
Aku jemput jam 10.
Qeiza menghela napas. Tak seperti biasanya selalu merencanakan agenda yang ingin dilakukannya setiap akhir pekan, hari ini dia lebih memilih untuk tidur. Mungkin virus Calya semakin menular padanya atau mungkin karena Damian yang mengajaknya pergi. Qeiza masih berbaring di kasurnya, berniat kembali membungkus diri dengan selimut. Kemudian saat mengingat misinya untuk menemukan bukti perselingkuhan pria itu, semangatnya kembali muncul. Ayo segera akhiri hubungan ini, pikirnya.
Damian menjemput wanita itu tepat jam 10 seperti perkataannya. Kedua pergi menggunakan mobil ke sebuah tempat yang hanya pria itu yang tahu. Mobilnya melaju jauh hingga hampir meninggalkan kota. Qeiza yang mulai merasa penasaran akhirnya menanyakan tujuan mereka. “Menemui orang-orang spesial,” jawab pria itu kemudian.
Beberapa menit kemudian Damian menghentikan mobilnya. Membuka pintu mobil untuk wanita itu dan mengajaknya berjalan. Menyusuri halaman rumput hijau, menuju ke sebuah rumah di pinggir kota yang terlihat jelas dari tempat mereka memarkirkan mobil.
Qeiza tertegun, melihat pemandangan sekitar yang begitu asri. Pohon-pohon tinggi di sekitar warna-warni bunga yang tertata rapi, sangat memanjakan mata, hingga membuatnya lupa untuk menanyakan lokasi mereka saat ini. Ketika ia akan menanyakannya sepasang pria dan wanita lanjut usia keluar dari dalam rumah. Qeiza merasa bingung, tapi tetap bersikap sopan, menyapa pasangan ramah itu.
Pasangan itu memperlakukannya dengan sangat baik dan si wanita terus menerus memuji Qeiza. Mereka terlibat dalam percakapan tanpa jeda hingga tak menyisakan waktu bagi Qeiza untuk memikirkan hal lain.
Pasangan itu menyarankan Damian untuk membawa Qeiza berkeliling di sekitar rumah setelah mengetahui wanita itu terpesona dengan pemandangan di sini. Sementara pasangan itu akan menyiapkan makan siang, Damian dan Qeiza berjalan santai di sekitar rumah. Qeiza melakukan hobinya, berswafoto dengan latar pemandangan di sana. Sementara Damian yang menemaninya hanya diam memperhatikan wajah ceria wanita itu.
“Kakek dan Nenek!” ucap Qeiza yang terkejut saat mengatuhi identitas pasangan pemilik rumah ini. Dia merasa bodoh tidak menanyakannya sejak awal. Kemudian merasa tertipu karena pria itu tidak memberitahunya terlebih dahulu. “Aku pikir aku sudah memberi tahumu,” pria itu mengelak saat kekesalan Qeiza padanya saat ini. “Kakek dan nenek terus saja memintaku untuk membawamu, itu sebabnya aku mengajakmu hari ini.”
Suara kakek terdengar dari dalam rumah memanggil keduanya untuk kembali masuk. Keduanya langsung berjalan menuju rumah dengan Qeiza yang berusaha melupakan rasa kesalnya saat ini. Rasa kesal itu seketika luntur saat dia melihat hidangan yang sudah tersaji di meja makan. Begitu banyak sajian enak hingga membuatnya terpana.
Keempat orang itu menikmati hidangan makan siang sambil sesekali berbincang. Kakek dan Nenek Damian sangat tertarik dengan kehidupan pribadi Qeiza, hingga terus menerus bertanya padanya. Qeiza juga tak terlihat terganggu, wanita itu dengan riang menjelaskan tentang keluarganya. Pekerjaan ayahnya, saudara laki-laki juga suami kakak perempuannya. Kesibukan Ibu, saudara perempuan dan juga isteri saudara laki-lakinya. Serta tingkah keenam keponakannya. Seperti lapisan bawang, setiap cerita disambung dengan cerita lainnya.
Nenek tampaknya merasa iri dengan cerita keluarga Qeiza, terdengar dari caranya bicara yang mengandaikan punya banyak anggota keluarga seperti itu juga. Dari percakapan itu Qeiza mengetahui bahwa Damian tidak memiliki orang tua. Kedua orang tuanya telah meninggal karena kecelakaan pesawat. Meninggalkan dia dengan kakek dan neneknya, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa.
Itu sebabnya Damian sangat menyayangi kakek dan neneknya. Hingga saat ini dia tetap tinggal di rumah itu bersama mereka meskipun butuh waktu cukup lama baginya untuk pulang pergi ke kantor. Tapi dia tak pernah merasa keberatan, dia ingin merawat kedua orang yang telah mengurus, membesarkan dan mendidiknya sejak kecil.
Hidangan telah habis disantap, Qeiza dengan sigap berdiri dan membereskan semua piring diatas meja. Nenek sempat melarang nya mencuci semua piring kotor, namun dia bersikeras. Qeiza berkata di rumahnya semua orang memiliki tanggung jawab masing-masing pada pekerjaan rumah dan bagiannya adalah mencuci piring, karena ia tidak bisa memasak. Qeiza juga menambahkan bahwa mencuci piring sudah menjadi keahliannya. Jadi nenek tidak perlu merasa khawatir karena ia akan berhati-hati dan melakukannya dengan baik. Wanita itu juga menyarankan mereka untuk duduk santai di halaman belakang sementara ia mencuci piring, meyakinkan mereka bahwa ia akan menyusul setelah menyelesaikan tugasnya.
Damian membawa kakek dan nenek menuju gazebo di halaman belakang. Membiarkan keduanya duduk santai sementara ia kembali ke dalam rumah untuk membantu Qeiza. Wanita itu terlihat asik berkutat pada piring-piring kotor yang sedang ia cuci. Damian mendekat dan menyentuh bahu Qeiza karena panggilannya yang berkali-kali diabaikan.
Qeiza refleks melempar busa sabun ke wajah pria itu akibat merasa terkejut saat pria itu menyentuh tubuhnya. Wanita itu tertawa saat melihat wajah Damian yang kini dipenuhi dengan busa sabun. Tawa lepas dan kerasnya menggema di ruangan itu. Tidak bisa ia hentikan, meskipun hatinya merasa bersalah.
“Apa kau sesenang itu melihat wajahku dipenuhi sabun?” Seketika tawa riang Qeiza lenyap. Tubuhnya mematung, saat kesadarannya telah kembali secara utuh. Namun dia tidak sendiri, Damian juga demikian. Tubuh pria itu terpaku dihadapan wanita didepannya. Selama beberapa saat membiarkan mata mereka saling berpadu, hingga dering ponsel memecah keheningan.
Damian kini sedang berbicara dengan seseorang telepon. Sementara Qeiza kembali mencuri piring yang tersisa. “Kenapa aku gugup tadi?” pikirnya, “no.. no.. it can be dangerous!”. Wanita itu mencoba mengalihkan pikirannya dari hal-hal negatif, menyelesaikan semua cucian piring yang tersisa dengan terburu-buru.
Ketika Damian mengakhiri sambungan teleponnya Qeiza telah selesai mencuci semua piring. Sebelum pria itu berbicara Qeiza terlebih dahulu mendahuluinya dengan menanyakan dimana kakek dan neneknya. Damian mengatakan bahwa mereka masih duduk santai di gazebo halaman belakang. “Kamu pergilah dulu, temani mereka. Aku akan menyusul setelah membuat teh”.
***
“Ada apa ingin bertemu denganku?” Tanya seorang pria sebagai bentuk sapaan. Dia langsung duduk pada sebuah kursi kosong disana. “Cuma ingin memastikan, mungkin saja kau melakukan tindakan extreme karena terlalu frustrasi,” jawab Ray yang telah menunggunya di kafe itu sambil menyeruput segelas es kopi.
“Anak ini!” sahut pria itu, merasa kesal lantaran Ray yang notabene lebih muda darinya berani mengejeknya. “Sampai kapan kau akan memanggilku begitu? Aku sudah sama besarnya denganmu sekarang!” Ray tak terima dengan panggilan pria itu kepadanya yang tak pernah berubah. Seakan dia masih anak umur enam tahun yang masih harus dia jaga. “Bagiku kau selamanya anak kecil!”
“Tentang produkmu itu.. LOVATY? Seperti apa itu sebenarnya?” Ray akhirnya mengutarakan maksud pertemuan kali itu. “Apa ini? Bukankah dulu kau bilang tidak tertarik?” pria itu meragukan pertanyaan Ray yang mungkin mengandung makna lebih. “Tidak bisakah kau langsung menjawab tanpa bertanya balik?”
“Ada apa ini sebenarnya?” tanya pria itu kembali, masih berpegang teguh pada pemikirannya. “Tidak ada apa-apa. Jawab saja, atau pergi dari sini!” Ray pun sama, berpegang teguh pada pemikirannya. Ia hanya butuh jawaban, bukan pertanyaan. “Dasar anak ini!”
“Sebuah program realitas berimbuh yang menyajikan teman virtual,” pria itu akhirnya menyerah dan menjawab. “Teman virtual? Seperti teman bertukar pesan di ponsel?” Ray mencoba mendapatkan informasi lebih. “Kau kuno sekali! Tentu saja yang muncul di depanmu, seperti orang sungguhan.” jawabnya frustasi. Pertanyaan Ray barusan seakan merendahkan kemampuan produknya. “Tentu saja butuh alat khusus untuk bisa melihatnya, itu disebut ARGlasses.”
“Jadi apa fungsi dari teman virtual ini? Apa kelebihannya?” Pria itu menghela napas dengan pertanyaan beruntun Ray. Dia tidak pernah menjelaskan tentang produknya kepada siapapun sebelumnya, dan ia membencinya. Tapi kini malah adiknya sendiri yang menginterogasi dirinya. Entah apa maunya sebenarnya.
“You know what, lebih baik kau mencobanya sendiri atau setidaknya cari thu di websitenya,” rasa frustasi tergambar jelas di wajah pria itu. Ia tak lagi punya semangat untuk menjawab pertanyaan Ray yang sepertinya tak akan pernah habis. “Kenapa aku harus melakukan itu jika aku bisa bertanya langsung padamu.” Pria itu beranjak dari tempat duduknya, mengancingkan kembali jas abu-abu yang ia kenakan, “aku sibuk. Beritahu jika kau butuh bantuan masalah pekerjaan atau butuh uang”.
“Aku juga punya uang!” ucap Ray dengan kesal. Namun pria itu hanya tersenyum sambil berjalan pergi. Setidaknya dia bisa membalas rasa kesal yang dia rasakan tadi. Sementara Ray masih betah duduk di kursinya. Ia mencari tahu tentang LOVATY di ponsel pintarnya. Kemudian berhenti saat melihat gambar dari ARGlasses yang sempat dibicarakan oleh saudaranya tadi. Otaknya berusaha mengingat sesuatu.
“Aku yakin dia menggunakan ini kemarin,” pikirnya. Mengingat saat ia tak sengaja bertemu dengan Calya di taman tempo hari. Wanita itu memungut beberapa barang dari tanah setelah ia hampir terjatuh dan salah satunya tampak sama seperti ARGlasses. “Apa dia juga menggunakan LOVATY?” Ray mencoba menerka. Entah bagaimana dia terus merasa penasaran tentang hal ini sejak saat itu. “Apa sebaiknya aku juga mencobanya… No! Lebih baik cari informasi lebih banyak lagi”.