu apakah dia harus menoleh kebelakang, lanjut melukis atau terdiam sambil menunggu pikirannya mengambil alih tubuhnya kembali,
“Sekarang aku tahu mengapa wajah para pelukis bisa dipenuhi dengan cat.” ucap Daman tepat di telinga wanita itu.