LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
In LOVAWorld



“AAAaaaa…”


Calya berteriak sekencang – kencangnya saat melihat sosok asing duduk tepat disebelah kanannya.


“Kenapa berteriak?” sebuah suara terdengar setelahnya, wanita itu membuka matanya kembali. Sosok itu masih disana, menatapnya.


“Siapa kau? Dari mana kau datang? Bagaimana kau bisa disini?”


Calya bertanya sambil sedikit tergagap, ia ingat betul bahwa pintu rumahnya telah terkunci sejak ia pulang tadi malam. Tidak ada satu orang pun yang ia persilahkan masuk setelahnya, lalu bagaimana mungkin tiba – tiba ada orang asing didalam apartemen nya.


Pria itu tidak menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan Calya kepadanya, alih – alih menunjuk kearah smartphone milik Calya.


Wanita itu buru – buru mengambil smartphone miliknya. Tidak ada pesan apapun yang terkirim atau diterima, seandainya memang secara tidak sengaja ia telah membawa pria itu kemari.


Calya menatap kearah pria itu, “Tidak ada apapun disini!”


“Tapi tunggu dulu..”. Calya kembali berpikir, seingatnya tadi ia sedang mencoba LOVATY. Lalu ia mengingat semua iklan dan artiker LOVATY yang membahas tentang ARFriend, sosok yang terlihat seperti manusia asli.


Calya mencoba melepaskan ARGlasses yang ia kenakan sambil menghadap kearah pria itu. Benar saja pria itu hilang, saat ia mengenakannya kembali sosok pria itu kembali terlihat.


“Unbelievable!” ucapnya tanpa sadar sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“Sudah mengerti sekarang?” pria itu kembali berbicara. Calya hanya mengangguk, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya saat ini.


Wanita itu masih tetap diam, tapi bukan karena rasa tak percaya yang masih melekat. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan bahkan apa yang harus dikatakan.


Dia tak pandai berbasa – basi, itu kelemahannya. Meski apakah basa basi kepada sosok yang bahkan tidak nyata itu diperlukan atau tidak, ia pun tidak mengerti.


Terlalu nyata, itulah nilai tambah sosok itu. Sekaligus menjadi kekurangan baginya karena terasa dan terlihat nyata membuatnya tidak nyaman.


“Jadi ini rumahmu? Bagus juga. Milik sendiri?” tidak disangka – sangka pria itu yang berbicara duluan.


Hal itu sedikit memudahkan Calya untuk bersikap. “Ya, sudah setahun sejak aku membelinya. Tidak terlalu besar tapi cukup nyaman,” setidaknya Calya baik dalam mengikuti alur.


“Pasti kau sudah bekerja keras, lingkungan ini


kan tidak murah,” Calya menganggukan kepala, menyetujui pujian pria itu terhadapnya. Kemudian ia tersadar dan berhenti, menatap kearah pria itu dan memicingkan matanya.


‘Seolah dia tahu tentang apa yang dia katakan,’ pikirnya dalam hati.


“Kenapa? Aku berpengetahuan luas lebih dari yang kau lihat, asal kau tahu saja.”


Ia menyadari orang – orang dapat dengan jelas mengetahui isi pikirannya hanya dengan melihat ekspresi wajahnya, karena itu sering terjadi akhir – akhir ini.


“Jadi, apa saja yang bisa kau lakukan?” Calya mulai merasa penasaran dengan pria tak nyata itu.


“Selain berbicara, tidak ada,” Jawaban itu tidak memenuhi ekspektasi Calya, dia berharap pria itu akan menjelaskan secara detil cara kerja alat ini, peraturan atau hal – hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti di film – film.


“Lalu kenapa kau kesini?" respon Calya secara spontan, tapi kata – kata itu malah berbalik kepadanya “Kau sendiri, kenapa kesini?” tanya pria itu.


“Ini rumahku!” jawab Calya, sepertinya pria tidak nyata itu mulai membuatnya emosi.


“Maksudku bukan rumahmu, tapi LOVAWorld, ” sekali lagi pria itu menunjuk kearah smartphone milik Calya.


“Right!” lagi – lagi wanita itu lupa tentang apa yang sedang ia lakukan saat ini “Entahlah, hanya iseng,” Calya bingung harus


menjawab apa jika ditanya tentang alasan.


“Benar juga, hari ini hari libur kan?” jawaban pria itu membuat Calya sekali lagi penasaran, “Apa saja yang kau tahu tentang dunia ini?”


Pria itu menatapnya “Maksudmu seberapa besar pengetahuanku?” Calya mengangguk.


“Semua informasi yang bisa diakses dari smartphone mu, seperti hari, tanggal, jam..”


“Jadi kau ini seperti GOOGLE yang hidup, begitu?” Calya bertanya bahkan sebelum pria itu selesai menjawab, membuatnya pria itu terdiam sesaat.


“Lucu juga mendengar pertanyaan mu. Jadi apa aku terlihat seperti komputer atau aku terlihat hidup?” pertanyaan Calya yang bertolak belakang bahkan bisa membuat sebuah program bingung.


“Well honestly, both. Kadang kau terlihat kaku tapi responmu sangat bagus,” mendengar jawaban itu membuat si pria melihat ke dirinya sendiri.


Posisi duduk tegap sempurna dari seorang pria, tentu saja terlihat tidak alami. Kata – kata Calya yang terdengar seperti sebuah keluhan langsung dia tanggapi saat itu juga.


Dia merubah posisi duduknya, menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kedua tangan di dada.


“This is exactly what I mean, posisi seperti ini… sangat kaku!” pria itu langsung kembali ke posisinya semula, lagi pula kenapa berharap begitu banyak dari sebuah program pikir wanita itu.


“Bagaimana cara Klandestin menciptakan program ini? Apa kau tahu siapa pemilik Klandestin sebenarnya?”


Rasa penasaran benar – benar telah membuat wanita itu bicara lebih banyak, “Tidak tahu!” jawab pria itu.


“Tentu saja, mereka tidak mungkin membocorkan rahasia semudah itu,” Calya tidak terlalu peduli dengan jawaban pria


“Bagaimana dengan pencipta LOVATY? Ada kabar kalau Klandestin mencuri LOVATY darinya makanya dia tidak muncul dimanapun, apa itu benar?” ini kali pertama melihat Calya begitu semangat saat berbicara, biasanya dia hanya terlihat cuek dengan nada bicara yang mengintimidasi.


“Apa kau seorang reporter yang sedang mencari informasi tentang Klandestin?” pria itu balik bertanya.


“Reporter? Aku ini Creative Director sebuah perusahaan iklan, dan kami seharusnya menangani iklan untuk LOVATY tapi entah kenapa mereka menolaknya!” sudah sekian lama tapi dia masih belum melupakan kekalahan saat itu, terlihat dari ekspresi wajahnya yang berubah kesal saat ini.


“Menurutmu kenapa kau bisa kalah saat itu?” Calya terlihat berpikir saat ini.


“Entahlah, padahal ide kami sudah sangat bagus menurutku. We prepared various kind of campaign for them to look fabulous,” Wanita itu menggali kembali memori saat itu. Seperti yang dikatakannya, tidak ada alasan pasti kenapa ide mereka ditolak saat itu.


“Mungkin ide kalian tidak sesuai dengan mereka,” mendengar ucapan pria itu membuat Calya merasa tidak senang.


“Excuse me.. maksudmu ide kami tidak cukup baik untuk mereka?” dia meminta penjelasan dari kata – kata pria itu sebelumnya.


“Memperkenalkan sesuatu tidak harus selalu dengan cara yang mewah kan. Mungkin mereka menginginkan sesuatu yang bisa menyampaikan makna dan tujuan LOVATY,” penjelasan dari pria itu membuatnya kembali tenang.


“Ada benarnya juga, sepertinya kami salah mengerti konsep yang mereka inginkan. Hei, you are pretty useful” Calya reflek akan menepuk bahunya tapi tentu saja tidak ada apapun yang bisa tersentuh.


***


Calya sedang berada di dapur kecilnya sekarang, sibuk dengan peralatan masak di tangan nya. Perutnya terasa lapar, jadi dia memasak sesuatu untuk dimakan. Sementara ARGlassess masih terpasang disana. Ia sudah bisa menerima keberadaan pria itu, sebagai teman mungkin.


“Apa kau punya rekomendasi film yang bagus?” tanya Calya pada teman barunya.


“Film apa? Romantis, Komedi, Horor, Triller, Sci-Fi, Fantasy atau Action?” pria itu bertanya secara detail seakan sudah punya ratusan judul yang siap dia rekomendasikan.


“Bukan romantis, sedikit komedi, jangan terlalu horror, less bored Sci-Fi, not a lame fantasy, quiet fair action,” tapi pertanyaan detail juga akan dijawab dengan detail oleh Calya.


“Jadi Triller?” pria cepat tanggap itu memastikan sekali lagi.


“Do not too extreme please.”


Wanita itu membawa makanan yang baru saja selesai ia masak kedepan televisi. Sekali dua kali mondar – mandir memastikan semuanya ada diatas meja. Setelah selesai ia buru – buru duduk siap untuk menyantap makanannya sebelum ia sadar dengan sesuatu.


“Tidak masalah jika aku sambil makan kan? It’s a lunch time!” rasa kesopanan mengajaknya untuk meminta izin terlebih dahulu.


Pria itu mengangguk sebagai sinyal bahwa ia tidak keberatan, tapi tetap saja wanita itu merasa aneh.


“Aku yakin tidak perlu berbasa – basi untuk mengajakmu, you can’t taste it anyway. But still, aku merasa tidak enak,” makan enak sendirian sementara ada orang lain disamping bukanlah sesuatu yang pernah dilakukan Calya sebelumnya.


“Santai saja!” ucap pria itu lagi, itu memang sesuatu yang sedang Calya coba untuk lakukan saat ini.


“Tidak masalah, dia tidak nyata,” wanita itu meyakinkan dirinya sendiri dan mulai mengambil suapan pertama.


“Jadi film apa yang akan kita tonton?” Calya bertanya sambil memegang tabletnya, bersiap mencari sebuah judul.


“Split,” jawab pria itu singkat. Jemari wanita itu berhenti sebelum lanjut mengetik, “Split? Apa itu film yang bagus?”.


Pria itu menatapnya “Apa kau tipe orang yang suka spoiler?”


Calya tampak berpikir “Let’s just watch!”


Mereka mulai menonton film tersebut. Awalnya Calya tampak santai sambil menyuap makan siangnya yang belum habis. Namun setelah beberapa menit adegan mulai berubah, membuat wanita itu sejenak lupa dengan makanannya.


“So, he is sick?” memastikan ia tidak salah mencerna adegan yang ia saksikan, “Ya!” jawab pria itu


“Okay.”


Mereka sampai pada bagian puncak film dimana adegan semakin menegangkan “Are they gonna live?” wanita yang tampak terhanyut itu bertanya.


Sementara si pria baru akan memberi jawaban Calya kembali meralat kata – katanya “Don’t tell me!”.


Film berakhir namun rasa tegang yang dirasakan wanita itu belum hilang “Wow! That was intense!” ucapnya seakan menyimpulkan keseluruhan film tersebut.


“Kenapa? Tidak suka?” pria itu bertanya seakan takut ia salah memberikan rekomendasi film.


“Tidak. it’s just.. there are so many scene that I still try to understand,” Calya menyadarkan punggungnya sambil mencoba mengingat – ingat kembali beberapa adegan di film tersebut.


“Bagian yang mana?” pria itu bertanya dan siap untuk menjelaskannya. Calya menyebutkan tiap adegan yang tidak berhasil ia pahami, dan pria itu benar – benar menjelaskan makna setiap adegan dengan sangat detail.


Awalnya Calya mendengarkannya dengan sangat baik, namun saat secara tidak sengaja melihat kearah pria itu ia tak lagi memperdulikan kata – kata tersebut. Matanya terpaku pada sosok yang sedang berbicara itu, memperhatikannya secara intens.


Rambut, bentuk wajah, alis, mata, hidung, mulut bahkan gaya berbicara, semuanya tampak begitu nyata. Bahkan dia dapat merasakan emosi dari setiap kata – kata yang pria itu ucapkan.


Entah apa itu hanya perasaan nya saja, tapi ia mulai berpikir jika memang sosok di depannya itu adalah nyata maka ia pasti pria yang sangat lembut.


Sosok itu begitu membuatnya terkesan, hingga sanggup membuat Calya menghabiskan dua hari liburnya bersamanya. Mulai dari sekedar berbincang, menonton, hingga bermain games. Calya mencoba hal – hal yang tidak sempat ia lakukan sebelumnya, dan itu semua atas rekomendasi pria itu tentunya.