
...Pada akhirnya, hanya permintan maaf yang bisa mengakhirinya...
"Jadi lo yang ngasih tau Gevan?" Teriak Rizal disana ketika mengetahui bahwa Rendi sudah memberitahu semua tentang kematian ibunya kepada Gevan
"Gue udah capek menutupi semua ini zal"
"Lo emang pengkhianat ren, PENGECUT!"
"IYA. Gue emang pengecut zal" Rizal yang mendengar itu menarik nafasnya kasar tak habis pikir dengan sahabatnya itu
"Lo tau, gue tersiksa selama gue menutupi semua ini. Setiap gue melihat Gevan gue rasanya seperti seorang pembunuh, gue dihantui rasa menyesal dan gue. Gue bahkan kehilangan Daniel dan Gevan karna ini semua"
"Terserah lo. Silahkan lo pergi dan minta maaf sama sahabat bangsat lo itu" Ucap Rizal yang kemudian pergi dari sana
Namun tiba tiba langkahnya berhenti dan kedua bola matanya membulat sempurna ketika melihat Andre sudah berdiri tepat didepannya. Andre kemudian berjalan mendekati kedua sahabatnya sambil matanya masih fokus menatap Rizal
"Sejak kapan lo ada disana?" Tanya Rizal dengan nada suara yang terbata bata
"Lo bisa tinggalin kita berdua? Gue mau ngomong sesuatu sama orang pengkhianat ini" Tanpa basa basi lagi, Rizal langsung pergi dari sana meninggalkan mereka berdua
"Kita perlu bicara bukan?"
"Maaf. Gue yang ngasih tau Gevan semuanya" Andre kemudian menatap Rendi yang masih menundukkan kepala disana
"Lo tau akibat dari perbuatan lo ini? Gue hampir mati ditangan Gevan dan gue bahkan akan mati kalau Wendi gak datang waktu itu"
"Lo bisa hajar gue kalau lo mau. Gue gak akan melawan" Andre yang mendengar itu tertawa kecil membuat Rendi perlahan menoleh kearahnya
"Dugaan gue selama ini benar, kalau ternyata lo bakal jadi pengkhianat lagi"
"Gue lebih baik jadi pengkhinat dari pada gue jadi pengecut kayak lo" Ucap Rendi sambil menatap cowok itu
"Gue kehilangan dua sahabat gue karna lo, gue berantam dengan sahabat gue karna lo dan gue bahkan menutupi ini semua karna lo"
"Maaf" Rendi yang mendengar itu terkejut seperti dirinya disambat petir. Rendi pikir dirinya akan dihajar oleh Andre namun ternyta berbeda dari yang ia pikirkan
"Gue minta maaf" Rendi masih diam mematung disana tak tahu harus berkata apa lagi
"Gue cuman mau ngomong itu sama lo" Setelah berkata demikian, Andre kemudian langsung pergi meninggalkan Rendi yang masih diam sambil menatap kepergian Andre yang kini mulai jauh darinya
********
Gevan duduk dikursi kayu yang sudah terlihat kumuh itu sambil pandangannya lurus kedepan menatap pepohonan yang sedang menari nari akibat angin yang meniupnya.
Pikirannya masih kepada perkataan Andre yang menurutnya tidak masuk akal itu, sebenarnya apa maksud cowok itu dibalik semua perkataannya itu? Apa Andre akan membunuhnya dalam waktu dekat ini?
"OII" Teriakan seseorang menghancurkan lamunannya seketika
"Melamun terus lo" Daniel kini mengambil salah satu kursi disana dan duduk tepat didepan cowok itu
"Kenapa? Lo berantam lagi sama bokap lo?" Tidak ada jawaban dari cowok itu untuk pertanyaan Daniel
"Lo berantam sama kak Steven?" Tetap sama tidak ada jawaban
"Atau lo berantam sama Wendi?" Lagi dan lagi cowok itu tidak menjawab dan masih diam disana tanpa menghiraukan kehadiran Daniel disana membuatnya pun merasa kesal
"Harusnya Andre memenggal kepala lo waktu itu" Ucap Daniel yang sudah sangat kesal akibat dirinya tak direspon
"Lo benar"
"Emang iya. Lo emang lebih baik mati dari pada nyusahin orang lain"
"Lo yang bakal nangis duluan kalau gue mati"
"Cuih. Gue bakal buat pesta kalau lo mati"
"Pesta buat kesedihan lo?"
"Pesta buat kemenangan Andre" Gevan tersenyum tipis disana mendengarnya lalu kemudian kembali dengan ekspresi datarnya
"Gak ada yang menang antara gue dan Andre"
"Makksud lo?"
"Masalah ini udah selesai" Daniel terkejut bercampur bingung disana
"Maksud lo?"
"Ck, lo makan vitamin banyak banyak biar otak lo cepat loading" Gevan kemudian pergi meninggalkan Daniel yang masih kebingungan disana
"Van, tungguin gue setan!" Ucap Daniel yang sadar lalu mengejar langkah kaki sahabatnya itu
"Maksud lo apa sih! Lo sama Andre udah baikan? Lo yakin dia bakal berhenti? Lo yakin dia gak bakal nyakitin lo lagi, lo yakin kalau dia bakal biarin lo hidup? Lo yakin kalau semua udah selesai? Lo...?
Bukan hanya Daniel bahkan orang yang ada disanapun ikut diam ketika melihat bola itu mengenai kaki Gevan karna mereka tau bahwa pelakunya adalah Andre yang tidak sengaja melempar bola kearah yang salah hingga mengenai cowok itu
"Van, lempar bolanya. Gue gak sengaja " Ucap Andre dengan santainya dari lapangan membuat semua orang takut, takut jika mereka membuat keributan lagi
Gevan kemudian perlahan menundukkan badannya untuk mengambil bola itu lalu melemparnya kearah dimana Andre berdiri
"Makasih" Teriak Andre lalu kembali berbain bola dengan teman temannya disana
Daniel dan beberapa orang yang melihat itu diam membeku, ini adalah pertama kalinya mereka melihat keduanya tidak saling menghajar satu dengan yang lain
"Van, lo. Lo " Gevan yang tak pedulipun langsung pergi meninggalkan Daniel yang masih terkejut dengan kejadian itu
...*******...
"Hah, gue harus lembur lagi"
Ucap Wendi disana yang sudah lelah dengan tugas yang selalu diberikan wali kelasnya itu padanya. Hampir satu minggu ini, cewek itu harus pulang belakangan dari sekolah dan menghabiskan waktu tidur siangnya disekolah
Dengan niat yang dipaksa cewek itu mulai membuka buku paket dan menulisnya kedalam bukunya. Sedang sibuk menulis tiba tiba seseorang menyodorkan minuman kearahnya
"Lo butuh ini " Wendi mengambil minuman itu lalu kembali keaktivitas awalnya
"Sibuk?"
"Lo punya mata dan lo bisa liat sendiri"
"Lo sekarang udah berani kasar ya sama gue" Taka da respon setelah it lagi dari lawan bicaranya
"Wen, lo dapat tugas lagi?" Keduanya terkejut ketika seseorang tiba tiba datang menghampiri mereka disana
"Iya wir, gue malas banget"
"Lo perlu bantuan? "
"Lo mau bantui,,,"
"Biar gue aja. Lo pulang aja" Gevan langsung memotong percakapan keduanya
"Lo?"
"Lo apa apaan sih van!"
"Lo pulang sana, biar gue yang bantuin Wendi disini" Cewek itu kini menatap penuh amarah kepada Gevan
"Kalau gitu, gue pulang duluan" Wira kemdian langsung pergi meninggalkan keduanya disana
"Kenapa lo liatin gue?" Ucap Gevan ketika melihat Wendi masih menatap marah kearah cowok itu
"Jangan ditatap terlalu lama wen, nanti lo bisa jatuh cinta"
"Lo kenapa sih gangguin gue terus?"
"Gangguin lo?" Ulang Gevan yang tidak terima dengan perkataan cewek itu disana
"Sejak kapan gue gangguin lo?" Wendi yang tak mau ributpun hanya diam dan kembali melanjutkan kegiatannya
Melihat wajah kesal dari cewek itu, Gevan kemudian pergi duduk disamping cewek itu dan mengambil pulpen yang ia pakai untuk menulis
"Lo kenapa sih!!"
"Gue tadi bilang mau bantuin lo jadi biarin gue bantuin lo"
"Gue gak perlu bantuan lo" Ucap Wendi sambil mengambil kembali pulpen itu dari tangan cowok itu dan kembali diambillagi oleh Gevan disana
"Lo tidur aja, biar gue yang ngerjain"
"Lo gak bakal ngerti tentang ini" Mendengar itu Gevan tertawa kecil merasa dirinya sedang diremehkan searang
"Peringkat lo bahkan jauh dibawah gue" Wendi yang mendengar itu kemudian diam menyesal telah mengatakan perkataannya yang tadi
Wendi sekarang hanya duduk diam sambil memerhatikan pekerjan Gevan, ia takut jika cowok itu secara asal mengerjakan tugasnya. Sesekali mata cewek itu terpeam akibat mengantuk dan lelah yang ia rasakan
Cewek itu menarik nafas disana dan sesekali mengusap usap matanya agar tidak mengantuk. Jam menunjukkan pukul 16.14 menit namun cwok itu tak kunjung selesai mengerjakan tugasnya sementara disana Wendi sudah semakan mengantuk
Gevan yang sadar akan hal itupun menatap kearah Wendi yang sudah mengantuk berat disana. Meihat itu, Gevan mempercepat tanannya untuk menulis agar tugas itu segera selesai dan membawa cewek itu pulang untuk beristirahat
Wendi kemudian tertidur dan badannya sudah hampir jatuh kelantai namun dengan kecepatan kilat Gevan langsung menarik tangan cewek itu sampai akhirnya sampai dipelukannya
Mata Wendi yang tadinya mengantuk kini terbuka melebar ketika melihat Gevan kini memeluknya erat disana. Cewek itu diam beberapa saat menatap Gevan yang juga kini menatapnya itu disana
"Lo cantik "