It'S Hurt

It'S Hurt
Berhenti atau Tidak?



...lelah dalam suatu hubungan karna jika tidak, maka percayalah itu akan menjadi hal yang paling menyakitkan...


...W...


"Apa lebih baik kita putus?"


Cewek itu langsung menatap cowok didepannya itu terkejut mendengar kata kata yang terlontar dari mulut cowok itu


"Apa?"


"Itu yang kamu mau kan? Inti dari semua yang kamu ucapkan itu kan?"


"A, aku gak bermaksud begitu"


"Kalau kamu gak mau putus jauhin Gevan, tapi kalau kamu mau kita putus silahkan sepuasnya kamu dekat sama dia" Andre kemudian pergi setalah berkata demikian. Kini cewek itu diberi suatu pilihan yang berat untuknya, apa alasan dirinya untuk menjauhi Gevan? Selama ini cowok itu sudah menjadi teman baginya, bahkan Gevan selalu ada ketika ia sedang membutuhkan teman. Tapi kali ini Wendi tidak ada pilihan lain lagi, ia benar benar harus menjauhi cowok itu mulai sekarang


...******...


Wendi duduk di depan meja belajarnya, pikirannya masih kepada Andre kekasihnya itu, ia tak menyangka jika masalahnya akan serumit ini. Cewek itu sesekali melirik kelayar ponselnya berharap jika Andre membalas pesan yang semenjak dua hari lalu tidak ia balas padahal pesannya sudah dibaca oleh cowok itu


Sebuah pesan notifikasi tiba tiba datang membuat Wendi dengan cepat membuka ponselnya, namun ternyata orang yang mengirimnya pesan bukanlah Andre melainkan Gevan


"Gue didepan rumah lo"


Wendi mengerutkan keningnya membaca pesan dari cowok lalu keluar menemui cowok yang sudah menunggunya dibawah


"Lo ngapain datang kesini?" Bukannya menjawab cowok itu malah memberinya kantong plastik putih yang isinya beberapa makanan


"Gue habis dari luar beli makanan jadi gue mampir bentar kesini" Wendi tersenyum lebar lalu kemudian mengambil kantong plastik itu dari tangan Gevan


"Makasih" Gevan kemudian duduk diatas kursi kayu yang ada disana sambil menatap sekelilingnya


"Lo udah baikan sama Andre?"


"Belum" jawab cewek itu sambil duduk disamping Gevan


"Dia bahkan belum balas pesan gue dari kemarin"


"Gue udah bilang sama lo, jauhin gue maka Andre gak akan marah sama lo"


"Kenapa?" Gevan menoleh kesamping menatap cewek disampingnya itu


"Kenapa dia bisa marah tapi gue enggak. Dia bisa larang gue dekat sama lo tapi gue gak bisa larang dia dekat sama Jinny, maksud dia apa?" Cewek itu merasa tidak adil dengan sikap Andre kekasihnya itu terhadap dirinya, ia merasa bahwa Andre terlalu egois padanya


"Kenapa lo masih bertahan?" Wendi memicingkan matanya mendengar perkataan cowok itu


"Lo bisa berhenti kalau lo capek"


"Gue gak bisa van"


"Kalau gitu lo jangan ngeluh kalau lo sendiri gak mau berhenti" ucap cowok itu sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya diikuti dengan Wendi


"Jangan bertahan terlalu lama, nanti lo bisa jatuh lebih dalam. Lo tau artinya apa?" Cowok itu kemudian naik keatas motornya namun dengan cepat Wendi memegang pergelangan tangan cowok itu


"Artinya apa?"


"Lo bakal merasakan sakit yang jauh lebih dalam dari apa yang pernah lo rasain" tanpa perlu basa basi lagi, Gevan segera pergi dari sana


Sementara itu, Wendi masih diam berdiri disana memikirkan perkataan yang baru saja ia dengar dari cowok itu. Apa maksudnya ia harus mengakhiri hubungan ini? Tapi, bagaimana bisa? Ia sudah terlanjur mencintai Andre terlalu dalam dan untuk meninggalkannya adalah hal terberat dalam hidupnya


...******...


Wendi tersenyum lebar ketika melihat pintu gerbang sekolah masih terbuka lebar, itu artinya dirinya belum terlambat pagi ini. Cewek itu berjalan masuk kedalam sekolah dan menuju kelasnya


"Wendi..." Panggil Rena sahabatnya itu sambil memeluknya erat


"Apaan sih re" Rena hanya tertawa kecil disana lalu melepas pelukannya


"Gue peluk lo karna besok lo ulang tahun, lo lupa?"


"Gak mungkin gue lupa sama ulang tahun gue" Wendi kemudian berjalan menuju tempat duduknya


"Kenapa muka lo murung? Biasanya lo paling heboh minta gue beliin kado buat lo tapi sekarang kenapa lo diam aja?" Tidak ada jawaban dari mulut lawan bicaranya itu


"Gue tau, lo masih berantam sama Andre?" Tetap sama tidak ada jawaban dari mulut cewek itu


"WENDI!" Teriak Rena menggelegar diruangan itu membuat siswa yang ada disanapun langsung menatap kearahnya


"Rena!"


"Apa? Kenapa? Lo belum jawab pertanyaan gue" Wendi sudah sangat kesal disana dengan sikap sahabatnya itu


"Lo harus minta maaf sama Andre sekarang karna memang ini semua salah lo. Lo harus tanggungjawab dengan masalah yang lo buat sendiri wen"


"Lo bisa diam?" Ucap Wendi menahan emosinya disana


"Gue capek ren" Rena kemudian hanya bisa diam disana menatap prihatin sahabatnya itu


...******...


"Semua udah kumpul?" Tanya Jeno yang merupakan ketua dari tim basket disekolah itu kepada semua anggotanya yang ada disana


"Semua udah kumpul jen" ucap salah seorang yang ada disana


"Oke. Sorry karna gue tiba tiba ngumpulin lo semua disini"


"Emang kita mau rapat tentang apa?"


"Jadi gini, belum lama ini kita tahu kalau dua anggota dari tim basket ini membuat masalah besar disekolah, dan bukan hanya sekali tapi sering. Ketika kita latihan mereka juga berantam, bahkan ketika bertandingpun mereka berantam" semua orang yang ada disana hanya melirik kepada objek yang dimaksud oleh Jeno yakni Andre dan juga Gevan


"Jadi maksud lo, mereka harus keluar?"


"Gue bakal kasih dua pilihan. Pertama, lo berdua harus baikan dan jangan pernah membuat masalah lagi dan kedua, salah satu dari kalian harus keluar dari tim basket" mendengar pernyataan itu, semua orang disana terkejut dan saling bertatapan antara satu dengan yang lain


"Itu terlalu berlebihan jen" ucap Rendi yang tidak terima dengan pilihan yang dibuatnya itu


"Kalian berdua tinggal pilih" Andre dan juga Gevan hanya bisa diam, tidak ada hal yang bisa mereka pilih dari keduanya


"Ndre, gimana? Lo mau keluar?"


"Gak maulah. Gue gak mau keluar dari tim basket"


"Kalau gitu lo berdua baikan aja" ucap Rizal mencoba membujuk cowok itu untuk memilih pilihan pertama


"Lo gila?"


"Gue keluar" semua yang mendengar itu termasuk Andre terkejut


"Hah?"


"Gue keluar dari tim basket"


"Van, lo sadar dengan ucapan lo?" Ucap Rendi spontan disana membuat Andre serta Rizal menatap terkejut kearahnya


"Gue memilih pilihan yang kedua"


"Lo, serius?" Ucap Jeno memastikan kembali


"Gue serius" setelah berkata begitu, Gevan langsung pergi meninggalkan ruangan itu


"Van, Gevan" cowok itu berbalik dan melihat bahwa orang yang memanggilnya adalah Rendi


"Lo gak bisa keluar gitu aja van, gue tau gimana perjuangan lo masuk tim basket dan lo lepas gitu aja?" Gevan masih menatap lawan bicaranya itu dengan tatapan yang tak bisa dimengerti


"Lo harus tetap ada di tim basket"


"Kenapa lo peduli?" Tanya Gevan dengan nada yang menusuk


"Gue keluar atau enggak itu bukan urusan lo"


"Daniel udah keluar dari tim basket dan sekarang lo juga keluar"


"Terus kenapa? Kenapa lo khawatir?"


"Karna, lo teman gue" mendengar itu, Gevan tersenyum tipis lalu kemudian menatap Rendi serius


"Lo benar, kita emang teman. Tapi dulu" Rendi masih tetap diam disana


"Sekarang lo bukan siapa siapa lagi dimata gue dan berhenti menganggap gue teman karna lo adalah lawan gue sekarang" lanjut Gevan lalu kemudian pergi dari sana meninggalkan Rendi yang hanya bisa diam menatap punggung cowok itu dari kejauhan yang kini semakin menjauh darinya


...******...


"APA!!"


Teriak Daniel terkejut ketika mendengar bahwa Gevan cowok itu memutuskan untuk keluar dari tim basket


"Lo serius van? Lo serius keluar dari tim basket? Lo gila?"


"Gue serius"


"Ta, tapi kenapa? Gue tau betul kalau basket itu segalanya dalam hidup lo. Lo bahkan berjuang mati matian untuk masuk di tim basket" Daniel masih tak menyangka jika melakukan hal ini hanya karna masalahnya dengan Andre


"Lo jujur sama gue, kenapa lo ngelakuin ini? Pasti bukan karna Andre kan?" Gevan menghisap rokok yang ada ditangannya sebelum kemudian ia membuang benda itu


"Terus maksud lo apa? Gue beneran udah capek berurusan sama dia"


"Oke, kalau memang itu pilihan lo"


...******...


Gevan menyerahkan baju basket serta gelang tim basketnya kepada Jeno sebagai pertanda bahwa ia benar benar keluar dari tim basket


"Lo yakin?"


"Gue yakin"


"Gue tadinya berharap lo berdua baikan tapi ternyata gue salah" Gevan tersenyum tipis mendengar perkataan Jeno


"Lo tenang aja, seiring berjalannya waktu semua pasti berakhir"


"Kapanpun lo mau kembali ke tim lagi , kabarin gue" Gevan hanya menganggukkan kepala disana


"Gue cabut" Jeno kemudian pergi dari sana, sedangkan Gevan masih setia menatap punggung Jeno yang sudah tak terlihat lagi. Gevan berbalik badan dan terkejut melihat Andre yang sudah berdiri tak jauh darinya


"Apa lagi rencana lo sekarang?" Ucap Andre sambil berjalan mendekat ke tempat dimana Gevan berdiri


"Lo mau terlihat baik didepan banyak orang?"


"Gue gak mau berurusan sama lo lagi"


"Benarkah?" Andre berjalan lebih mendekat kepada Gevan dan menatapnya tajam


"Tapi sayangnya, gue belum selesai sama lo" Gevan kemudian menatap Andre dengan tatapan tajamnya


"Gue bakal anggap selesai setelah lo mati