
Arion dan Qeiza tenggelam dalam diskusi mereka, bahkan Qeiza terlihat sangat serius dalam menjelaskan dan meminta pendapat pria itu. Namun sedikit berbeda dengan Arion. Pria itu kembali ke sisi Kasanova nya dengan sejuta candaan yang ia lontarkan pada Qeiza. Mungkin ia bermaksud untuk membuat seseorang merasa terganggu, tapi dia tidak sadar bahwa bukan satu tapi ada dua orang yang merasa terganggu saat ini. Disisi lain Qeiza yang mendengarkan candaan-candaan itu merasa terbebani. Candaan yang diselipi rayuan sebenarnya bukan tipe kesukaannya. Namun wanita itu terpaksa memberi reaksi dengan senyuman dan tawa kecil. Tidak ada alasan khusus, karena pria itu adalah kliennya saat ini.
Arion dalam perjalanan meninggalkan Parama Ad, saat pria itu kembali melihat Calya disalah satu koridor. Wanita itu tidak menyadari keberadaannya disana, karena dia sedang sibuk berbicara di telepon. Seperti biasa panggilan dari klien, tentunya membahas masalah pekerjaan. Namun pria itu punya pandangan yang berbeda. Baginya wanita itu terlihat sedang melakukan pembicaraan menyenangkan dengan orang lain.
‘Sepertinya hanya aku yang menderita.’ ucapnya dalam hati. Merasa jengkel pria itu berjalan pergi, namun tak lama kembali berhenti. ‘Tunggu. Ini tidak adil. Bukannya dia yang memulai ini semua.’ pemikiran itu mengubah arah langkah kakinya, pria itu kini berdiri tepat di belakang Calya. Setidaknya rasa kesal masih mengizinkannya untuk bersopan-santun, menunggu wanita itu selesai bertelepon.
“Bagaimanapun, semuanya akan selesai diatur sebelum akhir minggu ini. Laporannya akan saya kirimkan segera. Tidak. Anda tidak perlu datang kemari. Biar saya yang hubungi Anda nanti. AH!” Calya dibuat terkejut di tengah-tengah percakapan teleponnya. “Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya…ada cicak. Baik, tidak masalah. Sampai nanti.” Wanita itu menutup teleponnya. “Apa?” ucap wanita itu penuh rasa kesal. Faktanya bukan cicak yang tadi membuatnya kesal, tapi pria ini, Arion.
“Sepertinya kau hidup dengan nyaman,” ucap pria itu berusaha menyindir.
“Sepertinya tidak ada alasan untuk tidak hidup nyaman.” jawab Calya.
“Asal kau tahu, hidupku menderita akhir-akhir ini, berkat dirimu.”
“Karena aku? Maksudmu karena pilihanmu.”
“Ha.. Kau, luar biasa.” Arion mulai menaikkan nada suaranya, membuat Calya khawatir mereka akan menarik perhatian orang-orang dikantor.
“Kendalikan dirimu. Ini kantor, jangan bertingkah seperti anak rewel.” Wanita itu mulai melangkah pergi.
“Kantor? Lalu kenapa? Kau takut orang-orang akan melihat kita?” kata-kata itu tak berhasil membuat Calya berhenti.
“Apa orang-orang disini tahu? Kalau kau orang yang tidak bertanggungjawab?” dan kali ini Arion berhasil membuat Calya berhenti melangkah. Terdiam sebentar, akhirnya wanita itu berbalik.
“Bicara saja pada dirimu sendiri.” ucap wanita itu dan melangkah pergi.
***
‘Jam berapa selesai? Kita makan malam dulu baru kuantar pulang. Ketemu di parkiran.’
‘Masih banyak pekerjaan, jangan tunggu aku.’
Qeza membalas pesan dengan singkat karena ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Wanita itu sadar bahwa tenggat waktu mereka sudah dekat tapi dia juga sangat membenci kerja lembur. Qeiza benar-benar merindukan tempat tidurnya itulah sebabnya dia mencoba untuk lebih sedikit meluangkan waktu pada hal-hal diluar pekerjaan. termasuk membalas pesan. Wanita itu memaksa dirinya untuk hanya fokus pada pekerjaan tapi juga sadar bahwa itu prioritasnya untuk saat ini.
Beberapa jam kemudian, Qeiza akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Dengan cepat wanita itu berkemas dan berjalan keluar dari ruangan. Sambil melangkah keluar Qeiza sibuk dengan ponselnya, memesan taxi online untuk membawanya pulang. Tapi mungkin karena terlalu malam, tak satupun yang bisa ia temukan. Hingga beberapa langkah setelah meninggalkan gedung wanita itu melihat sebuah mobil yang terparkir disana. Mobil hitam yang terlihat familiar sampai ia mendekat dan mengenali pemilik mobil yang sedang tertidur di dalamnya. Damian yang ternyata masih menunggunya hingga kini.
“Whooaahh dia.. tidak bisa dipercaya.” ucap Qeiza.
Wanita itu mengetuk jendela untuk membangungkan pemiliknya. Damian yang akhirnya bangun menurunkan kaca jendela mobilnya.
“Bukannya tadi aku bilang jangan menungguku.”
“Aku tidak pernah bilang iya.”
Qeiza menggeleng-gelengkan kepalanya spontan saat mendengar jawaban dari pria itu.
“Masuklah, aku antar pulang,” ucap Damian sambil sedikit tertawa.
“Kau belum makan, kan? Kita cari restoran dulu sebelum pulang.”
“Qeiza?”
Damian yang tak kunjung mendengar jawaban akhirnya menoleh kearah samping. Qeiza yang baru saja selesai menoceh kini sudah tertidur lelap. Membuat pria itu tertawa sambil menggeleng kecil.
Beberapa menit kemudian Damian membangunkan Qeiza. Memberitahu wanita itu bahwa mereka telah sampai dirumahnya.
“Wah.. aku tertidur. Terima kasih telah mengantarku pulang, hati-hati dijalan.” ucap sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Sebelum wanita itu keluar dari mobil damian menahan tangannya.
“Ambil ini.” memberikan satu set menu burger ke tangannya.
Qeiza terheran.“Kapan kamu…?”
“Membelinya? Saat kau tertidur tadi. Sebenarnya aku ingin membelikanmu nasi, tapi larut malam begini cuma ini yang masih buka.”
‘Waahh.. pria ini… tidak bisa dipercaya.’ ucap Qeiza dalam hati.
“Apa yang kau lakukan? Cepat masuk, kau bilang sudah lelah.”
“Ah.. ya.. Terima kasih.”
***
“Aku tidak percaya kamu selalu menghabiskan waktu dengan dia. Aku dekat dengannya cuma karena projek ini, and it makes me wanna give up. What’s wrong with him? Aku rasa aku bisa kena asam lambung jika terus-terusan dengar candaan garingnya. Whooaa.” Qeiza mengeluarkan semua perasaan terdalamnya pada Calya.
“First, aku tidak selalu menghabiskan waktu dengan dia and second, akhirnya kamu tahu apa yang aku rasakan.” Calya mengelak, sekaligus merasa lega ada yang mengerti perasaannya.
“Dia tidak mungkin menganggap aku sebagai target selanjutnya kan? Kalau memang iya, mulai sekarang aku mau bawa penggaris besi buat jaga-jaga.” pikiran Qeiza mulai melayang jauh.
“Tidak, dia bukan pemangsa seperti itu. Lebih seperti, pemancing. I think straightforward word is enough.” Calya mencoba menjelaskan secara objektif, tapi berubah menjadi boomerang kemudian
“Hoho.. you already mastering him.” ucap Qeiza mulai jahil.
“Mastering him? You kidding me?” Calya merasa tak percaya teman yang tadi berada di sisinya dan ikut menggerutu dalam sekejap berubah arah.
“Ah.. ah.. salah but know him so well. Haha” tapi yang mengejek malah semakin menjadi.
“Nikmati waktumu tertawa, you must be happy today. Karena semalam ada yang nunggu sampai pulang lembur dan diantar pulang.” KIni Calya yang mengeluarkan senjatanya.
“Dari mata kamu tahu?” Qeiza terkejut mendengar ucapan temannya
“Oh, aku ketemu dia kemarin. Dia tanya dimana kamu, waktu aku bilang kalau kamu mungkin pulang malam karena harus lembur he said ‘tidak masalah akan kutunggu’. Oh my god, what did you do to him? Sampai dia jadi seperti itu?” ucap Calya benar-benar merasa heran.
“Pria itu juga,, tidak bisa dipercaya.”