LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Terpana



Damian dan calya terlihat duduk disebuah meja. Kedua orang itu sengaja datang lebih awal kerestoran itu, menikmati minuman sembari menunggu para klien tiba. Tak butuh waktu lama sebelum akhirnya Ray tiba, tanpa ragu bergabung bersama mereka ditempat itu.


“Sudah lama menunggu?” sapaan pertama pria itu begitu duduk.


“Untuk tuan Ray kami rela menunggu,” jawab Damian cukup ramah, lebih kearah menggoda sahabatnya.


“Kau salah makan?” tanya Ray yang hanya dibalas dengan senyuman dari Damian. Senyum pria itu surut saat mendapati tatapan tajam dari Calya.


“Apa? Kenapa?” tanya Damian sedikit takut.


“Suasana hati anda sangat baik akhir – akhir ini,” wanita itu seakan sedang menyelidiki sesuatu.


“Saya selalu seperti ini,” jawab Damian.


“Benar juga! kalau dipikir – pikir belakangan ini kau memang terlihat aneh, untuk apa kau bertanya tentang pria – pria itu. Are you..” Ray menutup mulunya seperti tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


“Hey! You know me since we’re young, kenapa tiba – tiba meragukanku?” bantah Damian yang langsung mengerti arah bicara temannya.


“Pria?” ucap Calya. Wanita itu menggeleng – gelengkan kepalanya, dugaannya tentang Damian dan Qeiza terbantahkan dengan fakta yang baru ia dengar.


“Hey! Do you believe him?” pria itu mulai takut akan kesalahpahaman yang sedang terjadi.


“Tidak! Saya tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadi anda. Anggap saja saya tidak dengar apa – apa,” Kata – kata Calya membuat Damian semakin frustasi, sementara Ray sangat menikmati melihat penderitaan Damian sambil tertawa tanpa suara.


“Ya, terserahlah! Let’s just talk about our project,” Damian memilih mengalihkan pembicaraan daripada terus meladeni ocehan tidak jelas kedua orang itu.


“Game developer kali ini bukankah anak perusahaan dari Radhika Grup?” pria itu kini terdengar lebih serius.


“Benar, salah satu perusahaan yang mereka akuisisi. Saat ini perusahaan itu dipegang oleh putra tunggal mereka, yang juga bertanggungjawab atas proyek ini,” jelas Ray.


“Lalu mereka sengaja bekerjasama dengan Niskala untuk projek terbaru?” Calya yang mulai tertarik ikut bertanya.


“Sebenarnya tidak hanya dengan banyak pihak agar membuat tampilan game ini lebih nyata. Tapi posisi Niskala memang sedikit lebih istimewa, karena kedua pimpinan perusahaan adalah teman baik. Lagi pula ini sport game.”


“Dengan kata lain, semua design aksesoris olah raga yang dipakai adalah milik Niskala?” wanita itu memperjelas.


“Benar sekali. Poin penting untuk membuat kedua pihak terlihat dalam iklan,” Calya mengangguk sambil mencatat beberapa poin.


Ray tersenyum sambil menatap wanita itu. Wajah yang terlihat serius saat bekerja adalah daya tarik wanita itu baginya. Tapi itu perasaannya bukanlah alasan mengapa ia terus bekerjasama dengan Parama Ad. Faktanya tim itu memang berhasil ekspektasinya dalam hal pekerjaan, sesuatu yang sangat ia hargai.


“Maaf membuat kalian menunggu lama,” suara seseorang mengalihkan perhatian ketiga orang dimeja tersebut.


Ketiga orang itu secara serentak menoleh kearah suara itu berasal. Dimana seorang pria dengan setelan jas berwarna abu – abu sedang berdiri. Tatanan rambut yang cukup panjang untuk ukuran pria pada umumnya diselipkan ke belakang telinga, menyisakan beberapa helai menutupi dahinya.


“Tidak masalah. Silahkan,” Ray menyambut pria itu untuk bergabung bersama mereka.


“Ini adalah Arion, penanggungjawab proyek game yang baru saja kita bicarakan,” tambah Ray. Arion berjabat tangan dengan Damian dan juga Calya sebelum akhirnya duduk.


“Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dengan kalian. Ray sangat merekomendasikan kalian, dia bilang peran kalian sangat penting atas peningkatan yang terjadi pada Niskala akhir – akhir ini,” ucap Arion.


Mungkin terdengar seperti basa – basi, tapi semua yang dia katakana memanglah fakta. Bahwa Ray telah bersikeras menyarankan agar Parama Ad kembali terlibat.


“Terimakasih telah memberikan kesempatan pada kami untuk menangani proyek penting anda, kami pastikan untuk melakukan yang terbaik,” ucap Damian.


“Kalian tidak harus bekerja terlalu keras. Jika kita bekerja sama dengan baik, hasilnya juga akan lebih baik. Bukan begtu, nona Calya?” pertahnyaan Arion yang mendadak, menyadarkan Calya dari lamunannya.


“Iya,” jawabannya yang terdengar gugup sudah pasti disadari oleh semua orang dimeja itu. Kini Calya mulai mengutuk dirinya sendiri karena tanpa sadar terus menatap Arion hingga tertangkap basah.


Keempat orang itu kembali melanjutkan pembahasan mereka tentang proyek game ini. Memang bukan percakapan yang sangat serius, hanya gambaran besar bagaimana mereka ingin mempromosikan game ini. Bagian – bagian apa yang ingin diperjelas dan sebagainya.


Sedangkan sisanya, hanya perbincangan tentang pengalaman mereka


sembari menyantap hidangan yang telah tersedia disana. Alhasil, pertemuan itu selesai tidak lebih dari dua jam.


Keempat orang itu mulai meninggalkan restoran setelah berjabat tangan sebagai salam perpisahan. Kecuali Calya yang pergi terlebih dahulu. Wanita itu berjalaan keluar dari restoran menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.


Tak berapa jauh sebelum dia sampai pada mobil nya dia melihat sesorang sedang tidak asing sedang berdiri disana. Arion, pria itu sedang duduk disebuah kap mobil berwarna merah yang sepertinya miliknya. Calya berusaha tetap tenang, melanjutkan langkahnya seperti biasa. Tapi Arion yang melihatnya malah melangkah mendekat, seakan memang sedang menunggunya.


“Kulihat dari tadi kau terus memperhatikanku?” Ucap Arion saat jarak mereka sudah cukup dekat.


Pria itu tersenyum, masih dengan senyum yang sama yang ia tunjukan saat berada didalam restoran. Perlahan pria itu mendekat. Selangkah, dua langkah, hingga menyisakan jarak sangat kecil diantar mereka.


“Apa jangan – jangan.. kau tertarik padaku?” ucapnya lagi masih mempertahankan jarak keduanya. Matanya tak berkedip saat menatap Calya, seakan menandakan ‘kau telah tertangkap basah’.


Kemudian pria itu tertawa. Tawa yang cukup ringan, hanya semakin memperlihatkan senyuman diwajahnya.


“Aku harap kau tetap profesioanal dalam bekerja,” dia menurunkan suaranya hampir berbisik. Tubuhnya sedikit menunduk. Menyesuaikan tinggi badannya dengan Calya, agar wanita itu dapat mendengarnya.


“Tapi diluar jam kerja, kita bisa melakukan apa saja,”  ucapnya kembali tersenyum, mengedipkan sebelah matanya sebelum perlahan melangkah pergi meninggalkan Calya.


Sementara wanita itu masih mematung disana. Bahkan hingga mobil merah itu melaju dan tak terlihat, Calya masih memperhatikannya.


Calya menghela napas, cukup berat. Membawa dirinya kembali kekenyataan, dan melanjutkan kembali langkahnya menuju mobil.


Wanita itu kembali menghela napasnya setelah duduk didalam mobil. Otaknya kembali memutar memori pertemuan mereka direstoran, dan wajah Arion tergambar jelas dimatanya. Sampai Calya kembali mengingat kata – kata pria itu beberapa saat yang lalu, seketika raut wajahnya berubah drastis. Ia mengambil ponselnya menyentuhnya hingga layarnya menyala. “Dia bukan Keanu,” Ucapnya kemudian.