It'S Hurt

It'S Hurt
Confused



...Cinta........


...Adalah hal yang sebenarnya indah namun bisa saja menjadi sesuatu hal yang paling menyakitkan...


...W...


Andre bergegas turun dari motornya sambil matanya sibuk mencari cari objek yang tengah dia cari itu. Andre menatap sekeliling sampai akhirnya ia menemukan cewek yang ia cari lalu cepat mendapatinya


"Kenapa berangkat sendiri?"ucap Andre menahan emosinya


"Aku pengen sendiri aja"


"Kamu masih marah karna masalah semalam?" Cewek itu terdiam tak menjawab membiat amarah Andre semakin membara


"Aku udah jelasin.." perkataan cowok itu terhenti ketika melihat mata semua orang tertuju kepada mereka berdua. Andre kemudian menggenggam tangan cewek itu dan membawanya ketempat dimana tidak ada orang


"Apa lagi ndre"


"Kamu masih marah? Aku udah jelasin kenapa aku gak bisa datang wen, kamu bisa gak sih ngertiin keadaan aku? Aku bantuin Jinny dan itu terjadi mendadak ditambah lagi semalam itu hujan wen dan kamu paksa aku harus datang? "


"Jinny Jinny Jinny terus. Kamu tau, dia sengaja minta tolong sama kamu supaya kita gak jadi ketemuan, dia mau merusak hubungan kita ndre"


"STOP WEN!" Andre menarik nafas panjang mencoba menahan emosinya. Diwaktu yang sama Gevan tidak sengaja lewat dari tempat itu dan melihat keduanya berada disana, ia pun langsung bersembunyi dibalik dinding agar tidak terlihat


"Aku tau kamu gak suka sama Jinny tapi kamu jangan menjelek jelekkan dia"


"Kenapa? Kamu belain dia? Hanya karna dia kamu gak datang ndre, kamu bahkan biarin aku sendirian disana, kamu gak peduli aku gimana, aku dengan siapa, aku pulang naik apa kamu gak peduli ndre"


"Kamu egois wen, kamu selalu bilang aku gak pernah peduliin kamu tapi nyatanya, kamu yang egois wen. Aku udah jelasin semuanya sama kamu tapi kamu tetap gak ngerti"


"Bukannya aki gak ngerti ndre, tapi setidaknya kamu datang"


"KAMU MAUNYA APA SIH WEN! Aku harus gimana biar kamu senang? Kamu jangan kayak anak kecil wen, masalah yang tadinya selesai jadi panjang"


"Masalah kecil? Kamu bilang masalah kecil? Kamu bahkan ninggalin aku sendirian ndre"


"Cukup wen. Kamu memang egois"


"KAMU YANG EGOIS NDRE!"


"Kamu nyalahin aku?" Ucap Andre sambil membasahi bibirnya yang kering


"Kamu tau, kalau bukan karna kamu yang minta ketemu, aku juga gak mau ketemuan sama kamu" Cewek itu terdiam disana mendengarnya dan tak lama kemudian air mata cewek itupun akhirnya keluar, perkataan cowok itu berhasil membuat hatinya benar benar sakit sekarang


" ka,kamu"


"Sekarang, semua terserah kamu wen. Dan ingat satu hal, kalau aku berubah itu semua karna kamu" Andre kemudian langsung pergi dari sana. Kini tinggallah Wendi sendiri disana, cewek itu masih menangis disana menyesali perbuatannya


Sementara itu Gevan hanya menatap cewek itu dari balik tembok, kini ia tahu apa hal yang menimpa gadis itu semalam


...*******...


Wendi masuk keruang kelas dengan mata yang masih sembab akibat ia menangis tadi, Rena yang melihat Wendi yang sepertinya tidak baik baik saja langsung berjalan mendekatinya


"Wen, lo kenapa? Ada masalah?" Orang yang ditanyaipun sontak menatap kearah lawan bicaranya


"Wendi, kenapa mata lo sembab? Siapa yang buat lo nangis, kasih tau gue wen"


"Gue gak papa re" ucap Wendi karna tak berniat menceritakannya kepada cewek itu


"Lo berantam lagi sama Andre?"


"Gue pengen sendiri re"


"Kalian kenapa berantam terus sih?"


"Re, gue mau sendiri"


"Makanya lo dengerin dia wen, jangan dekat dekat lagi sama Gevan"


"GUE MAU SENDIRI RE! LO GAK TAU APA APA, JADI LO DIAM AJA!"Rena diam mematung terkejut melihat Wendi sahabatnya itu membentaknya


"Wen...gue cuman khawatir sama lo" Wendi tak menghiraukan permataan Rena, ia malah pergi meninggalkan cewek itu begitu saja disana


Wendi keluar dari ruangan itu akibat kesal dengan Rena yang selalu sok tahu tentang masalahnya. Wendi menatap tajam kearah dimana terlihat Jinny sedang berjalan sendiri, dengan cepat Wendi berjalan mendapati Jinny


"Gue mau ngomong sama lo" Jinny yang tak suka langsung membalikkan badan dan berhadapan dengan cewek itu


"Mau ngomong apa lagi? Mau bahas Andre?"


"Lo puas sekarang? Puas buat hubungan gue sama Andre rusak?"


"Kenapa lo nyalahin gue?"


"Lo gak sadar dengan perbuatan lo?"


"Gue lagi malas berantam sama lo"


"Lo sengaja kan ngajak Andre ke rumah lo biar gue sama Andre gak jadi ketemuan"


"Kenapa emang? Gue salah?" Wendi mengepalkan kedua tangannya disana mencoba menahan amarahnya


"Lo masih tanya salah atau enggak?"


"Gue gak suka sama lo, jadi wajar aja kalau gue ngelakuin hal itu sama lo" Jinny kemudian melangkah mendekat kearah dimana Wendi berdiri


"Gue bakal ngelakuin segala cara buat lo sama Andre putus" ucap Jinny dengan menekan disetiap kata


"Gue gak takut. Lo boleh bebas ngelakuin apapun itu sampai lo berhasil tapi lo harus tau satu hal, lo bakal terima hal yang bahkan lebih menyakitkan dari apa yang lo lakuin sekarang"  Jinny yang mendengar itu tertawa sinis, seolah mengejeknya


"Wahh...gue menantikan itu terjadi"


"Gue juga menantikan itu. Dan ketika itu terjadi, gue adalah orang pertama yang tertawa didepan lo" Jinny yang mendengar itu langsung menatap tajam kearah Wendi yang kini tersenyum tipis kearahnya


...*******...


Wendi berdiri ditengah lapangan sekolah sembari matanya tertuju kepada dua remaja yakni Andre kemasihnya dan Jinny yang berada diparkiran sekolah hendak akan pulang bersama. Pandangan Andre sempat bertemu dengan pandangan cewek itu namun ia tak memperdulikannya. Wendi menarik nafasnya panjang lalu meneguk minuman yang ada ditangannya.


Wendi melemparkan minumannya hingga mengenai baju Gevan akibat terkejut melihat cowok  yang tiba tiba muncul dihadapannya


"Hah. Lo buat gue terkejut"ucap Wendi dengan suara lantang namun Gevan cowok itu masih diam menatap bajunya yang basah akibat cewek didepannya itu


"Ma, maaf gue gak sengaja" ucap cewek itu dengan setengah suara. Namun tampaknya Gevan tak memperdulikan cewek itu, ia malah pergi berjalan menuju parkiran tanpa melihatnya


"Van, Gevan. Tungguin" ucap Wendi sambil mengejar cowok itu sampai ke parkiran sekolah


"Van"


"Hm"


"Gue gak sengaja"


"Hm" Wendi mengerucutkan bibirnya kedepan kesal dengan jawaban singkat dari mulut cowok itu


"Antarin gue dong van" Gevan sontak langsung menatap kearah Wendi


"Gue malas"


"Ck, alasan. Biasanya juga lo yang sering nawarin ke gue"


"Kali ini enggak" Gevan kemudian naik keatas motornya dan bersiap menyalakan mesin motor namun tiba tiba Wendi naik keatas motor cowok itu dengan brutal membuat Gevan terkejut dan hampir terjatuh dari atas motornya


"Lo gila!" Bukannya merasa bersalah,Wendi malah tertawa terbahak bahak melihat ekspresi wajah cowok itu


"Lagian lo sok jual mahal banget gak mau nganterin gue pulang"


"Turun lo"


"Gak mau"


"Turun!"


"GAK!"


Gevan membuang nafasnya kasar karna sudah kesal dengan kelakuan cewek itu dan melihat beberapa siswa yang ada disana menatap aneh kearah mereka berdua


"Wen, turun selagi gue masih ngomong baik baik"


"Gak"


"Gue gak mau antar lo pulang"


"Gak papa. Gue ikut kerumah lo" kini cewek itu berhasil membuat Gevan benar benar kesal


"Gue gak pernah bawa cewek kerumah gue"


"Gue kan teman lo"


"Gue gak peduli. Gue gak mau turun" ucap Wendi tak mau kalah dari cowok itu. Gevan yang tak mau ributpun akhirnya menyalakan mesin motornya dan pergi melaju meninggalkan area sekolah


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mereka sampai dirumah cowok itu. Wendi kemudian turun dan menatap sekelilingnya dengan mata berbinar


"Rumah lo besar juga, tapi masih lebih besar rumah Andre"


"Lo datang kesini mau bandingin rumah gue sama rumah pacar lo" Cewek itu tersenyum lebar lalu kemudian berjalan mengikuti cowok itu dari belakang


Pintu terbuka dan memperlihatkan Wilson ayahnya Gevan dengan seragam putihnya tengah siap siap berangkat bekerja


"Halo Om" sapa Wendi ramah sambil membungkukkan badannya namun Wilson hanya menatap cewek itu dari atas sampai kebawah membuat Wendi merasa sedikit tak nyaman


"Pacarnya Gevan?"


"Enggak Om, kita cuman teman"


"Oh, baguslah. Kamu memang gak cocok dengan anak saya" Gevan yang mendengar itu langsung menatap tajam kearah Wilson


"Jaga omongan Papa!"


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Mulut Papa bahkan jauh lebih buruk dibanding dengan dia"


"Dasar anak brengsek!" Gevan kemudian langsung pergi membawa Wendi masum kedalam kamarnya


"Van, lo gak boleh gitu, dia bokap lo"


"Lain kali, lo gak perlu ngomong sama dia"


"Kenapa?"


"Gak baik buat kesehatan" Wendi mengerutkan keningnya merasa ambigu dengan perkataan cowok itu


"Gue mau ganti baju dulu" Gevan kemudian masuk kekamar mandi yang ada didalam kamarnya untuk berganti pakaian


Wendi kemudian berjalan melihat lihat kamar cowok itu hingga dirinya melihat sebuah foto diatas nakas yang memperlihatkan Gevan,Steven dengan seorang perempuan paruh baya tengah memeluk keduanya, mereka terlihat bahagia disana. Lalu Wendi beralih dengan buku kecil yang ada disamping foto itu, Wendi mengambil dan membukanya


Cewek itu tertawa kecil melihat foto masa kecil Gevan disana, cewek itu membuka semua foto yang ada didalam buku kecil itu sampai akhirnya pintu kamar mandi terbuka dan Gevan terkejut melihat Wendi yang juga menatapnya dengan buku lecil itu ditangannya


"Ini punya lo?" Ucap Wendi sambil mempeihatkan buku itu


"Itu punya gue, balikin sekarang" cowok itu mencoba mengambilnya namun Wendi dengan sigap menangkisnya


"Gue cuman liat aja"


"Gak,balikin"


"Bentar aja van"


"Balikin wen" ucap Gevan masih berusaha mengambil buku dari tangan Wendi hingga pada akhirnya Wendi terpleset hingga terjatuh dan dengan spontan menarik cowok itu sampai kini Wendi terjatuh keranjang dan Gevan tepat berada diatasnya membuat keduanya saling menatap satu dengan yang lain


"Balikin buku gue atau gue bakal ngelakuin hal aneh sama lo" ucap Gevan mencoba mengancam cewek itu


"Gue gak takut, gue tau kalau lo gak bakal berani ngelakuin itu ke gue" Gevan terdiam karna memang benar, cowok itu tidak akan berani melakukan itu kepada Wendi. Gevan kemudian bangkit dan duduk diatas kasurnya sambil melihat cewek yang sibuk melihat foto foto yang ada didalam buku itu


"Lo dari kecil udah ganteng ya" Gevan hanya diam tak menjawab, dirinya sebenarnya sangat kesal dengan cewek itu sekarang


"Nyokap lo mirip banget sama kak Steven"


"Yaa..kelakuan mereka juga sama" ucap Gevan sambil membaringkan badannya diatas ranjang sambil menutup matanya disana


"Van, kenapa foto lo sama kak Steven sedikit? Lo berdua sering berantam?"


"Steven dari kecil sekolah diluar negri jadi kita jarang foto bareng" Wendi yang mendengar itu hanya ber-ohria disana


"Kenapa lo gak sekolah diluar negri juga?"


"Gue gak mau"


"Bohong, pasti karna lo kurangajar makanya lo gak ikut keluar negri sama kak Steven"


"Terserah lo" Wendi menutup buku itu dan meletakannya kembali keatas nakas


"Van, lo pernah gak sih merasa kalau ternyata hidup itu menyakitkan?" Cowok itu diam dan masih tetap menutup kedua matanya


"Terkadang gue berfikir, kenapa hidup gue selalu tentang yang namanya disakiti sedangkan orang lain enggak" lagi dan lagi tidak ada respon dari Gevan disana


"Gue pikir dengan gue membuka hati lagi dengan cinta,  luka gue dimasa lalu bisa hilang tapi ternyata sepertinya enggak. Kenapa gue selalu disakiti dengan cinta? Gue yang selalu mengalah, gue yang selalu datang minta maaf tapi gue juga yang selalu disakiti" Wendi kemudian menatap kuar jendela dengan pandangan kosong sementara itu perlahan Gevan membuka matanya dan menatap cewek itu disana. Rasa kesal cowok itu kini hilang ketika mendengar perkataan cewek itu


"Wen" Sang empunya nama menoleh kesumber suara


"Lo lapar?"


"Kenapa?" Gevan bangun dari ranjang dan bergegas mengambil jacketnya dan langsung memakainya


"Kita makan diluar, gue yang bayar"


"Serius?" Tanya cewek itu dengan penuh semangat


"Ayo" cewek itu tersenyum lebar dan berlari mengejar cowok itu


Mereka kemudian pergi dengan motor cowok itu, namun bukannya membawa cewek itu ketempat makan, mereka malah singgah ditoko pakaian membuat cewek itu kebingungan


"Van, ini toko baju bukan tempat makan"


"Hari ini gue mau traktir lo sepuasnya jadi lo harus ganti baju dulu"


"Emang harus?"


"Hm. Lo mau berkeliaran dengan pakaian sekolah?" Gevan kemudian menarik tangan cewek itu untuk masuk kedalam toko dan mulai memilih baju yang cocok untuk cewek itu


"Van, gue pilih ini aja"  Gevan melihat pilihan cewek itu dan tersenyum ketika melihat pilihannya hanya baju kaos biasa dengan jeans hitam


"Biar gue yang pilih" Gevan kemudian melihat lihat pakaian yang cocok dengan cewek itu dan mulai mengambil beberapa baju yang mungkin cocok untuk Wendi


"Pake ini" Gevan memberikan baju yang sudah ia pilih kepada cewek itu. Tak butuh waktu lama, Wendi kemudian keluar dari ruang ganti dengan pakaian rok pendek kembang dan baju putih dibalut dengan cardigan pendek berwàrna abu abu


"Van, ini terlalu pendek" ucap Wendi sambil menarik narik roknya kebawah


"Itu karna lo gak biasa aja"


"Tapi van"


"Ayo" Gevan tanpa basa basi langsung menarik tangan cewek itu agar mengikutinya.


Untuk tempat pertama yang mereka kunjungi pastinya adalah tempat makan mengingat cewek itu belum makan dari siang tadi


"Van, lo kesurupan?" Gevan yang mendengar itu tersenyum tipis lalu kemudian melahap makanannya


"Kenapa tiba tiba lo mau traktir gue? Bahkan lo beliin baju buat gue"


"Sekali kali baik sama pacarnya musuh gue gak papa kan?"


"Lo, gak ada niat jahat kan?" Cowok itu kemudian meletakkan sendoknya dan beralih menatap cewek itu


"Mungkin saja iya dan mungkin saja enggak" Wendi bingung mendengar jawaban itu disana


"Lo gak usah mikir aneh aneh, pokoknya hari ini gue traktir lo"


"Emang, lo mau traktir gue apa lagi"


"Lo bakal tau setelah ini"


Gevan kemudian membawanya ketempat dimana ada banyak wahana permainan disana. Wendi yang melihat itu membuka mulutnya lebar, entah kenapa ia merasa sangat senang sekarang


"Ayo van, gue mau ke rumah hantu" Gevan terkejut ketika tangannya ditarik paksa oleh cewek itu dan sampailah mereka dirumah hantu. Mereka kemudian mengambil tiket dan masuk kedalam, Gevan sesekali tersenyum tipis melihat reaksi dari cewek itu. Setelah selesai dari tempat itu, Wendi kemudian mengajak cowok itu bermain mesin capit boneka, menaiki beberapa wahana yang ada disana dan banyak hal yang mereka lakukam disana sampai pada akhirnya matahari terbenam dan Gevan mengantar cewek itu pulang kerumahnya


"Makasih van buat hari ini. Gue benar benar senang banget" cowok itu tersenyum lalu kemudian mengeluarkan sebuah kado dari dalam tasnya


"Selamat ulang tahun, ya,, gue tau sebenarnya ini terlambat" mata cewek itu berbinar dan dengan semangat menerima kado itu


"Makasih van" Wendi kemudian menatap Gevan dan berfikir sejenak kenapa cowok itu bisa tau jika semalam itu hari ulang tahunnya?


"Lo tau dari mana kalau gue ulang tahun?"


"Gue tadi pagi gak sengaja liat lo sama Andre berantam dibelakang sekolah" Wendi yang tadinya senang tiba tiba moodnya berubah mengingat kejadian tadi pagi disekolah


"Gue pamit pulang"


"Makasih van" Gevan kemudian segera pergi dari sanaeninggalkan Wendi


Sesampainya dirumah, cewek itu langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dan pikirannya kembali kepada Andre kekasihnya itu. Akhir akhir ini, cowok itu selalu memarahinya bahkan sangat cuek padanya, apa cowok itu sudah tidak mencintainya lagi? Kalau memang benar, kenapa cowok itu tidak berani mengatakan putus padanya? Atau, kalaupun Andre memang masih mencintainya, kenapa cowok itu selalu marah padanya? Bahkan apapun yang dilakukan cewek itu selalu salah dimatanya. Apa yang sebenarnya membuatnya berubah seperti ini? Ya, ada banyak sekali pertanyaan dikepala cewek itu yang belum terjawab sekarang