
.
.
.
"Je-Jepang?" Jina menatap heran dengan pria yang kini terus menyeret lengannya.
"O-oppa." Panggilnya lagi. Kyuhyunpun menghentikan langkahnya lalu menatap gadis itu dengan gusar.
"Dengar, kita sebaiknya meninggalkan negara ini." Ujar Kyuhyun dengan pandangan tegasnya. Pria itu sedikit menahan nyeri diarea perutnya lagi. Tidak. Ia rasa ia memang harus ke dokter tapi ia juga harus segera meninggalkan negara ini.
"Tidak oppa!" Teriak Jina spontan dan melepaskan genggaman tangan Kyuhyun. Tenaganya terlalu lemah untuk meraih lengan gadis itu lagi. Dia hanya bisa memandang gadis itu dengan sorotan mata tak terima.
"Tidak, aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Seoul? Disinilah tempatku dilahirkan dan tempat dimana eomma dan appa diistirahatkan." Ujar Jina lemah lalu menutupi wajahnya. Ia rasa gadis itu ingin menangis.
"...."
"Tak sadarkah oppa? Selama ini kau selalu memaksakan kehendakmu tanpa peduli dengan tanggapanku?" Ujar Jina lirih. Ingin sekali ia meraih tubuh itu, ia tak peduli apa yang gadis itu pikirkan. Ia hanya mengiginkan mereka segera pergi dari negara ini. Hal itu tidak terlalu sulit bukan? Jina hanya perlu menurutinya dan tak perlu bertanya ataupun membantahnya.
"Jika kau khawatir dengan makam kedua orangtuamu jangan khawatir. Aku juga merasakan hal yang sama, apa kau lupa?" Kyuhyun tersenyum miring menanggapi ucapan Jina.
"...."
"Kita hanya meninggalkan negara ini cherry untuk dua tahun. Tidak. Mungkin satu tahun saja." Ujarnya lagi agar gadis itu mau mengerti.
"Tidak oppa, aku tidak mau!" Gadis itupun mulai melangkah mundur, menghindari lengan kokoh itu agar tak menyentuhnya lagi.
"Kau." Geram Kyuhyun.
"Berikan alasan kepadaku kenapa kita harus kesana?" Tanya Jina dengan berani saat menatap sorot mata Kyuhyun yang tengah marah.
"Aku tak perlu menjawab pertanyaanmu, kau hanya harus mengiyakan saja." Ujar pria itu datar. Baiklah. Kyuhyun memang orang seperti ini tapi bukankah harus ada alasan untuk semua yang ia perintahkan selama ini? Ini sungguh membuatnya kesal!
"Sudah cukup oppa! Aku tidak mau! Kumohon mengertilah. Sudah cukup aku menurutimu sampai dengan pernikahan konyol ini." Elak Jina. Sudah cukup pria itu memonopoli hidupnya. Jika saja Kyuhyun memberikan alasan yang jelas mungkin ia akan menuruti pria itu. Tapi tidak. Ia yakin Kyuhyun hanya berbuat semaunya seperti biasa dan pasti untuk menyiksanya lagi.
"Baiklah! Jika kau ingin tetap disini, mari kita lakukan!" Kyuhyunpun melempar koper yang ia bawa tadi begitu saja kelantai dan dengan cepat meninggalkan kamar yang membuatnya muak seperti ini.
"Kenapa? Kenapa sulit untuk memahamimu?" Lirih Jina sambil menatap tubuh tegap yang mulai menghilang dibalik pintu kamarnya.
••⏳⏳••
*Bilang saja dia sudah gila dan tamak. Karena ia sudah memanfaatkan kebencian dan rahasia agar gadis itu terus berada didekatnya.
Dulu ia pernah mencintainya, bahkan sangat tapi mirisnya dia tak pernah mau menatapnya. Jina hanya memandangnya sebelah mata.
Jina selalu saja menganggapnya sebagai kakak. Tidak. Ia benci itu. Ia tak mengerti dengan sikapnya yang selalu saja berusaha melawan dirinya. Memang ia selalu memonopi hidupnya tapi itu semua karena ada alasan tertentu.
Kebenciannya semakin mendalam kepadanya saat takdir membuatnya kehilangan kedua orangtuanya dan sialnya Jina berada disana. Hanya dia yang selamat. Sungguh konyol bukan? Akh. Bagaimana bisa?
Semenjak saat itu ia membecinya, melihat dia berada dijarak pandangnya seakan membuat dirinya begitu muak, tapi entah kenapa ada sesuatu didalam dirinya menolak untuk membencinya lagi.
Kemarahannya semakin bertambah jika Jina mencoba melawan dan bahkan ia harus merenggut kesuciannya karena dengan begitu ia merasa bisa menjinakkannya. Memang keterlaluan tapi ia merasa putus asa karena hanya itu yang ada dipikirannya agar Jina selalu berada digenggamannya agar lebih mudah membencinya dari dekat.
Tapi kebenciannya seakan luntur karena ia merasa ini salah. Tidak seharusnya ia melakukan hal ini. Jina tak salah. Ia terlalu dibutakan oleh kebencian dan harapan agar dia mau menatapnya. Menatapnya sebagai seorang pria bukan hanya kakak laki-laki.
Ia berusaha mengingkari hatinya yang masih berharap kepada Jina dengan mencoba menjalin hubungan dengan gadis lain. Gadis yang baik. Teman terbaiknya. Yoora. Ia tau jika gadis itu menganggapnya lebih dari sekedar teman, maka itu ia mencoba untuk membuka hatinya secara perlahan tapi kenapa selalu tak bisa?
Meski ia sudah berusaha mencintainya tapi ia merasa ini adalah hal yang salah. Ia merasa telah mengkhianati hatinya lagi dan karena menerima kebaikan Yoora yang telah menyelamatkan nyawanya saat itu dengan mengorbankan sebagian hidupnya untuk dirinya yang brengsek ini.
Ia memang menyayangi Yoora, tapi hanya sekedar itu tidak lebih. Ia yakin jika Yoora menyadari akan perasaannya ini. Gadis itu terlalu peka. Mungkin hanya saja Yoora seakan menutup matanya dengan semua yang telah ia lihat selama ini bukan? Ia hanya berpikir seperti itu.
Ia merasa khawatir dengannya, bagaimana ia bisa memilih Yoora dan meninggalkan Jina? Jika hatinya terus berkata tidak. Ia tak bisa membiarkan Yoora pergi begitu saja karena ia tau Yoora hanya sendirian di negara ini. Ayah dan ibunya hanya mementingkan bisnis mereka tanpa peduli dengan anak semata wayangnya.
Ia hanya tak ingin Yoora kesepian tapi dengan semua kejadian ini ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Yoora dan segala hal yang menyakitkan disini. Kejam memang, tapi ia harus memutuskan hal ini lebih cepat.
Lalu Jina. Yah. Bukan hanya dia yang terluka tapi dirinya juga terluka. Tak taukah Jina akan perasaan dia yang sesungguhnya?
Ia memang selalu berkata kasar kepada Jina tapi tindakannya tidak lebih dari itu. Ok! Ia sedikit mengakui jika dirinya juga begitu jahat. Perkataan sungguh kasar. Tapi itu semua karena dirinya terbawa emosi saat Jina seakan mencoba melawannya dan tak mau mendengarkannya.
"Tuan muda?" Seketika lamunannya buyar saat pria paruh baya yang sedang mengenakan baju putih itu memandangnya dengan tatapan bingung, pria itu sedikit membenarkan kacamatanya dan tetap memandang lurus kearah pasiennya itu.
"Maaf dokter Xin, aku rasa aku tak bisa pergi ke Jerman untuk melakukan operasi ini lebih lanjut." Ujar Kyuhyun dan mulai beranjak dari duduknya.
"Tuan muda, sudah lebih dari setengah abad saya melayani keluarga anda. Saya tau bagaimana sifat asli anda. Anda dulu tidak seperti ini, anda selalu tersenyum dan bersemangat untuk melanjutkan hidup. Jadi, jika boleh saya tebak apa anda menolak pergi kesana karena nona?" Ujar Dokter Xin sambil menatap pemuda yang berwajah datar itu. Ia yakin jika tuan mudanya masih sama seperti dulu. Hanya saja kebenciannya terhadap gadis itu membuatnya menjadi sosok pemuda yang berbeda. Bukan. Ia yakin jika tuan Kyuhyun tak membenci Jina hanya saja ia terlalu mencintai gadis itu sehingga membuatnya terlihat kejam dimata gadis itu.
"Saya rasa tak bisa mengubah keputusan anda." Dokter Xin menghela nafasnya dan memijit keningnya seakan frustasi akan keputusan Kyuhyun.
"Apa anda tak ingin sembuh? Penyakit anda bisa disembuhkan, kami akan membantu anda semaksimal mungkin. Dokter Lee yang akan menanganimu secara langsung disana." Ujar Dokter Xin lagi. Akhirnya Kyuhyun menatap pria itu saat mendengar kata 'dokter Lee'.
"Anakku. Lee Donghae akan membantu menyembuhkanmu dengan mencari donor yang tepat agar anda bisa dioperasi lagi. Saya rasa ginjal nona Yoora tak cocok dengan anda. Ginjal itu tak bertahan lama maka itu kita perlu mencari donor lain yang cocok untuk anda. Dan saya pastikan Donghae akan menemukan pendonornya."
"...."
"Tuan?"
"Sudah cukup Dokter Xin! Aku bilang aku tak bisa kesana!" Ujar Kyuhyun masih dengan keras kepala. Ckck. Ia tak habis pikir. Apa tuan mudanya itu ingin cepat mati?
"Apa kau ingin mati menggenaskan seperti ini tanpa usaha dulu tuan muda?" Nada suara dokter Xin terlihat kesal. Baiklah. Ia sudah menjadi orangtua yang cerewet sekarang ini. Kyuhyun tak bisa membalas ucapan itu. Benar. Apa ia lebih memilih mati disini atau berusaha menyembuhkan penyakitnya?
"Aku tak bisa meninggalkannya dan ia tak mau ikut denganku." Lirih Kyuhyun dengan menggeggam celana panjangnya dengan erat.
"Tuan muda." Doker Xin sangat tau siapa yang Kyuhyun maksud. Jadi, apa Kyuhyun merelakan kehidupannya agar bisa bersama gadis itu? Gadis yang bahkan terus memikirkan jika Kyuhyun adalah orang yang jahat selama ini. Ia juga tak bisa menyalahkan Jina karena sikap Kyuhyun yang sulit dimengerti.
"Seharusnya anda memberitau semuanya tuan. Jika anda sudah tak membencinya dan tuan muda lah yang seharusnya meminta maaf kepada nona." Saran Dokter Xin memberi pengertian.
"Tidak. Jika dia tau aku sudah tak membencinya lagi, ia pasti akan selalu tersenyum kepadaku dan aku akan terus menerima kebaikan hatinya. Aku tak pantas menerimanya."
"...."
"Jika Jina tau eomma penyebab kematian orangtuanya aku yakin ia tak mau melihatku lagi bahkan pergi jauh dariku."
"Lalu sebenarnya apa yang tuan inginkan dari nona?"
"Aku ingin ia terus menganggapku sebagai pria kejam sampai akhir dan tak mengetahui kebenarannya dengan begitu ia akan selalu disisiku karena perasaan bersalahnya."
"....."
Baiklah. Ia tak bisa menanggapi perkataan tuan mudanya itu. Ia tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh Kyuhyun. Bukankah itu artinya tuan muda dan nona akan sama-sama terluka karena tak mengetahui keadaan yang sebenarnya?
"Bukankah aku egois?" Kyuhyun sedikit tertawa miris. Benar. Bagaimanapun dan hal apapun yang ia lakukan adalah sebuah keegoisan.
"Jika itu yang anda pikirkan saya tak bisa berkomentar banyak."
"...."
"Tapi saya harap anda menuruti perkataan saya sebelum semuanya terlambat." Peringatnya lagi.
"Baiklah, lagipula aku masih mempunyai hidup untuk beberapa tahun kedepan bukan?" Tanya pria itu seakan pertanyaan itu adalah sebuah lelucon.
"...."
"Kalau begitu aku permisi Direktur." Ujar Kyuhyun lalu pamit untuk keluar dari ruangan Direktur Rumah Sakit Hangang tersebut.
Tentu saja ucapan dokter Xin sebagai pemilik rumah sakit itu tak perlu diragukan lagi. Apalagi ia mempunyai rumah sakit yang jauh lebih besar di Jerman. Dokter Xin adalah kolega appanya. Ia bahkan menjadi dokter pribadi untuk keluar Cho. Loyalitasnya tak perlu diragukan lagi dan ia juga berteman akrab dengan anak sulungnya yaitu Lee Donghae.
"Aku tak bisa mengatakan penyakit ini. Aku tak ingin dia menganggapku lemah dan merasa kasihan kepadaku."
"Hah. Bodoh. Kurasa yang terjadi adalah ia akan bersyukur jika aku segera leyap dari dunia ini dengan begitu tidak akan ada yang mengganggu hidupnya lagi bukan?"
.
.
.
to be continue