
.
.
.
Pulau Jeju. Siapa yang tak kenal dengan pulau ini? Pulau yang sangat terkenal akan keindahan alamnya. Sepanjang mata memandang, disungguhkan oleh kecantikan dan keindahan hamparan bunga yang begitu cantik.
Jina terus memandang kagum keindahan diluar jendela kamarnya. Yah. Kini ia sudah berada di Hotel yang ada di Pulau Jeju. Dia kesini karena Kyuhyun yang mengajaknya, katanya mereka akan mengunjungi peresmian cabang kantor baru disini.
Cho Coorporation memang sudah sangat terkenal dimana-mana, terlebih banyaknya cabang yang mereka punya.
Jina sangat antusias menyambut liburannya kali ini, ini hari yang sangat ia impian. Akhirnya ia bisa berlibur setelah berkutat dengan mata pelajaran dan pekerjaan yang seakan tiada habisnya.
Sebuah suara pintu yang terbuka seketika membuyarkan lamunannya. Pria itu seperti kesusahan saat hendak menyeret kopernya masuk kekamar.
"Kenapa oppa disini?" Tanya Jina heran. Setaunya kamar yang ia tempati terpisah dengan Kyuhyun.
"Kamar ini milikku." Ujar pria itu dan membereskan baju-baju yang ia bawa di kopernya. Jina mengkerutkan alisnya. Ia masih terlalu bingung. Setaunya kamar ini dipesan atas namanya.
"Lalu aku tidur dimana?"
"Bodoh. Tentu saja disini. Mana ada suami istri yang tinggal terpisah. Lagipula ini bukan dirumah, aku tak ingin kolegaku yang ada disini melihat kita tak seranjang."
"Apa?"
"Sudahlah, jangan bertanya yang aneh-aneh. Laksanakanlah peranmu sebagai seorang istri selama disini dan layani suamimu dengan baik, mengerti?" Jina mengaga mendengarnya. Istri? Kyuhyun memanggil dirinya dengan sebutan istri? Entah kenapa sebutan itu membuat bulu kuduknya merinding.
"Kau mendengarku?" Tangan Kyuhyunpun berhenti saat tak mendengar sahutan dari gadis itu. Matanya mengarah ke bola mata abu-abu milik Jina. Bola mata yang selalu membuatnya terpana saat pertama kali melihatnya.
"Iya, oppa." Sepertinya Jina tak ingin berdebat dengan pria itu. Baiklah ia akan menuruti Kyuhyun karena telah menghadiahkan liburan indah ini. Setidaknya ia hanya cukup melakukan perannya hanya untuk beberapa hari saja. Lalu melayani pria itu dengan membuat sarapan dan tersenyum dengan manis dihadapan orang lain. Yah. Sepertinya ia bisa. Lagipula ia juga tak ingin mempermalukan Kyuhyun didepan kolega bisnisnya. Anggap saja ini balas budinya. Meski hanya pura-pura.
"Biar kubantu." Dengan cekatan Jina meraih baju-baju Kyuhyun dan merapihkannya kedalam lemari. Menggantung dan melipatnya dengan rapih. Kyuhyun tersenyum simpul. Yah. Jina yang seperti inilah yang ia inginkan. Tanpa perlu paksaan. Gadis itu suka rela membantunya.
"Terima kasih." Ujar Kyuhyun singkat. Jina terdiam sejenak, ketika mendengar ucapan Kyuhyun. Entah kenapa sudah lama rasanya pria itu tak berucap lembut seperti ini.
"Oppa, sebaiknya kau mandi. Biar aku yang membereskan ini." Saran Jina yang melihat Kyuhyun terus menyeka keringatnya.
"Baiklah." Kyuhyunpun beranjak dan melangkah menuju kekamar mandi. Langkahnya terhenti saat memegang handle pintu tersebut.
"Apa kau ingin mandi bersama?"
"Mwo?!" Seketika tawa Kyuhyunpun meledak bersamaan dengan keterkejutan Jina dan wajah gadis itu yang bagaikan kepiting rebus.
"Oppa!" Teriak Jina agar pria itu berhenti tertawa karena itu sungguh menyebalkan.
"Haha baiklah, mian." Dengan cepat Kyuhyunpun mulai menghilang dibalik pintu itu dan bersiul riang. Entah kenapa rasanya ia begitu senang saat melihat wajah Jina tadi.
"Astaga. Kurasa kepala oppa terbentur sesuatu." Gumam Jina tak percaya dan terus mengipas-ngipas wajahnya yang terasa memanas.
••⏳⏳••
Matahari yang terik perlahan menenggelamkan dirinya kedalam bentangan laut berwarna biru. Jina tetap menopang dagunya melihat langit sore hari yang cantik.
Matanya sedikit mengantuk. Seharusnya ia tidur sejenak untuk istirahat tapi ia tidak ingin melewati hari-hari indah selama disini. Sudah beberapa jam ia hanya duduk termenung di balkon hotel untuk menatap lurus laut yang nampak jauh disana.
Kyuhyun memperhatikan Jina yang tak beranjak dari duduknya. Gadis itu terus saja memperhatikan pemandangan diluar sana. Ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Ini menyegarkan sekali. Ia merasa lebih segar setelah mandi.
"Apa yang kau lihat sampai terus duduk seperti itu?" Jina sedikit kaget saat tau jika Kyuhyun sudah selesai mandi dan lagi-lagi ia dibuat tekejut saat matanya mendapati pria itu hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya. Bulir air terus menetes dari rambutnya yang basah lalu terus turun menelusuri tubuh atletis milik pria itu.
"O-oppa sebaiknya kau pakai bajumu." Demi apapun jika seperti ini terus ia akan mati terkena serangan jantung. Sekarang saja jantungnya berdegub kencang saat melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat itu.
Kyuhyun menaikan alisnya tak mengerti. Memang kenapa jika ia belum berpakaian? Bukankah Jina sudah melihat dirinya topless? Bukankah itu sungguh menyenangkan?
'Astaga. Wake up Cho Kyuhyun!'
Kyuhyun sedikit menepuk pipinya. Ia tersadar akan kegilaannya. Yah. Ia harus menahan dirinya agar tak melakukan kesalahan kepada gadis itu lagi.
"Kau mandilah. Setelah ini kita akan pergi." Ujar Kyuhyun tegas. Tanpa berlama-lama Jinapun bergegas pergi kekamar mandi. Baguslah. Lagipula ia tak ingin menyaksikan Kyuhyun yang tengah memakai pakaian.
••⏳⏳••
Untungnya saat Jina melangkah keluar kamar mandi. Sosok itu tak ada disana. Bodohnya ia tadi. Ia lupa membawa baju ganti saat mandi. Lain kali ia akan selalu membawa baju untuk langsung memakainya dikamar mandi.
"Hmm, memangnya mau pergi kemana lagi?" Gumam Jina sambil terus menyisir rambutnya yang basah. Matanya tetap fokus melihat kekaca rias didepannya.
Baju dress selutut dengan warna biru muda membuatnya jauh lebih manis dan cantik. Terlebih dengan sepatu kats putihnya. Ia melihat kebawah lagi. Sepatu ini bahkan sudah mulai kusam. Ia lebih nyaman mengenakan sepatu daripada heels yang membuat kakinya terasa menyakitkan.
Cklekk
"Kau sudah siap?" Tanya Kyuhyun yang telah kembali. Sebenarnya pria itu tadi pergi kemana?
"Iya. Lalu kita mau kemana?" Tanya Jina penasaran, apa mereka akan menemui rekan bisnis Kyuhyun?
"Tak perlu banyak bertanya. Kau hanya perlu diam dengan manis seperti biasa." Jina mendengus. Ternyata Kyuhyun yang menyebalkan sudah kembali.
"Kau duluanlah naik kemobil, ada yang ingin kuambil." Jina pun menuruti perintah Kyuhyun. Ia melangkah santai meninggalkan kamarnya.
Kyuhyun sedikit menghela nafasnya. Ia mulai tergesa mencari benda yang tadi ia beli sebelum ke Pulau ini. Benda kotak kecil dengan warna merah yang elegan.
"Akh. Dimana aku menaruhnya?" Ujarnya frustasi dan mulai mencari benda itu disetiap saku jaket bajunya yang tergantung indah didalam lemari.
••⏳⏳••
Jina sedikit menguap saat menunggu Kyuhyun yang tak kunjung datang. Sendirian didalam mobil seperti ini membuat dirinya bosan.
Drtt drttt
Jina merogoh kantung tas selempangnya. Benda persegi panjang itu terus saja bergetar. Tanpa menunggu lama ia menjawab telpon tersebut.
"Akh. Mian. Aku lupa memberitaumu Sehun. Aku sedang berlibur sekarang."
"Mwo?"
"Maksudku aku sedang menemani oppa dalam perayaan peresmian kantor cabang kami."
"Kau membuatku frustasi Jina. Seharusnya kau memberitauku dulu."
"Mian, aku lupa karena perjalanan ini begitu mendadak."
"Kalau begitu kau sedang dikota mana? Biar kususul kesana."
"Mwo? Kau gila?"
"Aku serius. Aku khawatir padamu."
"Sehun. Aku bersama oppa. Aku tidak sendirian disini. Jadi, kau tak perlu khawatir, ne?"
"Justru karena kau bersama pria itu. Kau membuatku semakin cemas Jina."
"Tapi-"
"Sudahlah, kau sedang dimana sekarang?"
"Jeju. Pulau Jeju."
"Mwo?! Kenapa kesana?! Apa kalian sedang bulan madu?!"
"Mwo?! Tentu saja tidak Sehun! Aku kan sudah bilang, kami hanya melakukan perjalanan bisnis."
"Tapi tetap saja rasanya aneh. Kalian hanya berdua saja. Lagipula bukankah seharusnya ada Yoora? Dia juga pemegang saham dikantormu."
"...."
"Jina? Apa kau mendengarku?"
"Sudahlah Sehun. Jika kau memang ingin kesini aku akan menunggumu."
"Baiklah aku ak*-"
Jina buru-buru mematikan ponselnya saat Kyuhyun mulai berjalan menuju kearahnya. Untung saja didalam mobil begitu gelap jadi Kyuhyun tak dapat melihat dengan jelas saat dia sedang menerima telpon tadi.
Kyuhyun tersenyum tipis saat benda yang ia cari sejak tadi sudah ia temukan. Ia sedikit mengeryitkan dahinya saat melihat Jina tengah sibuk dengan tas selempangnya.
"Oh, o-oppa." Kyuhyun merasa heran melihat Jina yang begitu gugup.
"Jadi kita akan kemana?"
"Maaf, tidak seharusnya aku bertanya." Sesal Jina dan mulai menundukkan kepalanya. Ia sedikit merutuki rasa penasaran yang sulit ia tahan sejak tadi.
"Pantai."
"Benarkah?" Tanya Jina antusias. Benarkah ini? Oh. Ia suka sekali pantai. Terlebih saat kakinya menyentuh deburan ombak. Dingin dan menyenangkan.
"Wah, ayo oppa." Ujar Jina semangat. Kyuhyun pun tersenyum tipis saat melihat tingkah Jina yang kekanakan. Jina saat ini terlihat semakin cantik dengan senyum diwajahnya. Sudah lama rasanya ia tak melihat rona pipi diwajah Jina. Yah. Ia adalah semua kesakitan gadis itu. Ia menghela nafasnya panjang. Menyadari semua perbuatannya selama ini.
••⏳⏳••
"Wah, lihatlah oppa ini sungguh indah. Pasir putih ini sungguh cantik. Apa kita bisa membuat istana kecil dengan pasir ini?" Jina tersenyum dengan lebarnya. Kyuhyupun mendekati gadis itu. Jina masih memainkan jari-jari kakinya untuk menikmati tekstur dari pasir yang tengah ia pijak.
"Tentu saja. Kita bisa menggunakan ember kecil disana."
"Benarkah? Kalau begitu ayo oppa." Jina pun menarik tangan Kyuhyun tanpa sadar. Pria itu sedikit tersentak dengan sikap Jina. Tangan lembut itu membuatnya teringat saat gadis itu membantu dirinya yang terluka saat bermain sepak bola dulu.
"Mi-mian." Jina tersadar jika tangannya sudah lancang menyentuh pria itu. Untuk mengalihkan kegugupannya Jina sedikit berlari dan mengambil ember kecil yang terletak tak jauh dimana mereka berada.
"Biar kubantu." Jina merasa jantungnya berdegub dengan sangat kencang saat tangan Kyuhyun menyentuh lengannya untuk membantu dirinya membangun istana pasir.
'*Ada apa ini?'
Apa jantungku bermasalah*?'
Jina membiarkan tangan kokoh itu menyentuhnya karena merasa tubuhnya sulit untuk digerakkan terlebih jantungnya juga terus berdetak tak karuan.
Mereka pun terus menikmati kebersamaan ini dan tanpa sadar langit malam pun sudah terlihat. Deburan ombak semakin mendukung suasana nan indah tersebut.
Jina sedikit mengusap lengannya karena merasa kedinginan tapi ia merasa sedikit hangat saat sebuah jaket putih menutupi tubuhnya.
"Minumlah." Kyuhyunpun kembali dengan membawa segelas susu hangat yang ia beli diwarung dekat pantai. Sepertinya Jina masih betah menikmati deburan ombak didepan matanya saat ini.
"Terima kasih oppa untuk hari ini. Ini sungguh menyenangkan. Kau membuatku tersenyum seharian." Ujar Jina senang lalu menengguk susu hangat tersebut.
Kyuhyun tak bisa membalas ucapan Jina. Memang pria brengsek sepertinya pantas mendapatkan rasa terima kasih? Ia hanya pantas mendapat caci maki dari mulut gadis itu.
Jina sedikit menguap. Benar. Sepertinya ia sudah tak sanggup menahan kantuknya sejak tadi. Dengan perlahan ia menenggelamkan wajahnya dilipatan kakinya. Ia akan tidur sebentar sebelum mereka kembali ke hotel.
"Bodoh." Gumam Kyuhyun saat melihat Jina yang terlihat tertidur dengan posisi yang tak nyaman. Dengan lembut ia membenarkan posisi tersebut. Meraih tubuh itu dan menyandarkan kepala Jina dipundaknya.
Jika Jina tau ia menyentuhnya secara terang-terangan pasti Jina sudah melompat ketakutan. Jadi, cuma ini kesempatannya untuk bisa terus memeluk tubuh dari gadis itu.
Tangannya terulur untuk menyentuh pipi merona milik Jina kemudian bibirnyapun menyesap bibir lembut milik gadis itu lalu sedikit memperdalam ciumannya dan dengan tak rela ia mengakhiri ciumannya dengan singkat.
"Kajja kita kembali." Dengan sigap Kyuhyun mengangkat tubuh Jina. Jina tak akan sadar jika ia memindahkan tubuh gadis itu karena ia tau jika sudah tertidur Jina itu susah dibangunkan.
Sepertinya esok hari saja ia menyerahkan hadiah untuk Jina. Ia tak ingin membangunkan Jina yang terlihat kelelahan.
TBC