
...Jangan selalu menyalahkan orang lain atas apa yang sedang terjadi, tapi ada baiknya perlu melihat diri sendiri terlebih dahulu...
...W...
Gevan memarkirkan motornya diparkiran, ia kini tengah berada di rumah sakit. Kemudian ia berjalan menuju lift yang ada disana.
Pintu lift kemudian terbuka, cowok itu berjalan mencari dimana ruangan tempat Andre dirawat hingga pada akhirnya ia menemukan cowok itu
Gevan berjalan mendekati pintu dan melihat bahwa cowok itu masih terbaring disana, ia hanya melihat dari luar pintu tidak berniat masuk kedalam. Gevan yang melihat itu sedikit merasa bersalah atas perbuatannya itulah sebabnya dirinya datang melihat keadaan cowok itu
"Gevan" cowok itu menoleh ke sumber suara dan terkejut melihat Wendi yang berada disana
"Lo, ngapain disini?" Tanya Wendi yang sebenarnya dirinya pun terkujut melihat keberadaan Gevan disana, namun Gevan tak menjawab ia langsung pergi dari sana namun Wendi menahannya
"Lo mau kemana?"
"Wendi, kamu ngomong dengan siapa?" Itu adalah Mia yang berjalan kearah mereka. Karena mengetahui bahwa itu ibunya Andre, Gevan dengan cepat melepas cekalan cewek itu lalu segera pergi dari sana
"Itu, temannya Wendi tan" jawab Wendi sambil matanya sibuk memperhatikan langkah kemana cowok itu pergi
"Wendi pamit dulu ya tan" Wendi tersenyum kearah Mia lalu kemudian pergi mengejar cowok itu semwntara itu Mia hanya diam melihat kepergian Wendi
Wendi berlari ketempat parkiran dimana Gevan berada. Cewek itu menatap Gevan kesal lalu kemudian berdiri tegak menatap cowok didepannya itu
"Lo datang karna merasa bersalah kan?"
"Gak"Tebakan cewek itu sebenarnya benar namun Gevan tetap mengelaknya. Mendengar jawabab itu Wendi memicingkan matanya menatap cowok itu
"Gue datang cuman mau mastiin dia udah mati atau belum" mendengar itu Wendi memukul lengan cowok didepannya itu membuat Gevan sendiri terkejut
"Lo gengsian banget. Bilang aja lo nyesal kan?" Tak ada jawaban lagi dari cowok itu karna tak mau berdebat panjang dengannya. Kemudian Gevan mengambil helmnya namun tiba tiba ia menatap kearah cewek itu
"Lo, sibuk?"
"Hm??"
"Lo sibuk?" Ucap cowok itu mengulangi perkataannya. Bukannya menjawab cewek itu hanya diam menatap terkwjut kearah lawan bicaranya karna tak biasanya cowok itu bertanya demikian
"Ikut gue" lalu Gevan naik keatas motornya dan mengeluarkan motornya dari sana. Gevan kemudian melihat kebelakang dan memberi isyarat kepada cewek itu untuk segera naik keatas motornya
"Lo mau jual gue?" Tanya cewek itu sambil berjalan mendekatinya
"Lo mau bawa gue kemana hah?, lo pasti mau balas dendam sama gue" mendengar itu Gevan hanya menghela nafasnya kasar
"Lo ikut atau enggak?"
"Ikut" jawab cewek itu sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya disana membiat Gevan sebenarnya kesal melihatnya. Kemudian motor itu melaju dengan cepat pergi dari sana
" Gimana keadaan lo? " tanya Rendi kepada cowok itu. Sekarang sudah ada Rendi dan Rizal disana untuk melihat keadaan sahabatnya itu
"Gue udah mendingan. Gue besok udah bisa sekolah"
"Baguslah"
"Gimana dengan Gevan?" Tanya Andre yang penasaran tentang bagaimana sekolah memberinya hukuman atas masalah ini
"Dia, gak dikeluarkan" Andre yang mendengar itu terkejut, ia merasa tak terima ketika Gevan tidak dikeluarkan dari sekolah
"Apa?"
"Rencana lo gagal ndre" ucap Rizal mencoba menjelaskan yang sebenarnya
"Kok bisa?, gue yakin Papanya Gevan gak bakalan datang kesekolah"
"Lo benar, orang tuanya memang gak datang tapi Steven, kakaknya Gevan yang datang" Andre semakin terkejut mendengar itu, karna yang ia tahu Steven kuliah diluar negri
"Bukannya dia diluar negri?"
"Gue juga gak tau kenapa dia tiba tiba ada disini" ucap Rendi yang juga terkejut ketika melihat Steven datang kesekolah pagi ini
"Gue bahkan gak tau kalau dia punya kakak laki laki" ucap Rizal dengan polosnya, pasalnya ia memang tak tahu jika Gevan memiliki kakak laki laki
"Kenapa Steven bisa datang?" Andre berfikir keras disana, merasa ada kejanggalan tentang kedatangan Steven kesekolah
"Pasti ada yang ngasih tau Steven tentang masalah ini"
"Tapi siapa?"
"Gue juga gak tau"
...******...
Gevan bersama dengan Wendi akhirnya sampai ditempat tujuan setelah 30 menit diperjalanan. Wendi turun dari atas motor dan mengerutkan keningnya ketika melihat tempat itu. Tempat itu sepi hanya ada beberapa orang disana, banyak pohon pinus dan tumbuhan hijau lainnya disana dan satu lagi terdapat danau yang cukup luas dipenuhi tumbuhan teratai disana
Cewek itu melihat Gevan yang duduk dikursi kayu yang ada disana lalu kemudian berjalan mendekatinya
"Wahh... Tempat ini pasti dihuni banyak setan" ucap cewek itu lalu kemudian duduk disamping Gevan
"Ckckck, gue merinding berada disini. Pasti banyak hantu yang sedang menatap kearah sini"
"Ini tempat dimana gue sama nyokap gue ketemu sebelum dia masuk rumah sakit" memdengar itu, Wendi membulatkan matanya lebar teringat akan perkataannya tadi
"Oh. Ma, maaf" ucap cewek itu sambil memukul kepalanya pelan menyesal telah mengatakan hal yang tadi
"Nyokap gue sama seperti diri gue, yang lebih suka jauh dari keramaian" ucap Gevan sambil menatap lurus kedepan
"Andai Tuhan mau mengulang waktu, gue bakal nyelamatin nyokap gue" Wendi masih diam dan hanya mendengarkan disana
"Tapi nyatanya, Tuhan gak mau ngelakuin itu" Gevan kemudian menatap cewek disampingnya itu
"Gue berani cerita kayak gini karna lo udah terlanjur tau semuanya" Wendi masih tetap diam dan hanya menatap cowok itu. Melihat Wendi yang hanya diam, cowok itu kembali menatap cewek disampingnya
"Kenapa lo diam?"
"Lo dari tadi ngomong?" Cowok itu bingung mendengar pertanyaan itu
"Maksud lo?"
"Baru kali ini gue dengar lo lebih banyak ngomong dari pada gue" ucap Wendi sambil tersenyum lebar
"Wahh, gue senang liat lo semakin banyak ngomong tapi sejujurnya gue lebih suka liat lo yang dingin dan gak banyak ngomong" ucap cewek itu sambil tersenyum lebar
"Terserah lo" ucap Gevan yang malas berdebat dengan cewek itu
"Kenapa lo ngajak gue kesini?"
"Gue.." Cowok itu kemudian membasahi bibirnya yang kering
"Gee minta maaf" mendengar itu Wendi seketika langsung menatap cowok itu
"Dan makasih, berkat lo gue gak dikeluarkan dari sekolah" perlahan Cewek itu tersenyum simpul melihat sikap cowok itu yang berbeda jauh dengan biasanya sekarang. Tak lama kemudian cewek itu tertawa kecil disana membuat Gevan mengerutkan keningnya
"Lo, lucu" ucap Wendi sambil tertawa kecil disana
"Lucu?"
"Lo lucu kalau lo kayak gini. Ini bukan gaya lo, karna lo lebih cocok jadi orang jahat "
"Terserah lo" ucap Gevan yang kesal disana, yang tadinya ia serius mengucapkan itu namun kini ia menyesal mengatakannya sekarang. Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara keduanya, mereka kini menikmati pemandangan yang ada ditempat itu
...******...
Andre duduk diranjang tempat dirinya dirawat sambil menatap kearah Melvin ayahnya yang sibuk dengan benda pipih yang ada ditangannya itu
"Pa" panggil Andre namun tidak ada respon dari lawan bicaranya
"Maafin Andre Pa" tetap sama tidak ada jawaban dari mulut Melvin
"Bukan Andre yang salah Pa" mendengar perkataan itu, Melvin langsung menatap kearah putranya itu
"Bukan kamu yang salah?" Ulang Melvin mengulangi perkataan Andre. Kemudian Melvin mengambil beberapa foto dari saku celananya yang ia dapat dari Steven ketika disekolah tadi pagi dan menunjukkannya kepada Andre
"Maksud kamu ngelakuin ini apa? Mau buat Papa malu?" Ucap Melvin menahan emosinya disana
"Kamu masih berani bilang kalau kamu gak salah?, kamu bangga dengan kelakuan kamu kayak gini? Kamu merasa hebat? Kamu puas setalah kamu berhasil mempermalukan orang lain?" Andre diam membisu, tak berani menjawab perkataan ayahnya itu
"Kamu gak usah sok jadi orang yang paling benar. Harusnya kamu marah sama Mama kamu bukan sama Gevan, karna yang selingkuh itu Mama kamu"
"Papa belain Gevan?"
"Papa gak belain siapa pun"
"Tapi Papa selalu marah sama aku"
"Papa marah karna kamu anaknya Papa"
"Aku ngelakuin itu karna aku benci sama Gevan, dia yang buat mama menderita"
"Berhenti membela MAMA KAMU!" Melvin kini tak kuasa lagi menahan emosinya disana
"Bagaimanapun masalah ini ada karna ulah Mama kamu" karna takut amarahnya semakin besar, Melvin segera pergi dari sana meninggalkan Andre
...*******...
Wendi melebarkan matanya terkejut ketika melihat Andre yang sudah bisa datang kesekolah, ia langsung berlari mendekati cowok itu
"Andre" Cowok yang empunya nama langsung tersenyum lebar melihat kelasih yang sangat ia rindukan itu datang menghampirinya
"Kamu udah sehat"
"Ehm, aku udah baik baik aja" ucap Andre sambil mengelus rambut cewek itu lembut
"Kamu kenapa gak bilang kalau kamu hari ini sekolah, akukan terkejut"
"Aku mau kasih kamu kejutan sayang"
"ANDREE" keduanya langsung menoleh kesumber suara dan terlihat Jinny sudah berlari mendekati kedua remaja itu
"Lo udah sembuh, kenapa lo datang kesekolah" ucap Jinny penuh kegirangan disana sementara itu Wendi sudah memasang wajah tak suka melihat kehadiran Jinny disana
"Gue udah sembuh. Kemana aja lo, gak pernah datang jenguk gue"
"Maaf ndre, gue sibuk" ucap Jinny sambil menunjukkan deretan giginya disana
"Alasan lo"
"Ayo gue antar ke kelas" sebelum Jinny membawa cowok itu, Wendi dengan sigap langsung memegang tangan cowok itu
"Biar gue yang antar" Jinny menatap cewek itu sinis lalu kemudian melepas tangannya yang tadinya memegang lengan cowok itu
"Ayo ndre" Wendi dengan cepat membawa pergi Andre dari sana, Jinny yang melihat itu tertawa kecil
"Lo cari masalah gue?, lo bakal tau akibatnya"
"Wen, kamu cemburu?"
"Aku gak suka tiap kali liat dia, kayaknya dia gak suka liat aku dekat sama kamu"
"Itu perasaan kamu aja sayang"
"Aku tetap gak suka" ucap cewek itu sambil melipat kedua tangannya
"Kamu gak usah mikir aneh aneh lagi, aku sama dia cuman teman aja kok. Aku cuman sayang sama kamu" cowok itu mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah kekasihnya itu lebih dekat
"I Love You" ucap Andre sambil tersenyum menunjukkan kedua lesung pipinya disana. Wendi yang tadinya merasa kesal kini tersenyum melihat Andre yang kini juga tersenyum kearahnya
"Kamu masuk sana, jangan cemberut lagi"
"Iya iya" Wendi kemudian masuk kedalam kelasnya ketika kekasihnya itu menyuruhnya masuk kedalam.
Andre kemudian berjalan menuju ke kelasnya namun tiba tiba seseorang menahan tangannya dari belakang. Cowok itu berbalik badan dan melihat Jinny sudah ada dibelakangnya
"Lo"
"Gue mau ngasih tau sesuatu sama lo"
"Ngasih tau apa?" Jinny kemudian berjalan mendekati cowok itu
"Lo tau kenapa Gevan gak dikeluarkan dari sekolah?" Cowok itu mengerutkan keningnya bingung, mengapa cewek itu tiba tiba membahas tentang masalah Gevan pikirnya
"Lo gak penasaran kenapa Steven kakaknya Gevan bisa datang kesekolah?"
"Lo, tau tentang itu?"
"Lo pasti terkejut kenapa Steven kakaknya Gevan bisa datang kesekolah"
"Lo tau apa?, siapa yang ngasih tau dia?, siapa yang nyuruh dia datang?, siapa yang merusak rencana gue" tanya Andre bertubi tubi karna penasaran tentang siapa dalang dibalik semua ini
"Kalau lo tau siapa dalangnya, lo mau ngelakuin apa?" Cowok itu menatap lurus kedepan menatap Jinny yang berdiri didepannya
"Gue bakal kasih pelajaran, siapapun orangnya" ucap Andre dengan menekan nada bicaranya
"Lo yakin?"
"Kasih tau gue, siapa yang nyuruh Steven datang?" Jinny tersenyum sinis disana. Ia penasaran tentang bagaimana reaksi cowok itu ketika mengetahui siapa orang yang merusak rencananya
"Wendi"