
Gevan bersama dengan ayahnya sedang berada diruang tamu berdua, Wilson ayahnya itu menatap penuh amarah kearah Gevan sedangkan Gevan hanya menundukkan kepalanya disana
"Kamu mau buat papa malu?" Tanya Wilson mencoba menahan emosinya
"Nilai berantakan, bolos jam pelajaran, berantam disekolah, merokok. Kamu mau jadi anak nakal?" Melihat anaknya yang hanya diam disana membuat emosi Wilson semakin membara
"Sekali lagi kamu berulah, papa gak mau tanggung jawab. Ngerti!!" Wilson kemudian pergi dari sana, ia tak ingin emosinya semakin besar melihat tingkah putranya itu
*****
Jinny duduk santai dengan ponselnya sambil mulutnya sibuk mengunyah makanan, namun tiba tiba tangan seseorang datang dari belakang menutup kedua matanya
"Gue tau itu lo ndre" Andre terkejut ketika cewek itu langsung bisa menebaknya dengan benar
"Kok bisa tau?" Tanya cowok itu sambil duduk didekat Jinny
"Kalau tangannya udah bau pasti itu lo" sontak Andre langsung mencium tangannya, memastikan tangannya bau atau tidak
"Tangan gue bersih kok" Jinny hanya memutar bola matanya malas
"Ngapain lo?, Tumben banget nyamperin gue"
"Tumben gimana?, Gue kan sering nyamperin lo"
"Semenjak lo pacaran, kapal lo udah mulai jauh dari gue. Lo udah sibuk pacaran sekarang" Andre hanya tersenyum mendengar perkataan cewek itu kemudian ia memdekat dan merangkul cewek itu
"Maaf jin. Gue gak lupa kok sama lo, lo taulah, gue masih berjuang buat pacar gue" Jinny masih memasang wajah kesal disana
"Jangan marah dong jin, gue traktir lo hari ini" Jinny masih membuang muka dan diam disana, melihat itu Andre memutar kepala cewek itu dengan salah satu tangannya agar ia bisa melihat wajahnya dengan jelas
"Kita ke toko buku nanti malam" Jinny langsung tersenyum lebar mendengarnya dan langsung memeluk cowok itu dengan segenap kekuatannya
"Lo yang terbaik ndre" Andre sudah kelelahan akibat cewek itu memeluknya terlalu kuat
"Jin, lepasin. Gue hampir mati" namun sepertinya Jinny tak mengubris perkataan cowok itu dan tetap memeluknya
Dari kejauhan, terlihat Wendi yang sudah berdiri disana sambil menatap Jinny dan Andre disana, dengan cepat ia membalikkan badan dan pergi dari sana diikuti Rena dari belakang
"Lo cemburu?"
"Gak"
"Lo gengsian banget sih, kalau cemburu itu bilang. Lagian wajar lo cemburu diakan pacar lo"Wendi hanya diam disana, ia memang cemburu melihat kedekatan mereka berdua
"Tapi mereka emang teman dekat kan?, Lo gak usah cemburu" Wendi ikut kesal melihat Rena yang tidak membelanya. Wendi lalu memutuskan pergi dari sana dengan perasaan kesal
*****
" Hai sayang" sapa Andre ramah kepada cewek yang tengah sibuk dengan buku yang ada ditangannya
"Banyak tugas?"
"Gak" Andre hanya mengangguk anggukkan kepalanya disana
"Wen, nanti malam sibuk?"
"Kenapa?"
"Aku mau ngajak kamu keluar bareng Jinny" mendengar itu Wendi menutup buku yang ditangannya dengan keras membuat Andre sedikit membelalakkan matanya terkejut
"Aku banyak tugas" jawab Wendi singkat yang sebenarnya hatinya cemburu mendengar itu
"Banyak tugas kenapa harus marah" Andre berbicara pelan namun masih bisa didengar cewek it
"Aku gak marah. Aku cuman bilang banyak tugas"
"Iya, iya"
*****
Andre kini berdiri didepan mobilnya menunggu Jinny temannya itu keluar dari dalam rumahnya. Dering notifikasi membuatnya tersadar lalu mengambil handphone dalam saku celananya
Wendi
Udah berangkat?
Andre tersenyum melihat pesan dari kekasihnya itu, tak biasanya cewek itu mengirimnya pesan sebelum cowok itu yang pertama
^^^Andre ngeselin^^^
^^^Belum. Kenapa?^^^
^^^Mau ikut?^^^
Wendi
Gak. Mau
Kemana?
^^^Andre ngeselin^^^
^^^Ke toko buku^^^
^^^Dekat kafe biasa^^^
Wendi
Ohw. Oke!
"Udah lama?" Tanya Jinny yang sudah datang dengan pakaian rapi dengan memakai sedikit riasan diwajahnya
"Gak kok. Ayo!" Jinny langsung masuk kedalam mobil itu lalu memakai sabuk pengamannya
"Ke toko biasakan?"
"Hm" mobil itupun langsung melaju dengan cepat meninggalkan arena itu
Sementara disebrang sana, Wendi tampak sibuk untuk pergi keluar, ia berniat untuk mengikuti Andre dan Jinny malam ini, hatinya tidak tenang karena diselimuti rasa cemburu yang membara. Ia dengan cepat menuruni anak tanggal untuk pergi ketempat yang akan ditujunya
Tak lama kemudian Andre dan Jinny sudah sampai di toko buku langganan mereka dan langsung masuk kedalam, Wendi yang melihatnya ikut masuk mengikuti langkah kedua remaja itu
Jinny sesekali menggandeng tangan cowok itu sambil bercandaria, Wendi yang melihat itu tampak kesal
"Kenapa harus gandengan?, Jalan biasa aja gak bisa?" Gerutu Wendi disana
"Ndre, kayaknya komik ini bagus"
"Coba gue lihat" cowok itu mengambil buku itu dan melihat komik itu sekilas
"Kayaknya bagus. Mau in?"
"Boleh" Wendi tetap memperhatikan gerak gerik mereka dari kejauhan dengan buku ia buat didepan wajahnya untuk menutupi wajahnya
"Kenapa mereka serasi yah?, Gue gak boleh kalah sama Jinny, gue juga bisa romantis. Awas aja lo yah, dasar genit, gatal, gue santet lo berdua" kecemburuan cewek itu semakin meluap melihat pemandangan kedua remaja itu disana hingga pada akhirnya Wendi tidak sadar kakinya menginjak kaki meja yang membuatnya akan jatuh terjungkal kebelakang namun tiba tiba seseorang menahannya lalu menariknya hingga kini posisi Wendi sejajar dengan cowok yang menolongnya itu
"Lo?" Tersadar dengan orang yang menolongnya itu, Wendi langsung menjauhkan dirinya dari Gevan
"Lo gak papa?" Tanya cowok itu lembut memastikan keadaan cewek didepannya itu
"Lo ngapain disini?" Cowok itu terkejut melihat reaksi cewek itu
"Suka suka gue, gue mau kemana" Wendi masih sibuk memperhatikan Andre disana, Gevan yang bingung melihatnya membalikkan badannya ingin tau apa yang cewek itu perhatikan sedari tadi dan menaikkan satu alisnya ketika melihat Andre dan Jinny disana
"Lo buntutin mereka?"
"Enak aja. Gu.. gue mau beli buku" jawab Wendi yang berpura pura mengambil buku
"Dasar cewek gila" Wendi terkejut mendengarnya lalu memukul cowok itu dengan buku yang ada ditangannya
"Sekali lagi lo ngomong gue santet lo" Wendi kembali melihat kedepan dan terkejut ketika melihat mereka sudah tidak ada ditempat
"Mereka kemana?, Kok hilang?" Wendi langsung berlari keluar mencari keberadaan kedua remaja itu namun ia tak menemukan jejak keduanya lagi, ia mendengus kesal disana
"Lo mau nyalahin gue?"
"Iya. Kalau lo gak banyak ngomong mereka gak bakalan hilang" cowok itu hanya memutar bola matanya malas melihat cewek itu
"Gue mau pulang, lo gak ikut?" Cewek itu masih menatap Gevan tajam, ia masih kesal kepada cowok itu
"Lo gak ikut?" Tawar cowok itu untuk yang kedua kalinya namun tetap sama, Wendi hanya berdiri diam disana
Gevan kemudian naik keatas motor dan memakai helmnya, ia hendak ingin menyalakan motornya namun terhenti dan kembali menatap cewek itu
"Yakin gak mau ikut?" Tanya Gevan untuk kesekian kalinya, karna ia tak tega meninggalkan cewek itu sendirian disana, Wendi awalnya ragu namun akhirnya ia mendekat dan ikut naik keatas motor cowok itu
"Susah banget lo tinggal naik aja"
"Ya udah, gue turun"
"Turun lo"
"Gak mau" kesabaran cowok itu benar benar diuji malam ini, ia sebenarnya tak tau kesalahannya apa tapi kenapa cewek itu marah padanya. Gevan kemudian menyalakan motornya bersiap pergi namun ia melihat dari kaca spion tampaknya cewek itu kedingingan, Gevan kemudian membuka jacket nya dan memberinya kepada Wendi
"Pake, biar lo gak beku" cewek itu menerima dan memakainya menutupi badannya lalu kemudian motor itu melaju dengan cepat pergi dari sana
*****
Andre bersama dengan Jinny keluar dari dalam kafe yang tampaknya lumayan ramai it
"Kita pulang yah, udah larut malam juga"
"Makasih ndre, lo udah temenin gue" Andre hanya tersenyum mendengar perkataan cewek itu
"Pacar lo kenapa gak ikut?"
"Dia banyak tugas. Kita pulang yok" kemudian keduanya masuk kedalam mobil untuk segera pulang karna hari sudah semakin larut
Sementara itu Wendi dan Gevan baru saja sampai didepan kontrakan cewek itu, sebelum cowok itu siap memarkirkan motornya Wendi sudah buru buru turun hingga membuat Gevan hampir terjatuh
" lo gila?" Gevan sungguh benar benar kesal dengan cewek itu, bukannya berterimakasih ia malah semakin membuat emosinya melunjak. Wendi tetap berjalan tanpa melihat cowok itu namun Gevan mengikuti langkah cewek itu hingga kini mereka sudah ada didepan pintu cewek out
"Ngapain lo ngikutin gue?"
"Jacket gue" Wendi langsung membuka jacket itu dan memberinya kepada cowok itu
"Kalau cemburu lo ngomong langsung" Wendi langsung berbalik arah tak terima dengan perkataan cowok itu
"Siapa yang cemburu?"
"Lo lah"
"Gue gak cemburu"
"Buktinya lo pergi jauh jauh kesana cuman mau buntutin mereka kan?"
"Gue mau beli buku"
"Mana buku yang lo beli?" Wendi terdiam, tak tau lagi harus menjawab apa
"Cemburu lo gak berguna. Mereka emang udah teman dekat, kenapa lo cemburu?"
"Gue cemburu. Puas lo! Harusnya dia hargai gue sebagai pacarnya, gue tau mereka teman tapi jangan sedekat dan seromantis itu, gue gak suka. Tiba gue cuman ngomong sama lo aja dia marah" Gevan yang mendengar itu bukannya kasihan tapi malah tertawa lepas, ia merasa lucu dengan sikap cemburu cewek itu, ia tak menyangka jika cewek itu sampai semarah itu
"Lo ketawa?" Tanya Wendi yang heran ketika ia melihat Gevan tertawa lepas, pasalnya ini adalah pertama kalinya ia melihat cowok itu tertawa lepas, Gevan yang sadar langsung berhenti tertawa
"Van, lo barusan ketawa?, Wow... ini pertama kalinya gue lihat lo ketawa van" Gevan hanya diam disana, ia bahkan tak sadar jika ia sampai tertawa lepas
"Ganteng juga lo kalau ketawa" goda Wendi membuat Gevan sedikit merasa risih dibuatnya. Tiba tiba sebuah notifikasi masuk membuat Wendi melihat ponselnya dan terkejut membaca pesan teks yang masuk
Andre ngeselin
Aku udah dekat
Rumah kamu
Wendi diam sebentar berfikir keras, jika Andre melihat ia bersama dengan Gevan maka akan terjadi pertengkaran, Wendi benar benar membenci hal itu
"Gue pulang" namun Wendi menahan pergerakan cowok itu
"Lo masuk kedalam" Gevan benar benar terkejut dibuat cewek itu
"Gu.. gue masuk?. Kekamar lo?" Tanpa basa basi lagi Wendi mendorong Gevan masuk kedalam sampai cowok itu terjatuh
"Lo diam didalam, awas aja lo kalau keluar. Gue bunuh lo" Wendi menutup pintu dan langsung berlari kebawah, ia menatap jalan dan belum ada tanda tanda cowok itu datang, namun ia teringat akan motor Gevan yang masih terparkir rapi disana. Wendi dengan cepat mendorong motor cowok itu sekuat tenaga untuk memindahkannya agar Andre tak bisa melihatnya, ia mendorong dengan segenap kekuatannya sampai akhirnya ia berhasil memindahkan motor itu
"Gue sial banget hari ini" ia benar benar kesal dengan semua yang ia alami satu hari ini. Tak lama kemudian ia mendengar klakson mobil yang ia yakin itu adalah Andre, cewek itu langsung berlari mendapi cowok itu
"Hai" sapa Wendi mencoba tersenyum ramah, Andre kemudian tersenyum melihat kekasihnya it
"Baru pulang?"
"Hm. Aku sengaja mampir kesini, mau mastiin kamu gak selingkuh"
"Kamu bisa aja" Andre kemudian mengerutkan keningnya ketika melihat cewek itu berkeringat
"Kamu kenapa keringat?, Dari mana?"
"Ah.. ini. Hmm, dikamar aku tadi panas makanya aku keluar cari angin bentar"
"Panas?, Tengah malam begini?"
"Iya, kebetulan AC kamar aku juga rusak"
"Ohw.." mereka sibuk berbincang diluar sementara Gevan sudah merasa sangat bosan didalam kamar cewek itu, ia memukul meja belajar kuat sampai tangannya menyentuh benda yang empuk lalu meremasnya kuat akibat kesal, namun ia bingung dengan apa yang ia pegang, tangannya mengambil benda itu dan terkejut ketika melihat bahwa benda itu adalah pembalut, ia kemudian melemparnya jauh, namun matanya kembali menemukan pakaian dalam cewek itu tergeletak disana
"Sial" umpatnya lalu menjauh dari sana agar ia tak melihat benda itu lagi
"Bisa bisanya dia meletakkan benda itu sembarangan" entah mengapa, ia sangat teramat menyesal sudah bertemu dengan cewek itu sekarang
"Kamu mau keluar bentar?" Ajak Andre kepada kekasihnya it
"Gak usah ndre, lagian ini udah larut malam. Aku juga udah ngantuk" Wendi berpura pura menguap didepan cowok out
"Ya udah. Aku pulang. Selamat malam sayang" Andre mengelus lembut rambut cewek itu lalu pergi dari sana
Setelah mobil cowok itu jauh, Wendi dengan cepat berlari menuju kamarnya, ia membuka pintu dan melihat Gevan sudah duduk bersandar disana
"Ma.. maaf van" Gevan bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu
"Lo ngapain sembunyiin gue?"
"Gue takut Andre liat lo dan kalian berantam lagi"
"Gue kayak pelakor tau gak?" Cewek itu tersenyum lebar melihat wajah kesal cowok itu
"Maaf van" Gevan kemudian turun diikuti Wendi dari belakang. Mereka sampai didepan namun Gevan tak melihat motornya disana
"Mana motor gue?"
"Itu" tunjuk Wendi disamping kontrakannya, Gevan menarik nafasnya panjang dan berjalan mendekati motornya
"Lo emang cewek gila"
"Lo yang gila. Harusnya lo bilang makasih sama gue karna gue nyelamatin lo dari Andre"
"Cewek emang selalu bener" Gevan hendak ingin naik namun ia kembali kebelakang mendekati Wendi
"Lain kali, barang berharga itu disimpan baik baik, jangan sembarang letak" Wendi bingung tak mengerti maksud perkataan cowok itu, melihat wajah bingung cewek itu Gevan kemudian mendekatkan bibirnya ketelinga cewek itu
"Pakaian dalam lo berserakan disana" Gevan kemudian kembali keposisi semula setelah mengatakan it sedangkan Wendi membulatkan matanya sempurna mendengar itu
"Gue pulang" Gevan kemudian meninggalkan Wendi yang hanya tersenyum kaku disana. Wendi langsung berlari menuju kamarnya dan benar saja ia melihat pakaiannya berantakan disana
"Astaga" Wendi hanya bisa diam berdiri mematung disana melihat pakaiannya yang memang berserak disana, ia sungguh malu dibuat cowok itu, ia tak bisa membayangkan bagaimana ia harus menatap cowok itu jika mereka bertemu nantinya