
Akhir pekan yang tenang. Calya berhasil mengamankan satu-satunya waktu luang yang ia miliki. Sebelumnya, Calya masih berstatus manusia terikat. Qeiza memintanya untuk menghabiskan setiap akhir pekan selama sebulan penuh bersamanya sebagai bentuk penebusan dosa. Calya sudah pasrah, tetapi nasib masih memihaknya. Tepat satu jam lalu Qeiza menghubunginya, dengan nada penuh rasa kesal wanita itu terpaksa membatalkan rangkaian jadwal akhir pekan yang sudah dia persiapkan. Entah apa yang telah terjadi, yang jelas Calya sangat berterima kasih.
“Haaahhh.” ucap Calya setelah menyeruput secangkir teh. Cuaca agak mendung saat itu. secangkir teh hangat terasa sangat pas melengkapi udara dinginnya.
“Suasana hatimu pasti sedang bagus.” ucap -dia- yang selalu ada setiap kali wanita itu dirumah sendirian.
“Tentu saja.”
“Semuanya pasti berjalan lancar akhir-akhir ini. Kau jarang marah-marah.”
“Aku tidak marah sesering itu.”
“Tidak sering, tapi selalu.”
“Aku?”
“Ya. Setiap kali aku muncul kau pasti menangis, marah atau berteriak kesal.”
Calya mengabaikan ucapan Keanu dan lebih memilih menikmati teh di tangannya. “Ternyata mendung tidak selalu terasa menyedihkan.” ucapnya. Mempertanyakan bagaimana orang-orang selalu mengaitkan mendung dengan kesedihan.
“Mendung juga bisa memberi kesan menenangkan.”
“Itu terasa lebih tepat.”
“Tentu saja itu tergantung dari suasana hati setiap orang, tapi menurut ilmu psikologi ada beberapa warna yang dapat memberi efek menenangkan. Kebanyakan warna-warna bernuansa lembut seperti…”
“STOP!” Keanu berhenti seketika. “Bisa tidak, jangan mengacaukan moodku dengan kata-kata ensiklopedia milikmu itu.”
“Programku mengharuskan untuk merespon setiap percakapan dengan topik yang sesuai, supaya setiap percakapan…”
“JUGA.. dengan kata-kata manual program itu. Jangan, I'm begging you.”
Calya kembali tenang setelah berhasil memotong kata-kata Keanu. Arah pandangnya kembali tertuju pada nuansa abu-abu diluar jendela. Senyum kecil terukir sepanjang dia menikmati setiap detiknya. Entah karena suasana atau hal lain, wanita itu terlihat lebih tenang akhir-akhir ini. Seperti telah melepas beban yang berat, terlihat lebih bebas.
***
Pria itu masih saja terdiam, matanya tetap mengarah pada wanita itu tapi tidak dengan pikirannya. Entah kemana pikirannya melayang. Mungkin jauh di dalam alam bawah sadarnya, hingga dia tak sadar berapa lama waktu yang telah ia habiskan dengan hanya duduk diam disana.
“Bagaimana?” tanya Nyonya Helena. Wanita itu masih menyantap hidangan di depannya dengan santai. Sementara pria di depannya masih bergeming, hingga wanita itu kembali berbicara. “Kau tidak memanggilku kesini hanya untuk menjamuku, kan? Kita bahkan tidak sedang makan bersama sekarang.”
Arion yang kini sudah kembali ke kesadarannya terlihat bingung menentukan kata apa yang harus ia ucapkan. Keningnya mengkerut dan bibir berulang kali terbuka-mengatup, menegaskan keraguan besar yang ia rasakan.
“Pergilah, dan pikirkan kembali apa yang ingin kau tanyakan. Setelah itu kau bisa memanggilku kembali.” Nyonya Helena menyeka mulutnya dengan tisu sebelum berdiri dan pergi meninggalkan meja itu. Sementara Arion hanya bisa menghela napas panjang sambil mengepal tangannya, menahan rasa frustasi terhadap dirinya sendiri.
***
Keduanya berbincang tentang hal-hal secara acak sepanjang jalan. Sesekali Calya akan protes jika Keanu terdengar terlalu komputer baginya. Tapi itu tidak seperti wanita itu benar-benar marah, pada akhirnya Calya sudah terbiasa dengan Keanu yang seperti itu. Mungkin dia sudah menerima kondisi itu seperti sifat bawaan manusia pada umumnya.
Ditengah langkah-langkah riangnya wanita itu tak sengaja menangkap sosok familiar dari kejauhan. Seorang pria dengan dandanan rapi terlihat sedang duduk di bawah sebuah pohon besar. Hanya dengan sekali pandang wanita itu bisa tahu siapa pria itu, yang ia pertanyakan adalah alasannya berada disana saat itu.
Sejujurnya Calya berniat untuk tak mengacuhkan pria itu. Setelah pertengkaran mereka tempo hari jelas menjaga jarak adalah pilihan yang terbaik. Tapi mengingat kembali alasan pertengkaran mereka saat itu memberi wanita itu petunjuk tentang alasan keberadaannya disana.
Meski hanya dari jauh, aura suram dengan jelas dapat dirasakan oleh wanita itu. Berbanding terbalik dengan pakaian trendi yang dia kenakan. Calya mulai bimbang. Kakinya terhenti, antara berputar arah atau tetap melangkah maju. Helaan napas panjang akhirnya terdengar saat wanita itu telah menentukan keputusannya.
“Dari sekian banyak taman di kota ini, kenapa kau harus bersantai disini?” wanita itu menggunakan gaya sedikit acuh untuk menyapa dan tentu saja dengan mudah menarik perhatian pria yang sedang tenggelam dalam lamunannya.
“Kau benar..” ucap pria itu, dengan nada berat yang terdengar lemah.
“Apa?”
“Dia duduk tepat didepanku. Tapi aku tak bisa mengucapkan satu katapun. AKu cuma bisa terdiam berjam-jam seperti orang bodoh.”
Calya terdiam, berusaha mencerna maksud perkataan pria itu. Dia mungkin punya petunjuk Tapi wanita itu masih harus mengerti situasinya terlebih dahulu. Firasatnya mengatakan untuk tidak terbawa emosi atau sampai mengatakan sesuatu yang akan dia sesali nanti.
“Pengecut..” ucap pria itu lagi. Tawa sinis yang samar terlihat menjelaskan perasaan kesalnya saat ini. Perasaan kesal yang ditujukan pada dirinya sendiri.
“Pernah dengar istilah ‘saat kau sudah mengetahui apa yang salah, maka langkah selanjutnya adalah memperbaikinya’?” Calya akhirnya mulai berbicara.
“Oh iya? Siapa yang mengatakannya?”
“Entahlah, mungkin saja itu aku. Juga ‘masalah adalah pertanda bahwa kau hidup’?”
“Apa itu juga kau yang mengatakannya?”
“Apa itu penting sekarang? Apa kau mengerti artinya? Itu yang terpenting!”
“Kau benar-benar tidak pandai menghibur orang.”
“Aku memang tidak berniat menghiburmu!”
“Jadi kau sedang memberiku pelajaran hidup? Baiklah, jadi apa pelajarannya? Bahwa aku harus bersyukur memiliki masalah karena itu artinya aku masih hidup? Guess what? Selama bertahun-tahun aku merasa seperti mayat hidup karena masalah ini. Dan apa tadi, memperbaikinya? Kalau memang semudah itu, kenapa kau pikir aku betah menyimpan masalah ini sampai sekian lama?”
Arion mengeluarkan semua emosi yang ada di dadanya. Pria itu sedikit egois, karena menggunakan Calya sebagai objek pelampiasan rasa kesal pada dirinya sendiri. Meskipun merasa bersalah, dia juga merasa lega. Dengan lantang menyatakan pendapat ternyata terasa lebih baik dibanding memupuk kekesalan karena menyimpannya sendiri di dalam hati.
Terbesit pertanyaan dalam hati pria itu, jika saja dia melakukan hal seperti dari dulu. Jika saja dia menelpon ayahnya daripada hanya berdiam diri dirumah menunggu ayahnya menemuinya. Jika saja ia langsung menghampiri ayahnya daripada hanya berbalik badan saat melihat ayahnya bersama dengan wanita. Jika saja dia marah dan berteriak kepada ayahnya karena begitu cepat hidup bahagia dan melupakan ibunya. Jika saja dia melakukan semua itu, apakah dia tidak perlu merasakan semua penderitaan ini?