
...Berhenti adalah jalan terbaik ketika sudah lelah, pergi adalah jalan terbaik ketika sudah kecewa dan melukapan adalah jalan terbaik ketika sudah tidak berguna lagi...
Andre menghentikan motornya didepan sebuah kafe besar yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Ia kemudian turun dan mulai melangkah masuk kedalam kafe tersebut
"Lo, datang?" Tanya seorang perempuan yang diketahui adalah Yeri
"Kenapa? Lo yang nyuruh gue datang kan?"
"Gue pikir lo gak mau datang"
"Lo pikir gue sejahat itu" ucap Andre sambil tersenyum tipis merasa lucu dengan sikap cewek itu
"Lo gak ada janji sama Wendi malam ini?"
"Enggak"
"Lo, berantam ya sama pacar lo?" Tanya Yeri dengan nada yang sedikit takut takut. Andre yang mendengar pertanyaan itu hanya diam disana
"Ma, maaf kalau gue terlalu jauh kesana"
"Gue lagi gak mau bahas itu yer" ucap Andre dengan tegas
"Maaf"
...*******...
"Mau kemana?" Tanya Steven ketika melihat Gevan adiknya itu berpakaian rapi keluar dari kamarnya
"Keluar bentar"
"Kemana?" Tanya Steven dengan tegas untuk yang kedua kalinya
"Ck, ke rumah Daniel"
"Kenapa gak kerumah Wendi aja?" Ucap Steven sambil matanya sibuk menonton TV yang ada didepannya
"Gak guna" ucap Gevan cetus lalu kemudian pergi dan menutup pintu sedikit kuat hingga membuat Steven terkejut dan menoleh kepintu
"Pelan pelan keong, lo pikir buat pintu itu gampang?" Teriak Steven dari dalam namun sepertinya Gevan tak menghiraukan itu, ia bahkan hanya menganggapnya seperti angin berlalu
Gevan memakai helm, menyalakan motor lalu kemudian pergi membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Malam ini ia merasa suntuk dan ingin pergi keluar sendirian tanpa siapapun, ia hanya ingin sedikit menenangkan pikirannya sekarang
Setelah menempuh perjalan yang lumayan jauh, Gevan kini sampai disebuah kafe besar ditempat dimana ia dan Gisel sering kunjungi ketika sedang berpacaran dulu. Cowok itu memarkirkan motornya kemudian melangkah masuk kedalam kafe. Namun sebelum ia terlalu jauh melangkah, kakinya terhenti ketika melihat dua orang remaja yang sepertinya tak asing baginya
Gevan memicingkan matanya, mencoba memastikan siapa dua orang remaja yang ada disana. Gevan sedikit terkejut ketika melihat Andre tengah bersama seorang perempuan yang bukan Wendi disana, ia menatap perempuan itu intens dan melihat bahwa itu adalah Yeri, perempuan yang pernah mengejar ngejarnya sebelum ia berpacaran dengan Gisel
Gevan kemudian mengambil handphone dari dalam saku celananya mencoba untuk mengambil foto kedua remaja itu, namun ia ragu melakukannya karna takut jika Wendi melihat ini maka cewek itu akan semakin merasakan sakit hati yang lebih. Akhirnya Gevan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku dan berbalik badan kembali keparkiran untuk segera pergi dari tempat itu
...*******...
Andre seperti biasa datang kesekolah sendiri membuat Wendi yang melihat itu merasa kesepian, ia kini hanya diam menatap cowok itu yang mulai berjalan jauh menuju kelasnya sementara itu disana terlihat Rendi yang juga menatap kejadian itu dengan tatapan prihatin melihat Wendi disana
"Lo belum baikan sama Wendi?" Tanya Rendi setelah sampai didalam kelas
"Belum"
"Sampai kapan lo cuekin dia kayak gini terus?"
"Gue juga gak tau"
"Gue bukannya mau ikut campur dengan hubungan lo ndre, tapi gue sebagai temannya Wendi kasihan liat dia lo cuekin tiap hari" Andre masih diam disana
"Lo masih sayang gak sih sama Wendi?"
"Gue gak mungkin bertahan kalau gue gak sayang ren"
"Tapi kenapa? Kenapa lo bisa cuekin dia terus, hubungan lo gak akan baik kalau lo gak bisa maafin dia ndre" Andrw kemudian beralih menatap Rendi yang ada didepannya itu
"Gue lagi gak mau bahas itu ren" ucap Andre dengan nada bicara yang sepertinya lelah, capek dengan semua masalah yang terjadi dalam hidupnya, bukan hanya masalah hubungannya saja namun juga masalah kedua orang tuanya yang selalu bertengkar setiap hari
Wendi bangkit berdiri ketika melihat Andre lewat dari hadapannya
"ANDRE!" Panggil cewek itu namun tak digubris oleh objek yang ia panggil
"Andre" Panggil cewek itu untuk kedua kalinya barulah Andre menghentikan langkah kakinya
"Kita udah lama gak jalan sama sama lagi ndre"
"Aku sibuk" jawab cowok itu dengan cepat
"Kali ini aja ndre" ucap cewek itu seperti nada memohon namun cowok itu diam dan kembali melangkah pergi dari sana
"KAMU MASIH SAYANG SAMA AKU?" teriak cewek itu membuat Andre kembali menghentikan langkah kakinya. Wendi yang tak mau basa basi lagi langsung berjalan dan menghadap cowok itu
"Kamu kenapa sih ndre? Sampai kapan kamu kayak gini? Sampai kapan kamu cuekin aku kayak gini? Aku telfon kamu gak pernah angkat, setiap kali aku ajak kamu keluar kamu selalu bilang sibuk" Andre masih setia diam disana menatap cewek didepannya itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan
"Aku udah ngelakuin apa yang kamu mau ndre tapi kenapa kamu gak bosa maafin aku, aku harus ngelakuin apa suapaya kamu mau maafin aku, apa aku harus berlutut minta maaf sama kamu ndre? JAWAB AKU NDRE? AKU CAPEK KAMU CUEKIN TERUS, AKU GAK TAU HARUS GIMANA NDRE, AKU HARUS NGELAKUIN APA NDRE!?" Ucap Wendi meluapkan segala amarah, sakit hati yang ada didalam dirinya
"Kamu gak perlu ngelakuin apapun lagi sekarang karna semua udah terlambat" Wendi yang mendengar itu terkejut
"Aku udah terlanjur kecewa sama kamu wen" Andre kemudian pergi dari sana
"Kamu masih sayang sama aku?" Pertenyaan itu kembali membuat Andre terdiam disana
"Jawab aku ndre" Andre membasahi bibirnya yang kering lalu berbalik badan kembali menatap cewek yang sebenarnya sangat ia rindukan itu
"Itu alasan kenapa aku masih bertahan wen" setelah berkata demikian cowok itu kemudian benar benar pergi meninggalkan Wendi yang masih diam sambil menatap punggung kekasihnya yang kini sudah semakin tak terlihat
Wendi duduk termenung sendiri di kursi panjang yang ada rooftop sekolah, jam sekolah sudah berlalu sedari tadi namun ia memutuskan untuk menenangkan pikirannya sendiri diatas rooftop itu
Cewek itu menatap kedepan dengan tatapan kosong dan tanpa diminta air matanya lagi dan lagi turun begitu saja membasahi pipinya, pikirannya kembali kepada Andre cowok yang selama ini menghantui pikirannya
Tiba tiba seseorang menawarkan sebotol minuman kepada cewek itu, namun tidak ada reaksi dari cewek itu
"Gue tau lo haus, ambil" ucap Gevan lalu dengan perlahan tangan cewek itu mengambil minuman itu, ya.. Sebenarnya ia sangat membutuhkan cairan sekarang. Wendi dengan cepat membuka tutup botol itu dan meneguknya dengan cepat
"Sampai kapan lo mau nangis disini sendirian?" Tanya Gevan sambil duduk disamping cewek itu
"Makasih" ucap Wendi setelah ia selesai meneguk minuman yang tadinya diberikan cowok itu padanya
"Lo kenapa belum pulang?"
"Gue masih mau disini, sendiri" ucap Wendi singkat
"Ini udah sore, ayo gue antar pulang"
"Gue mau disini" Gevan menghembuskan nafasnya kasar mencoba sabar untuk menghadapi cewek itu
"Lo bakal bunuh diri kalau lo disini sendiri" namun Wendi hanya menggelengkan kepalanya disana. Gevan yang sudah tak tahan lagi langsung menggenggam tangan cewek itu dan membawanya pergi dari sana
"Lepas van, gue bisa pulang sendiri" namun Gevan tak mengubris perkataan cewek itu dan tetap membawanya pergi dari sana
"Pake"
"Gue gak mau" Gevan langsung memakai paksa helm itu dikepala cewek itu
"Ayo"
"Gue gak mau" Wendi kemudian langsung melepas helm itu dari kepalanya membuat Gevan semakin frustasi
"Pake atau lo gue cium sekarang" Wendi tetap beraikeras tidak mau memakainya, kemudian Gevan turun dari atas motornya dan mendorong cewek itu hingga punggungnya bertabrakan dengan tiang yang ada disana
Wendi menatap cowok yang juga menatap kearahnya dengan tatapan tajam, cowok itu sedikit membungkukkan badannya agar sejajar dengan cewek didepannya itu
"Berhenti mikirin hal yang gak berguna wen, berhenti nyakitin diri lo sendiri dan berhenti untuk menangis" Gevan kemudian kembali memperbaiki posisinya dan memasukkan tangannya kedalam kantong celananya
"Oke, kalau lo gak mau pulang. Lo mau disini sendirikan?" Ucap Gevan sedikit kesal melihat cewek itu disana
"Gue pulang" Gevan kemudian pergi dari sana. Ia mulai menyalakan mesin motornya dan pergi dari sana tanpa memperdulikan cewek itu lagi
Wendi kemudian menjatuhkan dirinya kelantai yang ada disana dan kembali menangis disana sendiri meluapkan segala rasa sakit, rasa kecewa, rasa marah yang ada didalam dirinya
Sekarang bagaimana? Ia sendiri tidak tahu lagi harus bagaimana, pikirannya kacau, hatinya kembali sakit dan yang bisa dilakukan hanyalah menangis disana
Tiba tiba seorang laki laki datang dan berjongkok dihadapan Wendi dan memegang bahu cewek itu seolah olah memberinya kekuatan. Wendi yang sadar akan hal itupun mendongakkan kepalanya mencoba melihat siapa orang yang kini berjongkok dihadapannya itu
"Gevan"