It'S Hurt

It'S Hurt
Tuan Arogan




.


.


.


"Mulai besok kau akan bekerja dikantorku untuk membayar uang kuliahmu. Aku tak bisa lagi membayarkannya untukmu." Ujar pria itu dingin. Jina hanya melongo mendengarnya. Hah? Apa ia tak salah dengar?


"Aku sudah mengatur kuliahmu, jadi kau hanya perlu masuk jika dirasa perlu mengikuti pelajaran tersebut." Benar-benar Jina tak habis pikir dengan ucapan Kyuhyun. Pria itu berucap sangat enteng seakan seluruh dunia dapat ia kendalikan begitu saja.


"Kau mendengarku?" Tanya pria itu menelisik kearah Jina.


"Baik, oppa." Ucap Jina mengiyakan meski didalam hatinya dia ingin sekali protes semua ucapan Kyuhyun barusan.


'Lagi-lagi ia berbuat sesuka hatinya.'


Jina menatap sepatu putihnya. Ia semakin menunduk dalam lalu menghembuskan nafas beberapa kali.


"Sepertinya kau tak suka dengan ucapanku barusan." Ujar pria itu lagi sambil melihat tingkah Jina. Kyuhyun sudah menggenggam kunci mobilnya. Pagi ini ia seharusnya mengantar Jina kuliah tapi karena rapat mendadak jadi ia tak bisa melakukannya.


"...."


Jina hanya diam saja. Ia sungguh malas membalas ucapan Kyuhyun. Dirinya lelah benar-benar lelah.


"Hari ini kau pergilah naik bus, aku tak bisa mengantarmu, aku ada rapat pagi ini." Ujar Kyuhyun lalu memberikan uang untuknya.


Jina bersorak dalam hati saat mobil sport mewah itu telah menjauh dari pandangannya. Ia lebih senang jika pergi sendiri seperti ini.


Jika Kyuhyun mengantar jemputnya setiap hari pasti hari-harinya terasa semakin berat. Untungnya pria itu hanya mengantarnya pergi kuliah tapi tidak untuk menjemputnya dan itu saja membuatnya terasa bebas meski hanya sedikit.


••⏳⏳••


"Selalu saja seperti itu, kapan aku bisa bebas menjalani hidupku sendiri? Tanpa adanya kekangan?" Dengusnya jengah sambil terus menyusuri jalan setapak menuju halte bus. Lama ia menunggu tapi kenapa busnya belum datang?


"Biar saja aku terlambat." Ucapnya sebal.


Jina sedikit menjijitkan kakinya, naik turun berulang kali. Untuk mengurangi kebosanannya.


Jalan ini sungguh sepi, ia baru sadar jika hanya ada dirinya saja.


"Hufh, ini sungguh menyebalkan." Jina menghela nafasnya. Matanya melirik bebatuan kecil disekitar kakinya. Dengan sengaja ia menendang batu itu kesembarang arah.


**Satu...


Dua...


Tiga...


Empat....


Lalu**....


"Aww!" Jina membulatkan matanya. Astaga batu itu mengenai seseorang. Jina menundukkan kepalanya. Ia kali ini berharap jika orang itu mau memaafkannya.


"Hei nona, tak kusangka kau melakukan hal konyol seperti ini." Jina menonggakkan kepalanya. Suara itu...


"Sehun!" Ucap Jina terkejut. Wah. Bagaimana mungkin ia terus-terusan bertemu orang ini?


"Ckck kau seharusnya meminta maaf." Dengus Sehun yang terlihat kesal.


"Ma-maaf." Kembali Jina menundukkan kepalanya. Selalu seperti itu. Sehun menghela nafasnya. Jengah melihat sikap Jina. Bukankah jika seseorang meminta maaf mereka harus melihat lawan bicaranya?


"Tegakkan kepalamu, jika berbicara dan meminta maaf lihatlah wajah mereka." Ucap Sehun yang terdengar memerintah?


"Ak-aku.." Ucapan Jina terpotong saat tangan Sehun memegang dagunya, sehingga Jina sekarang bisa melihat mata indah milik pria itu. Tiba-tiba Jina merasa gugup saat melihat wajah tampannya.


"Ma-maaf. Aku sungguh tak tau jika ada orang tadi." Ucap Jina yang terdengar pelan.


"Aku akan memaafkanmu jika kau ikut aku sekarang." Baru saja Jina ingin melontarkan protesnya tapi pria itu langsung menggenggam tangannya. Menyeretnya menuju kesebuah mobil hitam mewah yang terparkir tak jauh dari halte bus.


"Hei! Tu-tunggu aku harus kuliah Sehun." Ujar Jina saat ia sudah masuk kemobil pria itu.


"Aku tau tapi kau harus ikut aku kali ini." Ujar Sehun lalu menancap gas mobilnya. Menjalankan mobil itu tanpa peduli Jina yang terus-terusan meminta untuk diantarkan ke Kampus.


'Ini gawat, jika oppa tau. Tamat riwayatku.'


Jina menggigit kukunya. Ia ketakutan sekarang. Sehun sama gilanya dengan oppanya. Pria itu begitu pemaksa. Lalu kemana mereka akan pergi?


"Aku janji kita hanya akan melewatkan satu pelajaran saja. Setelah itu kita akan ke Kampus." Ujar Sehun seperti memberi penjelasan akan maksudnya.


"Kita hanya membolos sebentar. Kau tak perlu khawatir seperti itu." Ujar Sehun lagi.


"Ba-bagaimana aku tak khawatir, jika oppaku tau hal ini pasti ia akan sangat marah kepadaku." Ujar Jina ketakutan.


Sehun mengeryitkan alisnya. Sebegitu takutkah Jina dengan kakaknya itu?


••⏳⏳••


"Dimana kita?" Ucap Jina saat mereka telah sampai disebuah tempat yang terlihat sepi.


Ini sungguh indah. Pemandangan ini belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia tak tau jika ada sebuah bukit yang indah seperti ini. Ah. Tentu saja. Jangankan bukit, tempat indah yang Jina yakin masih banyak diluar sana pasti belum pernah ia lihat karena dirinya terlalu lama berada dalam kurungan pria itu.


"Cantiknya." Gumam Jina.


Sehun tersenyum senang saat melihat Jina terkagum dengan apa yang ia tunjukkan. Inilah maksudnya. Ia bermaksud mengajak Jina ketempat ini karena ia melihat gadis itu begitu tertekan tapi karena apa?


"Kau suka?" Tanya Sehun sambil berdiri disamping gadis itu. Jina memejamkan matanya. Sehun ingat jika Jina sangat suka dengan angin yang berhembus agak kencang. Entah karena apa.


"Hmm. Aku suka ini kau adalah teman yang baik Sehun. Gomawo." Ujar Jina dengan masih memejamkan matanya.


"Aku sebenarnya tak menganggap kau sebagai temanku Jina." Ujar Sehun. Sontak Jina menoleh dan melihat wajah pria itu. Lalu untuk apa ini semua?


"Aku berharap kita lebih dari itu." Ujar Sehun lagi sambil mempersempit jarak diantara mereka. Kini jantung Jina berdegup sangat cepat. Benarkah itu?


"Haha, kau tak usah terbebani seperti itu. Kau bisa menjawab pengakuanku kapan saja. Aku akan menunggumu jadi selama itu kuharap kau tak menjaga jarak denganku." Ujar Sehun seperti menjawab kegelisahan hati Jina. Pria itu lalu mengacak rambutnya pelan.


"Aku membawamu kesini karena kau terlihat begitu frustasi tadi." Ujar Sehun kembali dan mengarahkan arah pandangnya untuk melihat hamparan kota-kota dan rumah-rumah dan hal lainnya yang terlihat begitu kecil dan indah dipenglihatannya.


Jinapun mengikuti arah pandang lelaki itu.


Benar. Sehun benar. Ia tadi begitu tertekan karena ucapan Kyuhyun.


'Kapan aku bisa melihat pemandangan indah ini lagi?'


Jina menghela nafasnya lagi. Sehun mengeryitkan alisnya. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?


"Boleh kutau?. Sebenarnya apa yang mengangggu pikiranmu?" Tanya Sehun akhirnya.


"Aku... Sebenarnya aku merasa...." Ucapan Jina terputus karena ia menghela nafas kembali seperti sulit untuk melanjutkan kalimatnya lagi.


"Maaf, kurasa aku tak bisa menjelaskannya." Ujar Jina. Baiklah. Meskipun Jina tak memberitaukan masalahnya tapi ia merasa lega bisa membawa Jina kesini dan mengungkapkan isi hatinya.


'Mungkin lain kali, Jina akan memberitaukannya.'


Sehun sepertinya juga tak bisa memaksa Jina untuk memberitaukan masalahnya.


••⏳⏳••


"Kau sudah siap?" Jina menganggukkan kepalanya. Kini dirinya sudah rapih dengan pakaian kerja. Yah. Ini hari pertamanya bekerja dikantor Kyuhyun.


"Kalau begitu cepat." Ujar Kyuhyun memerintah. Dengan cepat Jina mengikuti langkah Kyuhyun.


Hari ini oppanya itu sungguh tampan. Memakai jas yang terlihat sangat membuat dirinya lebih tampan. Mungkinkah karena ada meeting nanti?


••⏳⏳••


"Selamat datang tuan." Ujar seorang pria setengah baya yang tiba-tiba menghampiri mereka saat tiba di kantor.


"Kau sudah menyiapkan semuanya?" Tanya Kyuhyun langsung. Jina mengeryitkan alisnya. Ia tak mengerti arah pembicaraan dua orang didepannya ini.


"Sudah tuan, tapi ada beberapa hal yang tak bisa kutangani jadi.."


"Dasar Bodoh!" Ucap Kyuhyun sambil meninggikan suaranya. Kyuhyun begitu menakutkan!. Tak taukah karena suara kerasnya itu membuat hampir semua pasang mata menatap kearah mereka?


"Ma-maaf tuan tapi saya sudah.." Ucapan pria itu kembali terputus saat Kyuhyun memperlihatkan mata tajamnya. Jina hanya bisa terdiam melihat aksi gila oppanya itu. Seharusnya Kyuhyun tak memarahi orang begitu saja. Meskipun Jina tak begitu paham dengan apa yang mereka bicarakan. Bukankah Kyuhyun bisa memarahi pria itu saat ada mereka berdua saja?


"Dasar tak berguna." Desis Kyuhyun yang masih setia melontarkan tatapan tajam dan amarahnya kearah pria itu. Bukankah Kyuhyun sudah keterlaluan? Bagaimanapun juga pria itu jauh lebih tua darinya. Kenapa oppanya itu tak berbelas kasih?


"Kau..." Jina membulatkan matanya saat Kyuhyun menatap dirinya. Apa? Ia rasa ia tak bicara apapun. Atau melakukan hal membuat Kyuhyun tambah marah.


"Kau pergilah kelantai 24 dan tunggu aku disana." Jina menganggukan kepalanya. Oh. Ayolah. Lebih baik ia cepat-cepat pergi dari hadapan Kyuhyun daripada dirinya yang dijadikan amukan pria itu.


Jina menghela nafas lega saat sudah berada diruang yang Kyuhyun maksud. Ini ruangan Direktur. Ini ruangan Appanya dulu. Yah. Itu dulu.


Kembali Jina merasa sedih. Jika saja ia mundur kembali kemasa lalu maka pasti Appanya masih duduk disini sambil memberikan senyum hangat untuknya.


Entah sudah berapa kali Jina menghela nafasnya hari ini. Jiwa dan tubuhnya terasa sangat lelah.


Mata jernihnya menyusuri setiap benda yang terdapat disini. Hanya terdapat keperluan kantor pada umumnya.


Tunggu.. Itu seperti ada sebuah figura foto? Apakah itu foto Kyuhyun?


Dengan rasa penasaran Jina mencoba untuk melihatnya. Baru saja ia ingin menggenggamnya tapi sebuah suara dari luar terdengar ditelinganya.


Benar. Ia lupa menutup pintunya tadi.


"Bukankah seharusnya ia kuliah saja?" Tanya seseorang. Itu suara wanita.


"Aku ingin memeras tenaganya untuk perusahaan ini dan ia juga harus membayar biaya kuliahnya sendiri."


"Apa kau tak kasihan dengannya?"


"Maksudmu?"


"Kau kaya Kyu. Adikmu tak bekerja juga kau masih bisa membiayainya."


"Aku tak mengerti?"


"Aku tau kau membuatnya kuliah dan bekerja lalu kapan ia mempunyai waktunya sendiri?"


"Kau berusaha menceramahiku?" Ujar Kyuhyun yang terdengar tak suka.


"Bukan itu maksudku."


"...."


"Jika kau menyuruhnya kuliah. Biarkan dia kuliah saja. Terlalu lelah baginya untuk menjalani keduanya."


"Lalu maksudmu aku salah?"


"Bukan Kyu tapi...."


"Kyu, tunggu!" Ujar Yoora. Sepertinya Kyuhyun marah akan ucapan gadis itu.


Jina memejamkan matanya. Ternyata benar dugaannya. Pria itu hanya ingin memperalatnya lagi. Memerintah sesuka hatinya. Pasti jika Jina bekerja Kyuhyun lebih leluasa mempermainkannya.


Ia tak pernah tau dan mengerti dengan maksud Kyuhyun.


Pria itu seakan tak pernah mendengarkan apa yang ia inginkan. Jina hanya bisa terus mengiyakan perintah Kyuhyun dan menjalaninya meski dengan hati yang sangat berat.


Yoora benar. Pria itu begitu kaya. Ia tak bekerjapun Kyuhyun pasti bisa membiayai kuliahnya.


Jika kuliah sambil bekerja sebenarnya tak jadi masalah untuknya tapi yang jadi masalahnya jurusan yang diambilnya adalah atas kehendak pria itu. Jurusan yang tak disukainya dan bekerja diperusahaan Kyuhyun yang artinya ia setiap saat akan bertemu pria itu, tidak hanya dirumah tapi dikantor juga dan hal itu membuat dirinya merasa semakin tercekik.


"Yoora gadis yang baik, semoga ia bisa merubah sifat oppa."


TBC