It'S Hurt

It'S Hurt
Menyesal



...Andai saja waktu bisa diputar kembali po mungkin orang akan coba untuk perbaiki kejadian dimasa lalu...


PRITTTTTTTTT


Peluit berbunyi pertanda pertandingan sudah di mulai, para pemain basket kini sudah sibuk mendrible bola mengiringnya untuk membawa bola itu mendekati ring basket


Para teriakan siswa dari sekolah masing masing memenuhi tempat itu untuk member dukungan kepada tim sekolahnya masing masing


“Eh eh, itu bukannya Gevan?” Ucap salah seorang disana sambil menunjuk nunjuk kearah cowok yang ia maksudkan itu


“Oh iya, itu Gevan”


“Dia bukannya udah keluar dari basket ya?”


“Setau gue sih iya tapi kenapa dia ikut tanding ya”


“Loh loh,,,itu Daniel juga kan?” 


“Mana?”


“Ituii” Ucap cewek itu sambil menarik rambut lawan bicaranya itu disana


“Sakit tau”


“Semoga gak terjadi apa apa “


“Kalau sampe mereka berantam saat tanding sekolah kita pasti malu berat”


“lo benar”


Begitulah percakapan antar cewek cewek disana yang juga ikut terkejut melihat Daniel dan Gevan kembali masuk dalam tim basket


“Wen, itu Gevan kan” Wendi yang mendengar itupun memicingkan matanya mencoba melihat lebih jelas


“Gevan masuk basket lagi?”


“Gue juga gak tau re, Gevan gak pernah cerita ke gue tentang ini”


“Apa mereka bakal berantam lagi?”


“Semoga aja enggak re” 


Kini pertandingan sudah masuk di babak terakhir yaitu sebagai penentu siapa yang akan menang dalam pertandingan kali ini. Semua pemain yang sudah berkeringat itu tetap berjuang untuk memenangkan pertandingan itu


Bola sekarang berada ditangan Gevan dan membawa bola itu berlari secepat mungkin menghindari lawan yang mengikutinya itu


“Van, lempar kesini van” 


Gevan menoleh kesumber suara dan melihat Andre disana yang sudah siap siaga untuk menangkap bola yang akan dilemparkan itu


Tanpa pikir panjang lagi, Gevan langsung melempar bola itu kepada Andre yang dengan sigap ditangkap cowok itu dan membawanya kearah ring basket


Orang orang yang melihat itu terkejut terheran heran disana bahkan ada yang sampai membuka mulutnya akibat terkejut melihat kejadian yang baru pertama kali mereka lihat yaitu Gevan mengoper bola kepada Andre yang mereka tahu adalah musuh bubuyutan dari cowok itu


“Wen, gu gue gak salah liat kan?”


“Lo gak salah liat re” 


“Apa ini pertanda dunia akan kiamat?” Wendi yang mendengar itu langsung menampar pipi sahabatnya itu dengan sedikit tenaga


“Aw”


“Ngomong sembarangan lo”


PRITTTTTTTT……


Pertandingan akhirnya selesai dan pemenangnya adalah tim basket yang diketuai oleh Jeno. Mereka kemudian berdiri ditengah lapangan dan mengambil piala dan medalinya masing masing


Sorakan meriah dari para penontonpun memenuhi tempat itu ikut merasa bangga dengan kemenangan yang diperoleh oleh tim basket sekolah mereka


Semua tim basket senang karna kemenangan mereka termasuk Jeno yang merupakan ketua tim basket merasa senang dan bangga dengan tim nya


Gevan mengambil barang barang yang ada di lokernya dan memasukkannya kedalam tas. Keringat masih tampak bercucuran disana dan nafasnya masih terlihat tidak beraturan disana


“Woi”


Gevan menoleh dan melihat Andre sudah berdiri didepan pintu dengan pakaian basket yang masih ia kenakan itu


Andre kemudian melempar sebotol minuman dingin disana yang dengan cepat ditangkap Gevan disana


“Lo senang bisa main basket lagi kan?” Ucap Andre sambil berjalan dan ikut duduk disamping cowok itu


“Lo harus berterimakasih sama gue karna berkat gue lo bisa diterima lagi di tim basket” Gevan membuka botol minuman itu lalu meneguknya 


“Lo mau mati?” Andre yang mendengar itu tertawa sinis merasa tak terima dengan ucapan cowok yang baru saja ia dengar itu


“Begitu cara lo berterimakasih?” Gevan menatap Andre sekilas sebelum kemudian bangkit berdiri dan kembali ke lokernya untuk mengambil barang barangnya


“Gue minta maaf” Gevan tak mengubrisnya dan masih sibuk dengan isi yang ada didalam lokernya


“Gue tau gue udah terlambat tapi gue benar benar menyesal” Andre menarik nafasnya dan kemudian bangkit berdiri


“Gue tau kalau saat itu nyokap lo bakal bunuh diri tapi gue memilih diam waktu itu. Gue penyebab nyokap lo bunuh diri, gue masuk ke ruang nyokap lo dan bilang kalau gue bakal ngasih tau lo tentang perselingkuhan antara nyokap lo dan bokap gue” 


“Semenjak itu gue benci sama lo, setiap kali gue liat lo wajah bokap lo selalu muncul dipikiran gue itu kenapa gue pengen ngebunuh lo. Gue pengen buat hidup lo menderita seperti apa yang bokap lo buat ke nyokap gue”


Gevan masih diam di tempat mendengarkan perkataan Andre disana


“Tapi akhirnya gue sadar dan menyesali perbuatan gue dan rasa bersalah itu selalu datang setiap kali gue liat lo, gue gak tau harus ngelakuin apa untuk membalas semua perbuatan gue ini”


“Saat terakhir kali gue sengaja nyuruh lo buat ketemu waktu itu karna gue fikir itu saat yang tepat buat gue terima hukuman dari lo. Gue bisa liat dari tatapan lo ke gue seberapa sakit yang lo rasain selama ini. Gue minta maaf”


Gevan menutup pintu lokernya kuat dan berbalik badan menatap Andre yang juga menatap kearahnya


“Lo lapar?” Andre yang mendengarnya terkejut heran tak mengerti maksud cowok itu


“Lo makan dulu sana, gue benar benar pengen menghajar lo sekarang jadi lo harus isi tenaga dulu” Andre masih diam disana karna tak mengerti dengan perkataan Gevan disana


Gevan kemudian tersenyum tipis lalu mendekati Andre


“Kalau gue berada diposisi lo saat itu gue juga bakal ngelakuin hal yang sama atau bahkan lebih dari yang lo lakuin, jadi berhenti membahas itu lagi sebelum lo benar benar mati”


Ucap Gevan sambil mendorong lawan bicaranya disana sampai Andre sedikit mundur


“Jadi lo maafin gue?”


“Gue gak bakal pernah maafin lo”


“Jadi kenapa lo mau masuk tim basket lagi?”


“Lo mau kemana nanti malam?”


“Lo bukan teman gue” 


“Lo juga bukan teman gue setan!” Keduanya kini sama sama tertawa disana 


Tiba tiba suara tepuk tangan mengejutkan keduanya disana dan melihat bahwa itu adalah Rizal,Rendi dan juga Daniel yang baru saja muncul dari belakang pintu


“Wahhh, kalian udah jadi teman baik?” 


“Gue lebih suka liat lo berdua berantam” 


“Kalian ngapain datang kesini?”


“Kita nyariin lo berdua bangke” Ucap Rizal sambil menatap kesal keduanya


“Ngapain lo nyariin kita?”


“Nanti malam main yok” Ajak Rendi disana


“Kemana?”


“Rumahnya Daniel. Dia bilang dia punya adik perempuan jadi gue pengen kenalan” 


“Sialan lo!” 


“Lo berdua mau ikut?”


...********...


“Halo Tantee” Sapa para remaja itu ramah kepada seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu disana


“Halo, ini teman temannya Daniel?”


“Iya tan”


“Nak Rendi akhirnya kamu datang lagi kesini” Rendi tersenyum lalu bersalaman dengan wanita itu


“Kamu ada masalah apa sama Daniel makanya gak pernah kesini lagi”


“Biasalah tan, masalah anak muda” Wanita itupun tersenyum lalu meyuruh para remaja itu untuk masuk kedalam rumah


“Kamar Daniel ada diatas kalian langsung naik aja, Gevan udah tau kok tempatnya dimana” 


“Makasih tan” Mereka kemudian menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar yang diketahui adalah milik Daniel


“Wahhh,,, kamar lo bagus juga” Daniel yang tadinya sibuk dengan ponsel kini langsung bangkit berdiri ketika melihat teman temannya sudah datang


“Bokap lo orang kaya ya?”


“Biasa aja” 


“Jangan terlalu merendah, liat rumah lo sebesar ini semua orang tau kalau lo anak orang kaya”


Entah kenapa kehadiran mereka disana membuat Daniel bahagia terlebih lagi ketika melihat Rendi datang kembali kerumahnya.


Semenjak kejadian antara Gevan dan Andre terjadi kesalah pahaman yang membuat Rendi akhirnya lebih memihak pada Andre membuat persahabatan antara ketiganya rusak


Namun sekarang mereka akhirnya kembali bahkan bukan hanya mereka bertiga bahkan Andre dan Gevan sekarang sudah berdamai dan menerima keadaannya masing masing…..


...*********...


“Minggu depan kita akan ujian akhir semester itu artinya kalian akan segera lulus dari sekolah ini dan akan melanjut ke jenjang yang lebih tinggi, jadi saya berharap kalian harus mempersiapkannya mulai sekarang. Mengerti!”


“Baik Pak” Ucap para siswa itu disana secara serentak


“Itu saja yang ingin saya sampaikan. Tetap jaga kesehatan” Pria paruh baya itu kemudian pergi meninggalkan kelas itu


Semua siswa kelas XII tengah sibuk mempersiapkan diri untuk ujian terakhir mereka sebagian lagi sibuk untuk mendaftarkan diri ke berbagai perguruan tinggi yang ingin mereka tuju


Begitu juga dengan Gevan, cowok itu kini berada di ruang lap komputer yang sepertinya tengah sibuk mencari beberapa informasi seputar beasiswa yang ingin cowok itu ambil


Cowok itu tersenyum ketika melihat tawaran beasiswa bagi siswa SMA yang akan melanjut ke perguruan tinggi. Namun beberapa detik kemudian senyum itu sirna dan tiba tiba ia teringat kepada Wendi, cewek yang dirinya cintai itu


Gevan kembali menatap layar komputer yang disana tertera “Beasiswa Pelajar Internasional Kanada” , tiba tiba rasa keraguan itu muncul disana karna memang sebenarnya ini merupakan keputusan yang sangat berat untuk memutuskan antara pergi atau tidak


Wendi berlari menaiki anak tangga, kini dirinya tengah menuju rooftop untuk mencari Gevan yang beberapa hari ini tidak pernah mendatanginya lagi


Setelah tiba disana, Wendi mengatur nafasnya dan merasa lega ketika melihat Gevan berada disana dan sudah menatap kearahnya


Wendi kemudian berjalan mendekati cowok itu namun masih dengan wajah yang terlihat kelelahan ditambah dengan keringat yang masih terlihat dipelipis cewek itu


“Ngapain lo disini?”


“Buat jumpain lo lah” Cowok itu menaikkan satu alisnya terkejut, tidak pernah sejarahnya cewek itu datang mencarinya karna yang biasanya melakukan itu adalah dirinya sendiri


“Lo kemana aja selama ini, lo gak pernah lagi datang ke kelas gue”


“Lo kangen?” Wendi langsung gegabah disana tak tau harus menjawab apa


“Gu, gue,,”


“Gue sibuk” Gevan berjalan mendekati cewek itu lalu tersenyum melihat keringat yang begitu banyak disana


Gevan mengambil gelang yang berwarna hitam dari tangannya dan mulai mengumpulkan rambut cewek itu untuk mengikatnya menjadi satu sementara Wendi hanya diam disana


“Ma,makasih” Gevan menatap cewek itu lembut, ada rasa sakit yang dirinya rasakan mengingat bahwa dirinya akan pergi jauh meninggalkannya


“Lo udah buat keputusan bakal kuliah dimana?”


“Hm, gue mau kuliah disini” Gevan terkejut mendengarnya


“Disini?”


“Hm. Kalau lo?” Gevan diam beberapa saat karna bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan itu


“Lo bakal kuliah disini juga kan?” 


“Mungkin” 


“Mungkin? Apa lo bakal pergi?” 


“Gue belum buat keputusan”  Wendi menatap cowok itu dalam, rasa takut kini timbul. Takut jika cowok itu akan pergi meninggalkannya


“Jangan pergi van”