It'S Hurt

It'S Hurt
Akar Masalah



...Belajarlah untuk tetap selalu menerima apapun yang terjadi atau yang sedang terjadi dalam hidup ini, dengan begitu kita dapat selalu bersyukur...


...W...


"Wendi"


Mendengar itu Andre terkejut dan sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan cewek itu


"Lo gak usah ngarang. Gue tau lo gak suka sama Wendi tapi cara lo jangan kayak gini"


"Lo gak percaya sama gue?"


"Wendi gak kenal sama Steven, jadi mana mungkin dia yang nyuruh kakaknya Gevan buat datang ke sekolah"


"Gue juga gak tau sejak kapan dia kenal sama Steven, tapi gue liat dengan mata kepala gue sendiri kalau dia langsung ketemu sama Steven yang gue yakin pacar lo nyuruh dia buat datang kesekolah" jelas cewek itu panjang lebar mencoba meyakinkan Andre bahwa apa yang dikatakan cewek itu benar


"Lo percaya sama gue. Wendi yang udah buat rencana lo gagal"


...******...


"Andre, ndre" rintih cewek itu menahan rasa sakit akibat tangannya dipegang kuat. Andre menarik tangan cewek itu paksa tanpa memperdulikan cewwk itu kesakitan atau tidak


"Andre, lepas, sakit ndre" cowok itu tak menghiraukannya, ia tetap menarik cewek itu hingga kini mereka berada ditempat dimana tidak ada orang selain mereka berdua


"Ndre, sakit tau. Kamu kenapa sih!" Bentak cewek itu tak suka dengan kelakuan Andre yang kasar terhadap dirinya


"Kamu gak tau kesalahan kamu?"


"Kesalahan apa? Aku gak ngelakuin apa apa ndre" Andre tersenyum miris mendengar perkataan cewek itu. Bisa bisanya dirinya tak merasa bersalah dengan apa yang sudah cewek itu lakukan


"Kamu yakin gak ngelakuin apapun?" Wendi menganggukkan kepala ragu ragu ketika cowok itu kembali menanyakan hal yang sama


"Aku kasih waktu buat kamu jujur sama aku sekarang sebelum aku yang bongkar kebohongan kamu" kini jantung cewek itu berdetak kencang, ia menelan air liurnya susah payah tak tahu harus bagaimana. Apakah cowok itu tau jika dirinyalah yang menyebabkan Gevan tidak dikeluarkan dari sekolah? Pikirannya kini dipenuhi rasa takut sekarang


"Kamu gak mau jujur?" Tanya cowok itu sambil menahan emosinya melihat Wendi yang masih diam disana


"A, aku gak ngerti maksud kamu apa" ucap Wendi dengan takut takut


"Kamu masih mau pura pura gak ngerti?" Andre kini menarik nafas kasar dan membasahi bibirnya yang kering


"Gevan gak dikeluarkan dari sekolah. Kamu tau kenapa?" Wendi yang mendengar itu membulatkan matanya akibat terkejut ketika kekasihnya itu tiba tiba membahas kesana


"Jawab aku wen"ucap cowok itu masih menahan emosinya


"A, aku. Aku gak tau"


"Apa? Kamu gak tau?" Wendi sekarang benar benar ketakutan, ia bahkan tak berani menatap cowok itu


"Aku tanya sekali lagi, kenapa Gevan GAK DIKELUARKAN DARI SEKOLAH!" Wendi memejamkan matanya terkejut mendengar suara lantang dari mulut cowok itu


"Kamu bilang gak tau?" Andre tertawa disana, ia tak habis pikir dengan cewek itu. Ia bahkan tetap tidak mau jujur kepadanya


"Kamu tau siapa dalang dibalik semua ini?" Wendi diam dan hanya menundukkan kepala disana


"KAMU"


"Kamu yang udah hancurin rencana aku. Kamu tahu, aku bahkan rela masuk rumah sakit supaya Gevan dikeluarkan dari sekolah tapi apa?, kamu nyelamatin dia, orang yang udah buat pacar kamu masuk rumah sakit"


"Ma, maaf ndre"


"KAMU MERUSAK SEMUANYA WEN!" Ucap Andre sambil mendorong cewek itu hingga punggungnya menabrak dinding


"Kamu kenapa belain dia terus? Kamu takut kehilangan dia? Kamu kasihan sama dia?"


"Ndre, aku.."


"Aku hampir mati TAPI KAMU MASIH BELAIN DIA. KENAPA?!!" Andre kemudian melapas cekalannya dari cewek itu dan menatapnya tajam sementara itu Wendi kini tak kuasa menahan tangis disana


"AARGHHH" Teriak cowok itu sambil meninju dinding tepat disamping cewek itu


"Kamu ada hubungan apa sama Gevan?" Kamu sedekat itu sama dia makanya kamu bisa kenal sama Steven? "


"Kamu. Argh, SIAL!" Andre mengepal tangannya kuat, jika orang didepannya ini bukan kekasihnya, cowok itu pasti sudah menghajarnya habis habisan


"Kamu sebenarnya pacarnya Gevan atau pacarnya aku? Kenapa kamu lebih peduli sama dia dibanding aku?"


"Aku cuman gak mau kamu ngelakuin hal jahat ksyak gitu ndre"


"KENAPA!!" Wendi lebih memilih untuk diam, karena jika dirinya menjawab maka amarah cowok itu akan semakin bertambah


"Sekarang terserah kamu. Kamu anggap aku siapa terserah kamu, kamu mau hubungan ini berlanjut terserah kamu. Aku capek dengan hubungan seperti ini, aku capek berhadapan dengan orang yang gak pernah mau jujur sama aku. Kalau dari awal kamu gak sayang sama aku, harusnya kamu gak perlu nerima aku wen" terlihat jelas rasa kecewa yang teramat dalam dari wajah cowok itu, sebenarnya ia sangat mencintai cewek didepannya ini tapi entah kenapa Wendi tidak pernah mau jujur teehadap dirinya


"Ndre, kamu jangan ngomong seperti itu. Aku juga sayang sama kamu. Aku minta maaf ndre"


"Apa buktinya kamu sayang sama aku wen?, kamu bahkan gak pernah mau jujur sama aku"


"Tapi ndre-.."


"Stop wen, aku capek. Sekarang semua terserah sama kamu. Aku kecewa sama kamu yang gak pernah mau jujur sama aku" Andre kemudian berbalik badan dan melangkah pergi dari sana. Pikirannya campur aduk, ia bahkan tak berani mengatakan putus kepada cewek itu karna memang ia sendiri belum siap jika harus kehilangan Wendi sekarang, yang dia mau sekarang hanyalah menenangkan pikirannya


Wendi kini merasa bersalah terhadap cowok itu dan kembali lagi dan lagi, ia membuat Andre marah dan kecewa. Ini memang kesalahan dirinya, seharusnya dari awal ia tak perlu ikut campur dengan masalah ini namun apa daya, semua sudah terlanjur terjadi sekarang


Andre berjalan menuju kantin tempat dimana Rizal dan Rendi berada namun kedua sahabatnya itu terkejut melihat wajah Andre yang berantakan dan bahkan sikapnya berbeda tidak seperti biasanya


"Woi ndre, lo kenapa?"


"Ada masalah?" Tanya kedua sahabatnya itu namun Andre hanya duduk diam disana dan tak berniat untuk menceritakannya


"Lo berantam sama Wendi lagi?"


"Lo berdua diam dulu, gue capek" Rendi serta Rizal saling menatap satu dengan yang lain, mereka sebenarnya tau apa penyebab Andre tiba tiba berubah sikap seperti sekarang ini dan membiarkan cowok itu untuk menenangkan pikirannya


Sementara disisi lain, Wendi masih berada ditempat dimana ia berantam dengan Andre. Ia duduk dikursi kayu sendirian, menghapus setiap air mata yang keluar. Ya, seharusnya dari awal ia tak harus ikut campur dengan masalah ini namun apa daya, semuanya sudah terlanjur terjadi


Wendi menoleh kesamling ketika seseorang menyodorkan sebotol minuman padanya, dengan cepat cewek itu menghapus air matanya ketika melihat Gevan berada disana


"Lo butuh cairan biar pikiran lo tenang"  Gevan kemudian duduk disamping cewek itu


"Andre udah tau semua?" Wendi kemudian menganggukkan kepalanya disana


"Lo berantam sama Andre?"


"Hm" Gevan menatap prihatin dengan cewek disampingnya


"Dari awal gue udah bilang sama lo supaya gak ikut campur dengan masalah ini, tapi lo malah bertindak sendiri"


"Lo mau nyalahin gue terus?" Ucap Wendi sedikit menaikkan nada bicaranya


"Kalau gue tau ujungnya kayak gini, gue juga gak bakalan ngelakuin itu"


"Makanya lo jangan egois wen, jangan sok tahu segalanya" Wendi hanya diam, keadaan hatinya sedang tidak baik untuk berdebat dengan cowok itu


"Jadi, lo putus sama Andre?"


"Itu artinya Andre benar benar sayang sama lo"


"Gue gak tau" jawab Wendi asal


"Jadi, lo mau apa sekarang?"


"Gue mau coba bujuk Andre buat maafin gue" Gevan menaikkan satu alisnya mendengar perkataan cewek itu


"Caranya?"


"Dengan semua cara yang gue bisa"


...******...


"Gimana?, lo udah putusin Wendi?" Ucap Jinny penuh semangat. Kini ia bersama dengan Andre berada disebuah kafe yang tak jauh dari rumah kediaman Jinny


"Gue belum bisa ngelakuin itu"


"Kenapa?"


"Itu bukan hal yang gampang buat gue jin" Jinny langsung membuang mukanya malas mendengar perkataan yang keluar dari mulut cowok itu


"Dia yang buat rencana lo gagal ndre. Rencana yang udah lama lo buat"


"Gue tau, tapi gue gak bisa jin"


"Lo sesayang itu sama dia?" Andre diam, tak mau menjawab pertanyaan cewek itu


"Ck, gue udah lama berteman sama lo, dan setiap lo punya pacar, gue pasti dukung lo tapi kali ini gue benar benar gak suka liat lo pacaran sama Wendi" Cowok itu masih diam, mencoba menyimak setiap perkataan sahabatnya itu


"Gue paling benci dengan sikapnya yang cemburu berlebihan"


"Gue juga sama kayak lo"


"Yaudah ndre, lo tinggalin aja"


"Gak segampang itu jin. Gue sayang sama dia" Jinny diam dan menatap cowok itu dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti


"Lo gk perlu nyuruh gue buat putusin dia karna gue gak bisa jin. Gue sayang sama Wendi dan lo tau itu"


"Jadi, sampai kap..-"


"Gue sebenarnya kecewa, marah, kesal tapi dengan cara lo nyuruh gue putusin dia itu gak gampang jin. Please, ini hubungan gue sama Wendi dan lo gak ada hak buat ikut campur dalam hubungan gue" Jinny sebenarnya tersinggung dengan kata kata cowok itu, ia tak suka dengan sikap Andre yang tergila gila dengan Wendi


"Terserah lo"


"Lo marah?"


"Gak"


"Bohong"


"Gak" Andre menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia kini merasa serba salah dengan setiap apa yang ia lakukan. Cowok itu kemudian meneguk minuman pesanannya tanpa mau berdebat dengan cewek itu lagi


...******...


Wilson melempar kertas tepat dihadapan Gevan membuat dirinya dan juga Steven yang juga berada disana terkejut. Gevan kemudian mengalihkan pandangannya kepada kertas itu sebentar lalu kemudian kembali fokus kayar ponselnya


"Ternyata kamu kemarin dapat surat panggilan. Kenapa kamu gak bilang sama Papa?" Gevan sepertinya tak mengubris kehadiran Wilson disana, dirinya tetap fokus dengan game yang ada diponselnya


"Andre bahkan masuk rumah sakit gara gara kamu. Kamu merasa hebat dengan kelakuan kamu? Kamu bangga? " masih sama, tetap ada ada jawaban dari mulut lawan bicaranya itu


"Kamu mau jadi pembunuh? JAWAB PAPA GEVAN!"


"Udah Pa" Stevwn yang sedari tadi diam kini angkat suara


"Gevan memang dapat surat panggilan tapi itu bukan sepenuhnya kesalahan dia Pa lagian juga masalahnya udah selesai"


"Kamu belain dia yang jelas jelas sudah salah?" Amarah Wilson semakin bertambah ketika melihat Gevan putranya itu tetap sibuk dengan ponselnya


"Liat kelakuan adik kamu ini, dia bahkan tidak menghargai orangtuanya sendiri. DASAR ANAK BAJINGAN!"


"Pa"


"Anak bajingan?" Gevan mematikan layar ponselnya, meletakkannya diatas sova lalu kemudian bangkit berdiri menatap Wilson ayahnya itu


"Papa gak salah ngomong?"


"Kenapa?, kamu gak terima? Kamu anak yang selalu membuat masalah, anak yang tidak pernah menghargai Papa kamu sendiri"


"Papa, mau Gevan hargai?" Tanya Gevan lalu kemudian ia tertawa kecil disana


"Buat apa Gevan menghargai orang yang sama bajingannya sama aku"


PLAK..!!


Steven membulatkan matanya terkejut ketika satu tamparan keras meluncur dipipi cowok itu, Wilson sudah geram dan muak dengan putranya yang semakin hari semakin tidak memiliki etika itu


"Jaga omongan kamu!"


"Kenapa? Omongan aku salah?"


"Van, udah"


"Papa harusnya gak perlu marah kalau aku buat masalah, merokok, mabuk atau bahkan lebih dari itu, karna aku hidup seperti ini itu karna Papa"


"Papa gak pernah nyuruh kamu seperti ini"


"Apa?" Gevan kembali tertawa kecil dan tiba tiba kembali menatap tajam Wilson


"Papa memang gak nyuruh aku, tapi salah kalau aku ngelakuin hal yang sama seperti yang Papa lakuin?"


"GEVAN!"


"Papa seharusnya gak perlu marah kalau aku kena masalah, karna Papa juga sama kayak aku" Mata Wilson memerah, tangannya ia kepal mencoba tetap menahan emosinya agar tak menyakiti putranya itu


"PAPA GAK USAH PEDULI DENGAN HIDULI DENGAN HIDUPNYA GEVAN, GEVAN GAK BUTUH PERHATIAN DARI PAPA. PAPA HANYA SIBUK DENGAN KESENANGAN PAPA SENDIRI, SEJAK KAPAN PAPA PEDULI SAMA KELUARGA, SEJAK KAPAN!!" Gevan memcoba mengatur nafasnya, dadanya naik turun namun ia masih tetap menatap tajam Wilson


"Gevan gak butuh Papa lagi" setelah berkata itu, Gevan langsung pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sekarang tinggallah Steven beserta Wilson ayahnya disana


"Kamu mau hina Papa juga?"


"Papa mau liat Gevan seperti itu terus?"


"Kamu urus adik kamu itu"


"Aku pindah jauh jauh dari luar negri itu karna Papa. Papa janji akan perbaiki semuanya tapi nyatanya, Papa gak berubah"


"Kamu sama Gevan gak ada bedanya. Sekarang, semua terserah kamu. Papa capek ngurusin anak yang gak tau sopan santun seperti kalian" Wilson pun akhirnya pergi meninggalkan Steven sendirian disana


Pikiran cowok itu kacau bercampur aduk, ia merasa bahwa dirinya berada di tengah tengah antara Wilson serta adiknya Gevan. Ia tidak tahu ingin berada dipihak siapa karna memang keduanya memiliki kesalahan masing masing. Namun satu hal yang membuat Steven kecewa adalah ketika Wilson ayahnya tidak menepati janjinya untuk berubah dan memperbaiki semuanya. Itulah hal yang membuat Steven benar benar kecewa