
...Terkadang apa yang sudah kita pertahankan dan yang kita anggap baik malah itu menjadi hal yang paling menyakitkan ...
...W...
Wendi duduk sendirian di kursi kayu yang ada disana, pikirannya masih kepada kejadian tadi dimana cowok itu marah besar kepadanya. Disisi lain ia merasa bersalah namun terkadang ia merasa jika dirinya tidak bersalah jika ia cemburu jika kekasihnya itu dekat dengan cewek lain, pikirannya kini campur aduk
Wendi menoleh kesamping ketika Gisel datang dan duduk disamping dirinya
"Lo ada masalah?, Dari tadi gue perhatiin lo murung terus"
"Gue gak papa" Gisel menatap cewek disampingnya itu lalu tersenyum simpul
"Berantam sama Andre?" Ucapan itu membuat Wendi spontan terkejut karena tebakan cewek itu sangat benar dengan yang ia alami sekarang
"Lo, tau?"
"Cewek kalau udah melamun pasti masalahnya itu. Berantam kenapa?" Wendi tak menjawab, ia sebenarnya tak ingin menceritakannya kepada cewek itu
"Cemburu?" Lagi dan lagi Wendi terkejut dengan perkataan Gisel yang tidak melenceng sedikitpun melihat ekspresi terkejut itu, Gisel tertawa kecil merasa lucu melihatnya
"Lo kenapa bisa tau?"
"Karna gue juga awalnya begitu wen. Gue cemburu liat Andre dekat banget sama Jinny"
"Andre marah banget sama gue. Itu membuat gue jadi takut"
"Lo tau, hal yang paling dibenci sama Andre adalah cemburu, dia bakalan marah terus kalau lo cemburu gak jelas kayak gini" Wendi hanya diam mendengarkan disana
"Andre itu cowok baik wen, dia gak bakalan nyakitin lo apalagi ninggalin lo. Dia sayang sama lo, dan gue yakin dia gak akan nyakitin lo" Wendi kemudian menatap cewek yang duduk disampingnya itu
"Dia udah terlanjur marah sama gue sel"
"Lo tenang aja, dia sendiri yang akan perbaiki semua. Lo percaya sama gue" Wendi menganggukkan kepala walaupun sebenarnya ia masih ragu dengan ucapan cewek itu
"Kenapa tiba tiba lo jadi baik kayak gini?, Harusnya lo senang gue sama Andre berantam" Gisel tersenyum simpul mendengar itu lalu kemudian menarik nafasnya dalam
"Gue udah lupain dia" Wendi sedikit tak percaya dengan ucapakan cewek itu karna ia tahu seberapa besar rasa sayang Gisel terhadap cowok itu
"Gue udah capek wen, dan gue sadar kalau gue dengan Andre gak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Dia udah punya lo dan dia sayang banget sama lo. Jadi, buat apa lagi gue berharap wen" Wendi sangat senang mendengarnya karna sebenarnya Wendi juga takut jika Gisel terus mendekati Andre bisa saja mereka akan kembali seperti dulu namun kini ia lega karna Gisel sudah melupakan cowok itu
"Lo mau ke kantin?"
"Hah" Gisel langsung menarik tangan cewek itu untuk bangkit berdiri
"Kita ke kantin. Gue yang bayar" tanpa persetujuan dari Wendi, Gisel langsung saja menarik tangannya menuju kantin
...******...
Gevan kini berada dilapangan basket sedirian dan sibuk memainkan bola basket disana, ia mendrible bola itu dan memasukkannya kedalam ring bola basket dan begitulah seterusnya, ia hendak ingin memasukkan bola kedalam ring namun bola basket itu melenceng tidak mengenai ring dan seseorang menangkap bola itu dengan sigap
Gevan menaikkan satu alisnya ketika melihat siapa orang yang menangkap bola itu
"Gue mau bicara sama lo" kemudian Rendy melempar bola itu keras kearah Gevan yang langsung saja diambil olehnya dan ia kembali memainkan bola basket itu disana
"Penting?"
"Hm" Rendy sedikit kesal melihat cowok itu yang masih sibuk dengan bola basket itu tanpa menghiraukan keberadaan dirinya disana
"Lo gak usah dekat sama Wendi lagi, gue gak mau lo berantam terus sama Andre. Ya... gue tau lo sama Wendi sebatas teman tapi lo liatkan, Andre akan marah besar liat lo bareng sama Wendi" Gevan tampaknya tak memperdulikan perkataan cowok itu, ia hanya sibuk bermain basket disana
"Lo dengar gue kan?"Gevan sontak menghentikan kegiatannya itu lalu kemudian melangkah mendekat dimana Rendi berdiri
"Jangan sangkut pautkan masalah ini dengan Wendi, itu gak ada hubungannya. Sebelum Wendi pacaran sama Andre masalah ini udah ada, dan gue sama Andre udah sering berantam"
"Andre bakalan marah liat lo dekat sama pacarnya, lo sadar itu?" Gevan tersenyum miring mendengarnya lalu kemudian menatap sinis Rendi yang berdiri tepat didepannya
"Ini masalah gue sama Andre, lo gak tau apa apa soal ini jadi lebih baik lo diam"
"Gue tau. Gue tau semua" Rendi kemudian menatap lawan bicaranya itu
"Bahkan hal yang lo gak tau, gue tau. Gue diam karna gue gak mau masalah lo sama Andre semakin besar"Rendi menarik nafasnya dalam dan kembali menatap cowok itu lagi
"Andre bakal buat hidup lo hancur bagaimanapun caranya van, dia punya banyak rencana buat hidup lo hancur"
"Lo pikir gue gak punya rencana?" Gevan tersenyum miring dengan semua perkataan yang baru saja ia dengar itu
"Gue diam bukan berarti gue gak punya rencana. Gue yang bakalan buat hidup dia hancur"
"Van, kali ini beda. Andre punya..."
"Lo khawatir sama gue?" Rendi diam tak tau harus berkata apalagi sementara Gevan semakin kesal dibuat cowok itu
"Lo gak perlu khawatir sama gue ren, harusnya lo khawatir sama sahabat lo sendiri. Lo pikir gue bakalan kalah dari manusia brengsek kayak dia?. Gue pastiin, dia yang akan hancur duluan sebelum gue" Gevan kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana namun ia berhenti dan kembali membalikkan badan
"Kita bukan teman lagi, jadi lo gak perlu sok baik sama gue. Itu menjijikkan" kemudian cowok itu benar benar pergi meninggalkan Rendi disana
...******...
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, para siswa akan bergegas pulang kerumah mereka, seperti biasa Rena akan pulang dengan jemputannya sementara Wendi masih berdiri dilapangan sekolah, ia bingung ia harus menunggu kekasihnya itu atau tidak
Tiba tiba seseorang datang dan menggenggam tangan cewek itu erat sembari menariknya ke parkiran sekolah
"Andre" Andre tak mengubris perkataan itu, ia memakai helm dan memberikan helm yang satunya kepada cewek itu
"Pake" dengan ragu ragu Wendi menerima helm itu dan memakainya, kemudian ia naik keatas motor, motor itupun kemudian melaju cepat meninggal arena sekolah
Tak ada percakapan diantara keduanya, mereka hanya diam disana. Wendi bingung dan terkejut ketika melihat jalan kearah rumahnya sudah lewat namun motor cowok itu tetap melaju dengan cepat
"Ndre, rumah gue udah lewat. Lo lupa?" Teriak cewek itu sedikit kuat agar didengar oleh Andre namun cowok itu hanya diam namun sebenarnya ia tersenyum dibalik helm yang ia kenakan. Dan kini, sampailah mereka ditempat tujuan yang bukan lain adalah rumah cowok itu, Wendi bingung mengapa Andre membawanya kesini dengan tiba tiba
"Ayo masuk" Andre melangkah masuk kedalam yang diikuti oleh cewek itu dari belakang dan terlihat seorang perempuan paruh baya tengah sibuk merapikan ruangan itu, sontak Wendi langsung tersenyum kemudian menyapanya ramah
"Halo tante" Mia langsung berdiri dan mendapati gadis itu dengan ramah sambil tersenyum lebar
"Eh, ada anak gadis. Pacarnya Andre ya?" Wendi hanya tersenyum lebar disana
"Dia pacarnya Andre ma, cantik kan?"
"Cantik. Tante udah lama pengen ketemu sama pacarnya Andre". Kamu sering sering datang kesini ya sayang, tante senang kamu sering main kesini"
"Iya tante"
Andre yang melihat kekasihnya itu hanya diam langsung duduk mendekat dengannya
"Maafin aku ya, aku tadi marah sama kamu. Kamu maafin aku kan?" Wendi menatap cowok itu lalu kemudian mulai memancarkan senyuman diwajahnya
"Aku maafin. Tapi janji, jangan marah kayak gitu lagi. Aku takut" Andre kemudian mengelus lembut rambut pacarnya itu sambil tersenyum manis
"Ndre"
"Hm"
"Aku liat, ada bekas luka di jidat dan tangan mama kamu. Itu kenapa?"
"Kecelakaan" Wendi sedikit terkejut dan tiba tiba ia teringat dengan percakapan yang kemarin ia dengar antara Andre dan Gevan, cewek itu merasa ini kesempatan untuk dirinya mendapat informasi yang baru
"Kapan mama kamu kecelakaan?"
"Bulan Oktober lalu, sekitar setengah tahun yang lalu" Wendi tiba tiba teringat akan kematian nyokapnya Gevan tepat setengah tahun yang lalu, karna masih penasaran ia terus akan bertanya kepada cowok itu
"Kamu tau siapa pelakunya?"
"Aku tau"
"Di, dimana dia sekarang?, Kamu udah lapor polisi"
"Dia sudah mendapat hukumannya sendiri dan itu setimpal buat dia" sedikit demi sedikit, ia mulai mendapat kebenaran tentang masalah ini, ia harus tetap mencari tau sampai semuanya jelas
"Maksud kamu, dia meninggal?, Siapa?" Andre kemudian tersenyum manis lalu bangkit berdiri
"Itu gak penting buat kamu. Mendingan kita makan dulu"
"Ndre, aku serius"
..."Ayo cepat turun, kita makan dulu" dengan kesal ia kemudian turun kebawah, namun setidaknya ia sudah mendapatkan beberapa informasi yang mungkin bisa membantunya...
...*****...
Gevan turun dari kamarnya dengan mengenakan pakaian rapi membuat Steven sedikit terkejut dibuatnya
"Mau kemana?"
"Bukan urusan lo"
"Mau ketemuan sama pacar?" Tanya Steven namun matanya tetap fokus dengan TV yang menyiarkan film boboiboy kesukaannya disana
"Hm"
"Emang lo laku?"
"Ck. Ribut lo. Mana kunci motor gue" Steven kemudian merogoh saku celananya, mengambil kunci lalu memberikannya kepada adiknya itu
"Jangan pulang lama. Papa gak lembur hari ini" namun Gevan hanya diam dan tak menjawab perkataan cowok itu
"Woi ayam panggang, lo dengar kan?" Teriak Steven kuat karena kesal melihat tingkah adiknya itu namun tetap sama, ia tak mendapat jawaban
"Ckckck.... dasar"
Gevan melajukan motornya cepat menuju kerumah Gisel kekasihnya itu, ia harus bertemu dengan gadis itu sekarang juga. Tak butuh waktu lama, ia sampai ditempat dan langsung disambut oleh seorang perempuan paruh baya yang merupakan orang tua Gisel
"Halo tante" sapa Gevan sambil mencium tangan perempuan itu lembut
"Gevan, ayo masuk nak. Udah lama banget kamu gak datang kesini"
"Gak usah Tan, Gevan cuman mau ketemu sama Gisel. Giselnya ada?"
"Gisel?, Dia tadi pergi keluar, tante pikir dia keluar sama kamu" Gevan terkejut mendengar itu namun sebisa mungkin ia menutupinya
"Mungkin dia keluar dengan temannya Tan, ada tugas mungkin"
"Oh. Yaudah, kamu mau tunggu disini?"
"Gak usah Tan, Gevan pulang aja" sebelum melangkah, ia teringat akan sesuatu hal yang sepertinya perlu untuk ditanyakan
"Oh ya Tan, gimana keadaan om Hendri?, Om sehatkan Tan?" Wanita itu sedikit bingung dengan pertanyaan Gevan
"Om Hendri sehat kok nak, dia baik baik aja. Kenapa?" Gevan semakin terkejut mendengarnya, sampe sampe bibirnya kelu untuk berbicara sekarang
"Ah... Gevan hanya khawatir aja Tan. Kalau begitu, Gevan pamit pulang dulu Tan"
"Gevan" sebelum berbalik badan, wanita itu kembali memanggilnya
"Makasih ya"Gevan mengerutkan keningnya, ia bingung mengapa wanita itu tiba tiba berterimakasih padanya
"Makasih buat kalung yang kamu beli buat Gisel. Kalungnya cantik, Tante suka" hati Gevan seperti berhenti sejenak mendengar semua fakta yang baru ia dengar itu, ternyata gadis yang ia cintai selama ini membohongi dirinya, ia ingin menangis namun ia mencoba tersenyum didepan wanita itu agar ia tak curiga
" I, iya Tan. Ka, kalungnya bagus"
"Tante senang liat kalian berdua sedekat itu, jaga Gisel baik baik ya bak"
"Hm. Gevan, pamit pulang dulu Tan"
"Iya nak. Hati hati dijalan" Gevan kemudian langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, ia semakin menaikkan kecepatan motornya tak peduli dengan orang orang yang berteriak kesal melihat tingkahnya yang ia mau sekarang adalah bertemu dengan gadis itu sekarang juga
Gevan pergi ketempat dimana ia dan gadis itu sering menghabiskan waktu bersama namun ia tak menemukan Gisel disana, itu membuatnya sedikit frustasi, ia bingung harus kemana mencari gadis itu sampai akhirnya ia teringat akan satu tempat yang mungkin pernah dikunjungi oleh Gisel. Dengan gerakan cepat, cowok itu segera menyalakan motornya dan pergi ketempat itu
Sesampainya disana, ia tetap tidak menemukan keberadaan cewek itu disana sampai akhirnya ia mulai merasa lelah. Gevan mengambil ponselnya ketika mendengar sebuah notifikasi masuk kesana dan melihat pesan dari saudaranya Steven disana
Boboiboy😡
Cepat pulang
Papa bentar lagi
Sampai rumah
Gevan kemudian memasukkan ponsel itu kembali kedalam kantong celananya, ia tidak punya pilihan lain sekarang selain pulang kerumah. Namun ia tiba tiba melihat seorang cewek berdiri tidak jauh darinya sedang bersama dengan seorang laki laki, Gevan sedikit mendekatkan dirinya agar melihat dengan jelas siapa cewek itu namun ia masih tetap tidak bisa melihatnya dengan jelas
Gevan tetap tak menyerah, ia semakin mendekatkan dirinya dengan kedua remaja itu dan tiba tiba cewek itu berbalik kesamping dan memeluk laki laki yang tengah bersama dengannya itu. Gevan membelalakkan matanya melihat gadis itu adalah Gisel kekasihnya bahkan cowok itu mencium kening Gisel lembut
Gevan yang melihat itu hanya diam, hatinya seperti ditusuk oleh beribu paku, rasa sakit yang tak terungkapkan oleh Gevan membuat air mata cowok itu jatuh, tangannya ia kepal sekuat mungkin, ingin rasanya ia membunuh lelaki yang bersama dengan kekasihnya itu namun ia tak ingin melakukan itu, ia tidak ingin merusak kebahagiaan cewek itu malam ini walau sebenarnya Gevan merasakin sakit yang teramat dalam melihat semuanya ini