It'S Hurt

It'S Hurt
Menjauh atau Tidak



Wendi duduk dikursi meja belajarnya, pikirannya masih tertuju dengan kejadian yang ia lihat tadi siang, ia memang mendengar semuanya tapi itu tak cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka


"Nyokapnya Gevan meninggal?, Kenapa gue gak tau, padahal kejadiannya enam bulan yang lalu" itu merupakan fakta yang sangat mencengangkan bagi dirinya, mereka satu sekolah tapi kenapa ia tak tau tentang hal ini?


"Lalu, apa hubungannya dengan Andre?, Kenapa Gevan nyalahin Andre atas kematian nyokapnya?. Lalu kenapa juga nyokapnya Gevan pengen bunuh nyokapnya Andre?" Wendi memukup mukul kepalanya bingung dengan masalah yang terjadi antra keduanya


"Hahh... gue capek. Mikirin masalah mereka itu kayak mikirin masalah seAsia aja"akhirnya Wendi beranjak berdiri, mengambil jacketnya lalu kemudian pergi keluar menuju Alfamart untuk membeli beberapa cemilan yang bisa membuat pikirannya tenang, namun belum sampai ditempat tujuan, ia melihat seorang perempuan yang tampaknya ia kenali berdiri dipinggir jalan seperti sedang menunggu seseorang


Duuarrrrrrrr


Cewek itu terkejut ketika ia dikejutkan oleh seseorang dari belakangnya


"Wendi" cewek itu tertawa puas melihat mimik wajah Gisel yang sudah pucat akibat ulah dirinya


"Sialan lo"


"Sabar sel, gue bercanda doang" Gisel masih memasang wajah kesal disana melihat Wendi yang masih tertawa


"Lo ngapain disini?, Nungguin Gevan?"


"Bukan urusan lo"


"Gengsian banget sih lo, gue tau pasti lo nungguin Gevan disini" Gisel diam, ia sebenarnya sudah panik melihat kehadiran Wendi disana, ia takut jika cewek itu tau jika ia sedang menunggu cowok lain, maka hancurlah sudah harinya malam ini


"Lo, pulang aja sana" cewek itu mendorong Wendi supaya segera pergi dari tempat itu


"Gue gak mau gimana?"


"Ck. Pergi gak lo, pergi, pergi lo jamur" Gisel memukul mukul Wendi menggunakan jacket yang ada ditangannya


"Oi, main pukul segala lo. Oke gue pergi. Gue juga keluar bukan mau liatin lo berdua pacaran" Wendi akhirnya pergi dari, untung saja cewek itu berhasil mengusirnya


"Sayang, ini buat kamu"


"Makasih lan"  kedua remaja itu duduk bersama menikmati malam yang dipenuhi banyak bintang yang menghiasi langit


******


Andre bersama dengan kekasihnya Wendi sudah sampai disekolah dan tengah berjalan bersama menuju kelas, namun Wendi merasa aneh sedari tadi dengan Andre yang sedari tadi hanya diam dan cuek pada dirinya, padahal biasanya cowok itu selalu ceria namun hari ini berbeda, apa mungkin cowok itu marah padanya?


"Selamat belajar" cowok itu hendak akan pergi namun ia berbalik badan ketika Wendi memanggil namanya


"Semangat" ucap Wendi sambil mengangkat tangannya dengan ragu ragu namun cowok itu hanya tersenyum tipis lalu kemudian pergi dari sana


Andre melempar tasnya didepan meja lalu duduk ditempat duduknya


"Kenapa muka lo?, Gak cerah kayak biasanya" ucap Rendi ketika melihat temannya itu


"Gak papa"


"Gimana semalam?, Lo udah kasih pelajaran sama Gevan?" Rendi terkejut ketika Rizal menanyakan itu kepada Andre, kenapa ia menanyakan itu?, Apa Gevan mencari masalah lagi?


"Gevan?, Memangnya dia kenapa?"


"Lo gak tau, Gevan kemarin datang kerumahnya Wendi, bahkan dia masuk kedalam" terang Rizal membuat Rendi terkejut mendengarnya


"Dia ngapain disana?"


"Ngapain lagi kalau bukan cari masalah ren. Lo udah kasih dia pelajaran?" Tanya Rizal untuk yang kedua kalinya kepada temannya out


"Belum"


"Kenapa?"


"Tunggu waktu yang tepat, gue bakal buat dia benar benar menderita"


"Lo mau tunggu sampai kapan ndre?, Jangan sampai lo yang nyesal nantinya"


"Lo tenang aja zal, gue udah atur semuanya"Rendi hanya diam disana, tak mau menanggapinya lagi, ia lelah dengan masalah yang tak ada habisnya antara Andre dan Gevan yang dimana keduanya sama sama keras kepala, Rendi kemudian beranjak berdiri dari sana


"Ren, lo mau kemana?"


"Mau ke nereka, lo ikut?"


"Keras bener nyali lo" teriak Rizal kepada Rendi yang punggunya kini sudah tidak kelihatan lagi. Rendi berjalan dan ingin menemui Wendi untuk menanyakan hal yang sebenarnya padanya


"Wen, gue mau ngomong sama lo"


"Mau ngomong apa?" Tanya cewek itu ragu ragu karna dirinya pun terkejut melihat kehadiran Rendi yang tiba tiba datang


"Ikut gue"


"Gue keluar bentar yah re" Wendi kemudian berdiri dan mengikuti langkah kemana cowok itu pergi hingga kini mereka sudah berada ditempat yang dimana tidak terlalu ramai


"Lo mau ngomong apa?"


"Gevan kemarin datang kerumah lo?" Tanya Rendi to the point tak mau berbasa basi, Wendi hanya menganghukkan kepalanya pertanda apa yang dikatakan cowok itu benar adanya


"Dia masuk kerumah lo?" Cewek itu membulatkan matanya terkejut, mengapa Rendi bisa tau tentang ini pikirnya


"Lo, tau dari mana?"


"Rizal, dia yang ngasih tau sama Andre" Wendi kesal mendengar itu, harusnya cowok itu tak seharusnya memberitahukan hal itu pada Andre


"Dia ngapain?"


"Lo jangan mikir aneh aneh ren, gua sama Gevan gak ngelakuin hal apapun, malah dia yang nolongin dan ngantarin gue pulang, dia masuk kedalam karna Andre tiba tiba datang jadi gue paksa dia masuk kerumah karna gue gak mau mereka berantam lagi. Gue gak bohong ren" Rendi hanya diam menyimak setiap perkataan Wendi yang sebenarnya ia juga yakin dengan apa yang baru ia dengar


"Gevan gak sejahat seperti yang kalian pikirkan ren"


"Gue tau"


"Jadi, lo percaya kan sama gue?"


"Lo gak mau kan liat mereka berantam terus?" Tanya Rendi serius kepada cewek yang berdiri disampingnya it


"Hm. Gue gak mau"


"Jauhi Gevan" Wendi mendongakkan kepalanya ketika ia mendengar perkataan Rendi


"Jauhi dia wen. Lo liatkan, setiap kali lo bareng sama Gevan maka disitulah terjadi pertengkaran. Gue juga capek wen, capek liat mereka berantam terus, gue tau dan gue percaya kalau Gevan gak bakal jahatin lo tapi karna lo, mereka terus berantam wen"cewek itu hanya diam menundukkan kepalanya disana


"Lo harus dengerin apa kata Andre wen biar semuanya selesai"


"Gue gak punya masalah sama Gevan kenapa gue harus jauhin dia?"


"Karna lo pacarnya Andre, dan mau gak mau lo akan ikut campur dalam masalah ini" Wendi menatap cowok itu dalam mencoba memikirkan perkataan Rendi


"Itu satu satunya jalan terbaik untuk sekarang wen. Mulai sekarang jauhi Gevan"


******


"Lo suka main gitar?" Wendi terkejut lalu berbalik melihat siapa objek tersebut, Wendi terkejut sampai ia bahkan tak berani beranjak dari tempat duduknya


"Kenapa lo?" Gevan sambil duduk dekat cewek yang masih setia menatap cowok itu disana


"Lo kenapa?, Lo mau kabur lagi?"Wendi kemudian menundukkan kepalanya malu disana


"Lo gak perlu malu wen, itu hal biasa yang gak perlu diingat ingat terus" cewek itu masih tetap diam membisu disana


"Maaf"


"Kenapa lo minta maaf?"


"Karna gue lo berantam terus sama Andre" cowok itu tersenyum miring mendengar itu


"Lo gak usah kepedean wen, kita berantam bukan karna lo"


"Tapi Andre bakal nyerang lo kalau dia liat gue dekat sama lo"


"Itu hanya alasannya dia aja wen supaya dia punya alasan buat nyerang gue. Itu gak ada sangkut pautnya sama lo"


"Tapi van, te.._"


"Wendi" keduanya menoleh serentak dan betapa terkejutnya Wendi melihat keberadaan Andre disana


"Ndre, kamu jangan salah paham" tanpa basa basi lagi Andre menarik tangan cewek itu kuat hingga membuatnya meringis kesakitan


"Lo kalau emosi jangan sama cewek" ucap Gevan yang tak suka melihat sikap kasar Andre kepada cewek itu


"Lo lebih baik diam" lalu kemudian Andre menarik cewek itu kuat membawanya pergi dari sana


"Ndre, lepasin" cowok itu tak mengubrisnya sama sekali, ia tetap menarik tangan cewek itu kuat


"Ndre, Andre" cowok itu kemudian melepaskan cekalannya sedangkan cewek itu kesakitan sampai ingin menangis melihat sikap kasar cowok itu


"Kamu jahat ndre"


"Kamu yang paksa aku buat ngelakui ini wen" cewek itu diam dan masih mengusap tangannya yang merah akibat ulah cowok itu tadi


"Kenapa kamu gak pernah dengerin aku wen?, Dia itu gak sebaik yang kamu kira"


"Dia orang baik ndre"


"Baik?, Dia bahkan pernah manfaatin kamu wen, kamu gak usah sok tau tentang dia, aku jauh lebih kenal sama dia dibandingkan kamu wen"


"Tapi ndre..."


"Kamu tetap gak mau dengerin aku?" Wendi diam ditempat, ia teringat akan perkataan Rendi yang menyuruhnya untuk menjauhi Gevan


"Jawab wen" Wendi tersadar lalu kemudian menyerang cowok itu dengan pelukan hangat, cowok itu terkejut hingga akhirnya ia membalas pelukan cewek itu


"Maaf ndre, aku salah" Andre kemudian melepas pelukannya dan memegang kedua bahu cewek itu


"Please wen, dengerin aku kali ini" cewek itu hanya menundukkan kepalanya. Andre kemudian memegang tangan kelasihnya yang sudah memerah akibat dirinya sendiri, cowok itu kini merasa bersalah dan menyesal


"Maaf wen, tadi aku terlalu emosi"


"Kamu jangan emosian lagi ndre, aku takut" Andre tersenyum lalu kemudian mengelus rambut kekasihnya itu lembut


" Makanya kamu jangan nakal, awas kalau nakal lagi" cewek itu hanya tersenyum, ia senang sekarang mereka sudah berbaikan kembali, setidaknya ia sudah kembali melihat senyum cerah dari kelasihnya itu


******


Wendi tengah duduk didepan kelasnya sambil sibuk memainkan ponselnya disana begitu juga dengan Rena yang duduk disampingnya juga sibuk dengan ponselnya entah apa yang mereka lakukan dengan benda pipih itu


"Wen, lo udah baikan sama Andre?"


"Hm. Kenapa?"


"Lo kenapa susah banget sih dibilangin? Andre udah capek nyuruh lo buat jauhin Gevan tapi lo gak pernah mau dengerin dia"


"Alasan gue buat jauhin dia itu apa re?, Karna dia punya masalah sama Andre?"


"Entah apapun itu yang penting lo jauhin dia" Wendi menatap bingung Rena yang ikut marah padanya


"Apa susahnya buat lo jauhi dia?, Lo gak rugi juga kan jauhin dia?, Yang ada malah hubungan lo baik sama Andre" Wendi diam sudah malas menanggapi perkataan cewek itu sekarang


"Re, lo tau kalau nyokapnya Gevan meninggal?" Rena terkejut lalu menatap sahabatnya itu


"Lo tau dari mana?"


"Ah, gue cuman dengar dengar aja"


"Gue gak tau dan gak mau tau tentang dia, mau nyokapnya hidup atau gak gue gak peduli. Lagian lo kenapa peduli banget sih sama dia, sampe sampe nyokapnya aja lo telusuri" Wendi tersenyum melihat reaksi Rena yang begitu rewel didepannya


Wendi berfikir sejenak dan teringat akan seseorang yang mungkin bisa membantunya untuk memberi informasi tentang masalah ini, Wendi beranjak berdiri lalu berlari pergi


"Eh wen, mau kemana"


"Toilet" teriak Wendi kuat agar Rena bisa mendengarnya dengan jelas. Cewek itu sampai didepan kelas Daniel lalu mencari keberadaan cowok itu disana


"Daniel dimana?" Tanya Wendi kepada salah satu siswa disana


"Gak tau. Mungkin di rooftop" Wendi segera berlari menaiki tangga menuju rooftop, ia berlari sekuat tenaga menuju tempat itu dan benar saja disana sudah ada Daniel beserta Gevan yang secara bersamaan menatap kearahnya


"Disini lo ternyata" ucap Wendi tergesa gesa akibat lelah sementara Gevan hanya menatapnya datar


"Lo cari siapa kesini"


"Gue nyariin lo" Daniel sontak terkejut ketika mengetahui bahwa cewek itu mencari dirinya


"Gue mau ngomong sesuatu"


"Ngomong apa?"


"Lo bisa menjauh sebentar gak?" Gevan menatap dingin cewek itu karna ia paham bahwa orang yang dimaksud menjauh itu adalah dirinya


"Kenapa harus gue?" Daniel yang tak mau ribut pun akhirnya bertindak cepat


"Udah, udah. Lo berdua gak usah ribut. Ayo wen ikut gue" Daniel lalu membawa cewek itu menjauh dari sana


"Lo mau ngomong apa?"


"Lo janji dulu sama gue kalau lo gak boleh ngasih tau Gevan"


"Iya. Udah ngomong aja langsung"


"Apa benar, nyokapnya Gevan udah meninggal?" Daniel kali ini benar benar terkejut dibuat pertanyaan itu, mulutnya bahkan tak sanggup menjawab pertanyaan itu, ia heran mengapa cewek itu tiba tiba bertanya tentang ini?, Apa cewek itu  mengetahui sesuatu?, siapa yang memberi tahunya?, Apakah Andre?