It'S Hurt

It'S Hurt
Kehilanganmu (2)




.


.


.


Tok... Tok... Tok...


Sehun yang sedikit terlelap karena baru bisa tidur beberapa jam langsung membuka matanya. Membuatnya merasa waspada dengan siapa orang gila yang tengah mengetuk pintunya pukul tiga pagi?


"Siapa?!" Tanya Sehun dengan suara tinggi. Ia memegang sapu yang terletak dipinggir pintu utama rumahnya. Ia melihat tirai rumahnya lalu menyingkapnya sedikit. Memastikan jika yang sedang mengetuk rumahnya saat ini adalah orang dan bukanlah hantu.


Membayangkan hal itu, entah kenapa membuat bulu kuduknya merinding. Wanita? Sehun mengeryitkan alisnya saat melihat seorang wanita tengah berdiri didepan rumahnya. Tak terlalu jelas.


Dengan perlahan ia membuka pintu rumahnya dengan perlahan dan tetap bersiaga dengan sapu yang telah ia genggam dengan sangat erat sejak tadi.


"Si-siapa?" Nada suara Sehun sedikit bergetar. Menyeramkan! Kenapa juga wanita itu menundukkan kepalanya?


"Se-sehun. Ijinkan aku menginap. Aku tersesat saat mencoba melewati jalanan itu." Wanita itu menonggakkan kepalanya. Sehun sudah bersiaga dengan sapunya jika saja wanita itu semacam jelmaan atau apapun itu. Jika dia bukan manusia saat ia memukulnya nanti pasti akan tembuskan?


"Yoora?!" Sehun langsung menjatuhkan sapunya saat melihat wajah gadis itu dengan jelas. Ia kenal Yoora, gadis itu adalah mantan tunangan Kyuhyun. Ia sudah beberapa kali melihat Yoora dengan Kyuhyun tentunya.


"Dingin. Bolehkan aku masuk?" Yoora langsung masuk begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Sehun. Aneh. Gadis itu sangat aneh.


"Hei, kenapa kau menerobos kedalam rumahku?" Tegur Sehun membuat langkah Yoora terhenti.


"Jadi, aku tak boleh menginap sebentar disini? Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Terima kasih karena telah membukakan pintu untukku tadi." Yoora memutar langkahnya bermaksud keluar dari rumah Sehun. Refleks Sehun mencegah kepergian Yoora. Ayolah, kenapa Yoora membuat dirinya terlihat jahat?


"Ok. Ok. Kau boleh menginap disini sampai pagi. Lagipula besok aku juga akan pergi." Sehun menghela nafasnya kasar. Yoora tersenyum tanpa Sehun ketahui lalu berbalik arah dan langsung duduk disofa.


"Sepertinya kau bersama seseorang dan disini hanya ada dua kamar. Jadi, aku akan tidur disofa ini saja." Ujar Yoora bersemangat. Sehun mengeryitkan alisnya. Kenapa gadis itu menebak dengan benar? Apa ini semua hanya kebetulan semata?


"Tidak. Kau tidurlah dikamar disebelah kiri. Aku saja yang tidur disini." Sehun mencegah Yoora lagi. Gadis ini, sebenarnya apa yang dia inginkan? Terlalu mencurigakan bagi Sehun. Yoora bersikap seakan kenal dengannya.


"Cepatlah tidur atau aku akan menanyai semua pertanyaan kepadamu tentang kedatanganmu yang mencurigakan." Yoora mengangkat bahunya sekilas dan langsung bergegas pergi. Ia juga malas memberitau Sehun perihal kedatangannya kesini karena ia rasa Sehun tak perlu berurusan dengannya.


Sehun berdecak saat tak melihat Yoora lagi. Ia mulai membaringkan tubuhnya disofa dan mulai memejamkan matanya dengan erat. Mencoba melupakan kedatangan Yoora yang tiba-tiba. Biarlah gadis itu disini. Jangan memikirkan apapun saat ini, yang terpenting adalah Jina. Ia harus memikirkan Jina dan dirinya saat pagi menjelang nanti.


••⏳⏳••


Sehun mengeryitkan aslinya. Rasanya terasa panas. Kenapa hawa yang sejuk berubah menjadi panas begini? Ia terbatuk beberapa kali saat menyadari sudah banyaknya asap didalam rumah?!


"Se-sehun... Uhukk.. To-tolong..." Yoora berusaha berjalan kearah Sehun dengan dahi berdarah. Seperti habis terkena sesuatu.


"Yoora! Cepatlah keluar dari sini!" Sehun berteriak dan terbatuk bersamaan. Tidak. Ini sungguh berbahaya jika mereka terus berada didalam sini. Sehun menyadari sesuatu yang sangat penting sekarang.


"Tidak! Jina! Aku harus menyelamatkannya!" Sehun bergegas menuju kekamar dimana Jina berada. Ia berteriak dan memberontak disaat Yoora mencegahnya.


"Sehun! Kau gila? Rumah ini sebentar lagi akan hangus. Kau pergilah dari sini secepatnya." Ujar Yoora memperingati.


"Kau saja yang keluar! Jangan sok menceramahiku! Kau pasti dalang dibalik kebakaran ini. Sialan!" Yoora terdorong akibat sentakan tangan Sehun yang begitu kasar.


"Baguslah! Kau sadar! Kau memang pintar sekaligus bodoh. Semoga kau hidup bahagia dengan Jina. Bawalah Jina dan cintamu itu keneraka!" Ujar Yoora menyeringai lalu setelahnya ia berlari dengan dibantu beberapa orang suruhan yang membuat rumah ini terbakar.


"Nona, lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" Tanya salah seorang pengawal kepada Yoora.


"Salah satu dari kalian berjagalah disini dan beritau aku bagaimana cerita menyenangkan ini berakhir." Para pengawal menundukkan kepalanya. Salah satu mereka maju kedepan.


"Kalau begitu biar saya yang berjaga disini." Pengawal yang baru saja bekerja dengannya selama sebulan itu mengajukjan diri. Yoora melambaikan tangannya tanda tak peduli siapapun itu yang tengah mengajukan diri yang terpenting mereka menjalankan tugasnya dengannya baik. Itu saja yang ia perlukan saat ini.


"Terserah. Yang penting kau memberikanku kabar bahagia nanti." Pengawal itu menundukkan badannya dan yang lainnya juga sebagai tanda mengerti dengan ucapan nona mudanya tersebut. Dibalik tundukkan kepalanya pengawal itu mengepalkan tangannya begitu erat tanpa seorangpun menyadari hal tersebut.


••⏳⏳••


Dukk! Dukk! Dukk!


"Se-sehun. To-tolong. Uhukk! Aku terkunci di-si-ni. Se-sehun.. To-tolong.." Jina memanggil nama Sehun beberapa kali berharap pria itu mendengarnya. Tidak! Apa yang terjadi? Kenapa saat ia bangun semuanya terasa sesak dan api sudah menjalar dan melahap hampir semua dekor kamar ini? Apa ia akan mati?


Jina menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tak ingin mati menggenaskan seperti ini. Ia belum mengetahui dibalik kematian orangtuanya lalu jika ia mati seperti ini apakah Kyuhyun akan senang?


"Jina! Bertahanlah!" Ujar seseorang dibalik pintu yang telah ia coba buka tersebut.


"Sehun! Uhukk.." Jina memanggil namanya. Matanya mulai membulat saat menyadari api sudah menghanguskan tirai kamarnya dan mulai menuju kearah dirinya.


"Sehun! Apinya mulai membesar. Kau pergilah dari sini!" Ujar Jina memperingati pria itu. Sehun menggeleng. Gila! Yang benar saja Jina membuat dirinya pergi meninggalkan gadis itu?


"Jangan gila! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Sehun memutar badannya dan matanya terus menyurusi sesuatu yang bisa membantunya mendobrak pintu. Bagaimanapun caranya ia harus menyelamatkan Jina. Gadis itu tak bisa mati seperti ini. Jika Jina mati maka ia harus mati juga. Ini semua kesalahannya. Jika saja ia tak mengatakan ide konyolnya dan membawa Jina kemari pasti gadis itu masih baik-baik saja.


Sehun terus mencoba melakukan segala macam cara. Ia berusaha sekuat tenaga membuka pintu kamar dan yang hanya bisa dilakukan Jina berteriak dan membuat Sehun menyerah untuk mengeluarkannya dari sini. Jina hanya ingin Sehun selamat. Ia saat ini tak memikirkan keselamatannya sendiri. Biarlah jika ia mati. Mungkin, ini memang sudah ajalnya tapi jika Sehun mati karena menyelamatkannya. Itu sepenuhnya adalah kesalahannya. Ia tak menginginkan hal itu.


"Se-sehun uhuuukk.. Su-sudahlah.. Uhukk..." Nafas Jina mulai menipis dan pandangannya mulai buram. Pasokan udara didadanya semakin tipis. Rasanya ia tak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Jina!" Teriak Sehun saat sudah berhasil mendobrak pintunya. Tubuh Jina terlihat lemah. Disaat bersamaan Sehun tak menyadari beberapa langit-langit mulai roboh. Menyadari hal itu membuat Jina melangkah cepat dan segera mendorong Sehun dengan keras membuat pria itu kembali keluar pintu.


"Tidak!!!!" Sehun berteriak nyaring saat menyadari tubuh Jina tertimpa balok kayu yang telah hangus. Tubuh Jina penuh dengan darah. Tubuh Sehun tidak kalah parah. Tenaganya menghilang. Ia terlalu banyak menghirup asap. Tangannya menggapai tubuh Jina tapi kepalanya terus berdenyut sakit. Membuatnya tak sanggup lagi untuk membuka kedua matanya dan saat itulah ia menyadari jika ini semua kesalahannya karena tak bisa menyelamatkan nyawa gadis itu.


"Se-sehun.. Uhukk.." Jina terbatuk sambil mengeluarkan darah dari mulutnya. Rasanya ia tak bisa menyingkirkan balok kayu yang cukup besar ini dari tubuhnya. Disaat yang sama ia melihat wajah kedua orangtuanya dengan senyum dan tangisan air mata. Ia mencoba menggapai mereka tapi mereka tetap terdiam sampai rasanya ia mulai merasa lelah dan memutuskan memejamkan kedua matanya.


Setelah api mulai menghanguskan seisi rumah itu, Kyuhyun datang disaat waktu yang tak tepat. Pria itu jatuh terduduk saat menyadari ia datang terlambat.


"Tidakkk!!!! Kim Jina!!!" Ia berteriak nyaring dan menangis pilu saat menyadari apa yang tengah ia saksikan saat ini dan derai air mata menghiasi wajah sembabnya.


.


.


.


...TAMAT...


.


.


.