
.
.
.
Ia tak menyangka jika ucapan pria itu sungguh gila! Bagaimana mungkin Kyuhyun mengatakan hal itu? Tidak. Ia sangat yakin jika Kyuhyun hanya mengada-ada saja.
Jina dengan susah payah berjalan menyusuri ruangan yang bisa dibilang sangat megah ini. Kakinya terus menyelusuri setiap ruangan dan matanya terus meneliti hingga ke sudut ruangan. Matanya sedikit menyipit saat sosok yang tengah menahan isakan itu terus berusaha menjauh darinya dan semua orang yang ada disini. Tidak. Ia harus mengejarnya!
Jika saja gaun yang ia pakai tidak panjang hingga menutupi kaki jenjangnya pasti ia sudah meraih tangan Yoora dan menjelaskan semua kesalahanpahaman ini.
Cih. Jina mendesis saat langkahnya semakin sulit untuk berjalan. Ditambah dengan hak tinggi yang ia pakai. Gaun dan hak tinggi, begitu menyebalkan!
Akh. Ia meringis saat tak sengaja kakinya tersandung saat dirinya memijak ke lantai. Kakinya terpelintir. Sakit. Tapi ia tetap mencoba berusaha mengejar wanita itu sampai sebuah tangan nan kokoh mencegahnya.
"Ikut aku!" Desis pria itu yang seakan geram melihat tingkah Jina yang seperti berusaha pergi dari pesta ini.
Dengan langkah pasti, lengannya terus saja diseret hingga tanpa sadar Jina meringis.
Kyuhyun sedikit mengerutkan alisnya lalu melihat wajah kesakitan itu. Matanya menelusuri mata Jina yang seperti melihat pergelangan kakinya yang terluka?
Cih. Sial.
Dengan sigap Kyuhyun mengendong tubuh langsing itu kedalam dekapannya. Sontak semua mata langsung tertuju kepada CEO itu. Mereka begitu takjub dengan sikap CEO yang begitu peyayang dengan calon istrinya. Sepertinya dia tak malu untuk menunjukkan rasa cintanya dihadapan semua orang bukan?
Jina membuang mukanya asal, saat melihat semua tatapan para tamu. Kagum, terpana, benci dan semua tatapan yang tak bisa ia lihat.
Hampir semua gadis muda disana begitu mengelukkan jika saja mereka ada diposisinya sekarang, pasti mereka akan menjadi gadis paling bahagia didunia? Akh. Mereka tak tau saja. Jina bergumam dalam hati. Jika saja ada yang mau menukar posisinya pasti ia sangat rela melepas semua yang Kyuhyun telah lakukan kepadanya.
••⏳⏳••
Jina melebarkan mata saat Kyuhyun membawanya kedalam kamar hotel yang memang berada satu tempat dengan acara yang Kyuhyun selenggarakan yaitu sebuah hotel mewah Seoul. Tapi untuk apa pria itu membawanya kemari?
Memori kelam itu kembali terngiang diotaknya. Dengan takut Jina sedikit memundurkan langkahnya saat dengan perlahan Kyuhyun meletakkan tubuhnya dikasur.
Jina sedikit bernafas lega saat pria itu segera menjauhkan tubuhnya, berbalik dan pergi entah kemana.
Tapi itu tak bertahan lama, Jina kembali mengigit bibirnya saat pria itu kembali datang dengan sesuatu ditangannya?
Jina terus saja memundurkan tubuhnya hingga tanpa sadar ia sudah membentur tiang ranjang king size itu.
"Jangan membuatku marah cherry." Geram Kyuhyun yang terasa sulit untuk meraih gadis itu yang selalu saja menghindar saat tangannya bermaksud menyentuh Jina.
"Ap-apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Jina takut. Sorot mata itu sungguh mengerikan dimata Jina. Tatapan Kyuhyun saat melihat wajahnya, pria itu tak berekspresi.
"Diamlah." Geram Kyuhyun dan langsung meraih kaki Jina begitu saja. Hampir saja Jina berteriak tapi suara rintihan yang ia keluarkan.
Perih. Kakinya sungguh perih saat Kyuhyun mengoleskan kapas yang berisi obat. Ia baru sadar jika kakinya lecet dan terasa sangat sakit sekali saat Kyuhyun terus berusaha mengobatinya.
"Gadis bodoh. Lihatlah. Kakimu berdarah." Geram Kyuhyun dan tanpa peduli dengan ringisan Jina ia terus mengobati kaki mulus nan jenjang itu.
"Sakit." Gumam Jina tanpa sadar. Kyuhyun menghela nafasnya dan perlahan tangannya melembut dan tetap berusaha membersihkan luka tersebut.
"Cih. Merepotkan." Setelahnya Kyuhyun menjauhkan tubuhnya saat sudah mengobatinya. Meletakkan obat itu dimeja dekat kasur.
Tenggorokan Jina sedikit tersendat saat ia ingin mengucapkan terima kasih. Pria itu sudah mengobati dirinya. Bukankah Kyuhyun sungguh perhatian kepadanya? Ah. Tentu saja tidak. Pasti pria itu hanya refleks kan? Tidak mungkin Kyuhyun mengkhawatirkannya.
"Lain kali jangan bertingkah bodoh sepeti itu. Bagaimana mungkin saat seseorang memintamu berdiri diatas panggung kau malah pergi begitu saja?" Ujar pria itu dengan nada marah tertahan. Dengan cepat Kyuhyun ikut duduk di kasur king size tersebut.
Jika yang Kyuhyun maksud Jina merasa menyesal dengan perbuatannya, Kyuhyun salah besar. Nyatanya ia bersyukur dengan tindakannnya tadi.
Ini gila bagaimana mungkin ia menikah dengan oppanya? Kyuhyun adalah kakaknya. Jina selalu menganggapnya kakak meski Kyuhyun terus saja marah jika mengungkit persaudaraan diantara mereka.
"Apa yang kau katakan dipanggung tadi? Apa kau mabuk?" Tanya Jina yang sungguh tak percaya saat mengingat kata-kata yang Kyuhyun ucapkan.
"Tidak. Aku mengatakannya dalam keadaan sadar." Ujar pria itu tanpa menoleh melihat kearahnya.
"Lalu kenapa kau mengatakan jika aku calon istrimu? Bagaimana dengan Yoora? Apa kau sudah gila? Kapan ada hubungan seperti itu diantara kita?" Tanya Jina yang merasa tak terima dengan ungkapan Kyuhyun. Pria itu menggeram saat mendengarnya.
"Kau pikir aku mau mengatakan hal bodoh itu? Lihatlah ini." Kyuhyun langsung menunjukkan surat yang berada disaku jas nya. Dengan teliti Jina membaca surat itu lalu tubuhnya seakan melemas.
"Sekarang kau sudah paham?" Tanya Kyuhyun dengan menyunggingkan senyumnya dan sedikit geram.
"Ba-bagaimana bisa?" Tanya Jina tak percaya. Tangan gadis itu seperti tak bertulang. Surat itu bahkan jatuh dari genggamannya. Dengan cepat Kyuhyun mengambilnya kembali.
"Lihatlah. Bukan aku yang merencanakan ini semua! Ini semua karena surat bodoh itu!" Jina berusaha mencerna setiap tulisan yang ada disana. Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa disana tertulis jika dia harus menikah dengan Cho Kyuhyun?
"Lihatlah. Betapa baiknya kedua orangtuaku kepadamu. Bahkan sebelum ajal menjemput, mereka tetap memperhatikanmu dan menyayangimu." Ujar Kyuhyun tersenyum miris.
Disana tertulis dengan jelas. Jika Jina harus menikah dengan Cho Kyuhyun. Putra mereka satu-satu nya dan kepemilikan harta akan dibagi secara adil untuk mereka berdua.
"Tidak. Aku tak bisa melakukannya." Lirih Jina dan menggelengkan kepalanya. Ia masih tak percaya dengan ini semua.
"Jika ini benar, harta yang mereka berikan kepadaku untukmu saja oppa. Sungguh aku tak bisa menikah dengan kakakku sendiri." Gadis itu terus saja menolak pernyataan itu. Tanpa sadar Kyuhyun *** kasar kertas wasiat itu.
"Dengar! Jika kau menolak permintaan ini maka sebagian harta sebesar tiga puluh persen akan menjadi milikmu. Tidak. Kau harus menikah denganku. Dengan begitu harta keluarga kami tak akan jatuh ketanganmu." Jina membulatkan matanya. Apa yang pria itu bicarakan?
"Cih. Jadi kau tak mengerti? Disini tertulis jika kau menolak menikah denganku kau masih tetap mendapat bagian dari harta keluarga kami tapi jika kau menikah denganku maka harta sebesar lima puluh persen akan menjadi milikmu juga yang nantinya akan dikelola oleh suamimu. Intinya kau harus menerima pernikahan ini dengan begitu aku bisa tetap melindungi harta keluargaku dari orang sepertimu. Jika kau menolak maka sampai kapapun aku tak akan pernah sudi jika orang sepertimu membawa kabur harta keluargaku meski itu hanya satu persen. Kau mengerti?" Jina mengertakkan giginya saat mendengar penuturan Kyuhyun. Jadi ini maksudnya? Saat dengan gamblangnya Kyuhyun mengatakan pada semua orang jika Kyuhyun akan menikah dengannya. Semua ini hanya karena harta?
Jina tersenyum miris. Pria itu tak pernah berubah. Selalu saja terasa menikam jantungnya meski tak kasat mata. Jina terus berusaha menahan tangis dan kekesalan yang sudah memuncak didadanya. Rasanya sakit. Sakit sekali.
"Jadi kau takut jika harta keluargamu jatuh ketanganku?" Geram Jina. Kyuhyun terus memperhatikan mata Jina yang begitu tajam saat menatapnya.
"Kau tenang saja. Aku bahkan tak berniat membawa sepersenpun harta darimu." Ujar Jina dan hendak meninggalkan pria itu begitu saja, untuk segera mengakhiri perbincangan konyol ini tapi tangan nan kokoh itu lagi-lagi menahannya.
"Kau bodoh? Bukankah sudah kubilang? Jika kau menolak pernikahan ini maka kau akan tetap menerima harta itu jadi, kau tak punya pilihan. Kau harus menikah denganku." Geram Kyuhyun. Jina sedikit meringis saat genggaman pria itu bertambah kuat. Pasti tangannya akan memerah.
Dengan cepat Jina melepaskan cengkraman Kyuhyun dan dengan lantang menatap mata kelam milik pria itu dan sedikit menaikkan dagunya.
"Akh. Aku tak habis pikir. Kenapa aku selalu berakhir seperti ini? Aku bahkan tak tau jika orangtuamu mewariskan hal semacam ini." Jina kemudian tertawa dengan miris.
"..."
"Baiklah, aku akan menerima pernikahan ini dan kau bisa menikmati hartamu itu lalu setelahnya kau bisa menceraikanku. Jadi, dengan begitu kau bisa menikmati hartamu itu oppa." Ujar Jina dengan sedikit menyunggingkan senyumnya. Pikiran dan hatinya bercampur aduk. Entahlah. Ia sungguh kesal sekarang dengan ucapan Kyuhyun.
"Kau bodoh? Jika kau bercerai denganku maka harta itu kembali menjadi milikmu. Tidak. Tak ada kata perceraian setelah pernikahan ini terjadi. Kau harus membayar semuanya selama sisa hidupmu. Ingat itu." Ujar pria itu dingin dan setelahnya ia berjalan melewati tubuh yang tengah kaku, saat mendengar perkataan yang ia lontarkan.
Brak...
Kyuhyunpun menutup pintu kamar itu dengan kencang. Seolah pria itu tengah marah begitu dalam.
Jina jatuh terduduk tepat saat pintu itu ditutup.
Tubuhnya perlahan melemas dan tangisannya pun mengeras.
Kenapa? Kenapa selalu seperti ini? Sampai kapan ia sanggup bertahan dengan situasi seperti ini?
"Eomma, bisakah aku terus bertahan disisi oppa hingga pria itu memaafkanku?" Lirih Jina dan terisak. Ia lalu menyembunyikan wajah sembabnya dengan kedua telapak tangannya.
-------------