LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Empati dan Kompetisi



Pria bertampang kusut menanyakan maksud kedatangan wanita itu, entah dia sadar atau tidak siapa yang kini ada di depan pintu rumahnya. Matanya setengah terbuka, seakan belum sepenuhnya sadar dari minuman yang membuatnya terlelap. “Mau apa?” tanyanya sekali lagi bersamaan dengan aroma alkohol yang menyeruak. 


Aromanya sangat kuat, hingga membuat Calya tidak tahan. Wanita itu menahan nafasnya, tetap bersikap biasa sebelum berkata “Kita harus bicara. Aku tunggu di Kafe bawah. Turun dalam 30 menit” dan segera pergi setelahnya. Bukannya ia ingin buru-buru, tapi hidungnya tak sanggup lagi mentolerir bau alkohol yang sangat kental itu. 


Di sudut kafe apartemen itu Calya duduk sendirian. Jemarinya sibuk menari diatas layar ponsel, melihat perkembangan pekerjaan meskipun ia sedang tak berada dikantor. Sangat fokus, hingga ia tak sadar sudah berapa lama waktu berlalu. Tiga puluh menit waktu yang ia berikan kepada pria itu untuk turun. Namun ternyata sudah 1 jam 30 menit berlalu setelah ia meninggalkan rumah pria itu.


Calya kembali menghubungi ponsel Arion, mempertanyakan keberadaannya atau mungkin juga keadaannya. Tapi kini ponsel pria itupun tak bisa dihubungi. Calya berdecak kesal, ia sadar bahwa pria itu memang tak berniat untuk menemuinya. Lalu apakah itu berarti bahwa ia sudah membuang waktunya percuma?


***


Ting… Tong…


Hari ini bel rumah Arion kembali berbunyi. Lagi, entah sudah keberapa kali. Sementara pria itu masih tak beranjak dari kasur king size miliknya, seakan terperangkap disana. Namun gema bel rumahnya terlalu kuat untuk dia abaikan, memaksanya untuk bergerak menghampiri pintu depan.


Masih, mendapati orang yang sama di balik pintu itu. Wanita yang sangat gigih dan keras kepala untuk tidak berhenti membunyikan bel rumah itu. Sampai si pemilik menampakkan dirinya. “Kau masih terlihat sama, sangat buruk!” ucapnya begitu Arion membukakan pintu.


“Mau apa lagi kau kesini?”


“Kita punya urusan yang belum selesai.”


Pria itu menghela napas, “Kalu itu urusan pekerjaan bicarakan dengan tim dari kantorku..”


“Ini bukan soal pekerjaan.”


“Kalau begitu bukan urusanku.”


“Apa?”


“Pergilah.”


Bruk!


Pintu ditutup, tepat didepan wajah Calya. Untuk beberapa saat wanita itu terdiam tak percaya. Tertawa sinis memikirkan kembali perlakuan yang ia dapatkan. Darahnya mulai mendidih, rasanya ia ingin sekali menghancurkan pintu didepannya saat ini tapi untung saja kewarasannya masih bisa menguasai. Dengan segera Calya pergi meninggalkan tempat itu. “Jadi dia ingin perang? Lihat saja nanti siapa yang akan menang!”


Wanita itu merasa tertantang, empati yang tadinya menjadi dasar untuk menemui pria itu kini berubah menjadi kompetisi. Calya tidak suka kalah, apalagi dalam situasi ini. Mengikuti kemauan pria itu sama saja dengan secara sukarela menyerahkan proyek pada perusahaan lawan saat kita sudah hampir bangkrut. “Akan kubuat dia mengikuti kata-kataku, atau aku bukan Creative Director Parama Ad.” ucapnya sebelum menancap gas lebih dalam.


***


“KAU! PRIA PALING MENYEBALKAN SE-JAGAD RAYA INI. KAU PIKIR BISA MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI? SETELAH SEMUA KEBERANIAN YANG AKU KUMPULKAN UNTUK DATANG, APA? BUKAN URUSANMU? DARI AWAL INI BAHKAN BUKAN URUSANKU! KALAU TIDAK KARENA KAU YANG MEMBUATKU TERLIBAT, KAU PIKIR AKU REPOT-REPOT MEMIKIRKANMU? KAU YANG MEMBUATKU TERJEBAK DALAM RASA KASIHAN! KAU! DAN SEKARANG AKU TIDAK AKAN BERHENTI SEBELUM KAU MENGIKUTI KATA-KATAKU, MENGERTI?!”


“Kenapa kau marah-marah padaku?” dengan raut raut wajah datar, seperti anak kecil yang polos menatap lawan bicaranya.


“Haaahhh…” Calya menghela napas panjang, menstabilkan kembali luapan emosi yang sengaja ia tumpahkan. Menggunakan Keanu yang terlihat mirip dengan Arion sebagai tumbalnya. Kini wanita itu bisa sedikit lega, namun masih dengan tatapan sinis memandangi lawan bicaranya. “Siapa suruh kau mirip dengannya!” ucapnya lengkap dengan decakan kesal di akhir.


“Maksudmu rekan kerjamu dari perusahaan game itu?”


“Benar! Arion Radhika. Pewaris tunggal Radhika Group. Pria luar biasa yang skandalnya sama viralnya dengan produk perusahaannya.” Nada suaranya jelas menggambarkan betapa kesalnya dia.


“Sepertinya kalian cukup dekat?”


“Apa? Atas dasar apa kau bicara seperti itu?” Bagai mengipas bara yang hampir padam. Kata-kata Keanu membuat emosi wanita itu mulai meluap kembali.


“Kau mungkin tidak menyimak bagian awalnya dengan baik. MEMBUATKU TERLIBAT itu sama artinya dengan dia memaksaku!” dengan penegasan di beberapa kata sebagai bentuk penolakannya.


“Tapi itu tidak mengubah apapun. Pada akhirnya kau kasihan padanya, memikirkannya dan tahu detail..”


“STOP! Cukup dia saja yang membuatku kesal, kau jangan ikut-ikutan!”


“Baiklah… Lalu untuk apa kau memanggilku? Melampiaskan kekesalanmu padanya melaui aku?”


“Kau…” Calya terdiam sejenak karena merasa heran, “sejak kapan bisa mempertanyakan alasan aku memanggilmu. Kau cuma program, ingat?” 


“Membuat percakapan yang panjang dan nyata juga bagian dari programku.”


Wanita itu tidak menyangka pria virtual ini bahkan kini membalas perkataannya seperti manusia sungguhan “Haha.. apa karena kau mengatakannya dengan wajah itu? Tapi kau benar-benar terdengar menyebalkan barusan.” ucapnya lagi.


“Baiklah.”


“Baiklah?” tanya Calya penasaran.


“Sepertinya apapun yang aku katakan akan terdengar menyebalkan bagimu.”


“Ya… Kurasa aku terlalu kesal hari ini.” Wanita itu mengakui dia memang sedang sangat sensitif saat ini. Mungkin jika ada yang tertawa bahagia didekatnya saat ini ia juga akan merasa kesal.


“Jadi apa yang bisa kulakukan?”


“Hmmmm….”


***


Ting.. Tong..


Bel pintu pria itu berbunyi lagi hari ini. Entah sudah menduganya atau memang mengharapkannya, pria itu terlihat siap. Layaknya seorang Arion yang rapi, trendy dan rupawan. Sepertinya dia telah kembali ke kondisinya semula, atau mungkin saja sedang berpura-pura. Prasangka yang ada dibenak Calya begitu melihat sosok pria itu dari balik pintu.


“Masuklah..” senyum khas sudah kembali ke wajahnya. Kontras sekali dengan apa yang dia lihat kemarin. ‘Dia.. sungguh luar biasa.’ batin wanita itu.


“Kau sudah sarapan? Aku punya roti dan telur, roti dan selai, atau kopi?” tanya Arion dengan ramah.


“Tidak, terima kasih.” ucap wanita itu seadanya. Sebenarnya wanita itu merasa agak canggung, pertama kalinya dia masuk ke dalam rumah seorang pria, sendiri. Apalagi ini bukan tentang masalah pekerjaan. Ditambah pria itu sudah kembali bersikap normal, tidak seperti kemarin. Walaupun kemarin pria itu sangat menyebalkan hingga membuatnya kesal, tapi sikapnya itu berhasil membangkitnkan semangat kompetisi Calya. Arion yang bersikap normal saat ini membuatnya kehilangan motivasi. Hingga menciptakan keheningan di ruangan itu.


“So? Katamu ada yang harus kita bicarakan.” dengan raut wajah yang menegaskan pertanyaannya.


“Begini.. mmm..” Calya terlihat kesulitan untuk menyampaikan isi pikirannya. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada wanita itu sebelumnya.


“Biar kutebak, kejadian tempo hari membuatmu tidak enak dan sekarang kau ingin minta maaf padaku?” ucap pria itu penuh percaya diri.


“Tidak! Kali ini kau harus ikut aku!”


Arion terkejut namun masih bersikap wajar, “Oke.” pria itu menuruti Calya dan langsung bersiap pergi.