
.
.
.
Jina memejamkan matanya. Menghirup dalam udara yang bisa ia dapatkan.
Musim gugur. Angin musim bulan ini sungguh kencang, bahkan udaranya sudah semakin dingin.
Jina melangkah kearah taman yang berada dibelakang rumahnya, untuk sekedar duduk dibangku taman itu.
Dengan memakai pakaian yang cukup tipis, tak membuat dirinya kedinginan meski angin kencang berkali-kali menghantam tubuhnya.
Rambut panjangnya terurai, mengayun-ayun dengan lembut mengikuti kemana arah angin akan pergi.
Tatapan mata Jina terlihat kosong. Ia duduk terdiam dibangku itu. Memikirkan hal yang sampai saat ini tak bisa dicerna oleh otaknya. Yah. Perlakuan Kyuhyun kepadanya.
Hani yang sejak tadi memandang tubuh Jina dari jauh mulai mendekatinya. Ia merasa sangat kasihan kepada gadis itu.
"Nona, masuklah. Udara disini sangat dingin." Ajak Hani. Mungkin ia tak ingin melihat Jina sakit nantinya.
Jina menoleh sebentar kearah Hani lalu tersenyum tipis. Tanpa berniat menjawab, Jina kembali memandang hamparan daun-daun yang berjatuhan didepan matanya.
Hani menghela nafasnya. Yah. Mungkin Jina butuh waktu untuk sendiri. Tak tega melihat tubuh Jina yang seperti kedinginan. Hani pun memakaikan selimut ditubuh gadis itu. Setidaknya tubuh Jina tak terlalu merasa menggigil.
"Jika nona masih ingin disini, biar saya bawakan segelas coklat untuk menghangatkan tubuh nona." Ujar Hani. Dan seperti biasanya tanpa adanya sahutan dari Jina, Hani berinisiatif untuk membawakan segelas coklat untuk nonanya itu.
Dengan segelas coklat ditangannya. Jina mulai meminumnya sedikit demi sedikit. Yah. Tubuhnya terasa jauh lebih hangat sekarang. Seharusnya ia mengucapkan terima kasih kepada Hani tapi nyatanya tenggorokkannya terasa tersendat saat ingin berbicara.
Jina menghembuskan nafasnya berat. Seakan merasa lelah dengan semua yang ia lalui selama ini.
"Jika saja saat itu Tuhan menjemputku bersama kalian. Hidupku pasti tak akan seperti ini." Lirih Jina sambil menatap langit malam yang terasa suram dimatanya.
Bintang-bintang nan jauh disana seakan mulai bermunculan. Seakan bintang itu adalah cahaya indah yang menyinari kekosongan hamparan langit gelap diatas sana agar sang penatap bisa tersenyum cerah. Cerah? Hah. Itu pasti mimpi.
••⌛••⌛••
Pria muda itu tampak serius dengan semua dokumen-dokumen yang harus ia tangani. Dokumen ini sedikit membuatnya muak.
Kyuhyun merenggangkan bahunya yang terasa kaku. Tubuhnya terasa lelah. Ia akhir-akhir ini terlalu lama berada dikantor dibanding dirumah dan itu sangat mengesalkan baginya.
Dengan memijit pelipisnya, ia mulai membanca dokumen itu lagi. Saking seriusnya ia tak sadar jika sejak tadi seorang gadis tengah menatapnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau tipe pekerja keras Tuan Cho." Ujar gadis itu memecah konsentrasi Kyuhyun. Kyuhyun sedikit tersentak. Ia baru sadar jika tak hanya dirinya diruang ini.
Yoora. Kekasih Kyuhyun menghampiri pria muda itu dengan santai. Sambil tersenyum ia duduk bersandar disofa ruangan itu sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
"Yah. Jika tak begini aku pasti akan jatuh miskin dan semua kerja keras orangtuaku selama ini untuk membangun Cho Corp yang saat ini sangat terkenal akan terbuang sia-sia." Ujar Kyuhyun. Yah. Yoora tau jika kekasihnya itu berjuang mati-matian mempertahankan perusahaan keluarganya itu.
"Apapun alasanmu, bukahkan kau sebaiknya istirahat sejenak?" Saran Yoora. Kyuhyun yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Jika bukan karena ulah dia. Hidupku pasti tak terlalu menanggung beban sebesar ini dan aku pasti mempunyai waktu luang lebih banyak untukmu." Ujar Kyuhyun. Yoora tau jika Kyuhyun sangat membenci adiknya itu. Setaunya adiknya itulah penyebab kematian orangtua Kyuhyun tapi benarkah?
Yoora tak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu. Jika ia begitu membenci adiknya tapi kenapa mereka masih tinggal satu atap? Bukankah adiknya itu bisa membeli rumah atau tinggal diapartemen yang tentunya jauh dari seorang Kyuhyun yang amat membencinya.
"Kalau begitu maukah kau makan siang bersamaku?" Ajak Yoora sepertinya gadis itu tak ingin berlama-lama diruangan Kyuhyun karena nyatanya ia memang ingin mengajak pria itu keluar untuk istirahat sejenak.
"Kajja." Ucap Kyuhyun cepat sambil tersenyum dan dengan cepat pria itu meraih tangan Yoora. Menggandengnya untuk menuju ke sebuah retoran sushi didepan kantornya.
Yoora sangat mencintai pria yang telah ia pacari selama dua tahun ini. Meski pria itu terlihat sangat dingin tapi nyata pria itu begitu lembut dan penyayang mungkin waktulah yang membuat seorang Kyuhyun sedikit berubah.
••⌛••⌛••
Luka diwajahnya tak menutupi wajah cantiknya sama sekali. Ia terlihat tetap cantik bak boneka saat tangan lembutnya mulai menyisir rambut panjangnya.
"Luka ini membuatku menyeramkan." Gumam Jina. Ia berusaha sebisa mungkin mengurai rambutnya untuk sekedar menutupi lukanya itu. Ia tak ingin semua orang tau tentang lukanya. Cukup beberapa pelayan dan oppanya juga pria aneh yang sekilas pernah ia lihat di Kampus dan ditaman bermain.
Tunggu. Kenapa ia tiba-tiba mengingat pria aneh itu lagi?
Jina berusaha keras memikirkan nama pria aneh tapi tampan itu.
"Se-ha? Se-se.... Ah. Sehun!" Akhirnya Jina mengingatnya. Dengan cepat ia mulai mencari ponselnya. Dimana ponsel itu? Sepertinya pria itu menyimpan kontak hpnya sendiri di ponsel Jina.
Jina harus bisa menemukannya. Akhirnya Jina mendapat teman pertamanya. Tunggu. Jika ia menemukan ponsel itu lalu apa ia harus menelpon pria itu?
Jina menggeleng-gelengkan kepalanya. Itu terlalu konyol bagi Jina. Ia tak pernah melakukan hal itu. Itu pasti aneh. Yah setidaknya ia harus melihat nama seseorang di ponselnya selain oppanya dan hal itu saja sudah membuat dirinya begitu senang.
Jina terus saja mencoba mencarinya disetiap sudut kamar. Berharap bisa menemukannya. Hal yang mungkin bisa membuatnya sedikit senang.
"Kau mencari ponselmu?" Jina menghentikan gerakan mencarinya. Sebuah suara seakan menghentikan aksinya. Sebuah suara yang tak pernah ingin dia dengar untuk saat ini.
"...."
"Percuma kau mencarinya karena nyatanya aku telah menghancurkan benda tak berguna itu." Smirk pria itu. Sontak Jina membulatkan matanya. Benda tak berguna? Apa dia bilang? Apa oppanya itu tak tau jika benda itu sangat berguna baginya?
"Cepatlah turun. Ada yang ingin kuperkenalkan padamu." Setelah mengucapkan hal itu, pria itu pergi begitu saja. Jina mengepal tangannya erat. Lagi-lagi pria itu selalu menghancurkan segala hal yang membuatnya merasa senang.
Jina menghela nafasnya. Dengan gontai ia mengikuti ucapan Kyuhyun untuk segera kebawah.
Memang ada hal apa pria itu tiba-tiba mau memperkenalkannya kepada seseorang? Bukahkah Kyuhyun selalu menjauhkan dirinya dari setiap orang? Agar dirinya selalu merasa sendirian didunia ini?
••⌛••⌛••
Rumah mewah dengan arsitektur modern bergaya Eropa terlihat megah dan indah ditambah dengan halaman dan air mancur didepannya membuat rumah ini terlihat sangat nyaman untuk ditempati dan dihuni.
Orang-orang diluar sana pasti berpikir seperti itu jika menatap rumah ini sekilas. Jika mereka mau menukarkan kehidupan mereka untuk tinggal disini. Jina sangat rela untuk memberikannya begitu saja. Tanpa syarat apapun.
Para pelayan tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Jina menatap takjub dengan makanan yang berjejer rapih dimeja makannya yang terbilang besar.
Jarang-jarang pelayan disini menyajikan makanan sebanyak ini. Apa ini adalah tamu penting?
Jina melangkah menuju kemeja dan duduk disalah satu kursi. Ia mengenakan baju seadanya. Lagipula oppanya itu kan tidak menyuruhnya memakai pakaian formalkan? Ah. Biarlah. Yang terpenting ia sudah berada disini.
Jina berusaha mencari sosok yang selalu menyeramkan dimatanya. Pria itu tak ada. Mungkinkah sudah pergi? Ah. Tidak mungkin. Jika Kyuhyun pergi pasti tak mungkin ada acara makan-makan seperti ini.
Jina menatap tak percaya orang yang tengah berdiri dihapadannya. Pria itu tengah menggandeng seorang wanita.
Mata Jina menyipit untuk memperjelas arah pandangnya. Ini bukan mimpi. Wanita itu tampak tersenyum lebar saat merangkul lengan oppanya itu tapi Kyuhyun tetap memasang wajah datarnya. Pria itu begitu dingin.
"Perkenalkan ini Yoora." Ujar Kyuhyun memperkenalkan wanita itu. Refleks Jina berdiri dan menghampiri mereka.
"Yoora, ini Jina... Ad-adikku." Jina menatap pria itu sekilas. Pasti Kyuhyun sulit memperkenalkannya sebagai adik. Pasti pria itu berusaha mati-matian untuk mengucapkan kalimat tersebut. Jina yakin itu.
Merekapun bersalaman. Jina tampak tersenyum tipis saat menerima jabatan tangan Yoora begitu juga dengan Yoora.
"Inikah adikmu?" Tanya Yoora sambil memperhatikan Jina. Jina yang ditatap seperti itu menundukkan kepalanya. Mungkin tak ingin diliat lebih jauh.
"Dia cantik." Gumam Yoora. Entah kenapa meski seorang wanita yang mengatakan hal itu sudah membuat dirinya sedikit senang.
"Yah. Dia cantik dengan rambut terurainya dan jauh lebih cantik jika ia mengikat rambutnya." Ujar Kyuhyun. Jina mengigit bibirnya mendengar kalimat pria itu. Kyuhyun tengah mengejek dirinya.
"Kurasa rambut adikmu mau diapakan juga tetap terlihat cantik." Ujar Yoora seperti menilai penampilan Jina.
"Hmm. Kurasa sudah cukup acara memujinya. Cher- Jina perkenalkan dia adalah calon tunanganku dan acara pertunangannya akan digelar besok." Ujar Kyuhyun sedikit tersendat saat memanggil namanya. Jina langsung mengadahkan kepalanya. Menatap sosok dua manusia dihadapannya ini dengan terkejut.
"Apa kau terkejut Jina? Oh. Maafkan kami baru memberitaumu. Sebenarnya aku yang sedikit memaksa pria dingin ini untuk segera memberitaukannya. Iya kan oppa?" Yoora mengucapkanya dengan nada bercanda dan sedikit menyenggol lengan Kyuhyun. Mungkin untuk sedikit mencairkan suasana karena Kyuhyun yang sejak tadi memperhatikan adiknya begitu intens.
Jina hanya memasang wajah datarnya saat mendengar semua kalimat itu. Tak ada yang perlu ia ucapkan bukan?
"Oh, ayo kita makan sepertinya semua makanannya sangat enak." Ujar Yoora riang. Ia segera berlari kecil menghampiri meja yang tepat dihadapannya. Tanpa menunggu lama gadis itu sudah duduk dan mencicipi beberapa makanan yang tersaji.
Mereka masih beradu pandang. Keduanya saling menatap tanpa ada niatan untuk bicara. Tanpa ingin lebih lama lagi berada didepan pria itu Jina pun mengikuti Yoora untuk segera memakan makanannya.
Pergerakannya sedikit terhenti saat tangan kekar Kyuhyun mencoba menghentikan langkahnya.
Jina menatap pria itu sengit.
"Apa?" Ujar Jina datar.
"Apa kau tak ingin mengucapkan apapun kepadaku?" Tanya Kyuhyun tak kalah datar. Jina sedikit mencerna ucapan Kyuhyun.
"Selamat atas pertunanganmu. Oh, maksudku esok hari." Ujar Jina seakan mengerti maksud pria itu dan mencoba melepaskan genggamannya tampaknya Kyuhyun tak berniat menahan pergerakannya lagi dan Jina bersyukur akan hal itu.
Tanpa Jina sadari, Kyuhyun yang mendengar perkataan Jina barusan langsung mengepalkan tangannya keras.
TBC