It'S Hurt

It'S Hurt
Dendam



...Terkadang seseorang terpaksa berubah menjadi jahat oleh karna keadaan...


"Oke, hari ini pelajaran kita sampai disini. Selamat siang"


"Siang Pak" Ucap mereka serentak disana


"Wendi, tolong selesaikan ringkasan pelajaran yang saya suruh" Ucap Pak Amin yang merupakan wali kelasnya


"Baik Pak"


"Nanti kamu letakkan diatas meja saya"


"Baik Pak" Ucap Wendi dengan sopan


"Kasihan banget lo, lembur lagi" Rena kini tertawa sambil mengejeknya disana


"Bantuin giue dong re"


"Ogah! Gue ada banyak kerjaan" Wendi hanya mengerucutkan bibirnya disana


"Gue duluan ya sayang akuuu. Love youuuu" Rena kemudian pergi meninggalkan Wendi yang hanya bisa pasrah disana


Kenapa tidak, akhir akhir ini dirinya harus pulang lama dari sekolah untuk mengerjakan tugas yang diberikan eh wali kelasnya itu


Rendi berada dilapangan basket sambil memasukkan bola bola basket itu kedalam keranjang tempat bola basket disimpan


"Ren. Rendi" Rendi beralih pandangan kesumber suara yang berteriak memanggilnya


"Gue boleh minta tolong?" Dia adalah Jhonny, ketua OSIS disekolah itu


"Kenapa?"


"Tolong antar ini ke kelas XII IPA 1, gue lagi buru buru soalnya"


Rendi kemudian mengambil map itu dari tangan Jhonny


"Hem. Gue bakal antar"


"Makasih bro. Kalau gitu gue cabut dulu" Jhonny lalu pergi dari sana


Rendi mulai berjalan melewati ruangan kas yang memang sudah sepi karna semua siswa sudah pulang satu jam yang lalu


Rendi membuk pintu kelas itu dan melihat Gevan masih ada disana tengah duduk diatas meja sambil menghisap rokoknya


Tak ada percakapan antara kedua, Rendi hanya berjalan lurus dan meletakkn map itu diatas meja guru yang ada disana


"Lo mau kemana?" Rendi berhenti dan berbalik badan ketika mendengar itu


"Urusan kita belum selesai bukan?"


"Urusan apa?" Gevan menghisap rokok yang ada ditangannya sebelum kemudian ia membuangnya kelantai


"Kemarin lo mau ngomong apa?" Rendi diam, ia tak menyangka jika cowok itu masih membahas masalah semalam


"Lo gak perlu bahas itu lagi, anggap kalau gue gak pernah ngajak lo bicara"


"Lo mau ngomong apa?" Ucap Gevan sekali lagi namun dengan nada bicara yang lebih tegas


Rend kemudian berjalan mendekat kearah dimana Gevan berdiri


"Itu gak penting van, jadi lo gak perlu ulas yang udah berlalu"


"Bagi gue itu penting"


"Kalau gitu biar lo yang cari tau sendiri"


Gevan langsung menarik kerah baju cowok itu kuat disana sambil menatapnya tajam seolah ia ingin menerkam Rendi disana


"Jangan pancing gue emosi bangsat" Rendi mencoba melepas cekalan itu namun tak bisa


"Lo gak perlu menutupi kebusukan Andre dari gue"


"Gue bakal cerita tapi tolong lepas" Gevan kemudian mlepas cekalannya dari kerah baju cowok itu


"Andre, dia alasan kenapa nyokap lo bunuh diri"


"Dia datang dan ada disana ketika nyokap lo bunuh diri" Gevan masih merasa kebingungan disana


"Andre datang ke ruangan nyokap lo sebelum nyokap lo bunuh diri" Gevan yang mendengar itu terkejut, pasalnya selama ini ia tak tau jika Andre datang menjenguk ibunya yang saat itu dirawat dirumah sakit


"Waktu itu......"


^^^Flashback.......^^^


Andre hari itu pergi berkunjung kerumh sakit untuk bertemu dengan Winda orang tua Gevan yang dirawat dirumah sakit karena depresi yng dialaminya


Andre memang sengaja datng kesana untuk melihat keadaan wanita yang dengan sengaja menabrak ibunya itu hingga kini Mia ibunya Andre sedang koma dan dirawat dirumah sakit


Andre berjalan menelusuri tiap kamar hingga kini ia sampai diruangan yang diketahui milik Winda


Andre masuk dan melihat Winda tengah berbaring dengan salah satu tangannya diborgol


Winda sebelumnya memang masuk penjara akibat dirinya yang dengan sengaja menabrak Mia akibat perselingkuhan yang terjadi antara Mia ibu Andre dan suaminya yang bernama Wilson


"Halo Tante" Sapa Andre dengan senyum manis diwajahnya


"Ngapain kamu kesini!"


"Tante tenang dulu. Aku datang kesini cuma mau melihat keadaan Tante aja" Winda diam dan membuang wajahnya tak ingin menatap cowok itu


"Gimana keadaan Tante? Udah mendingan?" Tetap tak ada jawaban


"Tante kayaknya udah mulai pulih"


"Tante tau keadaan orang yang Tante tabrak itu sekarang gimana?" Winda masih ta menjawab disana


"Dia masih koma" Andre menarik nafas mencoba menahan segala emosi yang ada dalam benaknya


"Dunia ini memang gak adil" Andre menundukkan kepalanya sambil tertawa kecil disana


"Rasanya hukuman tante sekarang ini gak cukup untuk menebus kesalahan Tante"


"Itu pantas buat perempuan gatal seperti ibu kamu" Setelah sekin lama diam kini Winda mulai angkat bicara


"Kenapa cuman ibu saya? Suami Tante juga salah bukan? Kenapa Tante gak menghukum suami Tante dulu?"


"Pergi kamu dari sini"


"Tante tau sejauh mana hubungan mereka?"


"Pergi kamu!"


"Tante gak tau kan?" Andre kemudian sedikit mendekat keranjang wanita itu


"Tante mau tau? Aku bisa kasih tau kalau Tante mau" Winda perlahan menoleh kesamping menatap Andre yang juga menatapnya


"Mia, ibu saya sampai hamil akibat kelakuan suami Tante" Betapa terkejutnya Winda yang mendengar fakta itu


Selama ini, ia tak pernah mengetahui hal itu. Dirinya tak menyangka jik hubungan keduanya sampai sejuh itu


"Belum sampai disitu. Suami Tante bahkan menyuruh ibu saya untuk menggugurkan kandungannya"


"Ibu saya sampai meminum semua obat untuk menggugurkan kandungannya sampai masuk rumah sakit" Mata Andre berkaca kaca mengingat kejadian itu


"Suami Tante gak terima ketika tahu kalau ibu saya hamil karna perbuatannya. Dia bahkan pergi meninggalkan ibu saya"


"DIAM KAMU!"


"Aku penasaran, gimana kalau Gevan tau tentang ini"


"JANGAN MACAM MACAM KAMU" Winda kini sudah emosi namun karna tangannya diborgol dirinya tak bisa melakukan apa apa


"Kasihan Gevan punya orang tua PEMBUNUH"


"Jangan ganggu anak saya. Jangan sentuh anak sayaaa!"


"Oh iya satu lagi. Ternyata selingkuhan suami Tante bukan satu tapi juga rekan kerjanya"


"PERGI KAMU BRENGSEK!"


"Sungguh sangat menjijikkan"


"PERGI KAMU" Winda kini menangis, sakit dan benar benar sakit yang ia rasakan sekarang


Andre merogoh sakunya dan mengambil beberapa foto disana


"Ini, hadiah dari saya buat Tante" Andre kemudian memberi foto sebelum pergi yang memperlihatkan suaminya tidur dengan perempuan lain disana


Tangan Winda gemetar melihat satu prsatu foto itu, bahkan disana ia melihat suaminya itu berselingkuh dengan lebih dari satu wanita


PLAKKKK


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Gevan hingga terlihat bekas merah dipipinya


"Kamu gak tau apa apa tentang ini"


"Kenapa? Aku tau Papa selingkuh, Gevan tau Papa tidur dengan perempaun lain"


"DIAM KAMU!"


"Papa bahkan gak peduli dengan keadaan Mama sekarang"


"Mama dipenjara karna Papa, Mama depresi karna Papa keluarga ini berantarakan KARNA PAPA!!"


"DASAR ANAK KURANGAJAR!" Wilson kembali manampar pipi Gevan kuat


"Papa mau bunuh aku? Ayo bunuh aku Pa, aku gak takut" Namun Wilson pergi begitu saja meninggalkan Gevan disana


Air mata cowok itu turun, dadanya sesak dan terasa sakit didalam. Semua kini berantakan, pikirannya kacau, andai ia bisa menghilang ingin rasanya ia menghilang sekarang juga


Semua ia pikirkan sendiri, cowok itu tak mau memberitahu kejadian ini kepada kakaknya Steven yang berada diluar negri. Gevan tak ingin kakaknya terganggu disana


Tiba tiba dering telfon berbunyi yang dengan cepat diangkat oleh cowok itu


^^^"Halo"^^^


^^^"Halo, apa ini Gevan"^^^


^^^"Iya. Ada apa?"^^^


^^^"Tolong datang^^^


^^^Sekarang"^^^


Mendengar itu, Gevan dengan cepat berlari menaiki motornya untuk pergi kerumah sakit. Gevan membawa motornya dengan kecepatan penuh tak peduli dengan teriakan orang orang yang ada dijalan saat itu yang ia pikirkan sekarang hanya sampai dirumah sakit dengan cepat


Andre hanya diam ketika melihat banyak perawat dan dokter berlarian ke atap untuk melihat Winda yang hendak ingin melompat dari sana


Winda kini sudah berad diujung, jika selangkah lagi ia melangkah maka nyawanya akan melayang


Air matanya terus berjatuhan sambil melihat kebawah. Winda kemudian menatap foto yang memperlihatkan dirinya dan Gevan disana


"Maafin Mama van" Winda kembali menangis sampai terisak isak disana mengingat putranya itu


"Maafin mama Van"


Gevan sampai dirumah sakit dan berlari dari parkiran menuju pintu masuk rumah sakit


Gevan berlari dan berlari disana. Pikirannya hanya kepada ibunya, orang yang sangat ia sayangi itu


Gevan berjalan cepat namun tiba tiba seseorang terjatuh dari atas tepat didepannya membuat banyak orang terkejut disana


Gevan menatapnya, jantungnya berdegup kencang dan air matanya jatuh secara bersamaan. Bibirnya kelu, berlahan ia melangkah mendekati kejadian itu


"Mama" Ucapnya pelan ketika melihat bahwa orang yang jatub tepat didepannya itu adalah Winda ibunya


"Mama" Gevan semakin mendekat lalu berjongkok mengangkat wanita itu kepngkuannya


"MAMA" Teriaknya kuat disana sambil menangis. Gevan hanya bisa menangis dan memeluk ibunya yang sudah tak bernyawa itu disana


"Mama. Mama...."


Andre itu dari kejauhan hanya diam. Benci dan sakit hati dalam dirinyalah membuatnya melakukan semua ini


"Maaf. Gue juga ada disana waktu itu tapi, gue cuman bisa diam"


BUUUKKK....


Dengan segenap tenga, Gevan memukul wajah Rendi sampai tergeletak dilantai


"Kalian memang bukan manusia. Kalian diam aja ketika tau kalau nyokap gue mau bunuh diri"


Rahang cowok itu mengeras, tangannya ia kepal dan matanya mengeluarkan air mata mengingat kejadian itu


...*******...


Andre berjalan dengan kekasihnya Yena menuju parkiran untuk pulang bersama.


"Bentar" Ucap Andre ketika sadar bahwa sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya


^^^Lucifer☠️☠️^^^


^^^Gue tunggu^^^


^^^Lo di belakang^^^


^^^Sekolah^^^


Andre diam beberapa saat merasa aneh dengan Gevan yang tiba tiba mengajaknya bertemu


"Kenapa ndre?" Tanya Yena disana yang bingung melihat kekasihnya yang tiba tiba diam


"Yen, kamu pulang sendiri dulu ya. Aku tiba tiba ada urusan"


"Urasan? "


"Maaf ya. Nanti malam aku pasti datang" Andre kemudian melihat sekeliling mencari taksi yang lewat


"Aku bisa tunggu disini ndre"


"Gak papa yen. Kamu pulang duluan aja" Andre kemudian berhasil memanggil satu taksi disana


"Kamu hati hati ya"


"Hem"


Setelah memastikan Yena pulang dengan aman, Andre kemudian pergi menemui laki laki yang tengah menunggunya itu disana


Andre sampai dan melihat lihat sekeliling. Tempat itu sedikit gelap dan kumuh, yaaa namanya juga dibelakang sekolah pasti keadaannya gelap dan sepi


Andre melihat disana sudah ada Gevan yang duduk membelakanginya diatas meja yang sudah rusak sambil merokok


Andre berjalan mendekati cowok itu dan terkejut ketika melihat sebuah pisau yang sedikit berkarat terletak tepat disamping Gevan


"Mau apa lagi lo?" Gevan yang mendengarnya pun langsung berbalik badan


"Lo tanya gue mau apa?" Gevan tersenyum miring lalu membuang puntuk rokok itu kesembarang arah


Gevan bangkit berdiri untuk bisa berhadapan langsung dengan lawan bicaranya


"Gue kangen ngajak lo ribut" Andre langsung melepas tas ransel yang ada di punggungnya


"Lo sanggup hidup tanpa merasa bersalah sedikit pun"


"Maksud lo?"


"Lo dalang dibalik kematian nyokap gue" Andre tertawa lepas mendengarnya


"Lo mau bahas itu lagi? Lo mau bahas orang mati terus?"


"Jaga omongan lo bangsat!" Ucap Gevan sambil menarik baju Andre namun dengan cepat dilepas cowok itu


"Kenapa? Lo masih belum terima kenyataan? Lo masih mau nyalahin gue?"


"Nyokap lo meninggal karna depresi bukan karna gue"


"Lo datang keruangan nyokap gue waktu dirumah sakit" Andre diam dan menatap Gevan yang menatapnya dengan tajam


"Ternyata Rendi berkhianat untuk kedua kalinya"


"Lo yang bunuh nyokap gue"


"Dia pantas MATI!"


"Lagian orang depresi itu pantasnya emang harus mati"


BUUUUKKKK....


"Lo yang pantas mati" Gevan terus memukuli wajah Andre disana tanpa ampun


Andre kemudian dengan sekuat tenaga menendang perut Gevan hingga terjatuh kebelakang


"Mati? Lo yang bakal mati hari ini"


Andre mengambil potongan kayu yang ada disana dan memukulnya tepat dikepala Gevan hingga membuatnya berdarah


Wendi menarik nafas lega ketika semua tugasnya sudah selesai. Cewek itu kemudian merapikan semua buku dan alat tulisnya


Ia melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 16.34 WIB itu artinya akan susah baginya untuk mendapat angkot pulang


"Gevan udah pulang gak ya?" Wendi mengambil ponselnya dan menelfon cowok itu namun tak ada jawaban


Wendi berjalan keluar dari kantor guru dan berjalan lurus untuk pulang. Sepi dan memang sepertinya tidak ada orang disana


Cewek itu membuka kelas berharap jika Gevan masih ada disana namun ternyata nihil


Ia terkejut ketika mendengar suara gesekan seperti meja yang bergeser didalam ruangan itu


Dengan kebernian yang ia miliki, Wendi mulai melangkah masuk melihat dari mana sumber suara itu


"Ahh"


"Rendi" Teriak cewek itu kuat dan berjongkok untuk melihat keadaan cowok itu


"Lo gak papa? Muka lo kenapa?"


"Cari Gevan"


"Hah? Gevan? Dia yang mukul lo?"


"Cari Gevan wen" Ucap cowok itu dengan suara menahan kesakitan


"Tolong cari Gevan"


"Kenapa Gevan" Wendi masih bingung dan takmengerti mengapa Rendi malah menyuruhnya mencari Gevan


"Gevan bakal ngebunuh Andre"


"Apa?"


"Cari Gevan wen. Please...." Wendi dengan gegabah pun bangkit berdiri llu segera berlari untuk mencari dua remaja itu


Sementara itu disana, keduanya masih melanjutkan pertengkaran walau keduanya sudah sama sama terluka


Andre mengambil pisau itu dan berhasil menyayat lengan lawannya itu disana, kemudian Gevan mengambil paksa pisau itu dari tangan Andre


Gevan berhasil mengambil pisau itu dan membuangnya asal lalu memukul Andre disana


Wendi berlari menaiki anak tangga menuju rooftop namun ternyata tetap nihil, tidak ada Gevan juga Andre disana


Cewek itu berkeringat akibat berlari kesana kemari mencari kedua remaja yang tak kunjung ia temuakan itu


Gevan memukul kuat Andre kearah tembok hingga membuat cowok itu tak berdaya. Gevan kemudian berjalan mengambil pisau yang tadi sempat ia lempar


Andre bangkit perlahan dan melihat samar samar kearah Gevan yang kini berjalan mendekatinya dengan membawa pisau ditangannya


"Gue akan balas perbuatan lo atas kematian nyokap gue"


Gevan dengan kepercayaan penuh mulai mengangkat pisau itu untuk menancapkannya ke wajah Andre


"GEVANNNN!!!!!"


Pisau itu tepat berhenti dihadapan Wendi yang sekarang sudah berdiri melindungi Andre yang ada di belakangnya


Wendi masih diam mematung disana melihat pisau yang masih ada tepat dihadapannya itu


"AAAKKHHHH"


Seorang siswi yang tiba tiba lewat dan melihat itu beeteriak histeris takut dengan kejadian itu


"Van. Tolong berhenti"