It'S Hurt

It'S Hurt
Pernyataan




.


.


.


Berkas cahaya mulai mengenai sudut mata, tirai merah maroon itu sudah dibuka setengah dan membuat sang gadis perlahan membuka kedua matanya.


"Nona sudah bangun?" Tanya seorang wanita yang beda dua tahun dengannya.


Gadis itu tersenyum saat mendengar sapaan dari Hani. Tak disangka ternyata Hani sudah berada dikamarnya.


"Hmm." Gumam Jina dan berusaha untuk duduk, dengan sigap Hani membantunya.


"Terima kasih." Ujar Jina dan Hanipun melepas pegangannya.


"Nona, kemarin pergi kemana? Aku sangat mengkhawatirkanmu." Ujar Hani dan mulai duduk disebelah Jina lalu menyerahkan segelas air putih untuknya. Jina pun meraih gelas itu dan meminumnya.


"Ak-aku hanya ingin mengunjungi eommaku. Sudah lama aku tak pergi kesana." Ujar Jina yang terdengar lemah. Hani menghembuskan nafasnya. Dengan perlahan ia mengusap pelan kepala Jina. Sekarang ia tak bersikap formal lagi kepada nonanya itu.


"Kau tau alasanku masih menerima pekerjaan ini? Karena aku sungguh khawatir dan tak bisa meninggalkanmu begitu saja meski Tuan muda berlaku kasar kepadaku. Kau sudah aku anggap sebagai adikku. Jadi, kumohon jika kau pergi tolong kabari aku." Ujar Hani dan menangkup kedua tangan Jina. Gadis itu membalas tatapan Hani dengan berlinang air mata.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Ujar Jina dan langsung memeluk orang yang sudah ia anggap kakak perempuannya itu.


"Tentu saja." Ujar Hani dan mengusap punggung Jina pelan, berusaha memberikan semangat untuk gadis itu.


"Jika ada yang bisa kulakukan untuk membantumu lagi. Aku akan siap melakukannya." Ujar Hani lembut. Jina segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah Hani dengan terkejut.


"Ani. Aku tak ingin melibatkanmu lagi. Sudah cukup kau merawat dan menjagaku selama ini." Ujar Jina yang tak setuju dengan usulan Hani tentang tawarannya. Ini seperti saat itu, saat Hani menawarkan penawaran gila ini. Saat itu hampir saja Jina bisa melarikan diri tapi entah dari mana Kyuhyun tau keberadaannya. Itu sungguh diluar dugaan. Jika ia gagal kabur lagi kali ini, bisa dipastikan Hani akan mendapatkan hal yang lebih mengerikan dari Kyuhyun.


Hani hanya menanggapi kekhawatiran Jina dengan senyuman. Sepertinya ia juga tak bisa membujuk Jina untuk menyetujui niatnya. Ia hanya ingin melihat hidup gadis itu terbebas dari monster yang selalu menyiksa Jina setiap ada kesempatan.


Hani langsung berdiri dan menundukkan kepalanya saat seseorang tiba-tiba masuk begitu saja kekamar nonanya itu.


"Makanlah dibawah." Ujar pria dingin itu dan setelahnya langsung menutup pintu kembali.


"A-apa ia mendengarnya?" Tanya Jina khawatir.


"Tidak nona, jika tuan mendengarnya pasti ia sudah menarikku atau menamparku." Ujar Hani yang terdengar bercanda.


"Hani, maaf jika selama ini kau harus menerima perlakuan kasar Kyuhyun karena kebodohanku." Lirih Jina lalu ia menundukkan kepalanya, ia merasa sangat bersalah.


"Aku tidak apa-apa. Lebih baik nona segera turun, tuan pasti sudah menunggu nona." Jina pun menganggukkan kepalanya dan menuruti ucapan Hani barusan.


Sepeninggal Jina, Hani menatap sendu kearah tubuh yang terlihat ringkih itu.


"Jika saja tuan Kyuhyun tau tentang kebenaran dibalik kematian orangtua Jina maka aku yakin ia yang akan merasa diambang jurang kematian." Ujar Hani dan mengepalkan tangannya.


Ia tau tentang kebenaran itu, ingin secepatnya ia memberitau kebenaran ini tapi Nyonya dan Tuan Cho begitu mahir menyembunyikan bukti-bukti yang terkait dengan mereka.


Sudah setahun Hani mencari informan yang dapat dipercaya agar mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada tuan mudanya itu.


Informan itu adalah supir pribadi keluarga ini. Sudah lama supir itu mengundurkan diri. Tidak. Lebih tepatnya terpaksa mengundurkan diri.


Jika saja Pak Lim berhasil ia temukan maka Jina akan bisa terbebas dari dendam yang selalu terpatri di jiwa pria itu.


Jika hanya dia yang langsung menjelaskan tanpa bukti yang ada, Hani yakin jika Kyuhyun tak akan percaya ucapannya dan menganggapnya hanya melucu dan pastinya Jina akan menjadi sasaran lagi karena dirinya sudah mengingatkan kembali tentang luka tuannya itu.


••⏳⏳••


"Apa tidurmu nyenyak?" Ujar pria dingin itu. Sesaat Jina menghentikan makannya.


"I-iya." Jika saja ia bilang tidak karena ia bermimpi buruk akankah Kyuhyun khawatir kepadanya? Ia rasa tidak. Pasti oppanya merasa senang dengan mimpi buruk yang ia alami.


"Setelah pulang kerja ikutlah denganku." Jina mengeryitkan alisnya. Memang ia mau kemana lagi? Pasti bukan tempat yang menyenangkan iya kan? Jina punya firasat jika Kyuhyun akan mengajaknya ketempat yang menyeramkan. Tunggu, benarkah? Ah. Ia sungguh lelah jika harus menebak-nebak dari tindakan pria itu. Pemikiran Kyuhyun sungguh tak bisa ditebak.


"Ne." Ujar Jina lagi dan melanjutkan makannya.


••⏳⏳••


Jina tak pernah menyangka jika Kyuhyun akan mengajaknya ketempat ini. Ini mustahil! Untuk apa Kyuhyun mengajaknya kebutik?


"Oh, apa ini gadis yang kau bicarakan itu?" Ujar wanita itu dan mengulurkan tangannya bermaksud memperkenalkan diri.


"Sherly. Aku yang akan membuatmu merasa berada dinegeri dongeng." Ujar wanita itu ramah. Jina pun membalas uluran tangan tersebut. Meski ragu dengan yang diucapkan wanita barusan. Jina berusaha menuruti setiap intruksi yang wanita itu berikan.


Wanita itu terus memuji kecantikan Jina dan begitu bersemangat memilih baju yang membuat Jina bagai seorang putri. Sebenarnya apa maksud semua ini?


"Pakailah gaun ini, dan temui aku diruang rias. Aku akan menjadikanmu sangat cantik malam ini." Ujar Sherly dan Jina pun kembali mengiyakan ucapan wanita itu. Sesaat Jina menoleh mencari keberadaan oppanya itu. Apa Kyuhyun meninggalkannya? Ternyata Kyuhyun masih setia menunggu dirinya dan pria itu juga sedang memilih baju? Untuk apa?


"Cepatlah sayang, aku akan menunggumu disana." Ujar Sherly yang melihat Jina terbengong lalu ia menunjukkan tempat yang harus Jina tuju.


••⏳⏳••



"Apa ini benar diriku?" Ujar Jina tak percaya. Gadis yang ia lihat saat ini sungguh berbeda, ia tak pernah menyangka jika gadis dicermin itu adalah dirinya.


"Lihatlah. Kau tampak cantik bukan?" Ujar Sherly senang saat melihat keterkejutan Jina.


"Bagaimana kau membuat bekas luka ini tak terlihat?" Ujar Jina tak percaya.


"Itulah kekuatan sebenarnya dari make up." Jina masih melihat wajahnya yang lebih segar dan cantik karena polesan make up diwajahnya. Sherly begitu hebat. Bisakah jika dirinya berdandan sendiri untuk menutupi lukanya ini?


"Cepatlah, kita akan terlambat." Jina terlonjak kaget, benar ia bahkan sempat melupakan keberadaan Kyuhyun.


"Kurasa dia sudah tak sabar untuk segera membawamu." Ujar Sherly yang bermaksud menggoda mereka.


"Ma-maaf." Jina pun langsung menuju kearah pria itu dan dengan cepat Kyuhyun merengkuh pinggang Jina saat Jina hampir terjatuh karena sepatu hak tingginya.


Tanpa sadar dalam posisi yang cukup dekat membuat Jina menatap mata kelam itu begitu lama sampai nada suara Kyuhyun menghentikan tatapannya.


"Cepatlah dan jangan menyusahkanku hanya karena tak bisa memakai hak tinggi seperti itu." Ujar Kyuhyun dan membantu Jina untuk berdiri tegak kembali. Meski pria itu bilang ia sungguh merepotkan tapi nyatanya Kyuhyun terus membantunya berjalan sampai masuk kedalam mobil.


'Dia yang membuatku kesusahan berjalan karena sepatu ini, lalu kenapa dia yang merasa kesal? Menyebalkan!'


"Oppa, kenapa kita berpenampilan seperti ini? Apa kita akan menghadiri sebuah acara?" Hanya gumaman yang Kyuhyun berikan yang seketika itu juga membuat Jina malas menanyakan lebih lanjut dengan tempat yang akan mereka tuju.


••⏳⏳••


Jina membulatkan matanya ketika banyak sekali orang-orang yang sangat antusias dengan kedatangan mereka dan terlebih lagi saat Kyuhyun mengajak dirinya berdiri diatas panggung!


"Terima kasih untuk para hadirin yang sudah datang keacara ulang tahun perusahaan ini." Jina sangat gugup saat ia harus mendampingi Kyuhyun yang tengah memberikan sambutan. Kenapa ia harus naik keatas panggung juga? Lebih baik ia duduk dan memakan makanan yang ada.


Jina yang tampak malas mendengar pidato Kyuhyun mulai menyusuri pandangannya kearah para tamu yang datang. Yoora? Benar. Tunangan Kyuhyun pasti ada disini. Gadis itu tampak melihat kearah panggung dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


Jina langsung menoleh dan membulatkan matanya saat merasa Kyuhyun menggenggam tangan dan mulai menarik pinggulnya agar lebih erat dengan pria itu.


"Dan ada hal yang ingin aku sampaikan dihadapan kalian semua. Wanita yang ada disampingku ini adalah orang yang akan mendampingiku. Dia adalah calon istriku dan kami akan segera menikah." Ujar pria itu sambil tersenyum.


"What?!" Teriak Jina spontan. Jina menatap tak percaya dengan semua hal gila yang Kyuhyun ucapkan. Tentu saja semua para hadirin juga terkejut sama seperti dirinya. Bukankah CEO itu sudah mempunyai tunangan? Lalu apa CEO itu mempunyai dua tunangan?


"Yang sudah kalian ketahui jika aku memang sempat bertunangan tapi kami memutuskan untuk tak melanjutkan sampai kejenjang pernikahan. Jadi, gadis yang ada disebelahku ini adalah pelabuhan terakhirku. Semoga kalian memberikan restu untuk kami berdua." Setelah mengucapkan itu. Tampak para undangan mulai mencerna ucapan Kyuhyun dan setelahnya terdengar ucapan doa yang mereka tunjukkan agar Kyuhyun bahagia dengan pilihan hatinya saat ini. Pria itu menanggapi semua ucapan itu dengan senyuman.


Beda dari yang pria itu tunjukkan. Disana terlihat dua gadis yang sangat terkejut dengan keputusan Kyuhyun. Jina yang masih terdiam kaku dan Yoora yang menangis dan mulai meninggalkan kerumunan itu.


Jina melepaskan pelukan Kyuhyun dan berusaha mengejar Yoora tapi tak bisa saat Kyuhyun menariknya lagi agar tetap berada didekatnya.


"Kau pria jahat." Desis Jina dan mulai mencoba melepaskan tangan yang menggenggamnya dan dengan cepat turun dari panggung yang sejak tadi membuat dirinya sulit bernafas.


"Sepertinya calon istri saya terlalu malu dengan pernyataan mendadak dari saya." Ujar Kyuhyun yang tampak bercanda. Para hadirinpun tertawa dan mulai bertepuk tangan karena merasa Kyuhyun adalah pria yang sangat romantis, buktinya calon istrinya sampai tersipu malu seperti itu.


Disela pria itu menundukkan kepalanya untuk berterima kasih atas ucapan selamat dari mereka, ia mengepalkan tangannya sangat keras. Hingga buku jarinya memutih.


TBC