LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
You Know



“29..” tatapan tajam mengarah jauh keluar mobilnya, sesaat kemudian membuang pandangan itu ke arah jalan. Seringai tampak saat ia mulai melaju pergi dengan rasa puas atas jawaban yang baru saja ia dapatkan. Pria itu kini duduk sendiri di sebuah bar, dengan tangan menggenggam erat gelas kaca dan pikiran yang entah mengarah kemana. Mungkin pada jawaban yang ia dapat hari dan semua kejadian yang terkait dengan itu.


Beberapa wanita lalu lalang dan dia mulai tersenyum ke arah mereka. Saat mendengar suara seorang wanita di sebelahnya sedang memesan minuman, dia mulai menggodanya. Beberapa kata manis serta senyuman andalan yang tak luput dari wajahnya, Arion memulai aksinya.


Wanita itu kemudian pergi, setelah membiarkan nomor ponselnya tersimpan di ponsel Arion dan memberikan kecupan di pipi pria itu sebagai salam perpisahan. Senyuman Arion mengantar kepergian wanita itu hingga benar-benar menghilang dari bar itu. “Kau tak pernah berubah.”


Arion yang mendengar itu langsung sadar kata-kata itu ditujukan untuknya. Dia menoleh dan mendapati sosok yang familiar. “Tetap  tak bisa dibandingkan dengan pria paling konsisten di dunia ini,” balas Arion santai. Tangannya mengangkat gelas kaca seakan mengajak pria itu untuk minum bersama.


“Orang sepertimu tahu apa,” ucap pria itu yang juga sedang menggenggam gelas kaca berisi minuman. “Tentu saja, sama seperti orang-orang yang menggunakan produkmu, kan. Orang yang terjebak dalam ilusi menjebak orang lain dengan ilusi. Ah.. itu sama seperti orang gila yang ingin menyembuhkan orang gila.” 


Pria itu langsung berdiri mencengkram kerah baju Arion dan menatapnya tajam.  Seulas senyuman terlihat di wajah Arion, merasa senang telah berhasil mengalahkan pria itu dalam adu mulut. “Kenapa marah? Apa aku salah?” ucapnya, mencoba mengibaskan angin pada percikan api.


Tatapan tajam pria itu masih disana, tangannya juga masih tak beranjak dari kerah baju Arion. Namun dalam sepersekian detik, dia tersenyum sinis. “Sesaat aku lupa dengan siapa aku berbicara,” melepaskan cengkramannya dan sedikit merapikan pakaian Arion. “Arion Keanu Radhika, pewaris tunggal Radhika grup. Pintar, kaya dan tampan. Bermain dengan banyak wanita untuk melampiaskan kemarahannya, anak kecil yang selalu melarikan diri dari masalah.” 


BUKK!


Sebuah pukulan mendarat di wajah pria itu. Arion yang telah kehilangan kesabarannya. Membuat keduanya terlibat dalam perkelahian yang menarik perhatian banyak pasang mata. Hingga akhirnya keduanya berhasil di lerai, dengan banyak luka yang terlanjur terukir di wajah.


***


“Dia menunggu di cafe diujung persimpangan dekat kantor.”


Seorang pegawai menyampaikan pesan kepada Calya. Dia langsung berjalan menuju tempat tersebut. Langkahnya teratur dengan kecepatan sedang menggambar semangatnya yang masih terkontrol.


“Dia tidak bilang namanya, tapi pria itu bersuara berat.”


Pikiran wanita itu melayang pada sesosok pria, pria yang sebenarnya juga ingin ia temui. Seulas senyum terpasang di wajahnya. Mendadak dia merasa gugup, mungkin semangatnya sudah mulai tak terkendali. Calya mempercepat langkahnya.


“Kau pasti sangat sibuk, maafkan aku karena telah menyita waktumu,” ucap pria paruh baya itu. Calya tersenyum kecil dan menyeruput sedikit kopi yang tersaji di hadapannya. Rasa kecewa telah berhasil ia kunci dengan baik di dalam dirinya. Kini ia akan melakukan pembicaraan formalitas seperti biasa. “Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?”


Pria itu tidak terlihat baik. Raut wajah yang terlihat gusar, alisnya yang bertaut mencoba mengendalikan pikirannya, serta helaan napas panjang seakan memikul beban yang berat. Ada sesuatu yang mengusiknya dan entah bagaimana itu berhubungan dengan Calya yang ditemuinya saat ini.


“Tuan Radhika,” Calya mencoba mendapatkan kembali perhatian pria dihadapannya. Pria itu menoleh dan sadar jika jawabannya sedang ditunggu. Ia kembali menghela napasnya, “Ini tentang Arion,” dia kemudian menjelaskan semuanya, situasi yang menjadi sumber kegelisahannya. Dalam setiap kata yang ia ucapkan, pria itu akhirnya bisa mengeluarkan beban yang terpendam di hatinya.


***


“Apa rencanamu sepulang kerja?” ucap Qeiza pada Calya saat keduanya berjalan bersama meninggalkan ruang kerja. “Cuma..” jawaban Calya menggantung saat ia mencoba berpikir dan Qeiza langsung mengambil alih, “pulang ke rumah? Aku sudah tahu apa yang akan kamu ucapkan”. “Lalu kenapa bertanya?” ucap Calya sedikit kesal. “Itu cuma formalitas,” jawab temannya santai


Perhatian Calya kemudian beralih pada sebuah Palisade hitam yang terparkir tak jauh dari posisi mereka saat ini. Wanita itu teringat akan sesuatu dan bertanya, “bagaimana dengan pacar formalitasmu? Sudah dapat bukti?” Qeiza yang tadi terlihat ceria tiba-tiba berubah lesu. Wanita itu menghela napas dan menjawab, “entahlah.” Calya mencoba membaca raut wajah temannya itu, “you’ve changed your mind?” yang langsung dibantah dengan keras oleh Qeiza.


“It’s just… like… like i am in the labyrinth and can’t find the way out,” Qeiza mencoba menjabarkan isi pikirannya yang rumit. “Then stay at the labyrinth!” ucap Calya, merasa temannya itu bisa saja mempermudah pikiran rumitnya.


Damian terlihat keluar dari dalam Palisade hitam saat kedua wanita itu mendekat. “Hi! Wanna join us for dinner?” Damian bertanya pada Calya. “Terima kasih, tapi sudah ada seseorang.. maksudku sesuatu yang harus kulakukan dirumah,” hampir saja Calya memberitahu kebiasaannya tentang LOVATY dan Keanu yang selama ini dia rahasiakan. “You know what? You are the most hardworking woman that i ever met,” ucap Damian. “Thanks,” jawab Calya. “Sebenarnya itu tidak sepenuhnya pujian”.


“Just go.. both of you!” Calya mencoba mengusir pasangan yang sama-sama menyebalkan itu. Qeiza yang sedari tadi tertawa mulai berjalan masuk ke dalam mobil Damian. “Itu saran yang tulus dariku, tolong pertimbangkan,” ucap Damian sekali lagi sebelum pergi.


Calya yang baru saja tiba di gedung apartemennya terkejut saat melihat sesosok pria yang sedang berdiri di pintu masuk gedung. “Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyanya saat berjalan mendekat. Pria itu berbalik, “what happen to your face?” Calya lebih dibuat terkejut saat melihat Arion dengan wajah penuh luka.


“Did you fight?” tanya Calya sekali lagi. “Ikut denganku!” alih-alih menjawab Arion malah berusaha mengajaknya pergi. Tentu saja Calya menolak. “Kalau begitu bawa aku masuk ke rumahmu!” ucap pria itu lagi. “Apa? Kau pikir aku sudah gila!” Calya membenci setiap kalimat yang diucapkan pria itu saat ini.


Keduanya sempat terdiam beberapa saat, raut wajah Arion terlihat sangat serius dan itu membuat Calya bingung. Setengah bagian dari dirinya khawatir dengan tindakan yang akan dilakukan pria itu. Sementara sebagian lainnya mengasihaninya.