
Ada tiga pilar yang mempengaruhi tindakan manusia. Rasa penasaran, pikiran dan emosi. Seperti sebuah siklus, rasa penasaran mendorong munculnya berbagai pertanyaan di dalam pikiran, lalu semua pertanyaan itu menciptakan emosi yang nantinya memicu tindakan individu. Apapun itu, baik atau buruk.
Tapi terkadang, ada beberapa orang yang sering mengesampingkan masalahnya. Mereka yang memilih untuk tidak bergerak maju, tidak melompati sebuah lubang atau memanjat batu besar yang menghadang. Mereka yang lebih memilih untuk putar arah agar bisa menemukan jalan yang lebih mudah. Mereka tak sadar, bahwa jalan yang terlihat mudah itu akan membawa mereka semakin jauh dari dari tujuan mereka. Pada akhirnya akan membuat mereka menderita dalam kondisi yang lebih menyakitkan, LOST.
“AAAARRGHH”
PRANG
Suara dari gelas yang pecah menggema di seluruh ruangan. Gelas itu hancur berkeping-keping, cukup untuk membuat siapapun yang mencoba membersihkannya terluka. Kabar baiknya, yang membuat gelas itu pecah tetap bergeming seakan tak peduli. Arion, dengan langkah sempoyongan berpindah dari tempat ia duduk menuju tempat terdekat yang bisa tubuh beratnya jangkau untuk saat ini. Di atas sofa abu-abu itu dia berbaring dengan jemari kanan yang bergerak memijat pelipis, mencoba mengurangi rasa sakit di kepala akibat terlalu banyak meneguk alkohol.
Sudah menjadi kebiasaannya untuk minum-minum saat ada masalah. Beranggapan minuman akan membawanya keluar dari sakit kepala akibat masalah yang sedang ia hadapi, tanpa sadar malah menambah rasa sakit di kepalanya. Bukan membawanya keluar dari masalah tapi menambah penderitaan. Kecuali jika tujuannya adalah menghilangkan kesadaran lebih cepat maka ia hampir berhasil. Namun bahkan disaat-saat terakhir sebelum kesadarannya menghilang, pikirannya masih terus memikirkan kejadian hari ini.
“Sekarang katakan padaku, apa kau pikir aku akan salah berasumsi tentang hal ini?”
Calya bingung akan maksud dari pertanyaan itu hingga ia mengikuti arah pandang pria disampingnya dan terkejut. Sosok pria dan wanita yang baru saja keluar dari mobil membuatnya terdiam
Tuan Radhika terlihat berdiri di depan pintu masuk sebuah restoran. Tentu bukan hal itu yang membuatnya terkejut, melainkan sosok yang sedang berdiri disampingnya. Seorang wanita dengan tampilan yang bisa dibilang cukup glamor. Wanita yang terus tersenyum sambil terus menatap pria di sampingnya. Tentu saja siapa pun yang menyaksikan ini akan mengasumsikan hal yang sama. Apalagi dengan seulas senyum di wajah pria kaya itu, pemandangan yang hampir tak pernah bisa dilihat.
Calya mencoba kembali ke kesadarannya, mengaitkan segala hal yang telah dia lihat juga dengar sebelumnya. Terdiam untuk beberapa saat hingga dengan tenang dia menjawab, “ya”.
Rasa kesal tergambar jelas di wajah Arion, setengah berteriak pria itu berkata “apa harga dirimu setinggi itu sampai mengabaikan logika cuma untuk menentang ucapanku?”
“Seharusnya tanyakan itu pada dirimu sendiri.”
“Apa yang aku katakan sangat rasional, semua semua orang yang melihat ini juga pasti setuju …”
“Semua orang yang tidak tahu kebenarannya, maksudmu?”
Arion terdiam sejenak. “Lalu, kau tahu kebenarannya?” ucapnya kembali penuh penekanan.
“Kalaupun aku ceritakan semua yang ku tahu, kau tidak akan percaya. Karena orang sepertimu tidak akan menerima apapun selain pendapatmu sendiri. So, just go and help yourself!”
Suara bantingan pintu menutup penggalan ingatan di pikiran pria mabuk itu Amarah tergambar dengan ia yang mengepal erat kedua tangannya, meski begitu tak banyak yang ia bisa perbuat saat ini kecuali menahannya seperti yang selalu ia lakukan.
“Tidak, aku tidak salah. Mereka yang tidak mengerti.”
Keningnya semakin mengkerut saat pergulatan di kepalanya semakin menjadi.
“Kenapa? Kenapa mereka tidak mengerti? Ibu.. ibu pasti mengerti, kan? Ibu satu-satunya yang mengerti aku di dunia ini.”
Arion merasa frustasi, sangat. Meskipun bukan pertama kali hal seperti ini terjadi, tapi ia tak pernah terbiasa. Bohong jika ada yang mengatakan mereka terbiasa dengan masalah dan rasa sakit. Hal seperti itu tidak ada. Tidak, kecuali kau berhasil menemukan jalan keluar dan itu yang dibutuhkan Arion saat ini.
***
Hari ini wanita itu tiba di kantor tepat waktu, Calya kini mempersiapkan meja kerjanya seakan mempersiapkan senjata untuk ke medan perang. Mungkin baginya pekerjaan adalah medan perang, sekecil apapun kesalahan yang ia buat akan menewaskannya. Itu sebabnya ia selalu mencurahkan seluruh konsentrasi pada pekerjaan yang ia lakukan, seakan nyawanya sedang dipertaruhkan.
“How’s your meeting yesterday?” ucapnya dengan senyum sumringah.
“As always..” ucap Calya menggantung, cukup untuk membuat Qeiza menunggu. “Annoying,” lanjutnya singkat.
“If that annoying meeting can make you stay a day, bayangkan jika itu menyenangkan? Mungkin bisa sampai seminggu!”
“You know it’s never been a pleasure for me to stay with him, don’t you?”
“I know, yang nga aku tahu adalah kalau mungkin hatimu sudah berubah?”
“Haha me? Dengan dia?” tanya Calya dengan nada mengejek, dengan santai dibalas anggukan oleh Qeiza..
“Jika aku sampai menyukai pria itu, aku akan menertawakan diriku sendiri.”
“Tunggu dulu. Aku cuma bilang ‘mungkin hatimu berubah’ seperti tidak lagi merasa jengkel atau bersikap sinis padanya, bukan berarti kamu menyukainya. Kecuali.. kalau memang itu yang kamu rasakan.”
Sangkalan tegas dari Calya dimanfaatkan Qeiza untuk semakin menggodanya. Namun tentu saja, Calya tidak ingin kalah semudah itu.
“Akhir-akhir ini kamu terlalu banyak waktu senggang, ya?” ucap Calya dengan tangan menyilang di dada, mulai mengancam teman yang suka menjahilinya itu.
“Apa kau dengar?” tiba-tiba Qeiza berucap dengan raut wajah bingung, yang juga membuat Calya ikut bingung. “Dengar apa?” tanya wanita itu.
“My work is calling me, see you honey, chu.”
Dengan cepat Qeiza pergi setelah melayangkan sebuah ciuman dengan tangan kirinya, membuat wanita yang tadinya akan naik darah itu tertawa kecil. Calya kembali keposisinya, memilah beberapa dokumen untuk dia pelajari sampai seseorang kembali menghampiri mejanya.
“Cal,” panggil Kenzo, Calya menoleh.
“Kapan harus kujadwalkan meeting dengan Niskala?”
“Niskala?” tanya Calya tampak bingung.
“Don’t you remember? About…”
“Their new product, geez my brain! Coba kau atur setelah projek E-commerce selesai.”
“Ok!” Kenzo berlalu pergi.
Calya menyandarkan punggungnya, mulai mengatur napasnya. Panjang dan dalam, beberapa kali untuk menenangkan diri. Hal yang sering ia lakukan untuk mengembalikan fokus pikirannya, terutama pada saat-saat penuh tantangan seperti ini. Dia mungkin akan melakukan kesalahan jika pikirannya tetap kacau, dan itu adalah yang paling ia hindari. Dalam meditasi kecilnya sebuah pertanyaan mulai muncul dipikirannya.
‘Sebenarnya apa yang sedang kulakukan akhir-akhir ini? Ditengah banyaknya deadline aku malah menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang tidak berguna.’
***