It'S Hurt

It'S Hurt
Rahasia




.


.


.


Ini adalah tempat yang indah, sudah lama rasanya ia tak kemari. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa berkunjung ketempat ini lagi.


Jina menatap sekeliling tempat ini, rasanya masih sama dari beberapa tahun silam hanya saja rumput yang tumbuh sudah lebih panjang, sepertinya petugas yang berjaga belum memangkasnya lagi.


"Maaf, aku baru bisa kemari lagi." Ujar Jina sedih. Ia berlutut dihadapan gundukan tanah tersebut dan memberi salam penghormatan untuk orang tuanya.


Pria yang sejak tadi bersamanya hanya bisa terdiam. Dia lebih memilih memperhatikan gadis yang tengah rapuh itu dengan sedih. Ia harap Jina mau berteman lagi dengannya karena ia sungguh sudah jatuh dalam pesona gadis itu.


Dan saat melihat semua yang dialami gadis itu membuat Sehun sedikit terhentak akan perbuatannya. Sekarang ia merasa sangat bersalah kepadanya.


"Eomma." Lirih gadis itu yang sekarang tengah memeluk makam orangtuanya. Appa Jina sudah lama meninggal setelahnya hanya dia dan eommanya yang tetap bertahan menjalani kehidupan mereka.


"Apa kalian merindukanku?" Tanya Jina yang masih setia memeluk makam tersebut dan beralih kewajah pria yang sejak tadi berasa disampingnya.


Sehun sedikit kaget saat mata berair itu menatap wajahnya dengan memohon.


"Sehun, bisakah kau tinggalkan aku sendiri disini? Ada yang harus kusampaikan kepada eomma." Mohon Jina menatap wajah pria dengan lekat.


"Tapi aku tak bisa meninggalkanmu seperti ini." Tidak. Ia tak bisa meninggalkan Jina dalam keterpurukan seperti ini. Bisa-bisa gadis itu melakukan hal yang tidak-tidak.


"Kumohon." Ujarnya lagi. Sehun menghela nafasnya.


"Baiklah, tapi aku akan tetap menemanimu dan aku akan menunggumu dimobilku." Ujar Sehun dan sepertinya Jina pun menyetujui usul tersebut. Tanpa berlama-lama Sehun meninggalkan Jina dengan berat hati. Baiklah. Sepertinya ia akan memperhatikan gadis itu dari mobil saja.


Lama Jina terdiam dan akhirnya ia pun menangis dengan keras. Ia tak ingin pria itu dan orang lain melihat kelemahannya seperti ini karena ini sungguh memalukan baginya.


"Kenapa eomma pergi begitu saja dan meninggalkanku seperti ini?" Tanya Jina didepan gundukkan itu dengan isakan tangis yang belum reda.


"Sebenarnya siapa yang membuat eomma seperti ini? Dan membuatku kehilanganmu dengan cara sekejam ini?" Raung Jina lagi karena merasa sahutan dan setiap pertanyaan yang ia lontarkan tak bisa dijawab oleh eommanya itu, lama ia seperti itu hingga ia berusaha menahan isakannya.


"Eomma, haruskan aku tetap bertahan?" Kini nada suara Jina lebih rendah dan isak tangisnya mulai mereda. Jina menghela nafasnya lagi sebelum melanjutkan ceritanya.


"Eomma tau? Ada orang yang ingin merawatku. Jika saja mereka tak mengangkatku sebagai anaknya mungkin aku sudah berada dipanti asuhan atau hidup dijalan sejak eomma meninggalkanku." Jina menghela nafasnya. Yah. Ia harus lebih tegar lagi. Eommanya pasti kecewa jika ia terus terpuruk seperti ini. Jina berusaha untuk melupakan kekesalan hatinya saat ini.


"Aku sangat bersyukur pada keluarga Cho yang sungguh berbaik hati kepadaku." Kini Jina mulai tersenyum tipis.


"Maaf eomma, aku menumpuhkan kekesalanku disini dan maafkan aku yang menjadi lemah seperti ini." Ujar Jina lagi. Ia yakin jika eommanya masih hidup pasti eommanya tak suka ia terlarut dalam kesedihan dan perasaan dendam yang terlalu lama terhadap seseorang.


"Mianhae, eomma." Ujar Jina lagi sambil memeluk makan tersebut dengan tangannya lalu menyenderkan kepalanya disana.


"Eomma, aku senang akhirnya aku mempunyai seorang kakak terlebih dia adalah kakak laki-laki, aku tau dia membenciku tapi aku yakin jika dia tetap menyayangiku sebagai adiknya. Aku akan terus mencoba memaafkannya. Eomma pasti bangga padakukan?" Tanya Jina yang kini tersenyum. Ia mengapus jejak air mata diwajahnya.


Kulit tangannya seperti terkena tetesan air hujan. Ia melihat keatas. Sepertinya langit juga sedang berduka sama seperti dirinya saat ini.


Ia ingin berlama-lama seperti ini sampai sebuah payung menghentikan rintikan hujan tersebut.


Jina mencoba menatap seseorang yang tengah berbaik hati kepadanya sampai mata memerahnya membulat sempurna saat melihat sosok tersebut.


"O-oppa." Ujar Jina tak percaya. Bagaimana pria itu tau jika sekarang ia ada disini? Bagaimana mungkin? Ia yakin jika Kyuhyun tak akan tau tempat ini. Kenapa pria itu selalu menemukannya?


"Bodoh. Apa kau berharap perlahan mati dengan menggunakan hujan lebat ini?" Tanya pria itu dengan wajah yang sedih? Benarkah?


"Oppa, bagaimana kau tau aku disini?" Ujar Jina tak percaya jika pria yang berdiri dihadapannya saat ini adalah kakaknya.


"Kau tak bisa pergi sebelum kau membayar hutangmu kepadaku." Ujar Kyuhyun lagi dan sepertinya ia tak berminat dengan keheranan Jina.


Tunggu. Jika Kyuhyun disini. Bagaimana dengan Sehun? Apa mereka bertemu? Bukankah Sehun sedang menunggunya dimobil?


"Maaf oppa, tak seharusnya aku membuatmu datang ketempat seperti ini." Ujar Jina lemah.


"Aku akan pulang dengan Sehun." Jina pun beranjak sampai pria itu menggenggam tangannya.


"Pria itu sudah kuusir." Ujar Kyuhyun tajam.


"A-apa?" Ujar Jina tak percaya. Bagaimana cara Kyuhyun mengusirnya?


"Well, dia langsung pergi begitu saja saat appanya menyuruh dia pulang." Smirk Kyuhyun saat melihat Jina terkejut dan setelah itu mereka pun beranjak dari sana, sepertinya Jina sudah lelah untuk melawan.


••⏳⏳••


Lagi-lagi gadis itu membuatnya sefrustasi ini. Ia tak tau bagaimana jadinya jika saja ia tak melacak ponsel Sehun untuk menemukan keberadaan Jina. Jina membuatnya gila!


"Kau tau? Hatiku jauh lebih sakit darimu." Ujar Kyuhyun yang masih setia memandang jalanan saat menjalankan mobilnya ditengah malam jalan Seoul. Ini sudah terlalu larut dan sepertinya Jina terlalu lelah karena acara kaburnya itu dan jadilah gadis itu kini tertidur pulas dikursi mobil.


Kyuhyun menggeram saat mengingat memori waktu itu yang membuatnya terus merasakan siksaan hati seperti ini.


"Kenapa?" Ujar pria itu pada orang yang tak kasat mata.


"Kenapa kalian membuat semuanya menjadi rumit?" Tanya Kyuhyun lagi dan didetik berikutnya pria itu pun meneteskan air matanya.


••⏳⏳••


Sehun memukul kemudi mobilnya. Shit! Bagaimana bisa oppanya Jina tau tempat yang mereka tuju?


Ia sungguh terkejut dan kesal saat melihat kedatangan Kyuhyun. Wajah pria itu sungguh terlihat marah saat tau jika dirinya membawa Jina kabur ketempat ini.


Jika saja appanya tak menelpon karena hal penting. Ia tak mungkin meninggalkan Jina dengan pria itu yang selalu membuat Jina sedih tapi disisi lain ia juga bersyukur karena bisa meninggalkan Jina, setidaknya gadis itu tak akan kenapa-kenapa.


Meski ia tau jika Kyuhyun adalah pria yang arogant tapi setidaknya pria itu tetap akan menjaga Jina karena gadis itu adalah adiknya. Tapi benarkah? Saat melihat wajah panik Kyuhyun tadi membuatnya sedikit ragu jika Jina adalah benar-benar adik Kyuhyun. Ia harus tau hubungan Kyuhyun dengan Jina. Yah. Ia harus menelpon Hani untuk memastikannya.


TBC