
.
.
.
Jina melihat gedung nan kokoh itu dengan pandangan yang amat biasa. Lama ia berdiam diri seperti itu sejak setengah jam yang lalu. Kakinya enggan untuk melangkah kembali. Rasanya ia begitu malas untuk memasuki kelasnya.
Ia tersentak kaget saat merasa ada yang merangkul pundaknya. Pria itu tersenyum lebar saat melihat pandangan risih yang Jina lontarkan.
"Kau sekarang sudah jarang masuk kuliah. Aku merasa kesepian disini." Ujar pria itu dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin. Jina hanya menanggapinya dengan memutar matanya. Merasa jengah dengan sikap Sehun yang selalu merasa dekat dengannya.
"Ayo, kita harus masuk kelas." Dan lagi-lagi tanpa menunggu dirinya menjawab pria itu sudah menarik tangannya erat.
Tanpa sadar Jina tersenyum tipis dengan perlakuan Sehun kepadanya. Ia merasakan perasaan aneh dihatinya saat Sehun berada didekatnya.
Rasanya kejengahannya tadi telah sirna. Ia merasa sedikit senang. Selama ini tak ada yang mendekatinya meski hanya bertegur sapa. Mereka seolah menganggap dirinya makhluk tak kasat mata dan tentu saja hal itu membuat dirinya begitu sedih.
••⏳⏳••
Jina tertawa kecil saat pria itu menceritakan hal yang konyol kepadanya.
Sehun masih saja semangat menceritakan tentang Prof. Leetuk yang menarik kupingnya saat ketahuan tertidur dikelas tadi.
"Dan kau tau? Padahal aku sudah membuat gambar mata dikelopak mataku, tapi tak kusangka dia tau aku sedang tertidur. Sungguh ajaib bukan?" Jina mengeryitkan alisnya. Sebenarnya yang ajaib disini adalah perilaku Sehun. Oh. Ayolah. Hal itu sungguh konyol. Jina yang duduk disebelahnya saja sudah ingin mencubit pipi pria itu agar terbangun.
'Jika aku tak tau tentang kemampuan otaknya pasti dimataku Sehun akan kuanggap pria gila dan aneh.'
Lama mereka seperti itu dan tak terasa hari sudah menjelang sore hari. Ia harus segera pulang.
"Sehun, kurasa aku harus pulang sekarang." Ucap Jina dan langsung membereskan tasnya lalu bersiap untuk pergi jika saja tangan Sehun tak menahan lengannya.
"Tunggu, aku akan mengantarmu." Ucapnya. Jina menggelangkan kepalanya. Tidak. Pria itu tak bisa mengantarnya.
"Ayolah, sekali ini saja." Pintanya dengan menunjukkan pupy eyes nya.
"Maaf, aku bisa pulang sendiri." Ujar Jina yang sepertinya tak terpengaruh akan ucapan Sehun barusan.
Sehun menghela nafasnya. Baiklah ia tak bisa memintanya lagi.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai pintu gerbang kampus." Dengan cepat Jina mengiyakan saran Sehun.
"Tapi aku ingin ketoilet, kau tunggu disini sebentar, ok?" Dengan cepat pria itu sedikit berlari kearah toilet yang ada di kantin kampus.
Jina melihat ponsel Sehun yang terus saja berdering. Ternyata pria itu lupa membawanya. Tentu saja Jina hanya memandangi ponsel itu tanpa ada niat mengambilnya.
'Kenapa Sehun lama sekali?'
Jina duduk dengan gelisah sambil melirik jam tangannya. Ponsel pria itu terus berdering, lalu terdengar nada pesan masuk. Tanpa sengaja matanya melirik kearah ponsel itu lagi.
Entah kenapa setelah matanya melihat tampilan singkat diponsel Sehun membuat dirinya menjadi penasaran dengan lanjutan kalimat tersebut.
Tanpa ragu Jina membaca ponsel Sehun yang tak diberi kata sandi itu setelahnya Jina mengusap air matanya. Ia kesal. Benar-benar kesal. Tak disangka Sehun adalah pria seperti itu padahal ia berpikir jika Sehun adalah orang baik tapi sekarang?
"Dasar pembohong." Ujar Jina dengan menahan isak tangisnya. Tanpa menunggu kedatangan Sehun, Jina berlari dengan wajah yang kini dipenuhi air mata.
Sehun mengeryitkan alisnya saat tak mendapati gadis itu. Sial. Jika saja tadi ia tak mengantri pasti Jina masih duduk disana. Menunggunya. Tunggu. Bukankah seharusnya gadis itu tetap menunggunya?
Sehun menghela nafasnya. Mungkin gadis itu sedang terburu-buru. Ia mengeryitkan alisnya saat mendapati ponselnya masih ada diatas meja. Astaga. Ia lupa membawanya tadi.
Dengan cepat ia mengecek ponselnya. 12 missed call dari nomor tak dikenal dan satu pesan yang langsung membuat ponselnya hampir saja terjatuh dari genggamannya.
Ia menggeram, pasti gadis itu telah membaca pesan tersebut.
••⏳⏳••
Jina melangkah pelan saat memasuki rumah megahnya itu, tanpa berniat menatap dan berbicara dengan oppanya yang sedang duduk santai diruang sofa ia langsung menuju ke kamarnya.
Kyuhyun mengeryitkan alisnya melihat Jina yang tampak lesu. Lama ia mencerna apa yang dialami gadis itu lalu setelahnya ia menyeringai.
Dengan menahan senyumnya, ia melanjutkan meminum kopinya diiringi dengan perasaan yang sangat senang dengan hari ini. Ini adalah hari yang menyenangkan.
••⏳⏳••
"Brengsek!" Maki Jina sambil terisak pelan dan menahan tangisan kerasnya dengan bantal dimulutnya.
Sehun benar-benar brengsek. Bagaimana bisa pria itu memanfaatkan kedekatannya selama ini hanya karena Jina adalah adik Kyuhyun?
Ia jadi teringat akan perkataan Kyuhyun, "jika ada yang mendekatimu itu artinya mereka mengharapkan sesuatu darimu dan ingin memanfaatkanmu. Jadi, jangan terlalu senang dan merasa bahagia dengan orang seperti itu." Sepertinya perkataan Kyuhyun itu benar-benar terjadi.
Ternyata Sehun mendekatinya agar mendapat keuntungan dari Kyuhyun dan berharap jika Kyuhyun akan langsung menyetujui tentang perjanjian kerjasama antara perusahaan Kyuhyun dengan perusahan appa Sehun.
"Kenapa aku hidup dalam lingkar kekecewaan setiap saat? Bisakah aku bahagia? Bahagia dengan nyata." Ujar Jina dengan lirih.
Jina berharap jika dewa diatas sana mendengarkan perkataannya kali ini. Ia terlalu sering merasakan sakit hati bahkan rasanya sekarang ia sudah semakin kebal dengan rasa kekecewaan seperti ini.
'Kenapa akhir-akhir ini oppa bersikap perhatian kepadaku? Mungkinkan ia sudah memaafkanku?' Batin Jina heran.
••⏳⏳••
"Dimana kau taruh berkasnya?" Tanya Yoora yang juga sama cemasnya dengan Jina yang kini sedang memeriksa setiap laci meja kerjanya dengan wajah keringat dingin.
Berkas itu sangat penting untuk rapat pagi ini. Ia sangat yakin jika kemarin ia sudah merapihkan dan menaruhnya dengan baik dilaci meja kerjanya tapi sekarang? Kemana berkas itu pergi?
"Coba kau ingat-ingat lagi." Saran Yoora dengan mencoba membantu Jina memeriksa seluruh laci yang ada diruangan ini.
"Ak-aku benar-benar tak ingat." Ucap Jina yang merasa panik sejak tadi.
"Kalian sedang apa?" Tanya seseorang yang membuat mereka berdua telonjak kaget secara bersamaan.
"Ka-ka-kami.." Ucap Yoora yang terdengar gugup. Jina bisa merasakan mata Kyuhyun yang sudah menelisik kearahnya. Berharap jika Jina mau melanjutkan kalimat Yoora barusan.
"Ak-aku.. Maaf oppa... Aku." Ujar Jina terbata. Kyuhyun berdecak.
"Apa kau tak bisa berbicara dengan lancar?"
"Maaf oppa, aku menghilangkan berkas untuk pagi ini." Ujar Jina akhirnya sambil memejamkan matanya. Ia sangat takut sekarang.
"Apa?!" Suara pria itu terdengar sampai beberapa oktaf. Jina sangat yakin jika Kyuhyun sangat marah dengannya.
"BAGAIMANA MUNGKIN KAU MENGHILANGKANNYA?! APA KAU BODOH?! KAU TAU JIKA KEBODOHANMU ITU MEMBUAT PERUSAHAAN RUGI BESAR! SEBENARNYA OTAK BODOHMU, KAU TARUH DIMANA?!" Terlalu banyak nada seru disetiap ucapan Kyuhyun. Jina yang mendengarnya mengigit bibirnya. Ia ingin menangis rasanya.
Sekarang semua pandangan mata karyawan kedirinya. Ia sangat malu dan kesal. Bisakah Kyuhyun memarahinya saat tak ada orang? Baiklah. Ia salah. Tapi haruskah sekasar itu perkataannya?
Jina yang telah mengganggap Kyuhyun sudah memaafkan dirinya sirna seketika karena nyatanya Kyuhyun masih sangat amat membencinya.
Tanpa ingin berlama-lama Jina langsung berlari meninggalkan ruang kerjanya. Sudah dua orang yang membuat dirinya terisak sangat keras dalam dua hari ini.
"Bukankah kau sudah keterlaluan kepadanya?" Tanya Yoora yang tak mengerti dengan sikap Kyuhyun. Meski Jina membuat kesalahan bukankah seharusnya Kyuhyun tak berbicara sekasar itu?
"Shit!" Umpat Kyuhyun sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Tanpa peduli ucapan Yoora, ia berlalu begitu saja.
••⏳⏳••
Matanya sudah memerah sekarang. Ia mencoba untuk tak menangis lagi tapi rasanya tak bisa. Ucapan kasar Kyuhyun sungguh sangat menyakiti dirinya.
'Kenapa aku harus hidup seperti ini?'
Ia melarikan diri kebelakang taman kantor. Tidak mungkin ia pulang seperti ini. Pasti semua orang yang lewat akan memerhatikan dirinya dan ia tak mau hal itu terjadi.
Jina langsung bangun dari duduknya. Saat sebuah suara mengusik pendengarannya disaat dirinya berusaha bersembunyi dari orang-orang.
"Aku tak ingin bertemu denganmu lagi." Ujar Jina tajam tapi pria itu enggan melepaskan genggamannya.
"Aku bisa menjelaskan semuanya Jina. Kumohon dengarkan aku dulu." Ujar pria itu penuh harap. Jina hanya berdecak.
Baru saja Jina ingin membalas semua perkataan pria itu sampai sebuah suara lain memanggilnya dengan nada yang terdengar kesal.
"Cih, jadi kau kabur kesini agar bisa berduaan dengan bocah tengik ini?" Ujar Kyuhyun dengan pandangan sinisnya dan dengan cepat ia menarik lengan Jina yang sejak tadi ditahan oleh pria itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sehun tak suka saat seolah pria itu merebut Jina dari genggamannya.
Tanpa berniat menjawab Kyuhyun melengos dan berusaha membawa Jina kembali keruangannya.
Dengan sekuat tenaga Jina berusaha melepaskan tarikan Kyuhyun yang bisa dibilang kuat ini dan tentu saja Sehun tak tinggal diam saat melihat perlakuan pria itu. Ia berusaha mengejar pria itu agar melepaskan Jina.
"Aku benci kalian!" Teriak Jina tiba-tiba. Sontak membuat kedua pria itu membeku ditempat.
Kyuhyun menggeram, ia mengepalkan tangannya lalu tanpa peduli dengan teriakan Jina barusan, ia tetap kembali menyeret tubuh Jina meski tentu saja Jina tetap melawan agar dirinya terlepas dari genggaman Kyuhyun.
Sehun yang mendengar perkataan Jina tadi hanya bisa terdiam tanpa ada niat untuk membawa dan mengajak Jina berbicara lagi. Ia merasa sungguh sangat bersalah kepada gadis itu.
••⏳⏳••
"Lepaskan aku!" Teriak Jina lagi. Dengan cepat pria itu sudah memasukkan Jina keruang pribadinya.
"Kenapa kau seperti ini? Bukankah kau tadi marah kepadaku? Kupikir kau sudah memaafkanku saat mengajakku melihat bunga sakura. Kupikir ka..." Sontak Jina membulatkan matanya saat perkataannya terpotong karena Kyuhyun mencium bibirnya paksa.
Jina yang sadar jika ini adalah salah terus saja meronta agar Kyuhyun mau mengakhiri ciumannya tapi tanpa merasa bersalah sedikitpun dibenak pria yang terpahat sempurna itu, ia malah semakin memperliar ciuman panasnya hingga membuat Jina tak mampu melawan.
"Kau milikku. Tak ada yang boleh memilikimu dan mendekatimu. Kau harus membayar semuanya selama sisa hidupmu." Ucap Kyuhyun lalu menurunkan ciumannya ke leher Jina.
"Oppa hentikan! Berhenti!" Teriak Jina. Kyuhyun yang mendengar teriakan Jina hanya tersenyum miris dan melanjutkan aktivitasnya di leher gadis itu sampai...
Plakkk...
Tangan mulus Jina sudah mendarat dipipinya dan ciumannya pun terhenti.
TBC