It'S Hurt

It'S Hurt
Terbongkar



...Ketika semua orang pergi menjauh namun setidaknya diri kita sendiri tetap ada dipihak kita...


...W...


Gevan memarkirkan motornya diparkiran sekolah, ia turun dari atas motornya lalu kemudian meletakkan helmnya disana. Cowok itu berjalan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, cowok itu mengerutkan keningnya ketika melihat  semua siswa menatap sinis kearahnya


"Oh, ini ternyata dalangnya"


"Gue nyesel banget suka sama setelah gue tau"


"Kasihan banget"


"Gue jijik jadinya"


Begitulah kira kira yang keluar dari mulut beberapa siswa yang melihat cowok itu. Karena penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, cowok itu kemudian berjalan ketempat dimana banyak siswa berkerumunan. Cowok itu berjalan dan terkejut melihat apa yang didepan matanya, ia mendekat kemading dan mengambil salah satu kertas yang tertempel disana yang menunjukkan foto ayahnya yang tengah bermesraan dengan wanita


Gevan kemudian beralih ke kertas berikutnya yang menunjukkan kematian ibunya yang bunuh diri dari lantai tujuh gedung rumah sakit tempat ayahnya bekerja. Mata cowok itu memerah, lalu dengan cepat ia mengambil semua kertas yang tertempel itu lalu kemudian mencari orang yang merupakan dalang dibalik semua ini. Cowok itu berjalan dengan penuh amarah, ia bersumpah tidak akan pernah mengampuni perbuatan Andre sampai kapan pun


Disisi lain Wendi juga mengambil salah satu foto itu, tangannya gemetar, ia tak menyangka Andre bahkan bertindak sejauh ini. Wendi berlari cepat, ia tahu apa yang akan terjadi ketika Gevan bertemu dengan kekasihnya itu, cewek itu berlari sekuat tenaga mencari dimana keberadaan cowok itu


Gevan yang tak butuh waktu lama kini bertemu dengan orang yang ia cari itu lalu menatapnya tajam. Andre yang menyadari kehadiran Gevan disana berbalik badan sambil tersenyum miring


"Surprise, gimana kejutan gue?, lo suka?" Gevan mendekat dan menatap tajam cowok didepannya itu


"Kenapa?, lo marah? Atau.. Lo malu?" Andre menghela nafasnya kasar lalu kembali menatal Gevan


"Lo terkejut? sama,gue juga terkejut, terkejut karna gue berhasil buat semua orang terkjut" Andre tersenyum seolah ia mengejek cowok itu sekarang sementara semua siswa hanya menonton disana, tak ada yang berani menghalangi keduanya


"Lo puas setelah ngelakuin ini?"


"Hhmm... Menurut lo gimana?"


"Lo ngelakuin ini karna lo mau cari pembelaan?"


"Pembelaan?, gue gak butuh pembelaan karna semua orang juga tau siapa yang salah" Gevan mengepal tangannya kuat sambil menatap tajam cowok didepannya itu


"Semua orang gak tau kalau nyokap lo mati bunuh diri. Oh, bukan hanya itu, dia juga seorang pembunuh yang hampir membunuh nyokap gue" semua siswa yang ada disana terkejut mendengarnya, pasalnya tidak ada orang yang tahu tentang latar belakang cowok itu


"Dan bokap lo?, tukang selingkuh?"


"Lo lupa, kalau nyokap lo juga selingkuh?" Andre tertawa kecil mendengar perkataan lawan bicaranya itu


"Lupa?, gua gak lupa kalau nyokap gue selingkuh sama bokap lo" semua orang yang ada disana semakin terkejut mendengar fakta fakta yang baru saja mereka dengar


"Nyokap gue bahkan sampai hamil akibat perbuatan bokap lo, tapi lo tau apa yang terjadi? Bokap lo adalah pengecut, yang hanya berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab"


"Bokap lo bahkan menyuruh nyokap gue buat menggugurkan kandungannya, bokap lo ngelakuin segala cara supaya kandungan itu keguguran dan lo tau rasa sakit yang dialami nyokap gue gimana?" Mata cowok itu kini memerah mengingat kejadian yang menimpa ibunya tersebut


"Gue pikir bokap lo seorang dokter tapi ternyata dia psikopat yang berani membunuh anaknya sendiri. Apa dia masih menjadi dokter sekarang?, gue takut kalau pasiennya juga mengalami hal yang sama dengan nyokap gue" Gevan benar bebar sudah tidak tahan sekarang, ingin rasanya ia membunuh cowok itu sekarang juga


"Lo, berasal dari keluarga pembunuh" dengan cepat, Gevan memukup wajah cowok itu hingga keluar darah segar dari hidungnya. Andre yang tak terima juga memukul Gevan dengan sekuat tenaga hingga kini terjadi pertengkaran hebat disana yang membuat semua orang tak berani menghentikannya


Gevan memukul Andre hingga kini ia terjatuh kelantai, dengan cepat Gevan menindihnya dan memukulnya hingga Andre sudah tak berdaya lagi disana. Gevan yang sudah menggila bersiap untuk memukul dengan sekuat tenaga namun tiba tiba....


"ANDRE!!!" Pergerakan Gevan terhenti mendengar suara teriakan itu. Wendi langsung berlari dan mendorong Gevan menjauh dari Andre yang sudah tak berdaya lagi


"Ndre, Andre, sadar ndre" cewek kini menangis melihat Andre yang sudah tak berdaya disana


"Ndre!. Kalian kenapa diam! PANGGIL AMBULANCE SEKARANG!" Teriak cewek itu disana sambil menangis sesegukan disana


...******...


PLAK....


Gevan mendapat tamparan keras dari seorang lelaki paruh baya yang merupakan wali kelasnya itu


"Kamu siswa atau seorang pembunuh?" Tanya lelaki itu namun Gevan hanya diam disana


"Kamu merasa hebat ketika melakukan itu?, kamu puas? JAWAB SAYA!" Teriak lelaki itu hingga menggelegar memenuhi ruangan namun tetap saja, tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Karna sudah muak, wali kelasnya itu mengambil amplop yang berisi surat panggilan dan memberinya kepada Gevan


"Besok saya gak mau tau, orang tua kamu harus datang kesekolah.  kalau tidak, kamu saya keluarkan dari sekolah secara paksa. Ngerti! Sekarang kamu keluar, saya muak lihat kamu terus" Gevan pun langsung keluar dari ruangan itu, ia memejamkan matanya, pikirannya kacau tidak tau harus apa sekarang


Jika ia memberikan surat panggilan itu, maka Wilson ayahnya itu akan sangat marah atau bahkan tidak akan mau datang kesekolah namun jika tidak, maka ia akan dikeluarkan dari sekolah. Gevan benar benar tidak tahu harus bagaimana lagi


...******...


Wendi kini berada dirumah sakit menunggu dokter yang memeriksa Andre keluar dari dalam, ia berharal tidak terjadi sesuatu dan kekasihnya itu baik baik saja


"Nak, dimana Andre" Wendi terkejut melihat kehadiran Mia ibunya Andre disana


"Andre dimana?, Andre kenapa nak, dia kenapa?"


"Tante tenang dulu ya, Andre masih dileriksa didalam" Wendi mencoba menenangkan Mia disana sambil merangkulnya


"Andre tadi beran..--" perkataan cewek itu terpotong ketika mendengar suara pintu terbuka dari dalam ruangan dimana Andre berada


"Dokter, gimana keadaan anak saya" Mia dengan cepat menghampiri sang dokter


"Anak ibu tidak mengalami luka parah hanya saya untuk saat ini, dia perlu istirahat dulu untuk memulihkan keadaannya kembali" Mia dan Wendi yang mendengar itu lega


"Terimakasih dok" ucap Mia lalu kemudian dokter pergi dari sana


"Tante tenang ya, Andre gak papa kok. Dia cuman butuh istirahat"


"Makasih ya nak" Wendi hanya tersenyum namun tiba tiba ia teringat akan Gevan, bagaimana dengan cowok itu sekarang?, apa dia dikeluarkan dari sekolah?, dimana cowok itu? Ia kini khawatir dengan cowok itu


"Tante, aku pamit dulu ya tan, soalnya Wendi masih ada pelajaran dikelas"


"Ysudah, kamu hati hati ya"


"Iya tante" Wendi mencium tangan wanita itu lalu kemudian pergi dari sana


Sesampainya disekolah, cewek itu dengan cepat menelusuri sekolah mencari keberadaan cowok itu


"Wendi" cewek itu menoleh kesumber suara dan ternyata orang yang memanggilnya itu adalah Rena. Wendi kemudian berjalan mendekati cewek itu disana


"Andre gimana?, dia gak papa kan?"


"Dia belum sadar, dokter bilang dia baik baik aja" setelah berkata demikian, Wendi segera pergi dari sana namun tangannya ditahan oleh sahabatnya itu


"Lo mau kemana? Kenapa buru buru"


"Gue harus pergi ren" ucap Wendi dengan tergesa gesa namun Rena masih tetap menahan pergerakannya


"Lo cari Gevan?" Wendi menghela nafas lalu kemudian menatap cewek didepannya itu


"Lo tau dia dimana?"


"Lo masih mau nyariin dia?, lo sadar wen, dia udah buat pacar lo masuk rumah sakit, buat hubungan lo rusak dan lo masih mikirin dia dimana?. Lo gila"


"Lo mendingan diam aja re, lo gak tau apa apa" bentak Wendi membuat cewek didepannya itu terkejut, cewek itu bahkan pergi meninggalkan Rena disana sendirian


Wendi dengan sekuat tenaga berlari menaiki anak tangga, ia tahu cowok itu pasti berada di rooftop sekarang. Cewek itu akhirnya sampai disana dan melihat Gevan sudah berdiri disana, cewek itu mencoba mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang akibat berlari menuju tempat itu


Wendi hanya menatap punggung cowok itu dari kejauhan,ia enggan untuk mendekati cowok itu karena sebenarnya ada rasa takut yang cewek itu rasakan akibat Gevan yang pernah hampir membunuhnya waktu itu


"Ngapain lo berdiri disitu" Wendi terkejut ketika cowok itu ternyata tau jika dirinya berada disana. Karna sudah ketahuan, mau tidak mau cewek itu berjalan mendekati Gevan dan berdiri disampingnya. Cewek itu melihat bercak darah dibaju Gevan bahkan luka diwajahnya masih basah, penampilan cowok itu berantakan tak beraturan


"Lo, lo.., lo dikeluarkan dari sekolah?" Wendi bertanya dengan terbata bata disana


"Itu penting buat lo?" Ucap cowok itu tanpa melihat kearah Wendi, ia hanya menatap kosong kedepan sambil menikmati sebatang rokok yang ada ditangannya


"Gu, gue minta maaf" Wendi tak bisa menahan air matanya disana, ia benar benar merasa sangat bersalah kepada cowok iti, andai saja ia tak ikut campur dengan masalah ini pasti hal seperti ini tidak terjadi


"Ini semua salah gue" Gevan membuang rokoknya kelantai lalu kemudian menginjaknya, ia menatap cewek itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan


"Lo baru sadar sekarang?" Wendi dengan perlahan menatap cowok yang berdiri didepannya itu


"Ketika gue liat lo rasanya gue pengen bunuh lo, karna dimata gue lo sama Andre itu sama. Jadi sebelum gue marah, lo pergi sekarang "


"Gue gak akan pergi!"


"Lo mau mati!"


"Gua gak akan pergi sebelum lo jawab pertanyaan gue" Wendi yang sebenarnya takut harus memberanikan diri menghadapi cowok didepannya ini


"Lo gak mau pergi?" Gevan kini mulai emosi melihat cewek yang tak mau pergi itu, ia kemudian mendekatkan dirinya dan memegang bahu cewek itu kuat dengan kedua tangannya, namun dengan segenap tenaga cewek itu melepas tangan cowok itu hingga membuat Gevan terkejut


"Kenapa lo diam aja?" Ucap Wendi dengan lantang kepada cowok itu


"Kenapa lo diam ketika semua orang nganggap lo salah, kenapa lo gak ngomong yang sebenarnya, kenapa lo gak ngelakuin apapun ketika lo dikeluarkan dari sekolah, lo gak salah van" ucap Wendi mengeluarkan unek uneknya disana namun Gevan hanya menatap cewek itu disana


"Andre yang selalu cari gara gara sama lo, tapi kenapa lo diam aja"


"Lo pikir orang lain bakal belain gue?"


"Maksud lo?"


"Orang lain gak akan belain gue, karna gue yang tetap salah"


"Kalau memang orang lain gak belain lo, setidaknya diri lo sendiri yang belain lo"  Gevan terdiam mendengar ucapan cewek itu, pikirannya semakin kacau


"Gue pengen sendiri sekarang" ucap Gevan lirih, ia memang butuh waktu untuk sendiri sekarang, tanpa berkata lagi, Wendi kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana. Gevan memejamkan matanya, berpikir keras bagaimana cara untuk menyelesaikan ini semua, ingin rasanya marah namun tidak tahu harus marah kepada siapa, tidak ada hal yang bisa cowok itu lakukan lagi sekarang