LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Reminder



Arion melepaskan semua beban yang terkurung didalam dirinya, menjadi jujur akan perasaannya. Biasanya, emosi yang  dilepaskan secara tiba-tiba bisa memicu masalah baru. Apalagi jika lawan bicaranya adalah orang yang sering berseteru. Tapi untungnya tidak kali ini. Pertama kalinya wanita itu terlihat menahan diri untuk langsung menyampaikan pendapatnya dengan lugas.


Calya terdiam untuk sementara waktu. Entah sedang memilah kosakata yang sesuai atau menimbang apakah pemikirannya saat ini pantas untuk diucapkan. Tapi setelah beberapa saat berlalu, wanita itu memutuskan untuk tetap menjadi dirinya sendiri. “Lalu? Apa sekarang kau akan menggunakan alasan itu untuk lari lagi?”


Kini giliran Arion yang terdiam. Pikirannya masih terpusat pada masa lalu, dimana ia mulai mulai merasa menyesal dan kata-kata yang Calya ucapkan barusan menambah penyesalan lain dalam diri. Penyesalan tentang bagaimana dia tidak pernah benar-benar berusaha keluar dari penderitaannya, tapi malah menghindar karena takut akan terluka. Namun dilain sisi, kata-kata tersebut mungkin saja adalah sebuah pengingat agar dia tidak mengulangi kesalahan yang sama dan kembali menimbulkan penyesalan lainnya.


...***...


“Jadi? Ada masalah yang ingin kalian diskusikan?” tanya Calya begitu agenda utama rapat selesai dibahas. Semua orang di ruang rapat itu terlihat saling memandang satu sama lain, mencari wajah yang ingin berbicara.


“Besar kecilnya masalah lebih baik didiskusikan bersama disini, supaya semua anggota tim tahu dan bisa saling memberi masukan.” jelas pimpinan tim itu selama belum ada yang berbicara. “Apapun kesulitan kalian, jika itu berhubungan dengan pekerjaan boleh kalian diskusikan. Jangan menunggu sampai masalah muncul. Lebih cepat kalian diskusikan malah bisa membantu mencegah masalah besar terjadi.” tambahnya lagi. Masih belum ada satu orang pun yang mulai berbicara, hanya mata mereka yang sibuk mencoba membaca raut wajah satu sama lain. 


“Baiklah kalau tidak ada, kita akhiri disini.” Calya mengemasi beberapa berkas miliknya akan beranjak pergi. Tepat sebelum wanita itu mulai melangkah, suara seseorang menghentikannya. “Saya.. ingin bicara, mba.” Wikan terlihat sangat gugup sangat mengucapkan kata-kata itu. Jelas sekali ada keraguan di nada suaranya, entah tentang apa yang ingin ia katakan atau karena tempat dimana ia mengatakannya saat ini. Rasa gugup itu berlipat dengan semua pasang mata yang kini mengarah padanya, membuat mulutnya semakin sulit untuk berbicara.


Dengan ragu pria muda itu mulai berbicara, menjelaskan situasi yang dia alami belum lama ini. Tepatnya beberapa hari lalu saat kontraktor mereka mengirim pesan padanya.


‘Apa anda punya waktu? Ada yang ingin saya bicara.’


Dengan satu pesan itu Wikan meluangkan waktunya secara khusus untuk bertemu dengan kontraktor tersebut. Di salah satu bar pinggir kota tempat mereka bertemu saat itu, dimana banyak pria paruh baya yang sedang mencari kesenangan di setiap sudut ruangan.


Kedua pria itu duduk bersama di sebuah meja, diawali dengan sapaan formal dan berlanjut ke pembicaraan santai. Hingga beberapa puluh menit berlalu dan mereka masih membicarakan hal diluar pekerjaan. Timbul rasa bingung di benak Wikan. Sebagai anak magang yang kurang pengalaman, dia mulai mempertanyakan maksud dari pertemuan mereka. Namun semangat ingin memberikan performa terbaik dalam pekerjaan menahannya untuk bertanya, pria itu masih berusaha untuk bersabar dan mengikuti alur pembicaraan dari si kontraktor.


“Anda punya kepribadian yang bagus, Wikan. Saya yakin anda akan sukses dibidang ini suatu hari nanti.” puji si kontraktor.


Wikan tersenyum malu mendengar pujian tersebut. Dalam hatinya juga berharap perkataan tersebut akan menjadi kenyataan. Memikirkan bahwa kini dirinya dikenal tidak hanya sebagai anak magang, seketika meningkatkan semangatnya. Tapi hal itu juga menurunkan fokusnya untuk mencari tahu maksud sebenarnya dari pertemuan mereka hari itu. Wikan telah  terlena dalam kata-kata sanjungan itu.


“Sangat menyenangkan berbincang dengan anda, Wikan. Saya rasa kita tidak akan punya masalah komunikasi kedepannya, akan sangat bagus jika kita bisa bekerjasama dalam waktu lama,” ucap pria itu.


“Saya juga berharap begitu, Pak.”


“Tapi saya tahu, Anda bisa lebih dari sekedar berharap. Kerjasama kita akan sangat menguntungkan, saya bisa jamin itu.”


Pria itu dengan santai menyodorkan amplop coklat ke arah Wikan. Tersenyum tipis penuh percaya diri. Dia sangat yakin bahwa triknya tidak akan gagal. Sementara Wikan terpaku  di tempat duduknya. Butuh beberapa waktu baginya untuk mengerti situasi yang sedang dia alami sekarang. Bahwa pertemuan ini bukanlah seperti yang dia pikirkan, bahwa semua pujian tadi hanya sekedar kata manis belaka, bahwa dia telah terjebak dalam situasi yang berbahaya.


“Okay,” ucap Calya, dia terdiam beberapa saat sebelum mulai bicara kembali.


“Sekali lagi saya ingatkan kepada semuanya. Pekerjaan kita memang mengharuskan kita untuk berhubungan baik dengan banyak orang dari berbagai bidang. Tapi hanya sebatas pekerjaan. Jadi hanya tentang pekerjaan dan pada jam kerja kita diharuskan untuk berhubungan dengan mereka. Karena kita digaji oleh perusahaan, jadi hanya peraturan dan kode etik di perusahaanlah yang wajib kita patuhi. Bukan peraturan atau bahkan perintah dari orang luar. Itu adalah value yang harus selalu kalian pegang selama masih bekerja disini.”


Sunyi untuk sesaat hingga wanita itu kembali bertanya, “Ada lagi yang ingin disampaikan?”


Tidak ada respon terdengar atas pertanyaan tersebut hingga Calya akhirnya benar-benar mengakhiri pertemuan mereka dan melangkah pergi.


...***...


Wikan tampak lesu sejak rapat departemen selesai. Pria itu hanya diam tanpa bersuara sedikitpun, hingga kedua teman magangnya berinisiatif mengajaknya makan siang dengan  maksud untuk menghiburnya.


“Haahhh…” entah untuk keberapa kalinya helaan napas berat keluar dari mulutnya.


“Relax Wikan, ambil hikmahnya aja. You’ve been telling the truth, sisanya tinggal serahin ke mba Calya,” hibur Davidya mulanya “walaupun hasilnya bisa saja buruk.” tambahnya skeptis.


“Perhaps miss calya won’t be that cruel.” sambung Rana


“Tapi yang kudengar, dia pernah menyingkirkan sub kontraktor yang mencoba untuk melakukan suap. Jadi, jika dia bisa menyingkirkan sub kon semudah itu, mungkin saja…”


Kedua gadis itu dengan hati-hati melihat ke arah Wikan.


“Kalian berdua benar-benar. Kalian yakin mengajakku kesini untuk menghiburku, atau ini adalah makan siang perpisahan kita?” Pria ini terlihat lebih stress sekarang berkat kata-kata penghibur kedua gadis itu.


“Itu kan masa lalu, kita semua tahu seberapa bijaknya leader kita itu.” Rana mencoba menyemangati Wikan.


“Meskipun dia sangat amat tegas, tapi dia pasti akan menilai situasi ini dengan bijak.. dan karena kamu nga ngambil uangnya… wait a minute!”


Kedua gadis itu menatap temannya dengan serius. “Kau tidak mengambilnya kan?” ucap mereka bersamaan.


“Are you kidding me?” ucap Wikan makin frustrasi.