
...Karena semua bukan tentang kehendak kita, tetapi semua kembali kepada waktu yang tepat...
...W...
"WENDI!" Sang empunya nama tersebut langsung berbalik badan dan membulatkan matanya terkejut keyika melihay Gevan sudah berdiri disana sambil menatap tajam kearahnya. Cowok itu kemudian berjalan mendekati cewek itu lalu kemudian mengambil paksa buku yang ada ditangan cewek itu
"A.. Van, gu, gue"
"Lo puas?" Ucap cowok itu sambil menahan emosinya sedangkan Wendi hanya sudah tidak bisa berkata kata lagi disana
"Apa yang lo dapat setelah lo tau semua?, lo mau kasihanin gue, lo mau rendahin gue?, LO MAU APA!!" Bentak Gevan hingga membuat cewek itu kini benar benar ketakutan, pasalnya ia tak pernah melihat Gevan sampai semarah ini
"Apa lo bisa bantuin gue setelah lo tau?. JAWAB GUE WEN!!" Gevan kemudian memegang pergelangan kedua tangan cewek itu, meremasnya kuat dan mendorong cewek itu hingga punggungnya menabrak dinding membuat Wendi meringis kesakitan disana
"Van, sakit" ucap Wendi sambil menahan air matanya disana
"Lo belum pernah liat gue marah kan?, sekarang gue nunjukin diri gue yang sebenarnya sama lo" ucap Gevan dengan tangannya meremas pergelangan tangan cewek itu
" Van, lepas"
"Gue udah pernah bilang sama lo jangan pernah urus masalah gue tapi kenapa lo masih ikut campur?, lo mau mati?. Gue bisa bunuh lo sekarang juga kalau gue mau" Wendi kini berhasil membuat cowok itu marah, ia bahkan tak menyangka jika perkataan Daniel benar. Cowok itu menatap tajam Wendi, ia semakin memperkuat cekalannya terhadap cewek itu lalu kemudian menghempaskan Wendi hingga tersungkur kelantai
Dahi cewek itu kini berdarah akibat terbentur dengan tumpukan kayu yang tergeletak disana, kini air mata cewek itu turun akibat sakit yang ia rasakan namun bukannya menyesal Gevan malah berjongkok dan mendekatkan bibirnya ketelinga cewek itu
"Sekarang, lo dengan Andre sama dimata gue. Sama sama BAJINGAN!. Ingat satu hal, JANGAN PERNAH GANGGU HIDUP GUE KALAU LO MASIH MAU HIDUP" Gevan sempat mengelus kepala cewek itu sambil tersenyum miring kepadanya lalu kemudian melangkahkan kaki pergi dari sana sementara Wendi memegang lengan yang sakit akibat cekalan cowok itu. Menyesal, itulah yang dirasakan Wendi sekarang, ia tahu ini adalah kesalahannya namun ia tak menyangka jika Gevan tega melakukan kekerasan seperti ini padanya
Gevan berjalan cepat dengan emosi memenuhi benaknya sekarang, ia berjalan masuk kedalam kelasnya dan tanpa aba aba, cowok itu langsung memukul Daniel sahabatnya itu hingga terjatuh kelantai, banyak siswa yang terkejut melihat kejadian itu disana. Gevan menatap Daniel tajam seolah ingin membunuh cowok itu sekarangnya juga sementara Daniel hanya meringis kesakitan disana, ia tahu apa alasan mengapa cowok itu marah padanya. Daniel dengan sekuat tenaga bangkit berdiri dan mendekati sahabatnya itu
"Ternyata pukulan lo lumayan juga, pipi gue hampir berlubang" ucap Daniel santai sementara Gevan disana sudah bersiap untuk memukul cowok itu lagi namun yiba tiba seorang lelaki yang sudah berumur yang diketahui adalah salah satu guru disana masuk kedalam kelas membuat semua siswa yang ada disana segera kembali duduk dikursi mereka masing masing, begitu juga dengan Daniel beserta Gevan yang kembali duduk ditempat mereka
"Wajah kamu kenapa?. Kamu berantam?" Ucap lelaki itu ketika melihat wajah Daniel sedikit berdarah
"Tadi saya jatuh pak" ucap Daniel asal agar tidak memperpanjang masalah yang terjadi
...******...
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, semua siswa segera bergegas ingin cepat pulang kerumah masing masing. Wendi kini berada di parkiran sekolah menunggu Andre kekasihnya itu datang dari kelasnya
Wendi menatap kesamping dan melihat sudah ada Gevan disana yang duduk diatas motornya sambil membelakangi dirinya sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya, ia masih teringat dengan perkataan cowok itu padanya, cewek itu bahkan tak pernah menyangka jika Gevan tega menyakitinya
"Hai sayang" Wendi seketika itu berbalik badan dan tersenyum manis ketika melihat bahwa orang yang menyapanya itu adalah Andre. Namun cowok itu mengerutkan keningnya ketika melihat luka didahi kekasihnya itu
"Ini kenapa?" Ucap Andre khawatir sambil memegang kepala cewek itu
"Ahh, ini.. Ehm.. Tadi aku jatuh"
"Jatuh?, jawaban kamu gak logika wen" kemudian Andre mengalihkan pandangannya dimana tempat Gevan berada. Wendi yang sadarpun dengan cepat mencari cara agar cowok itu tak mencurigai Gevan
"Ndre, itu gak ada kaitannya sama Gevan. Aku memang tadi jatuh ndre" Andre kemudian menatap mata cewek itu untuk memastikan bahwa perkataannya itu benar atau tidak
"Aku gak bohong ndre, kamu percaya sama aku kan?" Cowok itu hanya menganggukan kepalanya disana namun sebenarnya ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Wendi tadi. Andre kemudian menyuruh kekasihnya itu untuk naik keatas motor dan mengantarnya pulang
Gevan terpaksa menghentikan motornya ketika melihat Andre berdiri ditepi jalan. Gevan sebenarnya tau maksud dari mengapa Andre menunggunya disana
Andre yang sudah dipenuhi emosipun langsung menarik kerah baju cowok itu kuat sambil menatapnya tajam
"Lo ngelakuin apa sama Wendi?" Gevan kemudian melepas cekalan cowok itu dan menatapnya dengan tatapan tak suka
"Kenapa lo gak nanya sama pacar lo sendiri?"
"GUE NANYA SAMA LO" ucap Andre dengan menekan nada bicara disetiap kata
"Kalau pacar lo gak cari masalah, gue gak bakal nyakitin dia" Andre yang mendengar itu semakin geram, ia tak terima cowok itu menyakiti kekasihnya
"Gue udah peringatin, JANGAN PERNAH SENTUH PACAR GUE!" Andre menatap tajam cowok didepannya itu seolah ia ingin membunuhnya sekarang juga
...******...
Wendi menatap takut takut kearah cowok yang duduk disampingnya itu, sedari tadi cowok itu hanya diam dan bersikap dingin padanya tidak seperti biasanya, apa Andre marah padanya?, atau cowok itu tau jika Gevanlah yang membuat dirinya terluka?, ada banyak pertanyaan dibenak cewek itu sekarang
"Ndre, kamu kenapa?" Akhirnya cewek itu memberanikan dirinya, cowok itu kemudian menegakkan tubuhnya sambil mengehela nafas kasar
"Kalau aku tanya, apa kamu mau jujur?" Wendi menatap bingung kearah cowok itu
"Kamu ngelakuin apa sama Gevan?, kenapa dia berani nyakitin kamu?" Cewek itu seketika terdiam, ia benar benar tidak tahu harus bagaimana sekarang, jika ia mengatakan yang sebenarnya maka cowok itu juga akan semakin marah padanya
"A, ku, aku cuman"
"Kamu gak mau jujur kan?" Wendi menundukkan kepalanya disana tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa diam disana sekarang
"Kamu tahu, kita pacaran udah cukup lama tapi satu hal yang aku gak pernah dapat dari kamu adalah kejujuran kamu. Kamu gak pernah mau jujur sama aku, apalagi kalau itu berkaitan sama Gevan. Kenapa?, kamu lebih mikirin dia dibanding dengan aku?" Ucap Andre dengan rasa kecewa tersirat diwajahnya sementara itu, Wendi hanya diam menundukkan kepalanya disana
"Tadinya aku udah mau berhenti, aku udah gak mau berurusan lagi sama Gevan, tapi kamu, kamu buat aku berubah pikiran" Wendi langsung menatap cowok itu
"Aku gak akan pernah diam ketika orang lain nyakitin kamu, termasuk Gevan" Andre mengalihkan pandangannya kepada cewek didepannya itu dan menatap cewek itu dalam
" Dia harus dapat upah karena udah berani nyakitin kamu"
"Ndre, aku gk papa. Kamu gak perlu lakuin itu, aku.. Aku gk papa ndre, kamu.."
"Kenapa?, kamu khawatir sama dia?, kamu takut dia terluka?"
"Ndre, maksud aku bukan seperti itu?"
"Jadi maksud kamu apa?" Tanya cowok itu sedikit menaikkan nada bicaranya
"Aku gak mau kamu berantam sama dia terus ndre, aku gak mau kamu kena masalah karna aku dan aku gak mau kamu,.."
"Nyakitin Gevan?" Cowok itu memotong perkataan cewek itu, ia benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran cewek itu sekarang, mengapa cewek itu sangat takut jika ia sudah berurusan dengan Gevan, sebenarnya apa yang ada dipikiran kekasihnya itu
"Kenapa kamu selalu takut kalau itu soal Gevan?" Cewek itu menatap Andre dan tanpa diundang air mata lolos keluar membasahi pipinya
"Gevan gak salah ndre, aku yang salah" Andre masih diam disana, ia sebenarnya tak suka ketika cewek itu malah membela Gevan didepannya
"Jangan lakuin apapun sama Gevan ndre" Andre yang sudah tidak tahanpun kini bangkit berdiri
"Kamu masih belain dia yang jelas jelas udah buat kamu terluka wen"Andre kemudian mengusap wajahnya kasar
"Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu wen. Sekarang terserah kamu, aku capek dan aku kecewa sama kamu" Andre kemudian pergi melangkahkan kakinya pergi dari sana
"Aku udah tahu semua ndre" langkah cowok itu terhenti ketika mendengar perkataan cewek itu
"Gevan marah karna gue berani ngambil buku yang isinya semua tentang masalah lo sama dia" Andre langsung berbalik badan menatap cewek itu
"Aku tahu kalau mama kamu selingkuh sama bokapnya Gevan, itu sebabnya mama sama papa kamu selalu berantam" Andre hanya diam ditempat, ia sebenarnya terkejut ketika cewwk itu sudah tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya
"Aku terpaksa ngelakuin itu karna kamu gak pernah mau cerita sama aku ndre, kamu gak pernah mau terbuka sama aku, aku tahu ini masalah kamu ndre tapi apa salahnya kalau kamu cerita ke aku biar aku juga tau keadaan kamu, masalah kamu, tapi kamu selalu tertutup sama aku" kini, cewek itu meluapkan semua yang ada dalam hatinya selama ini, bukan hanya Andre yang kecewa, cewek itu juga merasakan hal yang sama selama ini, kecewa karna Andre kekasihnya itu selalu tertutup padanya
"Kalau kamu diposisi aku dengan masalah yang seperti ini, apa kamu bakal cerita tentang orang tua kamu yang selingkuh?" Wendi terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa
"Semua butuh waktu wen, aku gak cerita karna aku masih mencari waktu yang tepat buat cerita sama kamu. Jangan memaksa dengan kehendak kamu sendiri wen, karna semua butuh waktu"
"Kamu belain Gevan karna kamu tau kalau nyokapnya dia meninggal?, kamu kasihan sama dia?, kamu mau nolongin dia?, kamu merasa dia yang benar atau kamu merasa dia yang paling terpuruk dalam masalah ini?"
"Ndre, kamu jangan mikir yang aneh aneh"
"Silahkan!, kalau kamu belain dia. SEMUA TERSERAH KAMU!" Andre kemudian memutuskan pergi dari sana karna takut jika emosinya semakin bertambah sementara Wendi hanya diam menatap Andre yang kini sudah tak terlihat lagi, cewek itu kini merasa serba salah, ia merasa bahwa semua yang ia lakukan salah dimata Andre padahal ia hanya tidak ingin jika Andre mendapat masalah jika ia dan Gevan selalu berantam, namun cowok itu selalu beranggapan negatif terhadap dirinya