It'S Hurt

It'S Hurt
Jealous



Gisel tiba disekolah lebih awal tidak seperti biasanya, akhir akhir ini ia memang selalu datang kesekolah lebih awal


"Kenapa gak ngabarin?" Gisel langsung berbalik kearah sumber suara


"Belakangan ini kamu selalu datang cepat kesekolah dan kamu gak ngabarin aku, kenapa?"


"Maaf van, aku datang kesekolah lebih awal karna ada tugas yang harus aku kerjakan" Gevan hanya diam namun sebenarnya ia merasa aneh dengan sikap cewek itu belakangan ini


"Kamu percaya kan?" Gevan hanya diam disana, cowok itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat sebuah kalung yang tampaknya baru pertama kali ia lihat melingkar di leher kekasihnya itu


"Kalung dari mana?"Gisel yang mendengar itu langsung saja memasukkan kalung itu kedalam bajunya


"Ehmm.. itu dari mama. Semalam mama beliin aku kalung" jawab cewek itu senatural mungkin agar Gevan tak mencurigainya


"Dalam rangka apa?"


"Aku suka kalungnya jadi mama langsung beli buat aku" cowok itu hanya mentanggukkan kepalanya disana


"Yaudah, selamat belajar" kemudian cowok itu melangkahkan kakinya pergi dari sana sedangkan cewek itu menghela nafas takut jika cowok itu mencurigainya


...******...


Wendi berjalan bergandengan bersama dengan kekasihnya Andre, mereka tampak asyik mengobrol disana


"Andreee" panggil seorang perempuan yang tidak lain adalah Jinny sahabat kecil cowok itu. Jinny berlari mendekati kedua remaja itu


"Hai wen" sapanya kepada Wendi yang kemudian hanya dibalas dengan senyuman oleh cewek itu


"Kenapa lagi lo?"


"Nanti malam lo sibuk?"


"Gak, kenapa?" Mendengar itu Jinny langsung menggandeng tangan cowok membuat Andre pun terkejut


"Wen, gue pinjam pacar lo bentar ya" kemudian Jinny langsung menarik Andre sedikit menjauh dari cewek itu, sebenarnya Wendi sedikit cemburu melihat kedekatan mereka berdua yang terlihat sangat dekat


Wendi berdiri dan hanya menatap keduanya dari kejauhan, mereka saling tertawa satu dengan yang lain bahkan sesekali Jinny merangkul cowok itu membuat hati Wendi semakin panas melihatnya, akhirnya cewek itu memutuskan untuk pergi dari sana


Ia memasuki ruang kelasnya dengan hati yang dipenuhi rasa cemburu bahkan Rena yang sudah berada disana heran melihat kedatangan sahabatnya itu


"Lo kenapa?" Tanya Rena namun lawan bicaranya itu masih diam disana


"Berantam sama Andre lagi?" Wendi langsung menatap Rena


"Menurut lo, kalau gue cemburu itu salah?" Rena sedikit tersenyum mendengar pertanyaan cewek yang duduk didepannya itu


"Lo cemburu?, Andre dekat sama siapa makanya lo bisa cemburu?" Wendi diam sejenak disana ragu mengatakan nama orang dekat dengan kekasihnya itu


"Siapa wen?"


"Jinny" Rena awalnya terkejut mendengar nama itu lalu kemudiam ia tertawa lepas sementara Wendi semakin kesal melihat reaksi cewek itu disana


"Lo aneh banget sih wen, mereka temenan udah lama wajar kalau mereka dekat"


"Gue tau tapi teman juga ada batasannya re"


"Udahlah wen, lo jangan terlalu berlebihan deh, mereka dekat karna dari kecil udah saling kenal" Wendi diam dan hatinya masih kesal karna Rena malah menyalahkannya bukan membelanya


...******...


Andre tersenyum lebar ketika melihat kekasihnya Wendi sedang duduk sendiri didepan kelasnya, cowok itu menghampiri gadis itu dan langsung saja duduk menempel disampingnya


" Ada tugas?"


"Gak"


"Kantin yok" ajak cowok itu namun Wendi menggelengkan kepalanya pertanda ia tak ingin pergi kekantin namun cowok itu tak merasa aneh dengan sikap Wendi yang sekarang ini, ia hanya diam disana membuat Wendi


semakin kesal terhadap cowok itu


"Nanti malam kamu sibuk?, Jinny ngajak aku keluar nanti malam, dia juga ngajak kamu.._"


"Aku gak ikut" sebelum cowok itu selesai berbicara Wendi sudah langsung menjawab dengan nada seolah tak suka mendengar ucapan cowok itu


"Kenapa?, Kamu sibuk?"


"Hm" Andre akhirnya mulai merasa aneh dengan sikap cuek cewek itu


"Kamu, ada masalah?" Wendi menatap cowok itu sekilas lalu kemudian kembali diam dan menundukkan kepalanya disana


"Kamu kenapa tiba tiba cuek kayak gini wen?" Wendi masih diam disana, ia tak berani mengatakan tentang rasa kecemburuannya itu kepada cowok itu, melihat Wendi yang hanya diam, cowok itu langsung menggenggam tangan cewek itu lembut dan sedikit menunduk agar ia bisa melihat wajah kekasihnya itu


"Kamu kenapa?, Apa aku berbuat salah?, Kamu cerita sama aku wen, aku gak mau kamu cuekin aku kayak gini"  Wendi mendongakkan kepalanya lalu kemudian menarik nafasnya panjang


"Aku gak papa kok ndre, aku lagi banyak tugas aja. Maaf kalau tadi aku cuek" ucap cewek itu sambil tersenyum lebar menutupi kebohongannya, ia merasa tak perlu mengatakan yang sebenarnya kepada cowok itu karna ia merasa jawaban cowok itu akan sama dengan jawaban sahabatnya Rena


" Aku ke kelas dulu, kamu hati hati nanti malam" Wendi akhirnya pergi dari sana sedangkan cowok itu hanya diam dan masih merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu


Wendi berjalan dengan langkah cepat, ia sebenarnya ingin cowok itu lebih peka terhadap dirinya namun ternyata tidak, cowok itu bahkan membiarkannya pergi begitu saja


Ia menaiki banyak anak tangga karna memang dirinya ingin pergi ke rooftop sekolah mencoba menenangkan hatinya sendiri disana. Wendi sampai di rooftop sekolah dan langsung duduk dikursi kayu yang tampaknya sudah tua, cewek itu memandang lurus kedepan menikmati tiupan angin disana


"Lo ngapain disini?" Wendi melihat kesamping terkejut ketika mendapati Gevan yang sudah duduk rapi disampingnya


"Terserah guelah, gue mau kesini atau enggak."


" Gue gak pernah liat lo datang kesini sebelumnya dan sekarang kenapa lo datang kesini?"


" Terserah gue. Gue mau sendiri, lo mendingan pergi"


"Ada masalah?" Tanya cowok itu ketika melihat mimik wajah Wendi yang sedari tadi hanya murung namun cewek itu hanya diam dan tak berniat menceritakannya


Gevan yang melihat reaksi cewek itu hanya diam, tak berniat memaksa cewek itu untuk menceritakannya. Kini keadaan antara keduanya hening namun Wendi sesekali melirik kearah cowok itu dan berniat ingin memberitahunya namun ia masih malu mengatakannya


" Menurut lo, gue salah kalau gue marah ketika liat Andre dekat dengan cewek lain?" Setelah lama mempertimbangkan, akhirnya Wendi membuka pembicaraan dengan cowok itu


"Jinny, gue cemburu liat mereka berdua yang selalu dekat, gue tau mereka sahabatan dan udah kenal sejak usia dini sampai sekarang, tapi harusnya Andre hargai gue sebagai pacarnya, gue cemburu dengan itu" melihat Gevan yang hanya diam ditempat membuat Wendi sedikit kesal


"Lo kenapa diam?, Lo mau ketawa kan?, Gue tau lo pasti bilang gue berlebihan sekarang, tapi itu yang gue rasain sekarang van dan Andre gak peka dengan perasaan gue yang sekarang ini, dia bahkan diam aja ketika liat gue cuek sama dia. Apa gue yang terlalu berlebihan?"


"Lo gak salah."  Gevan menatap cewek itu sekilas lalu kembali menatap kedepan


" Cemburu itu hal yang wajar terjadi dalam suatu hubungan dan itu terjadi karna lo sayang sama pacar lo" Wendi  masih diam dan menatap cowok itu


"Jadi, gue gak salah?"


"Gue gak bilang lo benar sepenuhnya, gue cuman bilang kalau lo cemburu itu gak salah" Wendi semakin bingung dengan perkataan cowok ini, ia tak mengerti kemana arah dan tujuan perkataan itu


"Makanya sebelum lo pacaran , lo harus tau dulu gimana karakter cowok itu. Contohnya Andre, dia itu orang yang mudah bergaul dengan siapa saja bahkan dengan orang yang baru dia kenal sekalipun, baik itu cewek atau cowok, apalagi dengan orang yang udah lama dia kenal seperti Jinny. Gue dari kecil udah satu sekolah dengan mereka berdua jadi gue tau mereka sedekat apa"


"Lo tinggal ngomong aja sama Andre kalau lo cemburu" cewek itu membulatkan matanya terkejut mendengar perkataan cowok itu


"Lo gila. Lo mau buat gue malu!"


"Itu bukan buat malu wen, itu jalan keluarnya biar dia tau yang sebenarnya"


"Gue gak mau. Harusnya dia peka sama perasaan gue" Cowok itu mendengus kesal dengan Wendi yang menurutnya keras kepala ini, cowok itu bahkan sudah bicara panjang lebar namun cewek itu tetap dengan pendiriannya akhirnya Gevan bangkit berdiri lalu menatap kearah cewek itu


"Jangan paksa orang lain buat ngerti sama perasaan lo wen, harusnya lo lebih terbuka sama pacar lo. Jangan jadi cewek yang keras kepala" Gevan kemudian pergi dari sana sementara cewek itu masih diam, sebenarnya ia merasa tak terima jika ia dikatakan keras kepala namun disisi lain perkataan cowok itu memang benar adanya


...******...


Andre berdiri didepan cermin sembari merapikan pakaiannya, ia malam ini keluar bersama sahabatnya Jinny sekedar makan malam bersama, tengah sibuk bercermin tiba tiba terdengar suara gelas pecah dari bawah. Mendengar itu Andre langsung berlari menuruni anak tangga dan mendapati ibunya yang sudah tersungkur dilantai dengan tangan terluka akibat didorong kuat oleh ayahnya


"Mama gak papa" tanya Andre cemas sambil membantu ibunya untuk bangkit berdiri


"Mama gak papa ndre" ucap perempuan paruh baya itu, kemudian Andre menatap nyalang lelaki yang berdiri tak jauh dari mereka itu dan mendekati pria itu


"Papa puas buat mama kayak gini?"


"Kamu masih belain perempuan itu?, Kamu tau, kenapa papa kayak gini?"


"Andre tau pa, tapi mama udah minta maaf. PAPA MAU APA LAGI?"


"CUKUP NDRE!" Teriak Mia keras sambil air matanya turun membasahi pipinya


"Mama memang pantas terima ini semua, mama yang udah rusak semuanya, yang papa kamu bilang itu semuanya benar" perempuan itu menangis disana, menumpahkan segala penyesalannya disana, ia memang sudah melakukan kesalahan yang fatal itu sebabnya ia tak pernah melawan ketika suaminya Wandra bersikat kasar padanya


"Kamu gak perlu menangis sekarang, air mata kamu itu gak berguna buat aku. Sekarang kamu makhluk yang paling menjijikkan dimata saya" ucap pria itu kepada Mia istrinya, kemudia ia menatap Andre putranya itu


"Dan kamu. Kamu gak perlu belain perempuan yang gak tau malu kayak dia. Berselingkuh hanya karna uang" ucap Wandra menahan amarah dan sakit hatinya mengingat kejadian itu


"Ternyata papa lebih buruk dari pada mama" Andre kembali menatap nyalang pria itu


"Kamu bilang apa?"


"Papa hanya bisa mengingat kesalahan orang lain sementara kesalahan papa sendiri papa gak pernah ingat" Wandra masih diam menatap putranya itu disana


"Mama udah minta maaf tapi papa masih tetap gak terima, mama udah dihukum dan mama udah menyesali semuanya, papa mau apa lagi?, Itu yang bisa dilakukan manusia Pa" Andre kini mulai muak dengan sikap pria itu selamanya, kini ia benar benar meluapkan semua isi hatinya sekarang


"Kamu gak ngerti perasaan papa ndre. Perempuan kurangajar kayak dia gak PANTAS UNTUK DIMAAFKAN!"


"PAPA YANG KURANGAJAR"


PLAK......


"PAPA!" Teriak Mia keras ketika Wandra suaminya itu menampar Andre kuat. Emosi Wandra kini tak bisa ia kontrol lagi, ia tak habis pikir dengan sikap putranya itu sekarang walaupun dalam hati kecilnya ia sebenarnya menyesal telah menampar Andre namun semua itu ia lakukan untuk kebaikan putranya


"Kamu tau kenapa papa gak bercerai sama mama kamu?, Karna papa mikirin masa depan kamu ndre. Tapi malam ini, papa kecewa sama kamu" kemudian Wandra pergi dari sana dengan perasaan yang campur aduk sementara disana Andre masih diam berdiri disana dengan air mata yang sudah membasahi pipinya


"Ndre, kamu gak papa nak" Mia menghampiri putranya itu namun cowok itu langsung menepisnya dan kemudian pergi kedalam kamarnya. Disana ia mencoba menenangkan pikirannya, ia kemudian mengambil ponselnya dan melihat ada banyak panggilan masuk dari Jinny sahabatnya itu. Andre kemudian menjambak rambutnya kebelakang, ia tak tau harus bagaimana supaya kedua orang tuanya kembali seperti dulu lagi


...******...


Seperti biasa Andre bersama Wendi kekasihnya datang kesekolah secara bersamaan, namun pagi ini Wendi merasa aneh dengan kekasihnya yang sedari tadi hanya diam tidak seperti biasanya, sebenarnya ia ingin bertanya mengapa cowok itu terlihat dingin namun Wendi merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu


Andre melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan Jinny yang sedari tadi ia cari dan ternyata Jinny baru saja turun dari mobilnya dan berjalan memasuki arena sekolah


"Jinny" Andre langsung berlari menfdapati cewek itu dan meninggalkan Wendi kekasihnya


"Jin, gue minta maaf" ucap Andre langsung to the point tak mau berbasa basi lagi sementara Jinny membuang muka disana


"Jin, gue minta maaf"


"Lo kemama semalam?, Gue capek nungguin lo"


"Gue gak bisa cerita sekarang sama lo, tapi gue minta maaf"


"Kenapa gak mau cerita?" Ucap Jinny yang masih penasaran mengapa cowok itu tiba tiba menghilang semalam sementara dari kejauhan Wendi menatap keduanya, hatinya sebenarnya sakit dan sekarang ia tau ternyata alasan Andre diam adalah karna Jinny, Wendi akhirnya dengan berat hati pergi melangkahkan kakinya pergi dari sana


"Gue bakal cerita sama lo, tapi bukan sekarang. Please maafin gue jin" Jinny yang melihat itu kemudian tersenyum lebar


"Hm. Lain kali, lo kasih kabar ke gue" Andre langsung tersenyum dan menunjukkan kedua ibu jarinya


"Gue pergi ke kelas dulu" Jinny pergi setelah selesai berbicara dengan cowok itu, Andre berbalik badan dan terkejut ketika melihat Wendi sudah pergi dari sana, cowok itu langsung saja berlari ke kelas cewek itu untuk mencarinya


"Wen" cewek itu terkejut melihat Andre kini sudah berdir didepannya


"Kenapa kamu pergi ninggalin aku" Wendi bangkit berdiri dan menatap cowok itu


"Karna, gue gak mau mengganggu kalian berdua" Andre mengerutkan keningnya merasa janggal dengan ucapan cewek itu


"Maksud kamu apa?"


"Gak papa. Kamu pergi masuk kelas sana, bentar lagi kelas mulai" sebelum cewek itu membalikkan badan, Andre sudah lebih dulu menahan tangannya agar tak pergi dari sana


"Maksud omongan kamu tadi apa?, Maksud mengganggu itu apa?" Wendi tak berani mengatakan yang sebenarnya karna ia tau, jika ia mengatakan yang sebenarnya cowok itu akan memarahinya


"Wen, jawab aku"


"Aku tadi liat kalian berdua sibuk ngobrol jadi aku gak mau mengganggu" cowok itu kini mengerti maksud perkataan kekasihnya itu


"Kamu cemburu?" Wendi diam menundukkan kepalanya disana tak berani menatap cowok yang berdiri didepannya itu


"Dia cuman teman aku wen, kamu jangan mikir yang aneh aneh"


"Tapi kamu lebih mentingin dia dibanding aku ndre" akhirnya Wendi memberanikan diri untuk berbicara yang sebenarnya


"Itu perasaan kamu aja wen, kamu gak usah berlebihan"


"Kamu yang berlebihan ndre, harusnya kamu hargai aku sebagai pacar kamu. Aku tau kalian dekat tapi kamu juga harus menjaga perasaan aku ndre"


"Kamu kenapa jadi kayak gini sih wen?"


"Aku cemburu dan aku gak suka kamu terlalu dekat sama Jinny, walaupun dia teman dekat kamu" Andre benar benar terkejut mendengar itu, ia tak habis pikir dengan kekasihnya yang melarangnya dekat dengan orang yang bahkan sudah sangat akrab dengannya


"Aku gak bisa wen, dia teman aku dan bagaimanapun aku gak bisa buat gak dekat sama dia"


"Yaudah, kamu dekat sama dia aja, kamu peduliin dia aja dan kamu gak perlu peduli sama perasaan aku lagi" Andre mulai emodi dibuat cewek itu, belum selesai masalah tadi malam dan sekarang cewek ini malah datang menambah masalahnya yang tadinya ia berharap ketika bertemu dengan kekasihnya itu ia akan merasa lebih tenang namun ternyata ia salah besar


"Kamu jangan kayak gini wen. Dengerin aku dulu"


"Aku gak mau dengar omongan kamu"


"AKU CAPEK WEN. Capek dengan kamu yang kayak gini. Kamu gak mau dengerin aku lagi kan?, Sekarang terserah kamu wen. AKU CAPEK!" Cowok itu pergi dari sana sebelum amarahnya memuncak dan tidak terkontrol sementara Wendi hanya menatap kepergian kekasihnya itu dan tanpa diminta air mata cewek itu turun membasahi pipinya, ia berharap semuanya ini cepat berakhir dan hubungannya kembali membaik