
.
.
.
*Tak disangka takdir mempertemukan mereka kembali tapi kini semuanya telah berubah. Gadis ceria itu tampak berbeda, dia sudah tak sama seperti dulu karena kehendak Tuhan membawanya dalam kesakitan yang teramat dalam.
Dia harus kehilangan keluarganya. Kini ia hidup sendiri menatapi nasib untuk kedepannya. Ia tak mempunyai keluarga lagi di Seoul dan tentu saja ia tak pernah tau dimana keberadaan mereka. Karena orangtuanya tak pernah membicarakan hal itu kepadanya.
Jina menatap kosong kedepan. Ia baru tersadar setelah dua jam berlalu. Jina sedikit meringis untuk mengingat kembali memori yang menyakitkan itu.
Seandainya, ia tak meminta untuk pergi berlibur pasti mereka masih tetap disini, bersama dengannya.
Jina kembali memeluk dirinya saat ia telah ingat semuanya.
"Eomma...Appa..." Lirih Jina. Memanggil orangtuanya yang sudah tiada. Jina mulai berusaha bangkit dari kasur rumah sakit dan berusaha menemui mereka yang ia yakin masih ada dirumah sakit ini.
Ia berjalan tertatih, menyangga berat tubuhnya dengan tongkat.
Diujung lorong tampak pemuda dengan mengenakan seragam SMA menyipitkan matanya, ia rasa ia mengenal gadis yang baru saja lewat. Wajah gadis itu seperti dejavu baginya.
Kyuhyun bergegas mencari keberadaan gadis itu tapi tak bisa karena suster memanggil dirinya untuk segera masuk keruangan yang harus ia tuju. Mau tak mau Kyuhyun pun mengikuti suster itu meski ia terus mencuri pandang untuk tetap mengetahui keberadaan gadis itu.
••⏳⏳••
"Tidak! Kalian tak bisa membawa mereka seperti ini!" Teriak Jina. Ia menangis saat dengan mudahnya para dokter dan suster memindahkan jasad orangtuanya yang tampak pucat keruang mayat dan menyarankan untuk mengadakan pemakaman segera.
"Eomma...Appa..." Teriak Jina disela isak tangisnya yang sangat lirih dipendengaran, ia memeluk mereka dengan erat. Tidak. Ia tak sanggup untuk menerima ini. Siapapun itu ia mohon, katakanlah jika ini semua hanya mimpi semata.
"Maaf, nona. Kami harus segera memindahkannya dan kami sarankan anda segera mengadakan pemakaman segera." Ujar dokter itu lalu menundukkan kepalanya bermaksud pamit tapi tangan ringkih itu menahan lengan sang dokter.
"Dokter sudah tau siapa yang menabrak mobil kami?" Lirih Jina sambil menatap penuh harap ke dokter itu agar memberikan jawaban yang sangat ia inginkan.
"Maaf nona, kami tak tau siapa pelakunya. Anda bisa menanyakan langsung kepada polisi." Ujar dokter itu dan berusaha pergi secepatnya. Tampaknya dokter itupun tak bisa berlama-lama diruang ini.
Dengan gontai Jina melepaskan genggamannya dan menatap sendu kepergian orangtuanya yang sudah mulai hilang dari pandangannya.
••⏳⏳••
"Eomma! Kau tak apa?" Ujar pemuda itu dengan wajah paniknya. Dengan cepat ia memeluk sang ibu tercinta.
"Aku tak apa Kyuhyun." Ujar eommanya lembut dan mengusap punggung anak satu-satunya itu.
"Lalu, kenapa eomma bisa masuk rumah sakit dan terbaring seperti ini?" Ujarnya dengan raut wajah cemas. Wanita itu menatap wajah Kyuhyun dan tersenyum.
"Aku.. Akh.. Ini semua karena mobil kami sedikit tergelincir dan berakhir dengan menabrak lampu merah." Eommanya itu sedikit tertawa, membuat Kyuhyun menatapnya dengan sebal.
"Lagipula, kenapa tak memakai supir untuk menjemput kalian dibandara?" Omong-omong Kyuhyun jadi lupa keberadaan appanya, ia melihat area sekitar untuk mencari appanya tersebut.
"Oh iya, dimana appa?" Tanyanya penasaran. Bukankah mereka pulang bersama?
"Oh.. I-itu.. Appa.. Akh. Iya! Dia langsung kekantor karena ada urusan mendesak. Kau tenang saja. Dia pasti akan pulang malam ini." Kyuhyun mengeryitkan alisnya.
Kenapa eommanya terlihat gugup?
Apa ada hal yang tak ia ketahui?
••⏳⏳••
Guyuran hujan tampak mendominasi area pemakaman. Tidak banyak yang hadir ke pemakaman ini. Hanya ada rekan kerja orangtuanya saja.
Jina tampak masih bersedih digundukkan makam tersebut.
Lama, ia mengusap makam tersebut. Bajunya sudah sangat basah. Orang-orang yang hadir menatap iba kepada gadis itu karena dia masih begitu kecil untuk ditinggalkan sendirian, tanpa seorangpun yang mendampinginya.
"Jina sayang, mari kita pulang." Suara lembut itu terdengar, membuatnya menolehkan kepala. Wanita yang umurnya jauh lebih tua dari ibunya tersebut adalah keluarganya sekarang. Yah. Sudah dua tahun ini ia tinggal di panti asuhan.
Keadaanlah yang membuatnya harus tinggal disana untuk sementara waktu atau mungkin selamanya?
Sebenarnya banyak orangtua asuh yang mengingkan Jina menjadi anak mereka, tapi untuk kesekian kalinya pula Jina menolak itu semua. Yah. Mungkin ia hanya merasa tak memerlukan kasih sayang lagi dari orang lain yang nantinya akan ia anggap sebagai pengganti orangtuanya. Karena selama ini, kasih sayang yang diberikan oleh ibu panti sudah lebih dari cukup.
Tapi, saat ia ingin merayakan hari ulang tahun ibu panti. Semua kasih sayang yang ia rasa cukup telah hilang bersama dengan hembusan nafas terakhir wanita itu. Meninggalkan dirinya seorang diri lagi.
Sikap Jina semakin pendiam saja, lalu sangat jarang gadis itu menangis. Karena baginya tangisan sekeras apapun tak akan mengubah semuanya seperti semula. Ia hanya tau semua yang ia cintai pergi menghilang satu per satu.
Hari semakin hari ia jalani dengan tatapan kosong. Semuanya terasa semu baginya. Sampai suatu hari hatinya kembali luluh karena rasa sayang dan penuh cinta yang diberikan seorang wanita yang berusia 30-an itu. Sebenarnya sudah berkali-kali ia menolak kebaikan hati ibu itu tapi ia merasa mata hatinya kembali terbuka. Uluran tangan dan usapan lembut dirambutnya yang mulai panjang membuat ia memeluk wanita tersebut dan tanpa sadar ia menggumamkan orang-orang yang sangat ia rindukan selama ini.
"Hikss..hiks... Eomma... Appa..."
Setelah menjadi bagian keluarga ini. Ia bersyukur bisa mempunyai seorang oppa yang tampan seperti Cho Kyuhyun. Meski, sikap oppanya itu selalu dingin. Tapi, Jina selalu mengartikan perilaku kasar Kyuhyun adalah bentuk kasih sayang yang pria itu tunjukkan kepadanya. Buktinya, disaat Jina terjatuh karena tak berhati-hati menuruni tangga ditaman yang menyebabkan lututnya terluka. Pria itu dengan sigap menggendong dan mengobati lukanya.
••⏳⏳••
Satu tahun berlalu dan saat itulah seharusnya ia sadar. Jika, sampai kapapun ia tak akan pernah mendapat kasih sayang dari siapapun. Seharusnya ia dari dulu tak berharap dan menyadari lebih awal jika dia hanyalah pembawa sial bagi orang-orang yang ia kasihi.
Wajahnya kembali murung, saat memikirkan kejadian beberapa saat lalu. Jika saja saat itu ia ikut tewas saat kecelakaan itu terjadi, pasti oppanya tak pernah membencinya sedalam ini. Tapi, ia rasa jauh lebih baik lagi jika hanya dirinya saja yang tewas karena kecelakan itu. Dengan begitu, Kyuhyun pasti masih bisa tersenyum seperti sebelumnya.
"Kau pembawa sial dikeluarga ini! Bagaimana mungkin hanya kau yang selamat?!" Teriak pemuda itu dengan amarah yang memuncak. Gadis itu tersentak kaget lalu yang bisa ia lakukan sekarang hanya menundukkan kepalanya sedalam mungkin. Tak taukah ucapan itu sungguh menohok hatinya? Rasanya ia ingin menangis dengan keras sekarang.
"Aku membencimu! Sangat membencimu sampai kapanpun! Seharusnya kau mati saja!" Setelahnya terdengar bantingan pintu yang ditutup dengan kasar.
Jina terisak keras saat oppanya itu pergi begitu saja. Padahal ia tadi ingin mengadu kepada Kyuhyun jika luka akibat kecelakaan itu membuat sekujur tubuhnya sangat sakit terlebih hatinya. Ia butuh seseorang sebagai sandarannya saat ini. Rasanya ia sungguh tak kuat. Tubuhnya benar-benar sakit.
Tapi yang ia dapat hanya teriakan dari Kyuhyun. Tak ada rasa khawatir atau merasa cemas dengan keadaannya sekarang. Tak bisakah Kyuhyun melihat jika ia juga merasa seperti didalam jurang kematian dengan luka disekujur tubuhnya?
Ia juga tak tau kenapa Tuhan masih berbaik hati membiarkannya hidup. Bukankah seharusnya ia menjadi bintang dilangit bersama orangtua kandung dan angkatnya?
Jina kembali terisak, ia menangkup wajahnya dan merasakan perban itu masih menutupi wajahnya. Ia sangat terpukul dengan kejadian ini. Luka ini adalah luka yang tak pernah ia harapkan*.
••⏳⏳••
'Bagaimana bisa ia mengingat hal mengerikan itu lagi?'
Dengan cepat Jina meminum air putih yang berada dimeja kamarnya. Memori itu kembali menghantuinya.
Ia baru sadar. Entah, sejak kapan ia sudah berada di kasur empuknya. Lama ia terdiam sambil memperhatikan jarum jam yang terus berputar. Ini masih terlalu pagi.
'*Kenapa ia harus memimpikan hal itu lagi?'
'Kenangan yang ingin ia hapus selamanya, kenapa tiba-tiba muncul begitu saja*?'
Dengan resah ia berusaha kembali tidur. Bagaimana pun juga ia harus melupakan kenangan buruk itu. Yah. Ia harus bisa melupakannya.
TBC