It'S Hurt

It'S Hurt
Karena...




.


.


.


Jina tak pernah tau jika bekerja seperti ini begitu melelahkan.


'Pundakku terasa pegal.'


"Kau sudah selesai?" Jina menonggak kepalanya lalu menatap wajah itu dengan horor.


"Ak-aku.. Iy-iya." Bagaimana ia tak tergagap. Pria itu tiba-tiba saja muncul, entah darimana.


"Kalau begitu rapihkan pekerjaanmu dan jangan lupa dengan dokumen yang harus kau siapkan besok." Jina menganggukkan kepalanya.


"Pulanglah, ini sudah malam." Ucap suara itu lagi lalu kembali melangkah pergi.


Jina berdiri tapi kakinya enggan untuk melangkah. Ia ingin bertanya sesuatu kepada pria itu.


"Op-oppa." Kyuhyun mengeryitkan alisnya dan berbalik kearah Jina. Melihat raut wajah Jina yang terlihat bimbang?


"Apa?" Tanya Kyhuyun seadanya.


"Ka-kau ba-bagaimana denganmu?" Kyuhyun mengerutkan alisnya. Apa maksudnya?


"Ma-maksudku, kau pulang jugakan?" Ujar Jina akhirnya lalu menatap mata kelam milik pria itu.


"Tentu saja tapi aku harus menemui seseorang dulu." Baru saja Jina ingin bertanya sampai sebuah sahutan dari arah luar pintu tertangkap pendengarannya.


"Kyuhyun." Ujarnya. Sambil memasang senyum cantiknya. Melihat kedatangan gadis itu membuat Jina menghembuskan nafasnya.


'Benar, kenapa aku harus khawatir jika ia tak akan pulang malam ini? Tentu saja jika ia tak pulang pasti ia bertemu dengan Yoora. Akh. Bodoh. Kau bodohh Jina. Bahkan saat itu kau mendukung hubungannya dengan Yoora lalu sekarang?'


"Hai Jina." Sapa Yoora sambil melambaikan tangannya.


"Hai." Balas Jina.


"Kau ingin pulang?"


"Iya."


"Oh, kalau begitu biar Kyuhyun mengantarmu saja dulu, aku akan menunggu Kyuhyun disini." Saran Yoora.


"Kau gila? Untuk apa kau menunggu dikantor? Dia bisa pulang dengan taxi." Ujar Kyuhyun yang selalu dingin.


'Hei! Lagipula memang aku minta diantar?' Geram Jina dalam hati. Ucapan pria itu begitu menyebalkan.


"Aku pulang sendiri saja." Ujar Jina lemah.


Yoora sedikit tak rela melihat kepergian Jina. Ia rasa seharusnya Kyuhyun mengantar adiknya dulu dan menelponnya nanti saat Jina sudah pulang dengan selamat.


"Ayo, kita pergi sekarang." Ujar Kyuhyun seperti membuyarkan lamunan Yoora. Yoora tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Kyuhyun. Merekapun pergi melesat meninggalkan kantor itu dan melaju ke sebuah restorant untuk makan.


••⏳⏳••


Restaurant ini begitu indah, pemandangan yang terlihat adalah hamparan pasir putih yang membentang disepanjang pantai.


Ombak-ombak terdengar begitu merdu dipendengaran. Suaranya seakan menambah keromantisan tempat ini.


Mereka makan dengan lahap. Gadis itu terus saja tersenyum tanpa henti sambil memerhatikan wajah tak berekpresi itu. Bagaimanapun dan dari sisi manapun jika dilihat Kyuhyun memang terlihat tampan.


"Kau terlihat lelah Kyu?" Tanya Yoora memulai percakapan.


"Hmm, sepertinya begitu." Ujar Kyuhyun dengan masih menguyah makanan seafood yang dipesannya tadi.


"Bagaimana hubunganmu dengan adikmu?" Tanya Yoora yang masih penasaran dengan sikap Kyuhyun karena pria itu tak pernah menunjukkan rasa peduli terhadap Jina. Itu yang ia tau.


"Bisakah kau tak menanyakan hal itu?" Tanya Kyuhyun yang terdengar tak suka. Baiklah. Untuk sesaat Yoora terdiam. Ia sedikit menggigit bibirnya. Sepertinya ia tak bisa menanyakan hal itu lebih jauh.


Drrt... Drrt...


Ponsel itu terus saja berdering. Kyuhyun menghentikan makannya lalu mengambil benda persegi panjang itu disaku jaket coklatnya.


"Ada apa?"


"Tu-tuan, no-nona.."


"...."


"No-nona, di-dia...."


"Bisakah kau bicara yang jelas?" Dengus Kyuhyun jengah.


"Tuan, dirumah tiba-tiba mati lampu. Kami tak bisa menemukan keberadaan nona. Ia tak menjawab sahutan kami." Jelas pelayan itu. Itu suara Hani. Yah. Dia sangat cemas saat tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu.


"Apa?!" Kyuhyun kaget mendengarnya. Suara pria itu terdengar sampai penjuru restaurant. Para pengunjung langsung menatap pria itu dengan heran.


"Bodoh." Desis Kyuhyun. Ia mengepalkan tangannya.


"Kau, tetap cari keberadaannya. Aku akan segera pulang sekarang." Ujar Kyuhyun yang masih geram.


"I-iya tuan." Jawab Hani cepat dan sambungan telponpun terputus.


"Ada apa?" Tanya Yoora begitu penasaran saat melihat perubahan Kyuhyun yang terlihat cemas?


"Kau pulanglah, aku ada urusan hari ini." Ujar Kyuhyun dan dengan cepat menyambar kunci mobil yang ia taruh dimeja tadi.


Kyuhyun berlari cepat menuju keparkiran mobil. Mobil silver mewah itu sudah terlihat dipenglihatannya dengan cepat Kyuhyun menaikinya.


"Kau?" Ucap Kyuhyun saat ternyata Yoora mengikutinya untuk masuk kemobil ini.


"Kau kenapa? Aku tak bisa pulang jika seperti ini. Aku akan ikut meski kau menyuruhku pulang." Ucap Yoora yang terdengar mutlak. Malas berdebat akhirnya Kyuhyun membolehkan gadis itu ikut dengannya


"Shit!" Umpat Kyuhyun saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Pria itu terlihat sangat cemas.


Yoora masih bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya apa yang membuat Kyuhyun terlihat cemas begini?


••⏳⏳••


"Cherry." Ujar Kyuhyun sambil mencari sosok itu dipenjuru rumahnya yang bisa dibilang sangat luas ini.


Meski begitu ia sangat tau dimana keberadaan gadis itu. Yah. Ia sangat tau.


"Cherry." Panggil Kyuhyun lagi sambil mengarahkan senter ponselnya untuk dapat melihat dengan jelas keberadaan Jina.


Kyuhyun menghela nafasnya saat sosok Jina sudah terlihat. Yoora masih setia mengikuti pria itu dibelakang. Yoora masih bingung dengan hal yang terjadi sekarang ini. Ada apa sebenarnya?


"Kemarilah." Panggil Kyuhyun yang terdengar lembut. Gadis itu masih saja tak mendengarnya. Dia terlihat masih ketakutan.


"Cherry." Ujar Kyuhyun lalu dengan cepat ia merengkuh tubuh ringkih itu kedalam pelukannya.


Jina melihat wajah yang kini tengah memeluknya. Sorot mata Jina terlihat kosong. Ia tak tau pasti siapa yang kini tengah memeluknya.


Kyuhyun mempererat pelukannya. Yoora membelakkan matanya saat melihat ini semua. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Perlakuan Kyuhyun sungguh berbeda!


"Cherry." Ujar Kyuhyun lalu memegang dagu Jina agar gadis itu melihat kearahnya. Untuk beberapa menit Jina melihat sorot mata itu lalu sedetik kemudian semuanya menjadi gelap.


"Yoora, sebaiknya kau pulang. Aku tak bisa mengantarmu untuk saat ini." Ujar Kyuhyun. Yoora yang menyadari hal itu langsung menganggukkan kepalanya. Perasaan macam ini?.Kenapa hatinya tak suka saat Kyuhyun memeluk Jina?


Setelah kepergian Yoora, Kyuhyun kembali memeluk tubuh ringkih itu. Membawanya kedalam pelukan hangatnya, mengecup pipinya perlahan dan membisikkan sesuatu.


"Bodoh. Bagaimana jika tak ada aku? Apa kau tetap akan seperti ini?"


Dengan perlahan Kyuhyun membawa tubuh Jina kearah ranjang dan meletakannya.


Kyuhyun menatap wajah gadis itu lekat. Trauma Jina muncul kembali.


'Jika seperti ini, bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi? Kau gadis bodoh yang pernah kukenal. Hanya aku yang kau butuhkan didunia ini. Kau tak bisa pergi dariku. Kemanapun kau pergi dan bersembunyi aku pasti akan menemukanmu.'


Raut wajah Kyuhyun yang biasanya tak berekspresi menunjukkan raut kecemasan dan terlihat lembut. Ia sangat cemas dengan Jina yang terlihat seperti ini. Pelan ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Jina dan membuat luka diwajah Jina terlihat.


'Aku senang jika kau mempunyai luka ini dengan begitu kau selalu merasa harus menundukkan kepalamu dari dunia luar. Aku tak mengerti dengan semua ini. Aku begitu membencimu. Aku ingin melihatmu hancur dan perlahan-lahan mati. Bahkan terpintas dibenakku untuk membunuhmu. Untuk sekarang dan selanjutnya mari kita lihat siapa yang akan bertahan sampai akhir. Aku atau kau. Dan kita lihat sampai mana semua ini akan berakhir.'


TBC