It'S Hurt

It'S Hurt
Mengingat (Sepeda)




.


.


.


"*Jina sayang, kau sudah habiskan sarapanmu?" Seorang wanita paruh baya tampak sibuk dengan cucian piring kotornya. Wajah senja wanita masih terlihat cantik meski beberapa kerutan diwajahnya masih terlihat. Gadis yang ditanya itupun menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap sosok ibunya.


"Tentu eomma, kalau begitu aku berangkat dulu ya?" Pamit Jina. Sebelum gadis benar-benar beranjak ia merasakan sebuah tangan nan lembut menyentuh rambut pendeknya.


Jina menatap wanita yang kini tersenyum lembut kearahnya. Eommanya terlihat jauh lebih cantik hari ini.


"Kau gadis yang kuat, eomma yakin itu. Jadi, kuharap kau bisa menjalani hidupmu dengan baik jika kita tak bisa bersama lagi." Jin membulatkan matanya. Kenapa eommanya berkata begitu?


"Memang eomma mau kemana? Apa kau ingin meninggalkanku?" Tanya Jina dan kini ia memeluk ibunya tercinta itu. Tangan lembut itu mengusap punggung Jina dan tersenyum.


"Tidak. Aku tak akan kemana-mana sayang." Ucap Yuan. Menatap tubuh Jina yang sedikit bergetar.


"Tapi, cara eomma berucap seperti ingin pergi jauh." Ujar Jina sedih.


"Tidak, sayang. Aku berkata seperti ini supaya kau selalu mengingat setiap ucapanku padamu." Yuanpun mengelus kepala Jina lagi dan menatap wajah cantik itu. Jina sama persis dengan dirinya sewaktu muda dulu.


"Ne, eomma. Hari ini kita jadi kepantai kan? Oh. Aku suka sekali kesana." Ujar Jina yang sepertinya sudah tak ingin membahas perkataannya lebih lanjut.


"Tentu saja sayang. Setelah pulang sekolah nanti kau datanglah ke halte bus. Eomma akan menunggumu disana." Ujat Yuan dan setelahnya Jinapun mengangguk dan mulai bersemangat untuk pergi kesekolah.


"Ne, eomma. Aku akan langsung kesana. Tunggulah aku." Jina pun melambaikan tangannya dan mulai pergi meninggalkan rumah.


Yuan memegang dadanya. Perasaan apa ini? Kenapa ia merasa hidupnya tak lama lagi? Dan kenapa tadi ia berbicara seperti itu kepada Jina?


Tanpa berlama-lama dengan perasaan yang ia rasakan, iapun mulai kembali membereskan rumah dan menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Yuan bekerja sebagai karyawan biasa disebuah kantor favorit dinegara ini. Hari ini ia mengambil cuti untuk bisa bersama Jina seharian. Jika hari libur, ia tak sempat mengajak Jina keluar seperti ini karena ia harus menyelesaikan setiap pekerjaan kantornya yang lumayan banyak dirumah.


••⏳⏳••


"Jina, jangan lupa kembalikan sepedaku besok!" Teriak seorang gadis yang terlihat imut dengan kepang rambutnya. Ia menghela nafas saat melihat temannya itu begitu semangat saat pulang dan tiba-tiba saja ingin meminjam sepeda yang biasanya ia bawa kesekolah.


"Ne, Gaeun. Aku pastikan besok aku akan mengantar sepeda ini langsung kerumahmu." Ujar Jina lalu setelahnya ia mengayuh sepeda itu dengan semangat dan melambaikan tangannya kearah sahabatnya itu.


Jina sengaja meminjam sepeda ini agar ia lebih cepat pulang kerumah. Jika ia menunggu bus untuk pulang pasti akan memakan waktu yang lama. Ia tak ingin itu, ini adalah hari yang Jina nantikan. Sudah lama rasanya eommanya mengajak ia untuk pergi jalan-jalan seperti ini. Ia sangat senang sekarang.


Sepeda Gaeun akan ia taruh dirumah untuk sementara waktu, kemudian ia akan mengganti baju terlebih dahulu dan menuju kehalte. Jarak halte bus yang ditujunya tak terlalu jauh. Jadi, ia bisa berjalan kaki kesana.


Eommanya pasti sudah menunggunya disana dan tentu sudah membeli beberapa cemilan untuk kepergian mereka nanti. Jina bersenandung kecil dan terus memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi.


••⏳⏳ ••


Tiga sosok pemuda dengan wajah tampan itu saling melemparkan kalimat mengejek untuk diri mereka masing-masing. Gelak tawa itu terlihat jelas diwajah mereka.


"Brengsek, kau mengataiku ikan? Lalu kau apa? Bukankah kau adalah iblis? Haha." Tawa itu meledak bersamaan dengan kalimat yang ia lontarkan.


Pria yang merasa dikatai iblis itu menggeram lalu setelahnya menjitak kepala pria itu.


"Kita hanya beda beberapa bulan. Kenapa aku harus memanggilmu hyung?" Desis pria itu tak suka. Dengan cepat Donghae merangkul tubuh pemuda itu dan tersenyum penuh arti kepadanya.


"Meski begitu, kurasa kau harus lebih bersikap sopan kepadaku." Ujar pria itu lagi. Sial. Benar juga ucapan Donghae barusan.


"Hallo? Bukankah aku ada disini? Kenapa kalian melakukan hal romantis itu hanya berdua saja? Apa aku yang tampan ini tak dianggap?" Ucap pemuda yang satunya lagi dengan menatap mereka dengan sedih.


"Awww!" Dengan kompak mereka menginjak kaki pemuda itu dan Siwonpun merintih kesakitan saat kaki indahnya itu diinjak dengan kejamnya. Siwon menatap mereka dengan tatapan tajamnya, bukannya merasa bersalah dengan perilakunya tadi, tapi mereka berdua kompak berjingkrak girang dan setelahnya mereka kembali tertawa saat melihat Siwon mencoba mengejar mereka untuk balas dendam.


"Haha kau tak akan bisa mengejar kami." Ujar Donghae puas.


"Yak! Tunggu! Awas kalian aku akan membalas kalian!" Geram Siwon tapi mereka malah semakin terpingkal saat pria itu bahkan tak bisa mengejar mereka yang sedang berlari.


"Kau harus sering berolahraga hyung!" Teriak pemuda yang memiliki wajah bak patung yunani itu.


"Yak! Cho Kyuhyun sialan! Jangan kabur, tunggu aku." Kyuhyun tertawa lagi saat mendengar ucapan Siwon. Yang benar saja, mana mungkin ia menunggu Siwon? Bisa-bisa ia kena amukan dari pria itu.


Kyuhyun terus mempercepat larinya sampai ia tak sadar jika ada sebuah sepeda yang tengah melaju dengan cepat kearahnya. Baru saja ia ingin menghindar sampai sepeda itu membelok kearahnya, ia bisa melihat seorang gadis tengah mengerem sepedanya itu tapi sayang ia malah terjatuh keaspal jalanan. Pasti gadis itu terluka! Dengan cepat Kyuhyun menghampirinya.


"Aww." Jina mengusap-usap lututnya yang berdarah untungnya hanya lututnya saja. Astaga. Kenapa ia bisa mengalami kecelakan kecil ini?


"Kau tak apa?" Tanya seseorang dengan wajah paniknya. Bukannya menjawab pertanyaan tapi Jina langsung meraih tangan kanan pemuda itu.


Kyuhyun terkejut saat tangan gadis itu menggenggamnya dan memperhatikan jam tangannya?


"Astaga, aku bisa telat." Ujar gadis itu dan berusaha berdiri kembali. Kyuhyunpun mencoba membantunya.


"Mian, aku sedang terburu-buru tadi. Sekali lagi aku minta maaf jika kau tadi merasa terkejut." Dan setelahnya Jina mulai menaiki sepedanya lagi. Kyuhyun hanya melongo melihatnya. Apa gadis itu tak merasa sakit dengan darah yang mengucur dilutut kakinya?


"Lukamu.." Ujar Kyuhyun menatap lutut gadis itu tapi Jina hanya tersenyum menanggapinya.


"Tak apa, ini tak terlalu sakit. Kalau begitu aku permisi." Daebak! Baru pertama kali ia melihat gadis seperti ini. Bagaimana mungkin ia tak merasa sakit?


"Maaf membuat bajumu terkena noda darahku." Kyuhyun membulatkan matanya saat tangan milik gadis itu menyeka noda darah dibajunya sepertinya noda itu menempel saat ia membantu gadis itu berdiri tadi.


"Kalau begitu aku permisi." Gadis itupun menyerahkan sapu tangannya dan benar-benar pergi dari hadapannya.


Plakk...


Bukannya perasaan senang saat menjitak kepala si iblis itu tapi Siwon dibuat terheran saat melihat Kyuhyun yang tak bergerak sejak tadi.


"Kau kenapa?" Tanya Siwon heran. Saat melihat Kyuhyun yang terdiam cukup lama dengan mulut sedikit menganga.


"Ini aneh, sungguh aneh. Baru pertama kali dalam hidupku mengalami kejadian aneh seperti ini." Gumam Kyuhyun dengan masih menatap lurus kedepan.


Siwon mengeryitkan alisnya. Apa yang Kyuhyun tatap? Ah. Pasti otak pria itu sudah rusak saat ia menjitaknya tadi.


"Kurasa yang aneh disini adalah kau." Balas Siwon. Kyuhyun sepertinya tak mendengarkan ucapan Siwon, ia mengepalkan benda yang gadis itu berikan tadi.


"Kurasa aku akan bertemu dengannya lagi." Gumam Kyuhyun lagi dan meninggalkan Siwon begitu saja. Donghae yang baru datang menatap heran kearah mereka dan Siwon hanya menaikkan bahunya saat Donghae bertanya*.


TBC