LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Pembaca Situasi



‘I’ll take my revenge!’


Damian berdecak kesal membaca pesan dari temannya. ‘Apa dia tidak paham kalau ini juga menguntungkannya.’ pikir Damian.


Damian tidak mengerti mengapa Ray harus merasa kesal saat dia mengatakan bahwa penyebab Calya kesal mungkin karena dia belum memberikan informasi tentang Ray kepada wanita itu. Damian berpikir tindakannya itu akan membantu mereka jadi lebih dekat. ‘Dia ingin tahu tentang kisahmu bukankah itu artinya dia tertarik padamu?’ itu yang Damian ucapkan pada temannya saat itu.


‘Itu juga bisa membuatnya menjauhiku!’ namun Ray tetap tak terima dengan fakta yang disampaikan oleh Damian. Mungkin Ray punya pandangan sendiri bagaimana dia ingin terlihat dimata wanita itu, dan cara yang digunakan Damian sangat bertentangan dengan pandangannya.


‘Go ahead.’ jawab Damian sarkastik. Pria itu juga percaya bahwa apa yang dia lakukan adalah demi menolong temannya. Jelas dia menolak untuk disalahkan. Pria yang baru menyelesaikan pekerjaannya itu memilih mengesampingkan rasa kesalnya segera. ‘Nanti juga dia akan berterima kasih.’ pikirnya.


“Hai!” ucap Damian yang melihat Calya, tapi hanya dibalas dengan anggukan lalu wanita itu berlalu pergi meninggalkannya. ‘Hah.. ternyata memang benar dia kesal karena diriku’ pikir Damian, merasa berhasil membaca situasi. Pria itu melangkah cepat mengikuti langkah kaki Calya.


“Anda terlihat sibuk sekali. Sampai tidak membalas sapaanku.” ucap pria itu setengah mengejek.


“Saya selalu sibuk. Bukannya anda juga punya banyak rapat untuk dihadiri?” Tapi Calya juga tidak kalah jika itu menyangkut kata-kata tajam.


“Ayolah.. Bukannya saya sudah berjanji. Kita cari waktu luang dan saya pasti akan menceritakan semuanya.” Damian mencoba membujuk wanita itu.


“Terima kasih atas niat baiknya, tapi itu tidak penting lagi sekarang.” namun Calya menolak dengan tegas.


“Saya rasa itu masih penting.”


“Apa? Tidak.”


“Jika memang tidak, anda tidak sekesal ini sekarang.” Damian bersikap seolah dia ahli membaca karakter manusia sekarang, namun asumsinya bisa saja benar.


“Selamat tinggal, Damian. Lebih baik kita tidak saling bicara diluar masalah pekerjaan.” Calya mengabaikan ucapan pria itu dan berlalu pergi.


“Hard as stone. Kalau aku berada di posisi Ray, aku juga akan frustasi.” akhirnya Damian mengerti perasaan temannya. “Ah.. seharusnya aku bertanya dimana Qeiza.” Karena terlalu asik ikut campur masalah asmara temannya pria itu sampai lupa tujuannya berjalan ke arah sini. Damian melanjutkan langkahnya menuju Creative Department kemudian bertemu Kenzo dan Rezvan yang baru saja keluar.


“Hai, apa Qeiza ada didalam?” tanya Damian pada kedua pria itu.


“Qeiza sepertinya baru saja pergi.” jawab Rezvan.


“Tumben jam segini dia sudah pulang.”


“Bukan, dia pergi ketempat panda ga.. bukan! Ketempat Editor John maksudnya.” Rezvan dan lidahnya yang sering terpeleset, hampir saja dia membocorkan panggilan mereka untuk orang lain.


“Ada perlu apa?”


“Kami dapat permintaan revisi dari Radhika, tapi deadline nya tinggal beberapa hari makanya Qeiza pergi membujuk Editor John supaya mau revisi sekali lagi.” jelas Kenzo.


“Dia pergi sendirian?”


“Iya.”


“Memangnya ada a..” 


“Oke, terima kasih informasinya.” pertanyaan Rezvan tak sempat selesai karena Damian langsung memotong ucapannya dan berlalu pergi.


“Sudahlah. Simpan saja kata-katamu.”


***


Damian mengendarai mobilnya perlahan, berharap bisa menemukan Qeiza di sekitar kantor mereka. “Kalau dia belum lama turun harusnya masih ada disekitar sini.” ucapnya. Namun sampai pada jarak yang cukup jauh dari kantor sosok Qeiza masih belum terlihat. Sepertinya memang wanita itu sudah pergi jah dengan taxi. “Setidaknya aku tahu tujuannya kemana.” ucap pria itu dengan positif.


Damian langsung tancap gas menuju studio kerja editor John. Namun di pertengahan jalan perhatiannya teralihkan pada sebuah mobil yang terlihat mogok di pinggir jalan, atau lebih tepatnya seorang wanita yang berdiri di dekat mobil. Damian menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan keluar menghampiri Qeiza yang sedang sibuk dengan ponselnya.


“Taxinya mogok?” tanya pria itu.


“Iya.” jawab Qeiza. Terlalu sibuk dengan ponselnya hingga tak sadar siapa yang sedang bertanya.


“Kalau begitu ikut mobilku saja.”


“Benarkah? Kebetulan sekali kalau begitu.. Eh?” tepat begitu Qeiza menoleh, wanita itu baru menyadari kehadiran Damian disana. “Bagaimana… Kapan kamu.. Sudahlah! Ayo pergi sekarang!” Qeiza buru-buru menarik lengan pria itu menuju mobilnya. Mereka harus tiba di studio Editor John sebelum terlambat.


Sesampainya di tujuan Qeiza langsung berlari menuju studio yang terletak di lantai tiga. Wanita itu bahkan memilih tangga darurat dibandingkan lift agar tidak kehilangan lebih banyak waktu. Sesampainya di depan pintu masuk Qeiza berhenti sejenak untuk mengatur napasnya agar kembali normal, sebelum mengetuk pintu abu-abu tua itu.


“Masuk.” suara berat dari dalam terdengar. 


Qeiza menarik napas sebelum melangkah memasuki ruangan itu. Saat pintu terbuka sosok pria berbadan besar dengan topi terlihat sibuk di depan meja kerjanya. Qeiza melangkah perlahan mendekat ke arah meja yang dipenuhi perangkat komputer. Tepat sebelum dia mulai berbicara. Editor John sudah lebih dulu buka suara.


“Aku tidak mau.”


“Apa?” tanya Qeiza kebingungan. 


“Kalau kau ingin aku revisi lagi, aku tidak mau.” Sepertinya pria yang disapa Editor John itu sudah paham dengan situasi seperti ini. Terlihat dari cara dia berhasil menebak maksud kedatangan Qeiza kesana.


“Tapi, Pak. Bisakah anda dengarkan dulu beberapa hal yang ingin saya sampaikan?” ucap Qeiza mencoba memohon.


“Ini sudah yang keberapa kali kalian minta revisi. Pokoknya aku tidak mau! Terserah kalian mau pakai atau tidak.” Editor John sepertinya sudah bertekad kali ini. Mungkin karena Radhika yang terus menerus meminta revisi atau mungkin itu memang sifatnya.


“Editor John, mana mungkin kami bisa meninggalkan hasil karya anda. Setidaknya anda bisa dengarkan saya dulu. Saya yakin dengan kemampuan anda yang luar biasa ini bisa ditangani dengan cepat.” Qeiza mencoba menggunakan kata-kata pujian untuk membujuknya kali ini.


“Tidak.. tidak.. tidak! Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Silahkan pergi.” Tapi pria itu tetap keras kepala.


“Seharusnya meluangkan waktu sebentar untuk mendengarkan penjelasan orang lain tidak sulit bagi anda, Editor John.” Damian yang entah kapan masuk ke ruangan tersebut, tiba-tiba buka suara.


“Jadi anda ingin memaksa saya sekarang!” Editor John yang suasana hatinya sedang tidak baik mulai emosi setelah mendengar kata-kata Damian.


“Tentu saja…. kami tidak bermaksud memaksa anda. Silahkan duduk kembali, Pak.” Qeiza dengan tanggap menghentikan situasi yang hampir memanas. Wanita itu bergerak tiba-tiba hingga beberapa barangnya terjatuh dilantai. 


Kedua pria yang berhasil mengendalikan emosinya itu juga turut membantu Qeiza membereskan beberapa map yang terjatuh. Sebuah map yang terbuka tanpa sengaja memperlihatkan beberapa gambar hasil karya Qeiza hingga menarik perhatian Editor John.


“Ini.. Siapa yang membuatnya?” tanya pria itu penasaran.