
“Tapi aku tidak bisa memaksakan jodoh putriku.”
Calya sontak memandang ke arah ayahnya. Raut wajahnya dengan jelas menggambarkan rasa terkejutnya, sedangkan keraguan terlintas di benaknya. Merasa tidak yakin apakah yang ia dengar barusan adalah kenyataan, atau ilusi yang ia buat sendiri.
“Putriku sudah dewasa, aku rasa di berhak memilih jodohku sendiri.”
Semua keraguan di benak wanita itu akhirnya tersapu dengan kalimat ayahnya barusan. Meski ia masih bertanya-tanya, tapi tetap saja rasa senang sudah terlanjur mengisi hatinya.
“Ya, aku tidak bisa tidak setuju dengan pemikiran itu. Sebagai orang tua tentu saja aku ingin anakku mendapat jodoh yang terbaik, itu sebabnya aku menyarankan perjodohan ini. Tapi itu tetap saja hanya sekedar saran, pada akhirnya mereka sendiri yang memutuskan.”
Ada sedikit kekecewaan tersimpan dalam nada suara Tuan Darta. Tapi dia tak bisa menunjukkannya terlalu jelas karena bagaimanapun dia menghargai pendapat kawan lamanya itu.
Jika Tuan Darta berusaha menyembunyikan kekecewaannya, lain halnya dengan putranya. Wajah pria itu dengan jelas menunjukkan rasa herannya pada perubahan sikap Tuan Yohan. yang tiba-tiba. Membuat pria itu menduga-duga jika ada yang telah terjadi.
Terlepas dari semuanya, keempat orang itu tetap menyelesaikan makan malam dengan nyaman, menikmati hidangan seraya berbincang kecil. Meskipun perbincangan itu lebih ditujukan kepada kedua pria paruh baya itu.
“Terima kasih atas jamuannya,” ucap Tuan Yohan sebelum mereka berpisah.
“Ini juga ungkapan terima kasihku untuk kerja keras putrimu. Calya, jaga kesehatanmu. Jangan lupa untuk mempertimbangkan baik-baik putra paman.”
“Hati-hati di jalan,” ucap Calya sedikit tersenyum.
Kedua keluarga itu berpisah. Arion dan ayahnya pergi duluan lantaran sang sopir sudah menunggu. Sementara Calya dan ayahnya yang menggunakan mobil terpisah masih berdiri disana. Suasana menjadi hening setelah mereka mengantar kepergian kedua pria itu. Untuk sesaat, tidak ada satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan.
“Ayah..”
“Kau pasti lelah. Pulanglah dan beristirahat,” ucap Tuan Yohan sebelum keduanya mengambil langkah dengan arah berbeda.
***
“Bukankah itu yang kau mau?”
Keanu bertanya pada Calya setelah wanita itu menyelesaikan ceritanya.
“Ya.”
“Seharusnya kau merasa lega bisa terlepas dari perjodohan itu, tapi kenapa kau malah bersedih?”
“Aku juga berpikir begitu.”
Kenapa aku malah sedih? Dari aku yang menolak perjodohan ini, seharusnya aku tersenyum bahagia sekarang.
Calya berdebat dengan dirinya sendiri, tentang perasaan yang seharusnya dia rasakan saat ini. Namun perdebatan itu hanya membuatnya terjebak dalam kebingungan. Pertama kali baginya untuk mengabaikan Keanu yang ada di sampingnya, sosok pertama yang selalu dicari saat ada masalah. Kali ini sosok itu kembali ke bentuk aslinya, sebuah program yang hanya bisa menunggu perintah sang tuan.
Ditempat yang berbeda seorang pria juga terlihat sedang merenung. Raut wajah itu dengan jelas menggambarkan suasana hatinya, dia tidak sedang baik-baik saja. Pria itu mengambil selembar foto dari sebuah nakas. Memandangi sebuah potret disana. Dalam, hingga membuat bulir air matanya mengalir.
“Aku merindukanmu, ibu.”
Arion mengingat kembali kenangan masa kecilnya. Arion kecil sering diajak berjalan-jalan oleh sang ibu. Meskipun hanya berkeliling di lingkungan sekitar rumah, tapi mereka terlihat sangat senang. Berjalan bergandengan tangan, berbincang dan bernyanyi bersama.
Setelah lelah berjalan-jalan, mereka akan beristirahat di taman. Arion kecil akan berlarian kesana-kemari sementara ibunya akan memperhatikannya dari jauh, dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
***
“Tidak, bukan seperti itu!”
“Lalu apa?”
“Aku cuma…”
“Cuma merasa aneh karena keadaan tiba-tiba berubah? menyesal karena perjodohan ini dibatalkan? Itu artinya kamu ada hati dengan dia!”
“Pertama, jangan memotong kata-kataku, kedua.. ini bukan tentang Arion, tapi tentang ayahku.”
“Oh, begitu.”
“Aku merasa terluka saat ayahku membuat perjodohan itu tanpa sepengetahuanku, tapi saat itu tiba-tiba berubah pikiran malah aku yang merasa telah melukainya.”
Qeiza menatap wajah sahabatnya yang terlihat murung, mendekat kearahnya dan memeluknya.
“Kamu anak yang baik, wajar jika kamu merasa seperti itu. Tapi karena waktu itu kamu sudah bersikap jujur pada ayahmu, mungkin sekarang ayahmu sudah mengerti perasaanmu makanya dia berubah pikiran.”
“Mungkin kamu benar.”
“Ayo kembali keruangan.”
“Seharusnya aku yang mengatakan itu.”
Kedua wanita itu berjalan meninggalkan pantry dengan raut wajah yang terlihat lebih baik dibanding saat mereka masuk keruang itu.
“Oh iya, Cal. Pulang nanti aku ikut kamu, ya?”
“Tumben, biasanya kamu pulang bareng Damian?”
“Nga apa-apa.”
Calya menghentikan langkahnya dan menatap Qeiza penuh selidik.
“Kalian bertengkar?”
“Tidak.”
“Lalu, kenapa kamu menghindarinya?”
“Aku cuma sedang tidak ingin bertemu dengannya.”
“Entahlah, aku merasa tidak nyaman dengannya akhir-akhir ini.”
“Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?”
“Tidak!”
“Lalu?”
“Dia jadi lebih agresif.”
Calya refleks menutup mulut dengan tangannya karena terkejut dengan kalimat yang baru saja diucapkan temannya itu.
“Bukan seperti yang kau pikirkan.”
“Then tell me!”
Qeiza langsung meraih lengan sahabatnya itu dan merangkulnya.
“Aku memang akan menceritakannya padamu, tapi sebaiknya kita selesaikan pekerjaan kita dulu.”
“Itu juga seharusnya kalmatku.”
Kedua wanita itu akhirnya benar-benar kembali ke ruangan dan meanjutkan pekerjaan yang tertunda.
***
Jam akhirnya memberi sinyal kepada para karyawan untuk pulang dan Qeiza dengan cepat mengemasi barang-barangnya beranjak menghampiri meja Calya.
“Let’s go!” ucapnya sambil mengetuk meja temannya.
“Sebentar aku bereskan barang-barangku dulu.” jawab Calya sambil mulai merapikan barang-barangnya
Tapi Qeiza yang sudah tidak sabar, segera bertindak. Wanita itu dengan cepat memasukkan barang-barang milik temannya kedalam tas dan menarik Calya pergi meninggalkan ruangan.
Qeiza dengan langkahnya yang tergesa-gesa kembali menimbulkan pertanyaan dibenak Calya, Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Pikirnya.
“Kenapa kita harus berjalan secepat ini sih?”
“Kita harus berjalan sepecat ini sebelum terlambat!”
“Terlambat? Terlambat untuk apa?”
Kedua wanita itu akhirnya sampai di mobil Calya. Qeiza segera menyuruh Calya untuk melajukan mobilnya untuk meninggalkan area kantor. Calya menurutinya dengan pasrah meskipun tak habis pikir dengan alasan temannya kali ini.
Selang beberapa detik Damian terihat keluar dari gedung, pria itu sekilas melihat mobil Calya meninggalkan tempat parkir. Dia tidak tahu ada wanita lain berada didalam sana, wanita yang sedang berusaha menghindarinya saat ini.
Qeiza dan Calya berjalan ditengah keramaian pusat perbelanjaan. Calya mempertanyakan alasan Qeiza merubah permintaannya yang semula hanya minta diantar pulang. Qeiza beralasan bahwa ia butuh jalan-jalan dan mengeluh tentang kapan terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama. Sekali lagi membuat Calya hanya bisa pasrah.
Qeiza yang terlihat sangat bersemangat bergerak dengan cepat melihat koleksi tas dan baju disetiap toko. Sementara Calya mulai kewalahan harus mengikuti temannya yang terus berpindah tempat dengan cepat. Sampai ia akhirnya menyerah dan memutuskan berhenti mengikutinya. Ia menunggu di depan toko, berdiri sambil memperhatikan para pengunjung yang berlalu lalang dilantai bawah.
Beberapa saat kemudian terasa seseorang menepuk bahu kanannya. Calya yang mengira Qeiza telah kembali segera menoleh kesamping kanan, namun tak menemukan temannya disana. Saat ia menoleh kesamping kiri wanita itu terkejut karena bukannya Qeiza malah seorang pria yang ia dapati disana. Pria yang sedang tersenyum manis sambil menatapnya, Arion.
“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Calya seketika.
“Memantau bisnis, meeting, jalan-jalan, cuci mata. Aku bisa berikan alasan apapun yang kau mau.”
Calya terlihat menyesal telah bertanya kepada pria itu, ia mengalihkan pandangannya darinya.
“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini sendirian?”
“Aku yakin tidak harus menjawab pertanyaan itu.”
Mereka terdiam sesaat. Calya tampak tak memedulikan kehadiran Arion disana dan terus memandang kearah kerumunan orang disana.
“Dia belum datang? Pria macam apa yang membuat wanita menunggu sendirian!” ucap Arion tiba-tiba.
“Apa? Apa maksudnmu?”
“Kau berdiri sendirian disini sambil memandangi orang-orang dibawah, pasti sedang menunggu pria itu.”
“Pria mana yang kau maksud?”
“Tentu saja pria itu, yang membuatmu menolak perjodohan kita. mana dia sekarang?”
Calya kehabisan kata-kata setelah mendengar hasil pengamatan pria itu. Ia merasa bahwa Arion sangat lucu namun ia tak bisa menunjukkannya karena takut kebohongannya akan terbongkar.
“Kuberitahu sesuatu, jika pria itu membuatmu menunggu artinya dia tidak terlalu tertarik padamu.”
“Ya.. ya… Terimakasih atas informasi yang sama sekali tidak kupinta,” ucap Calya, berusaha mengakhiri percakapan yang sangat tidak menarik baginya.
“Jadi kau serius tidak ingin melanjutkan perjodohan ini?” Namun Arion tetap Arion, dia tak akan berhenti sebelum rasa penasarannya hilang. Calya mau tak mau harus menanggapinya.
“Sekarang giliranku bertanya padamu. Apa yang begitu membuatmu ingin melanjutkan perjodohan ini?”
“Jika aku membertitahumu alasannya kau akan menyetujui perjodohan ini?”
“Cal!”
Qeiza tiba-tiba datang menghampiri kedua orang ditengah percakapan mereka yang hampir memuncak.
“Kita harus kembali kekantor. Ayo! Maaf ya tuan arion kami pergi dulu!” Ucapnya langsung menarik lengan temannya.