
...Ketika sudah merasa lelah maka ada kalanya kita harus memutuskan untuk pergi...
...W...
...Wendi bersama dengan kekasihnya Andre baru saja sampai disekolah. Wendi menatap Gevan yang juga baru sampai disekolah, ia menatap cowok itu disana sedangkan objek yang sedang ditatap tak menghiraukannya dan pergi begitu saja dari sana...
"Ayo" ajak Andre setelah selesai memarkirkan motornya. Keduanya berjalan bersamaan hingga kini mereka sudah sampai didepan kelas cewek itu
"Selamat belajar sayang" ucap Andre sambil mengelus rambut cewek itu lembut
"Kamu juga" Andre menganggukkan kepala dan kemudian pergi dari sana. Wendi menatap punggung cowok itu sampai benar benar tidak terlihat lagi. Wendi hendak berjalan masuk kekelas namun tiba tiba ia terkejut melihat Rendi datang kesekolah bersama Rena sahabatnya itu. Wendi membula mulutnya lebar melihat kedua remaja itu. Melihat mereka semakin mendekat, Wendi langsung bersembunyi didalam kelas agar Rena tak melihatnya
"Makasih ren, lo udah mau nganterin gue"
"Gak papa. Lain kali kalau lo butuh tumpangan hubungi gue aja" Rendi tersenyum hangat ketika melihat Rena menganggukkan kepalanya
"Gue pergi dulu. Bye"
"Bye" ucap Rena sambil melambaikan tangan. Melihat Rendi yang sudah jauh, ia kemudian berbalik badan namun...
"Ahhhhh" teriak Rena kuat ketika melihat Wendi sudah berdiri disana dengan melipat kedua tangannya disana
"Wendi. Lo ngagetin gue aja"ucap Rena sambil memukul pelan lengan cewek itu
"Lo ngapain disini?" Tanya Rena kepada sahabatnya yang kini menatapnya curiga
"Lo kenapa?"tanya Rena yang bingung dengan cewek didepannya itu
"Lo, pacaran sama Rendi?"
"Hah?, gue? Pacaran sama rendi?. Ya jelas enggaklah"Wendi tersenyum sambil memicingkan matanya disana
"Lo kenapa sih. Gue gak tertarik sama dia"
"Rendi itu cowok baik baik re, lo gak bakal nyesal pokoknya"
"Gila lo" ucap Rena yang mulai kesal lalu kemudian berjalan menuju tempat duduknya sedangkan Wendi hanya tertawa melihat sahabatnya itu
...******...
Gisel sekarang berada dikantor dewan guru bersama dengan wanita paruh baya yang diketahui wali kelasnya
"Ini" ucap wanita sambil sambil memberikan sebuah lembar kertas yang baru saja ia tandatangani
"Makasih bu"Gisel lalu mengambil kertas itu
"Kamu yakin mau pindah sekolah?"
"Saya yakin bu"
"Yaudah. Jaga diri kamu disana"
"Baik bu. Makasih bu" setelah itu, Gisel memutuskan untuk pergi keluar dari sana. Gisel berdiri didepan pintu sambil menatap lembar kertas itu, ia tidak tau apakah pilihannya ini benar atau tidak namun hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang. Sebuah dering panggilan masuk membuat Gisel tersadar lalu mengambil ponsel dari tasnya
"Halo pa"
^^^Papa❤^^^
^^^Udah selesai?^^^
"Udah pa.
Baru aja selesai"
^^^Papa❤^^^
^^^Yaudah. Papa^^^
^^^Datang jemput^^^
^^^Kamu sekarang.^^^
^^^Kita langsung berangkat^^^
"Iya pa" kemudian panggilan terputus. Gisel dengan cepat langsung berlari untuk menemui seseorang yang menjadi alasannya untuk pindah sekolah. Cewek itu berlari menuju rooftop sekolah dan benar saja, orang yang ia cari berada disana.
Gevan yang tadinya memejamkan matanya kini ia buka perlahan ketika menyadari bahwa seseorang datang disana. Gevan bangkit berdiri ketika ia melihat Gisel berdiri disana. Gisel memberanikan dirinya berjalan dan mendekat kearah cowok itu
"Gue mau ngomong sama lo" cowok itu menatap malas kearah cewek itu lalu kemudian pergi namun tangannya dicekal oleh cewek itu
"Please, gue pastiin ini yang terakhir" Gevan kemudian melepas cekalan cewek itu lalu berdiri menghadap cewek itu
"Lo, baik baik aja?" Tanya cewek itu perlahan namun tak ada jawaban dari cowok itu
"Lo pasti baik baik aja kan?, gue tau itu. Setelah kita putus pasti pikiran lo tenang dan gue liat lo merasa seperti tidak terjadi apa apa. Pasti lo bahagia sekarang"
"Lo gak perlu pergi van karna gue yang bakal pergi" ucap cewek itu dengan suaranya yang sudah gemetar
"Gue, gue bakal pindah sekolah" Gevan menatap cewek itu perlahan, sebenarnya ia terkejut mendengarnya namun sebisa mungkin ia bersikap biasa saja didepan cewek itu
"Gue bakal pergi van" kini air mata cewek itu mengalir membasahi pipinya
"Ini berat buat gue tapi gue harus ngelakuin ini van. Ini cara satu satunya biar gue bisa lupain lo"
"Lo gak perlu ngelakuin ini sel"
"Lo gak tau gimana perasaan gue selama ini van, gue selalu dihantui rasa menyesal setiap kali gue liat lo, gue selalu merasa sakit van, lo selalu muncul dipikiran gue dan gue gak bisa lupain lo selama lo masih ada didepan gue" cewek itu menarik nafasnya sambil menghapus air matanya
"Makasih van, karna lo pernah jadi bagian dalam hidup gue"
"Gue gak ada hak ngelarang lo karna ini pilihan lo. Gie cuman minta satu hal, cepat lupain gue biar lo gak merasa sakit lebih lama" ingin rasanya Gevan memeluk cewek itu sekarang juga namun entah kenapa berat rasanya untuk melakukan itu sementara Gisel menatap cowok itu dalam karena mungkin ini adalah hari terakhirnya melihat cowok itu
"Makasih van. Gue berharap Tuhan kasih gue kesempatan buat ketemu sama lo lagi" Gisel menghapus jejak airmatanya disana
"Gue. Gue pergi" Gisel dengan berat hati melangkahkan kakinya pergi dari sana meninggalkan cowok itu. Gisel berjalan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, ia tidak siap pergi jauh meninggalkan Gevan cowok yang sekarang ia cintai itu namun mau bagaimanapun cowok itu tidak akan pernah mau kembali dengannya karena ia tahu bahwa dirinya yang membuat cowok itu pergi menjauh
Gisel terus berjalan mendekati ayahnya yang sudah menunggunya didepan gerbang sekolah namun tiba tiba Wendi muncul dihadapannya
"Lo serius dengan pilihan lo?" Tanya Wendi seolah menyadarkan cewek itu tentang pilihannya itu
"Gue serius wen" ucap Gisel sambil menangis
Wendi yang melihat itu langsung memeluk Gisel mencoba memberi ketenangan kepada cewek itu
"Jaga diri lo disana sel"
"Makasih wen" kemudian keduanya melepas pelukannya
"Gue pergi wen" Gisel berbalik badan pergi meninggalkan Wendi disana sementara Wendi kini hanya bisa menatap kepergian Gisel yang kini sudah masuk kedalam mobil yang sudah hampir menjauh dari hadapannya
...******...
Gevan membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan pakaian sekolah yang belum ia ganti, pikirannya masih kepada Gisel cewek itu, ia tak menyangka jika cewek itu memilih untuk pindah sekolah
Gevan kemudian bangkit dari ranjangnya dan mencoba untuk pergi mencari tempat yang setidaknya bisa membuat pikirannya tenang. Tanpa mengganti pakaian sekolahnya, cowok itu langsung mengambil kunci motor dan segera pergi menuruni anak tangga
"Papa mau kemana?"
"Papa ada urusan sebentar" Gevan menghentikan langkah kakinya ketika melihat Steven beserta ayahnya Wilson sedang berada diruang tamu
"Urusan apa?, bukannya papa bilang hari ini gak ada pasien?"
"Papa kerumah sakit bukan hanya karna ada pasien, banyak yang harus papa kerjakan disana"
"Termasuk tidur dengan perumpuan?" Perkataan Steven langsung membuat ayahnya terdiam dan langsung menatap kearahnya
"Kenapa?, ada yang salah Pa?"
"Kamu gak perlu selidiki urusan papa, kamu urus diri kamu sendiri aja"
"Kenapa?, salah kalau aku tau kerjaan papa disana?"
"Kamu gak perlu tau tentang apa yang papa lakukan"
"Papa gak berubah. Mama meninggal karna papa, mama stres karna papa, Gevan berubah karna papa dan Steven pindah sekolah dari Australia karena papa, semua karna papa tapi kenapa papa gak pernah merasa bersalah?" Gevan terkejut ketika mendengar jika Steven saudaranya itu pindah kuliah karna ayahnya. Gevan pikir selama ini jika Steven pindah hanya karna keinginannya sendiri namun ternyata ia salah
"Papa selalu sibuk dengan perempuan diluar sana tanpa peduli tentang kehidupan anak papa sendiri. Papa hanya sibuk mencari kesenangan sendiri sampai lupa dengan tanggung jawab papa sebagai seorang ayah" mata Steven mulai memerah, tangannya ia kepal sekuat tenaga mencoba menahan emosinya
"Papa hanya seorang PENGECUT!!"
"ANAK KURANGAJAR!!" Wilson dengan segenap amarahnya memukul Steven kuat, Gevan yang melihatnyapun terkejut dan hanya bisa mematung disana
"Kamu sebagai anak harus menghormati papa. Kamu gak tau perjuangan papa buat kamu sama Gevan, yang kamu tau hanya keburukan dan kesalahan yang papa buat. Mulai sekarang jangan pernah ikut campuri urusan papa. NGERTI KAMU!" Wilson pergi segera dari sana sebelum emosinya tambah melunjak takut jika ia sampai menyakiti putranya itu
Sementara disebrang sana terlihat Andre duduk termenung dikamarnya sambil melihat foto dimana terdapat ayah, ibu dan dirinya disana tersenyum bahagia disana namun sekarang, Andre tidak mwrasakan keharmonisan lagi dalam keluarganya yang ada hanyalah keributan
"Pa, jangan kayak gini terus"
"DIAM KAMU!, kamu urus hidup kamu sendiri"
"Pa,dengerin mama"
"Aku gak pernah nganggap kamu sebagai istri, kamu hanya wanita ****** yang gak tau malu sekarang"
"Maafin mama pa" Andre yang mendengar pertengkaran itu diam, ia kemudian menjambak rambut dan mengusap wajahnya kasar. Ia lelah dan benar benar lelah dengan kehidupannya yang sekarang. Tidak ada kedamaian, tidak ada ketenangan yang ada hanya keributan memenuhi kehidupannya setiap hari.
Ya, ia benar benar lelah dengan itu semua