It'S Hurt

It'S Hurt
Problem



...Waktu tidak bisa diulang kembali, sama halnya ketika seseorang sudah pergi maka disitu juga dia tidak akan kembali lagi seperti dulu...


...W...


Steven turun dari mobil dan kakinya mulai melangkah masuk kedalam sebuah rumah sakit besar tempat ayahnya bekerja. Ia berniat ingin menemui ayahnya setelah melihat beberapa panggilan tidak terjawab tertera dilayar handphone cowok itu. Steven sampai didepan ruangan ayahnya lalu kemudian membuka pintu dengan perlahan


Mata cowok itu membulat sempurna ketika ia melihat Wilson ayahnya tengah bermesraan dengan seorang suster diatas sofa yang ada disana. Wilson, ia tidak berubah. Dia masih tetap seperti dulu, tidak pernah puas dengan yang namanya wanita. Steven diam mematung disana melihat kelakuan ayahnya, ingin rasanya ia memukul ayahnya sekarang juga namun ia tidak bisa melakukan itu sekarang


Dering notifikasi membuat Steven tersadar lalu kemudian menutup pintu ruangan itu pelan dan melihat siapa orang yang mengirim pesan kepadanya


Adik gue😎


Woi, lo dimana?


Gue lapar


Itu adalah Gevan adiknya, Steven memang belum membelikan makanan untuk cowok itu. Steven dengan cepat pergi meninggalkan ruangan itu setelah membaca pesan tersebut


Tidak butuh waktu lama, Steven sampai dirumahnya membawa makanan untuk sang adik


"Lo dari mana?"


"Nih, makanan buat lo" Steven menyodorkan kantongan plastik berisi makanan yang dengan cepat diambil oleh adiknya dan melahapnya dengan cepat


"Lo belum jawab pertanyaan gue" ucap Gevan dengan mulut dipenuhi makanan


"Gue dari rumah sakit"Gevan menatap sang kakak heran, mengapa cowok itu pergi kesana malam malam seperti ini pikirnya


"Beliin papa makan malam, banyak pasien jadi papa gak sempat keluar" dusta Steven tidak ingin menceritakan yang sebenarnya kepada adiknya


"Lo ada masalah?" Steven terkejut mendengar pertanyaan adiknya itu


"Muka lo kenapa sedih begitu?"


"Muka gue emang begini"


"Lo gak biasanya banyak diam kayak gini, lo cerewet, banyak omong kosongnya tapi sekarang kenapa lo diam aja" jelas Gevan ketika melihat sikap kakaknya itu berubah tidak seperti biasanya


"Gue gak papa"


"Lo ngapain ke rumah sakit?"


"Bukan urusan lo"


"Lo ada masalahkan? Lo ngapain kerumah sakit"


"Lo makan aja kampret!" Ucap Steven sambil melempar jacket kewajah adiknya itu lalu pergi dari sana menuju kamarnya


Steven duduk diatas ranjangnya lalu mengusap wajahnya kasar, pikirannya masih dengan kejadian yang ia lihat dirumah sakit tadi. Cowok itu tidak tahu harus bagaimana sekarang, ia takut jika Gevan adiknya tahu tentang ini, cowok itu akan marah besar kepada ayahnya dan akan terjadi masalah besar


Steven melihat foto yang berada dinakas dikamarnya yang menunjukkan dirinya, Gevan beserta dengan seorang perempuan cantik yang diketahui adalah ibunya tengah memeluk kedua putranya. Tangannya beralih mengambil foto itu, menatap foto itu dalam dan tanpa diminta air mata cowok itu turun


"Kenapa mama pergi secepat itu"


...******...


Andre bersama dengan Wendi kekasihnya kini sedang berjalan bersama menuju kelasnya, keduanya hening tidak seperti biasanya, Andre bahkan bersikap dingin hari ini


"Selamat belajar" ucap Andre ketika sampai didepan kelas cewek itu. Andre hendak ingin pergi namun terhenti ketika Wendi memegang pergelangan tangan cowok itu untuk mencegah pergerakannya


"Kamu gak mau cerita sama aku?" Ucap cewek itu mengingat kejadian kemarin ketika berada dirumah cowok itu


"Kenapa kamu gak pernah bilang tentang masalah ini ke aku ndre" Andre hanya diam, tidak tahu harus berkata apa kepada kekasihnya itu. Melihat cowok itu hanya diam, Wendipun mengerti jika Andre tidak ingin menceritakan masalah itu padanya


"Kamu gak mau ceritakan?"


"Ma, maaf wen"


"Kamu emang gak pernah mau terbuka sama aku ndre" ucap Wendi sedikit kecewa lalu kemudian masuk kedalam kelasnya sementara Andre hanya mengusap wajahnya kasar disana


Sementara disisi lain terlihat Gisel sedang menunggu seseorang, kali ini ia harus bisa bicara dengan cowok itu. Tak lama kemudian muncullah Gevan dari kejauhan membuat Gisel yang melihatnya tersenyum. Gevan mengarahkan pandangannya kedepan dan melihat Gisel yang sudah tersenyum kearahnya


"Gevan" Cowok itu tak mengubrisnya dan lewat begitu saja didepan cewek itu, Gisel yang tak mau menyerahpun memberanikan dirinya untuk memanggilnya lebih keras lagi


"GEVAN!" Teriak Gisel membuat semua orang yang ada disana terkejut dan langsung menatap kearahnya


"Gue mau ngomong sama lo" Gevan kemudian berbalik badan menatap cewek itu


"Kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya van"


"Gue gak butuh penjelasan" Gisel sebenarnya ingin menangis sekarang namun ia tidak mau terlihat cengeng didepan cowok itu. Gisel menelan air liurnya dengan susah payah, mengepalkan kedua tangannya lalu kemudian menarik nafasnya dalam


"GUE SAYANG SAMA LO VAN" teriak Gisel keras membuat semua orang yang ada disana terkejut bahkan Gevan yang berada disana hanya bisa diam mematung menatap kosong cewek itu


"Gue sayang sama lo, jangan tinggalin gue van. Gue sayang sama lo" semua siswa yang ada disana benar benar teekejut melihat Gisel disana, Gevan yang yang sudah tidak tahan lagi pun langsung menarik tangan cewek itu dan membawanya menjauh dari sana


"Lo gila!" Ucap Gevan tak habis pikir dengan kelakuan cewek didepannya itu


"Itu cara satu satunya supaya gue bisa bicara sama lo"


"Lo mau jelasin apa lagi sel. Gue gak akan berubah pikiran"


"Please van , kasih gue kesempatan"


"Gue gak bakal kasih kesempatan sama orang yang udah nyakitin perasaan gue" Gisel terdiam mendengar perkataan cowok itu, hatinya sakit mendengar perkataan itu


"Van, gue minta maaf" kembali air mata cewek itu membasahi pipinya


"Gue udah maafin lo sel. Tapi tolong, jangan lakuin hal bodoh kayak gini. Lo harus jaga harga diri lo sebagai cewek sel, jangan bodoh" Gisel hanya menundukkan kepala sambil menangis disana


"Buka mata lo. Masih banyak orang yang lebih baik diluar sana buat lo"


"Tapi gue sayang sama lo. Apa lo secepat itu lupain gue? Lo gak sayang lagi sama gue?"


"Gue sayang sama lo sel" Cewek itu perlahan menatap sendu cowok yang berdiri didepannya itu


"Tapi bukan berarti gue harus kembali sama lo"


"Lupain gue. Karna gue gak akan pernah kembali sama lo. Berhenti ngejar gue karna itu akan membuat gue lebih cepat pergi menjauh dari lo" Gevan kemudian pergi dari sana meninggalkan Gisel yang kini hanya bisa menatap kepergiannya. Gisel sudah kehilangan sosok orang yang selalu ada untuknya. Ya... bagaimanapun ini memang kesalahan dirinya sendiri yang sudah menyia nyiakan keberadaan cowok itu


...******...


"Woi ndre, nanti malam lo pacaran?" Rendi yang baru datang ke wanting langsung duduk didepan cowok itu dan langsung melahap mie ayam yang ia pesan tadi


"Main yok"


"Oke. Nanti malam gue datang kerumah lo"


"Rizal mana?"


"Palingan lagi deketin cewek" ucap Andre yang sudah sangat tahu ritual Rizal sahabatnya itu ketika jam istirahat berlangsung


"Lo gak pesan?" Tanya Rendi yang dimana lawan bicaranya itu hanya menggelengkan kepalanya


"Lo ada masalah?"


"Orang tua gue semalam berantam didepan Wendi" Rendi yang mendengarnya terkejut lalu kemudian meletakkan sendok yang tadinya ia pegang ke mangkok mie ayamnya


"Serius lo?"


"Hm"


"Jadi gimana?, Dia udah tau semuanya?, Lo udah cerita yang sebenarnya?"


"Gue belum cerita. Gue gak mau dia tahu tentang masalah ini karna gue malu"


"Jadi sekarang gimana?. Nyokap lo baik baik aja kan?"


"Gue juga gak tau ren gue harus ngelakuin apa sekarang" Andre menundukkan kepala, pikirannya benar benar kacau dengan semua ini. Ia bahkan sudah tidak tahu harus berbuat apa


...******...


Gevan kini berada didalam kelas dengan seorang gadis dengan pakaian sekolah yang pas dibadan dengan rok diatas lutut. Sekolah memang sudah sepi karna jam pulang sekolah sudah berlalu lima belas menit yang lalu


Gevan tampak memegang pinggang gadis itu dan menyudutkannya kedinding hingga jarak diantara keduanya sangat dekat. Gadis itu melingkarkan tangannya dileher Gevan dan mencoba menggoda cowok  itu dengan tatapan genitnya


"Lakuin apapun yang lo mau sekarang van" ucap gadis itu sambil mendekatkan dirinya kepada Gevan.


Gevan tersenyum miring lalu mulai mendekatkan bibirnya ke bibir gadis  itu, keduanya mulai memejam matanya dan bibir keduanya mulai bersentuhan namun tiba tiba......


Pintu kelas terbuka membuat keduanya membuka mata dan melihat secara bersamaan kearah objek yang membuka pintu


"Ah, ma. Maaf. Gue salah ruangan" ucap Wendi masih terkejut dengan penampakan yang baru ia lihat lalu dengan cepat berbalik arah segera pergi dari sana


"Wen, lo gak lihat apa apa. Lo tenang dan lupain apa yang lo liat sekarang" ucap Wendi mencoba menenangkan dirinya namun tiba tiba seseorang menarik tangannya hingga berbalik kebelakang


"Lo?" Wendi terkejut melihat Gevan sudah ada didepannya sekarang


"Lo. Ngapain disini?"


"Lo ngapain ke kelas gue?" Wendi terdiam tidak tahu harus mengatakan apa, sebenarnya tujuannya kesana adalah ingin menjumpai cowok itu namun ia tak berani mengatakan itu sekarang


"Gue kehilangan jatah gara gara lo"


"Kenapa lo nyalahin gue?"


"Kalau lo gak datang gue udah..."


"Udah apa?" Wendi sengaja memotong perkataan cowok itu akibat kesal namun Gevan diam dan tidak melanjutkan perkataannya tadi


"Dasar mesum" Gevan mendengus kesal melihat cewek didepannya ini


"Pacar lo mana?"


"Gue tadi ada kerjaan dikantor jadi gue nyuruh dia pulang duluan"


"Lo mau pulang?"


"Iyalah? Maksud lo?"Gevan hanya memutar bola matanya malas menghadapi cewek itu


"Gue antar lo pulang"


"Ogah. Entar lo ngapa ngapain gue lagi"


"Lo pikir gue nafsu sama cewek datar kayak lo" Wendi melebarkan matanya terkejut mendengar perkataan cowok itu kemudian dengan cepat cewek itu meninju lengan cowok itu sekuat tenaga


"Sekali lagi lo ngomong, gue robek mulut lo" keduanya menoleh serentak ketika melihat sebuah motor besar berhenti didepan mereka


"Ayo, kita pulang" itu adalah Andre, cowok itu datang menjemput Wendi kekasihnya itu


"Kamu masih disini?" Tanya Wendi bingung melihat cowok itu ternyata belum pulang


"Aku nungguin kamu. Ayo pulang" cewek itu tersenyum lebar mendengarnya lalu manatap Gevan yang ada disampingnya


"Gue pulang dulu. Bye bye" ucap Wendi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan kearah cowok itu lalu kemudian pergi dari area itu


"Maaf, kalau aku cuek sama kamu seharian ini" ujar Andre setelah sampai didepan kediaman cewek itu


"Gak papa. Aku ngerti kok. Aku tunggu sampai kamu mau cerita sama aku"


"Makasih wen" Andre tersenyum hangat kepada cewek itu


"Gue bisa peluk lo?"


"Hah?"


"Gue bisa peluk lo" jelas Andre sekali lagi. Wendi berpikir sebentar lalu kemudian menganggukkan kepala pertanda ia mengizinkan cowok itu untuk memeluknya


Dengan perlahan, Andre mendekatkan diri kemudian memeluk cewek itu hangat, mencoba menyalurkan seluruh bebannya kepada cewek itu


"Jangan tinggalin aku wen apapun alasannya"


"Aku gak bakal ninggalin kamu ndre. Aku janji"